
"Sebaiknya kalian cuti," kata dady Eri yang berkunjung ke rumah Angel bersama maminya dan Eri.
Papi Angel pun tertawa. Persiapan pernikahan yang hanya tinggal seminggu lagi juga sudah rampung.
Akhirnya putrinya jadi juga disunting Eri. Papi Angel dan istrinya benar benar sangat bahagia.
Bagi papi Angel, Eri adalah menantu yang pas buat dirinya. Eri sangat penurut dan bertanggungjawab. Anak itu ngga pernah membantah, apa pun yang dimintanya.
Walaupun sekolahnya berantakan, tapi papi Angel yakin, kalo Eri ngga bodoh. Buktinya setelah dituruti keinginannya kuliah di jurusan seni, kuliah jurusan bisnisnya selesai empat tahun.
Papi dan mami Angel pun paham kalo putrinya memendam cinta pada Eri. Begitu juga orang tua Eri tau kalo Eri juga sudah lama menyukai Angel.
Akhirnya keluarga mereka dari tetangga bisa menjadi besan.
"Tapi dady aja ngasih kerjaan banyak banget," keluh Eri sewot.
Dady Eri tergelak, begitu juga papi Angel.
"Papi memang keterlaluan. Anak mau nikah malah dikasih setumpuk proyek," omel mami Eri juga kesal.
"Ya udah, suruh Handy aja kerjain," tukas dady ringan membuat Eri menatapnya malas.
Handy udah terlalu banyak kerjaannya, dad, batin Eri kasian.
Bisa minta jadi bos dia, sungut Eri kesal dalam hati mengingat sifat kurang ajar Handy.
"Ayo, kita pergi fitting baju pengantin," ajak Mami Angel.
"Ayuh. Mami juga mau lihat, seganteng apa anak mami," goda mami Eri sambil mengedipkan sebelah matanya membuat para orang tua itu kembali tertawa.
*
*
*
"Anak mami ganteng banget. Sudah mami duga," seru mami Eri heboh ketika melihat Eri yang sudah keluar dari ruang ganti.
"Calon mantu mami," puji mami Angel bangga.
Papi dan dady saling pandang dengan mata bersinar, setuju dengan pendapat istri istri mereka.
Apalagi setelah Angel keluar dengan kebaya gold nya.
Eri pun sampai terpesona melihatnya sampai membuat wajah Angel merona.
"Ehem."
Dady sengaja mengeluarkan suaranya untuk membuat Eri tersadar dari bengongnya.
Eri jadi salah tingkah karena kini kedua orang tua mereka menatapnya dengan tatapan menggoda.
"Cantik, kan, Er," goda papi Angel.
"Iya, dong, calon mantu mami," timpal mami Eri.
"Dari dulu coba kamu langsung setuju. Ngga pake gengsi gengsian," ungkit dady membuat orang tua mereka tergelak.
Eri merengut kesal.
__ADS_1
Andai saja dari dulu orang tuanya ngga membohonginya, pasti sudah dari dulu dulu Eri melamar Angel lagi. Ngga membuang waktu selama lima tahun, kesalnya dalam hati.
'Salah dady juga ngga terus terang," cela mami Angel pada suaminya gemas.Tapi suaminya malah tergelak gelak bersama papi Angel.
Suaminya itu sama sekali ngga ngerasa salah sama sekali sudah membuat anaknya menderita. Benar benar ngga peka. Setali tiga uang dengan watak anak mereka, omel mami Eri kesal.
"Tapi kalian hebat juga bisa menjaga kesetiaan," puji dady Eri lagi membuat Eri dan Angel salah tingkah.
"Dari TK ya, Er, kamu udah suka sama Angel," ledek dady dan lagi lagi beliau tergelak setelah membongkar rahasia besar putra tunggalnya
"Angel juga sama," balas meledek papi Angel. Mami mereka juga tertawa mendengarnya.
Angel melirik Eri yang sedang menatap kesal dadynya.
Benarkah? batin Angel ngga percaya.
Eri terlalu bersikap cuek padanya. Apalagi ketika mereka SMA.
Rasanya senang dan bahagia mendengar Eri menyukainya sejak TK dan sampai sekarang.
"Papi juga salut. Papi, kan, sudah bilang kalo Eri adalah laki laki yang baik dan bertanggungjawab, Angel," tambah papi sambil melirik Angel yang kini hanya menunduk malu.
Anak gadis papi bentar lagi akan menikah. Papi sedih campur bahagia, batin papi Angel.
"Ayo, ganti lagi," kata mami Angel penuh semangat.
Pegawai toko membantu Angel melepas baju pertamanya.
Ada empat baju yang disediakan
Rasanya lelah sekali.
Angel yang barusan membuka pintu ruang ganti agak kaget melihat Eri menunggunya. Tadi dia cukup lama bersandar di dalam ruang ganti setelah mengenakan dress nya kembali
"Kelihatan ya," ucap Angel dengan wajah meronanya. Angel rasanya capek dan lemes. Pakaian pengantin yang dicobanya cukup berat karena banyaknya layer layer dan batu batu permata yang menghiasinya.
Eri tersenyum lalu memberikannya air meneral yang ada di atas meja
"Minumlah," kata Eri setelah membuka tutup botolnya. Eri pun menggeser kursi plastik untuk di duduki Angel.
"Duduk sini," kata Eri sambil menatap orang tua mereka yang terlihat senang.
Angel menurut. Setelah duduk, diapun meneguknya sampai ngga bersisa.
"Kamu udah minum?" tanya Angel yang akan bangkit dari duduknya untuk membuang botol itu ke tempat sampah.
Tapi Eri menahannya sambil meraih botol plastik yang udah kosong itu.
"Aku udah tadi sebelum kamu keluar," kata Eri membuat Angel malu. Soalnya dia agak lama menyandar di dalam ruang ganti itu.
Kenapa dia ngga mengetuk pintunya ya, bisik batin Angel ngga enak.
"Udah bisa jalan? Kalo capek aku gendong," kata Eri serius
Angel tertawa untuk menutupi perasaan berbunganya atas perhatian manis Eri.
"Ngga usah. Tapi ntar lagi ya, aku masih lemes."
"Oke."
__ADS_1
"Hai, kecapean ya," sapa mami Angel sambil tersenyum melihat Angel yang masih duduk dan Eri berdiri di sampingnya.
"Iya, Mi," ucap Angel mengaku.
Mami Angel tertawa kecil.
"Eri, titip Angel ya. Mami dan orang tua kamu mau ketemu teman lama," pamit mami Angel sambil melirik Angel penuh arti.
"Oke tante. Siap."
"Nurut sama Eri, ya, Angel. Mami pergi dulu," pamit mami sebelum pergi. Tangannya sempat mengusap puncak kepala anak gadisnya lembut.
"Ya, Mi."
Akhirnya kedua orang tua mereka pun meninggalkan butik dengan mobil yang dibawa papi Angel.
Angel yang memejamkan matanya karena mulai mengantuk jadi kaget karena merasa tubuhnya diangkat.
Kini wajahnya bersandar di dada bidang Eri. Tangannya pun melingkar di leher Eri dengan pipi merona.
"Tidurlah," kata Eri sambil melangkahkan kakinya ke mobilnya yang terparkir.
"Kamu ringan banget. Jangan diet lagi. Aku ingin kamu gemukan kayak dulu," cela Eri setengah merengut.
"Nggak mau," tolaknya kesal. Padahal tadi hatinya berbunga bunga digendong ala brydal yang romantis. Tapi sekarang jadi layu dan kesal mendengar kata kata Eri.
Kamu udah sering gendong gendong perempuan lain ya. sampai bilang aku ringan, omel Angel kesal dalam hatinya.
Eri tertawa melihat wajah cemberutnya.
"Kenapa? Dulu waktu kamu gendut juga sering aku gendomg," kata Eri meledek.
BLUSH
Wajah Angel terasa panas. Dulu waktu mereka masih tk, Eri memang sering menggendongnya di punggungnya. Angel memang ganpang lelah. Hampir tiap pulang sekolah, Eri selalu menawarkan punggumgnya pada Angel.
"Kamu kangen nggak di gendong di punggung," goda Eri ketika sudah sampai di depan mobilnya.
Angel ngga menjawab. Dia merasa wajahnya semakin panas.
Eri tertawa lagi. Lalu meletakkan Angel dengan lembut di kursi penumpang. Memiringkan sedikit kursinya agar Angel merasa nyaman. Saat Eri memasngkan safe belt nya, Angel menahan nafas, karena wajah mereka begitu dekat.
Dengan nakal Eri mengecup bibir Angel lembut.
"Upah ku," katanya setelah menyudahi ciumannya dengan senyum smirk nya.
Mata Angel yang tadi terpejam kini terbuka sayu.
"Tidurlah, " kata Eri sambil menutup pelan mata Angel dengan mengusapkan jari jarinya.
Angel menurut dengan wajah meronanya. Dia pun sangat ngantuk.
"Aku cinta banget sama kamu, Angel," bisik Eri sambil mengecup pipi Angel sebelum menutup pintu mobil.
Jantung Angel rasanya mau lepas mendapat perlakuan lembut Eri.
Sekarang Eri ngga pernah kasar lagi padanya setelah tau kenyataan yang sebenarnya.
Tanpa setahu mereka, Sandrina yang ada di depan parkiran minimarket ngga jauh dari mereka berada, menatapnya iri sambil memegang perutnya.
__ADS_1