
"Ilham, aku mau ngomomg sama Eri ya," pamit Luvi pada suaminya.
"Oke. Aku akan jaga anak anak," kata Ilham mengerti. Memang sudah cukup waktu mereka menyimpan rahasia. Eri sudah harus tau.
"Makasih ya, honey," ucap Luvi penuh rasa terima kasih.
Sebelum pergi, Luvi pun mengecup pipi Ilham membuat pria cuek ini tersenyum senang.
Luvi bergegas menghampiri Eri yang sedang menatap Angel yang masih menjepret para bocil.
Mata Luvi melirik gadis yang dibawa Eri. Gadis itu juga berjalan mendekati Eri.
Karena jaraknya lebih jaih, akhirnya Luvi setengah berlari menghampiri Eri.
Begitu sampai di dekat Eri, Luvi segera menyeretnya pergi sebelum Sandrina mendekat.
"Ada apa, sih, Luv?" kesel Eri. Apalagi tadi dia mendengar Sandrina memanggil namanya.
"Ikut aja dulu," paksa Luvi sambil memasuki lift. Begitu sampai di lantai yang dia inginkan, Luvi langsung memasuki sebuah kamar sambil tetap menyeret paksa Eri yang ogah ogahan mengikutinya.
Setelah mengunci pintu kamar, Luvi langsung melepaskan tangan Eri.
"Kenapa kamu bawa gue ke kamar," tanya Eri bingung.
"Ada yang mau gue omongkan, penting," kata Luvi sambil duduk di sofa. Dia pun membuka kulkas dan mengambil minuman dingin dan langsung meneguknya hingga separuh.
Eri menggelengkan kepala melihatnya.
Bisa betah Ilham sama Lo. Padahal kelakuan Lo, ampun, laki banget, umpat Eri dalam hati.
"Jangan sok ngatain gue," sarkas Luvi membuat Eri nyengir.
"Lo cenayang? Dukun?" Eri balas mengejek.
"Gue memang ada bakat," jawab Luvi bangga.
"Huh," dengus Eri kesal.
"Sekarang ngomong, ngapain gue dibawa ke sini. Sekarang Lo bukan atasan gue lagi," sergah Eri sambil melipat kedua tangannya di dada.
Luvi tertawa.
"Jangan lupakan jasa jasa gue," kekehnya lagi.
Eri kembali mendengus kesal.
"Lo ngerjain gue. Jasa apaan," omel Eri kesal.
Luvi kembali terkekeh. Rasanya tetap menggelikan tiap mengingat betapa manutnya Eri padanya waktu magang.
Eri menatapnya kesal. Tiba tiba hpnya berdering. Sandrina menelponnya.
__ADS_1
Luvi yang melihat nana penelpon langsung mendelik kesal.
"Jangan diangkat!" serunya ketika melihat Eri akan mengangkat telpon dari Sandrina.
"Kenapa?"
Luvi pun merebut kasar hpnya tanpa bisa Eri cegah dan langsung meng off kannya.
Eri kaget dengan tindakan bar bar Luvi.
"Jangan sampai Melia kayak Lo," gerutu Eri kesal.
"Sesekali ngga apa," jawab Luvi cuek.
Eri menggusar rambutnya setres.
"Sebenarnya ada apa Lo ngurung Gue bareng Lo. Apa Ilham tau?"
"Gue pamit sama dia."
"Haahhh!"
"Udah Lo diam. Gue mau ngomong rahasia penting."
"Rahasia?" tanya Eri tertarik.
"Waktu Angel nolak Lo-"
"Makanya Lo diam dulu. Gue mau jelasin!" bentak Luvi garang.
"Pokoknya gue ngga dengar!" Eri pun balas membentak ngga kalah garangnya.
Luka hatinya berdarah lagi. Harga dirinya pun hancur lagi. Apa sepupunya ngga tau, dia baru bisa menyembuhkannya sebagian saja. Sebagiannya lagi masih berdarah darah.
"Salahkan mami dan papi Lo! Angel hanya terpaksa menurut!" teriak Luvi kencang.
Makanya tadi Luvi sudah membasahi kerongkongannya dengan air dingin.
Eri terdiam. Dia menatap Luvi tajam.
"Apa maksudnya?"
"Tante dan Om ingin melihat Lo sukses dulu. Angel dan keluarganya terpaksa menurut," jelas Luvi lagi.
Eri mencoba memahami apa yang dikatakan Luvi.
"Lo juga tau?" tanya Eri menahan marah.
"Ya tau lah," sahut Luvi ringan.
"Sekarang terserah Lo. Gue mau ngurus anak anak gue dulu," kata Luvi kemudian melangkah pergi meninggalkan Eri yang masih ngga gerak.
__ADS_1
Luvi teringat kalo hp Eri masih dalam.genggamannya ketika memegang handle pintu kamar.
"Hp Lo, lupa gue," kata Luvi sambil melemparkan hp Eri begitu saja sambil pergi.
Luvi tau Eri pasti berhasil menangkapnya. Dia berjalan keluar dari kamar hotel dan menutup pintunya.
"Sekarang terserah Lo, Er," kata Luvi pelan sebelum memasuki lift.
*****
"Mau pulang?" tanya Irfan pada Sandrina yang masih berdiri gelisah di ballroom hotel.
"Iya. Tapi tadi Pak Eri sepertinya ada urusan."
Sandrina teringat pada gadis cantik yang menarik Eri menjauh darinya, padahal tadi Sandrina sudah memanggil nama Eri.
""Ya sudah. Ayo aku antar kamu pulang," kata Irfan ramah.
Tadi dia sempat melihat Kak Luvi yang menarik tangan Eri. Seperti ada yang penting yang mau dibicarakan.
"Apakah tidak merepotkan?" tanya Sandrina merasa sungkan. Apalagi mereka baru kenalan.
"Tentu saja tidak. Sebentar, aku mengirim pesan pada Eri dulu," kata Irfan sambil mengetikkan huruf di hpnya.
"Hp Pak Eri ngga aktif," info Sandrina. Setelah telpon nya yang tersambung itu ngga diangkat, dia mencoba lagi. Ternyata sudah ngga aktif. Pesan pun hanya terceng satu.
Sandrina penasaran, ada hubungan apa Pak Eri dengan gadis tadi. Kenapa Pak Eri kelihatan menurut saja. Batinnya penuh tanda tanya.
"Oke," kata Irfan lalu mengirim pesannya pada Vandra.
"Nanti akan ada yang ngasih tau kalo Lo pulang sama gue."
"Iya, terimakasih."
"Lo masih ingat ngga nama gue?" tanya Irfan iseng.
Sandrina tersenyum.
Tentu dia ingat, batinnya.
"Pak Irfan, kan?"
"Irfan saja," kata irfan sambil melangkah keluar ballroom hotel diikuti Sandrina di belakangnya.
Sandrina ngga menjawab. Bibirnya mengembangkan senyum.
Dia beruntung diajak Pak.Eri ke pesta ini. Bisa mengenal lebih dekat dengan para eksekutif muda yang sudah sukses.
Irfan juga bukan kaleng kaleng. Perusahaannya bergerak di batu bara dan bahan tambang lainnya.
Sejak awal perkenakan mereka, Sandrina mencari tau tentang teman tenan Eri.
__ADS_1
Ternyata mereka semua anak konglomerat. Kabar baiknya, hanya satu yang sudah menikah, yang lainnya masih melajang.