Me And You

Me And You
Kulit Kacang dan Kaleng Soda


__ADS_3

Setelah cukup lama acara lempar lemparan kulit kacang dan kaleng soda yang heboh, mereka kembali duduk di karpet lorong sambil menghabiskan soda dan kacang yang tersisa.


"Capek gue," keluh Fino sambil membuka tutup kaleng sodanya.


"Iya. Lo semangat banget lemparnya Er. Benjol ni jidat gue," kesel Doni sambil mengelus jidatnya.


Eri menanggapi dengan senyum mengejeknya.


Rasain, rutuknya puas dalam hati.


"Kapan Lo mau ngelamar Angel?" tanya Aldi kepo.


Lo beruntung dapetin Angel, batin Aldi ikut senang.


"Memangnya dia mau gue lamar?" tanya Eri dengan tampang oonnya.


Eri ngga yakin dengan perasaaan Angel sekarang. Apalagi dia suka jahat dan kasar dengan Angel, gara gara ditolak lamarannya.


"Ya maulah. Gimana sih, Lo," kata Toni memberi semangat.


"Angel memang jodoh Lo," timpal Doni menebalkan rasa pede Eri.


"Lo yang baru sekali di tolak udah jiper. Gue biasa aja, padahal udah ditolak berkali kali," kekeh Irfan membuat mereka pun mentertawai nasib buruk Irfan. Eri pun melebarkan senyumnya.


"Ngantuk gue," kata Toni sambil menyandar di lengan Aldi.


"Di kamar kalo mau tidur," omel Aldi tapi membiarkan saja Toni di lengannya.


"Gue ngga sanggup ke kamar. Hooaaheem," kata Igo sambil menutup mulutnya. Dia pun memejamkan matanya sambil berselonjor dan bersandar pada dinding hotel.


Fino dan Irfan juga melakukan hal yang sama. Gara gara lempar lemparan tadi, sama aja melakukan olah raga malam. Cukup menguras tenaga.


Vandra juga ngga dapat menahan lagi kantuknya.


Akhirnya mereka semua pun tidur tanpa bisa dicegah, beralaskan sampah kulit kacang dan kaleng soda.


Pesta lemparan soda dan kulit pun kacang selesai sudah. Mereka malah tergeletak di lantai lorong yang dingin.


"Vandra, bangun. Kok tidur di lorong," kata Mia lembut. Sekarang sudah menunjukkan pukul tiga pagi.


Mia terbangun karena Vandra ngga ada di sisinya.


Ternyata Vandra dan teman temannya tertidur di lorong bersama kulit kacang dan kaleng soda yang berserakan.


"Hooaaheeeem."


Vandra pun menutup mulutnya yang menguap karena masih sangat mengantuk.


"Eh, sayang. Aku ketiduran," katanya sambil mengucek matanya.

__ADS_1


"Ayo ke kamar, Van," kata Mia kemudian tersenyum melihat teman teman mereka tidur dengan nyenyak sambil berpelukan.


"Woi, bangun. Pindah ke kamar," seru Vandra sambil menendang pelan mereka satu persatu.


"Jangan gitu, Van. Kasian," larang Mia ngga tega.


"Kalo ngga gitu ngga bangun, sayang," jawab Vandra cuek.


"Hoooaaahhemmm."


"Hoooaahhheemmm."


"Hai Mia."


"Mia. Udah siang, ya?"


Mia hanya tersenyum melihat teman temannya yang seperti ngelindur.


Dengan malas mereka pun masuk ke dalam kamar masing masing untuk melanjutkan tidur.


Setelah memastikan teman temannya sudah memasuki kamar, Vandra bersama Mia pun memasuki kamarnya.


"Ganti baju dulu Van," kata Mia sambil memberikan kaos oblomg ke Vandra.


Vandra pun membuka kemejanya dan menggantinya dengan kaos oblong dengan mata sangat mengantuk.


Setelah melepas celana panjangnya dan hanya mengenakan boxer, Vandra pun naik ke kasur dan langsung terlelap.


*****


"Kalian ini keterlaluan! Gimana karpet hotel sampai kotor begini," marah Luvi sambil menggelengkan kepala pada Eri dan teman temannya.


"Maaf," kata Eri pelan. Dia sadar, dia yang memulai melempar kulit kacang dan kaleng soda pada teman temannya.


Teman temannya ngga menyalahkannya, hanya diam saja menerima kemarahan sepupunya.


Vandra menyalahkan dirinya yang kesiangan. Harusnya dia bangun pagi dan meminta petugas bersih bersih untuk mengurus sampah di lorong kamar mereka.


Kasian juga melihat Eri yang merasa sangat bersalah dan diam aja saat diomelin Kak Luvi.


Ilham, Edo, Celon dan Ferdi tertawa pelan. Sedangkan para istri hanya mengulum senyum.


Betapa kagetnya mereka saat keluar kamar melihat lantai lorong yang dipenuhi sampah kulit kacang dan kaleng soda. Bahkan pegawai Emir sampai menggantinya dengan karpet yang baru.


"Biar aja Luvi. Sesekali bersenang senang," kekeh Emir. Elka akhirnya terkekeh juga bareng suaminya.


Adiknya kalo ngumpul memang cukup bahaya, batin Elka geli.


"Tapi kapan kapan boleh juga idenya," tukas Ferdi dalam derai tawanya.

__ADS_1


"Benar. Udah lama ngga gila gilaan," tambah Edo juga tergelak.


"Aku setuju," timpal Celon


Luvi melirik angker Ilham yang belum mengeluarkan pendapatnya.


Ilham yang paham hanya terkekeh saja.


Mereka sekarang sedang makan siang bareng. Sedangkan sarapan tentu sudah kecuali Eri dan teman temannya. Mereka bangun lima menit lagi azan duhur berkumandang.


"Apalagi kalo ada Valen. Dia lebih gila lagi," cetus Edo membuat mereka langsung setuju.


Vandra yang tau kelakuan gila abangnya ngga berkomentar. Hanya terasa ada yang kurang karena abang durjananya ngga bisa datang.


"Luvi, kita pamit ya," kata Celon.


"Penerbangan kita jam empat sore," lanjut Celon lagi.


"Om juga pamit ya. Nanti pesawatnya jam lima sore," kata Edo.


"Safe flight, Bro," ucap Ferdi dan Ilham berbarengan.


"Iya Om, Bang Celon, safe flight," ucap Emir.


"Kita beberes dulu ya..Udah Luv, jangan dimarahin lagi," kata Celon sambil mengedipkan matanya pada Eri yang terlihat memahan kesal. Sementara Vandra dan teman temannya hanya nyengir aja.


"Iya. Udah tua gini juga," sarkas Luvi membuat Eri mendelik kesal.


Yang lain pada mengulum senyum dan memahan tawa mendengar kata kata Luvi.


"Udah sayang. Emir aja ngga marah, kok. Yuk kita ke kamar. Kasian si kembar bantu jaga adik adiknya," kata Ilham sambil menarik tangan Luvi, menjauh dari sumber kekesalannya.


Luvi sendiri menurut tanpa banyak bicara lagi.


Begitu Luvi dan Ilham.pergi, beberapa tergelak gelak.


"Sudah, Er. Maklumin aja sifat Luvi," kekeh Edo.


"Cuma Ilham yang bisa jinakin dia," tambah Ferdi juga terkekeh.


Memang betul. Hanya Bang Ilham yang bisa jinakin Luvi, sinis Eri dalam.hati.


"Heboh ya tadi malam. Abang mau gabung tapi udah beda generasi," sambung Celon ngakak.


Malam itu dia sempat mengintip lewat pintu yang dibuka sedikit, melihat sepupu Luvi dan teman temannya saling lempar kulit kacang dan kaleng soda dengan riuh.


Eri akhirnya bisa tertawa. Mengingat kelakuan mereka yang seperti anak kecil, wajar juga kalo Luvi ngomel ngomel.


"Lo sih, pake acara lempar kulit kacang. Padahal kan, udah dibuang di dalam plastik," kekeh Aldi yang juga diikuti teman teman mereka yang lain.

__ADS_1


"Gara gara Lo semua. Gue kan, kesal," tukas Eri kemudian tersenyum miring.


Vandra pun tergelak bareng teman temannya.


__ADS_2