Me And You

Me And You
Tetap Belum Move On


__ADS_3

Sandrina selalu saja berdiri di samping Eri. Irfan dan Doni juga menemani bersama Vandra, Fino, Toni dan Aldi. Sedangkan Mia berdiri ngga di dekat Angel dan Rosa


Ferdi dan istrinya berkumpul dengan Ilham dan Luvi serta Emir dan Elka. Celon pun datang dengan istri. Anak tunggalnya yang masih balita juga diajak. Edo juga datang sendiri, istrinya yang barusan melahirkan anak keduanya sedang istirahat di rumah mertuanya. Hanya anaknya yang seumuran dengan Malik yang diajaknya.


Para bocil pun saling berkumpul dan mulai mengutak atik kado kado Iqbal. Iqbal membebaskan sepupu dan anak teman teman papi dan maminya membuka kadonya. Tentu saja mereka di jaga Ezra dan Erza juga Melia.


Karena jarang berkumpul, suasana terasa lebih santai dan akrab.


Tapi berbeda untuk Angel dan Eri. Keduanya tetap belum saling menyapa. Padahal suasana santai sudah diciptakan oleh teman teman mereka.


"Kapan kapan kita maen basket di tempat biasa. Nanti aku hubungi Ando, Vero dan lainnya," ucap Aldi sambil melirik Eri yang ternyata masih saja menatap Angel yang mengobrol bersama Mia dan Rosa yang tadi datang bersama Fino.


Mau bawa cewe cantik seperti apapun, dihati Lo cuma ada Angel, kan, Er, hina Aldi senang.


Vandra dan Toni yang sejak tadi tau arah tatapan Eri hanya menyunggingkan senyum miringnya.


Belum move on, Bro, ejek Toni dalam hati, yang sepertinya sama seperti isi hati Vandra.


"Gue setuju," ucap Irfan cepat.


"Mengingat momen dulu," tawa Doni yang diikuti Igo.


Musuh jadi teman, batin Fino ikut tertawa juga.


"Kalian semua satu sekolah?" tanya Sandrina surprise.


Tentu saja dia mengenal mereka yang sekarang di dekatnya sebagai eksekutif muda yang sukses.


"Kita satu SMA," jawab Igo membuat mata Sandrina memancarkan kagum.


Bersahabat dari SMA sampai sekarang, pasti ikatan mereka sangat kuat.


Sandrina melirik tiga gadis cantik yang juga terlihat akrab. Dia tau, salah satunya adalah istri salah satu pria tampan ini. Dia benar benar ngga nyangka akan dikelilingi pria pria tampan dan sukses.


Sebenarnya Sandrina ingin mengambil foto, tapi dia merasa sungkan.Takut dianggap norak. Padahal ini sangat penting bagi eksistensinya di hadapan teman temannya.


"Sandrina, kamu kerja sama dengan Eri di bidang apa?" tanya Doni akhirnya karena melihat gadis itu terlihat sedikit bingung dikerubungi para kumbang jantan. Sementara Mia, Rosa dan Angel tidak mengajaknya ngobrol sama sekali. Dan si bodoh Eri juga sama sekali ngga mempedulikan kehadiran Sandrina, malah sibuk menatap Angel.


"Bidang konstruksi. Sekarang lagi buat landscape untuk taman di apartemen di Setiabudi," jelas Sandrina antusias. Akhirnya ada juga yang bertanya padanya.


"Oh, kirain di bidang modelling," tukas Irfan dengan seringai tipisnya.


"Belum ke sana, sih. Saya masih baru membantu papa di perusahaan," ucap Sadrina merendah.


"Kalo bidang modelling, bisa sama Angel. Dia model terkenal lho," promosi Irfan sambil menunjuk Angel, membuat Sandrina menatap Angel.


Cantik banget, kagumnya dalam hati. Apalagi saat gadis itu tersenyum padanya.

__ADS_1


Angel mendengar namanya yang disebut Irfan membuat dia menoleh pada gadis cantik yang dibawa Eri.


"Iya, sering lihat. Angel Subagja, kan," katanya sambil membalas senyum manis Angel.


Ternyata ngga sombong, kagumnya lagi.


Eri sendiri senpat terpana melihat senyum Angel. Walau bukan untuknya, tapi karena dia di samping Sandrina, membuat dia merasa senyum Angel juga untuknya.


"Betul," timpal Igo yang langsung nyengir karena melihat Eri yang masih saja bengong menatap Angel yang sedang tersenyum.


Masih juga ngga ngaku kalo udah cinta mati, dengusnya dalam hati.


"Er, sesekali Lo lukis kita, dong," usul Toni yang langsung membuat Eri tersadar.


"Kalo Lo semua sanggup berdiri dua jam ngga gerak, oke aja," jawab Eri ringan.


"Bisa kramlah," omel Igo.


"Kan bisa lewat foto atau lo bayangin wajah kita," lanjut Igo mangkel.


Ngga niat banget, rutuknya dalam hati.


"Kalo foto sih oke. Tapi kalo ngebayangin muka muka Lo semua, ngga sudi gue," sembur Eri kesal.


Kalo cewe ngga apa dibayangin. Ini sesama jeruk. Ji-jay banget, Eri misuh misuh dalam hati.


Siapa juga yang mau Lo bayangin. Bisa muntah gue, batin Toni langsung merasa mual.


Gue ji-ji di bayangin sama Lo, batin Aldi benar benar jadi ilfeel.


"Oke, kapan kapan kita foto bareng," kata Fino memberikan inisiatif.


"Boleh juga. Apa malam ini aja? Ntar gue suruh Mel yang foto in," tambah Aldi antusias.


"Ngapain bocil Lo nyuruh moto. Tuh ada Angel. Dia kan pengalaman di Paris. Pasti tau sudut yang bagus," kata Toni dengan jebakan mautnya.


Teman temannya kembali tertawa ngakak. Membayangkan Eri yang pasti mati gaya karena akan dibidik kamera Angel.


Eri menatap malas teman teman jinnya yang satu hati ngetawain dia.


Gue udah move on tau, udah move on, bantahnya berkali kali dalam hati.


"Kenapa aku? Ngga ah," tolak Angel yang langsung membuat Eri tersinggung. Padahal dia ingin membuktikan kalo dia sudah move on di depan teman teman jinnya.


"Iya, ngapain Angel. Yang lain aja. Belum tentu dia pintar ambil fotonya," kata Eri langsung nyolot pedas.


Wajah Angel sedikit berubah. Hatinya terasa sakit mendengar kata kata Eri. Apalagi di depan teman teman mereka. Lagian dia juga sudah menolaknya, bukan?

__ADS_1


Sandrina pun terkejut akan reaksi Eri yang menurutnya agak berlebihan


"Angel itu gitu gitu pernah jadi fotografer juga. Lo dulu aja pernah muji hasil jepretan dia," bela Toni kesal.


Dasar, mulut Lo masih tetap aja goblok, batin Toni sinis.


"Kapan? Mana pernah," sangkal Eri ngga terima.


"Ini yang bikin gue malas kalo mau foto bareng. Ada aja kendalanya," keluh Doni yang disetujui Igo.


"Gue maunya Angel yang ambil fotonya," tandas Toni ngga mau dibantah.


Kenapa gue dibawa bawa sama para childdish ini.


Angel memijat keningnya.


"Lo tinggal senyum aja Er. Gitu aja repot," omel Aldi kesal.


Selalu aja jadi perusak suasana.


"Gue aja yang foto," kata Rosa memgambil inisiatif agar pertengkaran mereka bubar.


Ingat umur oii, teriak Rosa kesal dalam hati.


"Jangan Sayang. Harus Angel yang moto in," kata Fino memberi sedikit tekanan agar tunangannya ngga ikut campur.


"Harus banget Angel?" tanya Rosa kasian melihat Angel yang sudah merasa ngga nyaman. Dia tau maksud permintaan Toni. Dan isyarat Fino barusan. Rosa hanya kasian dengan Angel.


"Iya, harus," ucap Aldi dan Doni barengan. Mereka memang satu hati dengan Toni.


"Nanti jangan ada yang ngga bisa senyum," ucap Vandra akhirnya ikut di pihak Toni membuat Mia nenatapnya kesal.


"Gue senyum ntar. Paling lebar malahan," seru Eri agak emosi.


"Lo tarik nafas dulu Er. Wajah Lo ngga enak banget," timpal Igo membuat Eri menatapnya kesal


"Udah oke kan. Angel, nih, gue udah siapin kameranya," kata Toni sambil melempar kamera puluhan juta itu ke arah Angel yang tentu saja kaget dan belum siap menangkapnya.


Sedetik lagi kamera itu akan jatuh ke lantai, Eri dengan sigap menangkapnya.


"Lo kira dia anak basket," omel Eri setelah berhasil menangkap kamera itu dengan satu tangannya.


Yang lainnya hanya nyengir aja melihat respon Eri. Eri benar benar ngga sadar, itu hanya trik Toni, untuk melihat reaksinya.


Masih juga bodoh, hina Toni mengetawai Eri.


Tetap aja Lo Er, pasti ngelindungi Angel, kan, batin Aldi dengan senyum mirng terukir di bibirnya.

__ADS_1


__ADS_2