
"Selera kamu sekaramg anak SMA?" bisik Vandra ketika sudah berada di dekat Doni.
Vandra sudah ngga sabar ingin tau hubungan Doni dengan cewe berseragam SMA itu. Dia meminta Mia menjaga kakek dan nenek bang Arven sebentar karena akan menemui Doni.
Mia yang tau apa isi pikiran Vandra menurut saja tanpa membantah. Mia pun menemani Nenek Rani dan Kakek Handy yang terlihat masih sangat terpukul. Apa lagi berita keberadaan Erika yang simpang siur. Di dekatnya ada beberapa suster dan seorang dokter. Sedangkan Mikaela masih berdiri menatap lukisan besar keluarga Erika dengan sedih.
"Ngawur," sangkal Doni buru buru. Dia yang bermaksud mengambil minuman, digeret Vandra dengan paksa menjauhi Mikaela.
Doni tentu saja harus melakukan penyangkalan. Ngga mau dia dipikir macam macam, apalagi sebagai pedofil. Doni juga ngga merasa berpacaran dengan Mikaela, hanya tadi dia ingin membuktikan kalo si underwear merah ini ngga bohong.
Vandra memang bisa menjaga rahasia, tapi kalo ada temannya yang lain melihat, pasti dirinya akan dihujat Memacari anak kecil, seakan gadis gadis dewasa sudah punah semua.
Walaupun hatinya gundah saat ini karena merasa ada sedikit ketertarikan, Doni berusaha menahannya agar Vandra ngga dapat menangkap sinyalnya.
Vandra tersenyum miring.
"Syukurlah, kaget aja lihat kamu sama anak SMA," pancing Vandra sambil tetap menatap Doni lekat lekat. Ingin tau reaksinya seperti apa.
Doni memaksa tertawa. Sedikit garing. Vandra pun tersenyum miring.
"Katanya dia adik angkatnya Erika," bisik Doni seakan akan ini rahasia besar.
"Oya?" Kening Vandra berkerut sambil menatap Doni.
"Berarti dia dalam bahaya," ucap Vandra balas berbisik.
"Kenapa?" tanya Doni heran.
"Kamu belum tau? Keluarga almarhum Om Danutirta dibunuh sampai habis. Kecuali Kak Anastasia, mantannya Bang Andre," bisik Vandra dengan nada suara ditekankan.
Reflek Doni menatap siswinya yang belum dia tau namanya sampai kini dan Anastasia yang berdiri ngga jauh dari mereka.
Jantung Doni berdebar keras.
Apa mungkin? pikirannya mulai jauh membayangkan kemungkinan yang dikatakan Vandra.
"Maksud Lo Anastasia membayar orang untuk melakukan kejahatan sadis ini?" tanya Doni memastikan.
Beberapa kejadian masa lalu sudah membuktikan kalo perempuan perempuan lembut biaa kejam karena cintanya ditolak.
Tapi dalam kasus ini sepertinya bukan masalah cinta ditolak. Tapi penguasaan harta warisan dari salah satu grup yang sudah menguasai pangsa Asia.
Erika dulunya adakah pewaris tunggal grup Arwana, Tapi kemudian saudara tirinya ditemukan. Erika harus berbagi. Tapi Anastasia rupanya tidak mau hanya menerima sedikit.
"Lo yakin Anastasia dalangnya?" tanya Doni lagi berbisik.
__ADS_1
"Tentu saja. Dari dulu dia selalu menghalalkan segala cara untuk mendapatkan Bang Andre," kata Vandra memberitau , masih berbisik.
Doni diam, berusaha mencerna. Berarti yang dihadapinya nanti kalo akan membantu Mikaela adalah preman yang bersenjata, seperti dulu.
EH, batinnya tersadar.
"Suruh dia merahasiakan hubungannya dengan Erika," bisik Vandra lagi dan diangguki Doni.
"Nasib Erika juga belum diketahui setelah dua orang pengawalnya ditemukan sudah meninggal," sambung Vandra kemudian menghela nafas panjang.
Doni menganggukkan kepalanya mengerti. Dia pun melangkah meninggalkan Vandra dan menghampiri Mikaela yang masih termenung sedih menatap lukisan keluarga Erika.
"Apa ada yang tau kamu adik angkat Erika?"
"Hanya Om Halim dan Kak Erika yang tau," ucap Mikaela pelan. Tapi tatapannya sendunya tetap ke arah lukisan keluarga Erika.
"Rahasiakan. Nyawamu juga akan ikut terancam kalo ada yang tau hubunganmu dengan Erika," bisik Doni sambil mensejajarkan berdirinya dengan Mikaela.
Mikaela terpaksa mendongakkan kepalanya untuk menatap kepseknya yang ternyata lebih tinggi. Kata kata Doni membuat hatinya bertanya tanya.
Padahal sebagai cewe dia sudah cukup tinggi, 160 cm. Mikaela hanya sebahu kepala sekolahnya yang sangat tampan itu.
"Mungkin Erika akan mencarimu," bisik Doni tepat di telinga Mikaela membuat bulu kuduk gadis itu merinding dan dadanya berdesir aneh.
Mikaela diam, dia malah terpaku karena wajah Doni sangat dekat dengan dirinya.
Pantas banyak yang suka. Pak kepseknya terlalu tampan, batin Mikaela memuji. Selama ini dia ngga gitu memperhatikan rumor sekolahnya. Mikaela pun ngga pernah peduli dengan kepsek yang jadi incaran siswi dan guru gurunya. Memperhatikannya sama sekali engga.
Mikaela sudah cukup sibuk dengan dirinya sendiri.
Gara gara cowo tengil itu yang membuatnya melihat dengan jelas kepsek idola sekolahnya. Bahkan underwear nya, wajahnya terasa panas memgingat kejadian paling memalukan dalam hidupnya. Dan juga hari ini kembali dia ketangkap lagi sama kepseknya. Apa mereka berjodoh?
Kalo dia jadian, pohon di belakang sekolah itu akan jadi tempat paling bersejarah baginya.
*Gila! A*pa yang aku pikirkan? Mikaela merutuk alam bawah sadarnya yang jadi ngga waras karena terlalu dekat dengan sang kepsek.
Doni melambaikan tangannya ke wajah Mikaela yang masih menatapnya tanpa kata.
Mikaela yang tersadar dengan cepat memalingkan wajah meronanya membuat Doni tersenyum jahil.
*Shittt! Gue benaran bisa jadi pedofi*l, umpatnya dalam hati saat merasakan debaran hebat jantungnya melihat wajah memerah Mikaela yang membuatnya jauh lebih cantik dan .... menggoda?
Shitt! Umpat Doni lagi dalam hati.
"Jangan suka sama saya. Kamu masih kecil," tegas Doni memberi batasan pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Hati Mikaela serasa dicubit mendengarnya.
"Saya udah punya pacar," dustanya tanpa melihat kepseknya yang sangat songong.
"Syukurlah," balas Doni kemudian menatap lurus pada lukisan keluarga Erika. Ada rasa ngga suka dalam dirimya begitu mendengar kalo cewe ini sudah punya pacar.
*
*
*
"Kapan aku akan menjadi CEO Arwana Grup?" tanya Anastasia begitu Om Halim melangkah ke arahnya.
Om Halim menghentikan langkahnya tepat di depan Anastasia. Beliau menatap tajam wajah datar di depannya.
"Apa kamu yang merencanakan semua ini?" tanya Om Halim dingin dengan tatapan menusuk.
"Om menuduhku? Om punya bukti?" tantang Anastasia dengan senyum manisnya.
"Memang belum. Tapi sebentar lagi akan Om dapatkan," tegas Om Halim. Beliau tau, dirinya juga akan menjadi target selanjutnya.
Anastasia ngga menjawab, dia masih tersenyum manis. Matanya yang dibalik kacamatanya menyorot ngga kalah tajamnya ke Om Halim.
Bentar lagi Om juga akan menyusul mereka, batin Anastasia sinis.
"Sampai berapa lama Om akan menahan jabatan CEO Arwana dariku?" tanya Anastasia balik menantang.
"Sampai Erika ditemukan," tukas Om Halim kemudian melangkah pergi. Dia melirik ke arah Mikaela, tapi beliau tau ini bukan waktu yang tepat. Mikaela bisa jadi sasaran selanjutnya kalo Anastasia sampai tau hubungan Erika dengan gadis itu.
"Besok aku akan ke perusahaan. Bukankah akan ada meeting penting?"
Langkah Om Halim terhenti mendengar kata kata Anastasia.
"Jangan melewati batasmu, Anastasia. Erika sudah memandatkan pada Om untuk memimpin selama dia ngga ada," tandas Om Halim tajam.
Anastasia hanya memamerkan seringai mengejeknya.
"Kalo Om mau terus menikmati hidup, sebaikmya jangan ikut campur dan segeralah mundur," ancamnya dengan nada halus.
Tubuh Om Halim bergetar menahan amarahnya. Mereka belum punya bukti keterlibatan Anastasia. Padahal Om Halim sudah ngga sabar ingin menjebloskan Anastasia ke dalam penjara.
"Lakukan saja semaumu," ucap Om Halim ngga peduli dan kembali berjalan meninggalkan Anastasia.
Orang yang mau mati memang suka cepat marah, ya, batinnya sinis. Hatinya senang. Tinggal beberapa langkah lagi dia akan menguasai Arwana Grup.
__ADS_1
Akan dia hancurkan sampai ngga bersisa, seperti dirinya yang sudah sejak lahir dinistakan. Harusnya dia bisa hidup enak, bergelimang harta andai ayahnya mencarinya sejak dulu. Dia pun bisa memliki suami yang dia cintai sejak dulu. dan Dirinya ngga perlu menjadi budak naf*su untuk memenuhi kebutuhan hedonnya dan pengobatan mamanya.
Hidup benar benar ngga adil untuknya. Karena itu, dia akan membalasnya. Tanpa sisa.