
Dengan nekat Valen menangkap bom itu seperti menangkap bola basket dan secepat kilat melemparkannya sejauh mungkin. Dan tanpa di sadari Valen, lemparan itu mengenai Anastasia yang berusaha berlari menjauhi ledakan.
"AWAAASSS!" Teriak Valen memperingatkan Anastasia yang ngga menyadari bom itu mengarah padanya.
Celon segera menarik Valen yang termangu dan membawanya berlari menjauh. Begitu juga Ferdi dan Vandra yang menarik tangan keduanya untuk menjauh. Ilham pun dengan nekat ikut menarik tangan Vandra.
BLLAAARRRR!!
Kelimanya pun jatuh terpelanting dan bertumpukan akibat ledakan.
"Remuk badan gue," seru Valen kesakitan yang tertimpa tubuh Vandra dan Ilham. Sedangkan Celon pun ditimpa Ferdi.
"Kalian ngga apa apa?" tanya Arven, Aldi, Toni, dan Doni yang buru buru datang membantu mereka berdiri.
Pak Rasyid dengan tertatih menghampiri mereka. Begitu juga Bu Rosa dan Bu Hartati. Sementara yang lain masih terduduk diam dengan detak jantung ngga teratur.
Bagian depan basemen runtuh akibat getaran ledakan.
Polisi dan tenaga medis yang menunggu ngga jauh dari situ segera menolong.
"Lo ngga pa pa, Val?"" tanya Arven sambil membantu Valen untuk duduk
"Hanya lecet lecet. tapi punggung gue sakit," kata Valen sambil menyandar ke bahu Vandra.
Vandra bersyukur karena mereka berlima hanya lecet lecet saja.
"Lo kenapa bengong tadi bego! Hampir Lo mati kena bom," omel Celon yang lagi lagi merasa kepalanya benjol. Jadi teringat kejadian dulu waktu nyelamatin Emir. Bedanya jidatnya benjol sekarang karena beradu dengan jidat Ferdi.
"Anastasia," ucap Valen terpatah. Matanya menatap pada reruntuhan basemen di depannya.
"Mungkin dia sudah hancur lebur," ucap Ilham pelan. Mereka sama terdiam.
Erika berdiri dengan tubuh gemetar. Dia menatap sisa ledakan. Mobil yang akan digunakan Anastasia terpental jauh. Pak Rodi dan Pak Sapta sedang ditangani tim medis karena berada ngga jauh dari ledakan. Erika tidak menemukan sisa tubuh saudara tirinya dimanapun. Hanya percikan darah yang berserakan.
Ferdi menowel Arven agar mendekati Erika yang terguncang. Arven menurut dan mendekat..Dia merengkuh bahu Erika.
"Aku membencinya. Tapi aku ngga ingin dia meninggal dengan cara begini," isak Erika di dada Arven.
Arven ngga menjawab. Terlalu mengerikan membayangkan bom yang bisa menghancurksn bagian depan basemen, menghantam tubuh Anastasia.
Om Halim pun menatap ngga percaya akan akhir dari kehidupan Anastasia yang sangat mengenaskan.
*
*
*
__ADS_1
Abhi yang sedang melihat berita berita di sosial mesianya terkejut melihat ada bom yang meledak di perusahaan xxx. Bwrita itu menjadi trending topik saat ini.
Abhi terkejut melihat beberapa foto yang ada di sosial media. Ada foto dadynya yang sedang ditandu. Berjalan di dekatnya ada Om Celon dan Om Vandra. Penampilan mereka sangat kacau, penuh debu dan terlihat lecet lecet. Juga ada foto Om ferdi dan teman teman Om Vandra lainnya. Penampilan mereka sama berantakan dan berdebunya.
Kepala sekolahnya juga ada di situ, pantasan setengah harian ini Abhi ngga melihatnya meronda ke halaman belakang.
Jantung Abhi berdebar, mengingat sikap dadynya yang aneh tadi pagi. Dia pun bermaksud kabur untuk melihat keadaan dadynya.
Tapi begitu dia keluar kelas, Bu Voni menghampirinya.
"Abhi, mamy kamu nunggu di parkiran," ucap Bu Voni dengan nafas memburu, sepertinya beliau berjalan cepat ke kelasnya untuk menemuinya.
"Bawa tas kamu. Gary, bawakan tas Abhi," serunya begitu melihat Abhi akan melangkah pergi.
Gary yang berada di dalam kelas, dengan patuh membawakan tasnya.
"Bu, kita boleh ikutan pulang?" tanya Gary dengan wajah jahil.
Bu Voni ngga menjawab, hanya memelototkan matanya pada muridnya yang sebeles dua belas nakalnya seperti Abhi.
"Hati hati," pesan Bu Voni yang melihat Abhi langsung berlari meninggalkan keduanya.
Jantungnya masih berdebar ngga menentu, begitu sampai di depan mobil mamynya. Si kembar bahkan Melia pun ikut serta berada di dalam mobil.
"Dady ngga apa apa Mam?" tanya Abhi agak panik sambil masyk ke dalam mobil.
"Oma sama opa udah di kerumah sakit?"
"Iya, mereka duluan. Mamy, kan, harus jemput kalian dulu," kata Sarah sambil melajukan mobilnya.
Hatinya ngga tenang mendengar kata operasi. Walaupun kata mertuanya, Valen ngga sampai memgalami patah di tulang bahunya.
Suaminya itu kenapa ngga cerita kalo akan menghadapi perempuan gila, rutuknya dalam hati. Malah dengan santai memberikan black card terbarunya yang unlimit dan memintanya lama lama belanja dengan mamanya.
"Pantas tadi pagi dady sikapnya aneh," komen Ezra yang membuat Abhi menatapnya.
"Ngga biasanya dady meminta kita rajin belajar, ya," tambah Erza lagi.
Memang aneh, batin Abhi dan Sarah dalam hati.
"Kalo papi malah ngga pulang," timbrung Melia. Dia masih bingung karena di ajak pulang oleh si kembar.
Kembali suasana hening sampai akhirnya mereka tiba di parkiran rumah sakit Toni.
Agak bergegas mereka menuju ruang full vip, karena Valen barusan selesai operasinya.
Di depan kamar Valen, sudah menunggu tenan teman dan istri istrinya.
__ADS_1
"Mami," seru Melia sambil berlari mendekati maminya yang sedang bersama adik dan papinya.
"Papi, kok, luka luka?" tanya Melia heran melihat di kening papinya di tempel plester seperti yang digunakannya kalo dia jatuh. Tangan papinya pun terdapat baret baret.
"Luka dikit aja," ucap Ilham sambil mengelus rambut putrinya.
"Masuklah, tapi dady kalian masih tidur karena obat bius," kata Ilham pada Sarah dan anak anaknya.
"Kamu ngga apa apa, Ilham?" tanya Sarah cemas, dia juga menatap Celon dan Ferdi yang sama sama benjol keningnya sambil menggelengkan kepalanya.
Mereka selalu terlibat hal hal yang gila, batinnya agak cemas.
"Mereka ngga pa pa, udah masuk sana," tukas Luvi sambil menganggukkan kepalanya.
Mereka pun masuk. Abhi sempat melirik Oliv yang juga meliriknya. Sama seperti dirinya, Oliv memakai seragam. Abhi lebih suka melihatnya begini dari pada melihatnya dengan baju kurang bahan yang selalu dikenakannya.
"Gue pulang dulu ya. Natasha udah pengen ke sini, tapi si Icha ngga ada yang jaga. Pengasuhnya lagi ke supermarket," pamit Celon sambil memegang keningnya yang masih nyut nyut.
"Aku antar, Bang," kata Aldi berinisiatif karena ngga mungkin juga membiarkan Cekon pulang sendiri.
"Oke."
"Makasih ya Cel. Kalo ngga ada Lo, Si Valen mungkin lebih parah dari ini," ucap Ferdi sambil menepuk pelan bahu Celon yang membuatnya meringis.
"Sakit bego! Badan Lo seperti batu aja," omel Celon sambil pergi.
"Sorry," tukas Ferdi sambil menaikkan sudut bibirnya. Ngga sengaja dia jatuh di atas tubuh Celon tadi karena ledakan.
Tapi tadi Celon memang tepat waktu saat menarik Valen yang sempat bergeming setelah melemparkan bom.
"Kalo telat sedikit saja......," ucap Ilham agak menggantung.
"Kenapa kalian bisa ceroboh," omel Luvi kesal menyalahkan keteledoran mereka, tapi sekaligus bersyukur, karena mereka selamat semua.
"Betul. Tapi syukurlah mereka semua ngga apa apa," tambah Olin lega.
"Ya, kita masih dilindungi," tambah Ferdi sangat bersyukur.
Valen memang memiliki insting dan gerak reflek yang cepat. Sebenarnya dia ngga akan apa apa kalo langsung lari setelah melempar balik bom itu. Tapi dia terkejut karena ngga nyangka Anastasia malah berlari ke arah bom yang dia lempar. Anastasia pun meninggal tanpa tau kalo dia sendiri yang menyongsong kematiannya.
Untung Celon bergerak cepat jadi bisa menghindarkan Valen dari terkena runtuhan atap basemen bagian depan. Diapun bersama Vandra dan Ilham, menarik keduanya agar lebih cepat menjauhi ledakan.
Ferdi juga mengalami lecet lecet di kening dan tangannya. Juga benjol seperti Celon.
Ilham membelai lembut rambut Melia sambil merengkuh Luvi dalam pelukannya. Iqbal yang dalam pelukan Luvi sedang tertidur.
Sesaat setelah bom dilemparkan Anastasia, jiwanya seakan hilang. Di matanya langsung terbayang Luvi dan dua anaknya yang masih kecil. Dia takut pergi tanpa meninggalkan pesan buat mereka. Takut ngga bisa menemani mereka lagi.
__ADS_1