Me And You

Me And You
Alan atau Lano?


__ADS_3

"Anak kita ganteng ya. Padahal masih di dalam perut kamu. Apalagi nanti kalo udah lihat dunia," puji Vandra berulang kali setelah mereka keluar dari ruang dokter Anisa, senior Toni. Matanya terus saja menatap foto usg bayi mereka dengan wajah sumringah.


Mia hanya bisa tersenyum lebar sambil menggelengkan kepalanya menatap kelakukan Vandra. Tapi hatinya sangat senang melihat betapa antusias dan senangnya Vandra dengan janin yang ada dalam perutnya.


"Alan, dady ngga sabar gendong kamu," tukas Vandra dengan tingkahnya yang sangat menggemaskan di mata Mia.


"Van, jangan Alan. Kita panggilnya Lano aja," sela Mia mencoba menawar.


"Kenapa?" tanya Vandra kini satu tangannya merengkuh bahu istri tercintanya.


"Kalo Alan udah biasa. Kalo Lano kan jarang. Juga lebih kiyut." Mia mencoba mempengaruhi pikiran Vandra yang sudah terobsesi dengan nama 'Alan' Bahkan Mia memberikan tatapan puppies eyesnya.


Vandra tertawa, tangannya yang memegang bahu, ganti mengacak rambut istrinya gemas.


"Hemmm.... pasangan yang suka membuat jomblo merasa paling malang sedunia," sindir Toni sebal ketika sudah sampai di depan keduanya. Padahal sedari tadi ketika mereka hanya terpisahkan jarak beberapa meter saja, dia sudah melambaikan tangannya dengan melebarkan bibirnya. Tapi sampai tangannya pegal dan bibirnya kaku, pasangan awet sejak SMA itu sama sekali ngga melihat kehadirannya.


"Ngapain lo di sini. Minggir," usir Vandra julid. Senyum dan tawanya untuk Mia sejak tadi menguap sudah.


Dasar pengganggu.


Mia tersenyum. Sudah biasa dengan sikap teman teman dekat Vandra.


"Gila lo ya. Gue lambai lambai dari tadi ngga lihat juga. Lo kira gue di puncak.gunung sampai ngga kelihatan," sembur Toni kesal. Seakan akan dia adalah bakteri yang sangat kecil yang hanya bisa di lihat dengan microskop.


"Maaf ya. Tadi Vandra serius banget lihat foto usg Lano," jawab Mia dengan wajah masih tersenyum. Tapi tadi dia pun ngga menyadari kehadiran Toni, kaena sibuk mencari kalimat tepat untuk mendebat Vandra.


"Alan, honey," ralat Vandra cepat mengoreksi.


"Lano aja," balas Mia manja.


"Alan lebih kelihatan cowo, sayang."


Dan kembali Toni memendam rasa jengkelnya dianggap tiada oleh keduanya.


"Ehem." Karena ngga tahan akhirnya Toni berdehem cukup keras membuat keduanya menoleh. Mia tersenyum geli menyadari kesalahannya setelah melihat wajah keruh Toni. Sedangkan Vandra seperti biasa, hanya menampilkan wajah datarnya.


"Apa, sih, yang kalian ributkan?" tanya Toni berusaha menyabarkan dirinya. Padahal di dalam rongga dadanya, sudah siap meledakan bom darahnya.


"Panggillan buat anak ini," jawab Mia lembut sambil menunjuk ke perutnya.


"Dia ngga perlu tau, honey," sinis Vandra membuat Toni menatapnya horor.


Honey, sayang, Vandra udah.jadi bulol, hinanya dalam.hati. Bisa bisanya Vandra merendahkan dirinya seperti ini. Pantas, dia ngga bisa digoyang. Mia benar benar luar biasa. Takjub Toni dalam hati. Vandra yang dikenalnya dulu sangat dingin dan kaku, kini lumer sudah.

__ADS_1


"Memangnya nama 'calon anak' kalian siapa?" tanya Toni ngga mempedulikan sikap ngga ramah Vandra. Sengaja menekankan pada kata calon anak. Biar mereka sadar. sudah meributkan hal yang belum ada.


Sekarang Toni timggal menunggu Mia menjawab pertanyaannya. Toni tau, Mia pasti akan menjawab pertanyaannya. Secara dulu, Toni telah membocorkan rahasia besar Vandra pada Mia.


Dulu setelah memergoki Vandra yang menguntit Mia yang selalu bersama Ando dan melihat Vandra selaku marah marah ngga jelas, Toni memutuskn untuk menemui Mia.


"Kamu jangan ngasih harapan ke Vandra," kata Toni ngga ramah.


Mia yang sedang menata buku di rak perpus menatap heran. Awalnya dia mengira Toni akan meminta buku yang sedang dia tata. Tapi mendengar ucapan Toni membuat alisnya terangkat.


Apa apaan nih, kesal Mia dalam hati.


"Kamu ngomong sama aku?" tanya Mia tetap tenang.


"Iyalah," tegas Toni. Wong cuma hanya Mia di dekatnya dengan buku buku. Ngga mungkin kan, dia ngomong sama buku. Ngga jelas nih isi pikiran cewe yang membuat Vandra kemrungsung.


"Oo," balas Mia cuek sambil melanjutkan menata buku buku kembali di rak.


Toni menatap Mia kesal.


Dia dicuekin? batin Toni ngga terima.


"Lo itu kasih harapan ke dua laki laki di waktu yang sama. Vandra dan Ando," kata Toni kesal, ngga bisa menahan lagi.


"Apa?" Mia menatap bingung pada laki laki beda jurusan dengannya yang dari tadi sangat ngga ramah. Tapi ada hawa dingin merasuki hatinya.


Laki laki cuek, datar dan kaku teman sekelasnya menyukainya? Itu maksud ucapan laki laki di depanya, kan? Pikiran Mia seakan susah mencerna ucapan Toni.


"Jangan pura pura ngga tau, Mia. Gara gara lo, Vandra selalu bertingkah aneh," tukas Toni galak. Dia ngga terima teman dekatnya itu bertepuk sebelah tangan. Apalagi yang rela memberikan hatinya untuk Vandra sangat banyak. Tanpa perlu bersusah payah. Apalagi sampai dipermainkan.


Mia masih menatap Toni dengan perasaan ngga menentu. Hatinya seakan menerbangkan banyak kupu kupu.


Ngga mungkin, hatinya masih coba membantah. Rasanya masih ngga bisa dipercaya. Kalo dulu saat orang tuanya masih kumpul, hidupnya masih dalam kemewahan, dia akan mudah mempercayainya, karena mereka setara. Tapi kini, apalagi setelah Vandra tau kondisi rumah kecilnya, rasa percaya dirinya sudah habis. Ngga mungkin, ulangnya membatin.


"Aku memang ngga ngerti kamu ngomong apa," balas Mia judes dan menyibukkan diri menata buku tanpa mempedulikan kehadiran Toni yang kini menatapnya kesal.


Toni menghela nafas panjang setelah menghirup oksigen sebanyak banyaknya. Diia harus tenang. Dia punya misi.


"Ada hubungan apa lo dengan Ando?" katanya kini berusaha ngga ngga ketus.


Mia menatap Toni, mengalihkan tatapannya dari rak buku. Bisa aja Mia ngga menjawab. Tapi melihat sikap Toni yang sudah lebih sopan membuat Mia berubah pikiran.


"Ando sepupu aku," jawab Mia jujur.

__ADS_1


Tobi merasa rahangnya seolah jatuh. Ngga lama kemudian, Toni pun tertawa, tapi ditahannya agar mgga keras. Terlihat susah payah. Maklum di perpus.


Aneh, batin Mia sambil menata buku lagi, mencuekin Toni.


Toni menatap Mia masih dengan sisa tawa.di bibirnya.


"Dengar, gue mau ngonong rahasia sama lo," kata Toni membuat Mia menatapnya lagi, antara ingin tau dan heran.


Apalagi, batinnya jengah.


"Vandra cemburu sama Ando." Setelah mengatakan itu, Toni membalikkan badannya dan berjalan pergi.


Mia merasa.jantungnya berdebar sangat keras. Pipinya terasa pamas. Senyum manis terukir di bibirnya tanpa dia sadari.


Flashback off


"Aku maunya Lano. Tapi Vandra maunya Alan," jelas Mia dengan tatapan minta dukungan. Toni sangat menyadarinya.


"Nama lengkapnya siapa?" tanya Toni tertarik.


Ternyata mereka sudah memberikan nama pada bayi yang belum juga lahir. Bahkan meributkannya. Sungguh menggelikan, hinanya dalam hati. Apalagi untuk selevel Vandra.


"Alano," jawab Mia lagi karena Vandra hanya diam saja.


Toni terdiam, dia memperhatikan wajah Vandra, mencari kata kata yang tepat untuk menskak Vandra tanpa bisa dibantah.


"Gue lebih setuju Lano," kata Toni memulai keberpihakkannya membuat wajah bumil itu tersenyum senang. Sedangkan Vandra ngga bereaksi. Baginya ngga penting sama sekali pendapat Toni. Toh, bibit paten punya dia. Ngga ada yang bisa membantahnya


"Lo ngga kasian Van kalo anak yang lo bangga bangga in di panggil Alan. Gimana kalo ada yang sengaja menambakan kata 'si' di depannya," tandas Toni puas ketika melihat raut wajah Vandra yang berubah kesal.


"Awas aja!" sergahnya kesal membuat Toni dan Mia terkikik.


*


*


*


Clara menatap wajahnya di cermin. Masih terlihat pucat. Padahal dia sudah tidur setengah seharian. Untungnya mama dan papanya masih sibuk dengan bisnis mereka. Clara beruntung, kakaknya tumben ngga menelponnya.


Laki laki itu sungguh sangat gila. Clara sampai mengganti potomgan rambutnya, bahkan wangi parfumnya. Dia harua merubah penampilannya, agar para laki laki itu ngga mengenalinya lagi. Dia sangat takut kalo mereka masih menginginkannya dan melakukan pelecehan lagi padanya. Terutama laki laki itu. Clara sangat takut kalo bertemu lagi dengannya.


Untungnya Clara tau kalo Reksa mengikutinya. Dia sengaja masuk ke dalam apartemen milik Nesa. Setelah menunggu selama sejam, dia pun pergi. Pulang ke rumahnya.

__ADS_1


Laki laki itu ngga percaya.kalo dia perempuan baik baik. Baru kali ini dia dilecehkan. Bahkan kehormatan yang selalu dia jaga untuk Vandra, hilang sudah. Bahkan dia ngga mengenal laki laki yang telah menidurinya berkali kali itu sama sekali.


Dia sungguh menyedihkan. Clara terus meratapi nasib buruknya. Clara sudah ngga punya muka lagi untuk bertemu Vandra. Memgemis cinta seperti biasa yang.dia lakukan. Ngga ada lagi yang bisa diberinya buat Vandra. Air matanya menetes sedih.


__ADS_2