Me And You

Me And You
Resah


__ADS_3

Sandrina bersandar di mobilnya dengan sedih. Dia menyembunyikan dirinya begitu mobil Eri melewatinya. Gadis itu masih memegang perutnya yang masih rata.


Sandrina baru saja mengetes dirinya denga test pack. Dia begitu takut melihat dua garis merah di test pack nya.


Setelah mengetahui Eri akan menikah dengan Angel, malam itu Sandrina dengan nekat ke club.


Waktu dulu di luar negeri, dia sering clubbing bersama teman teman kuliahnya.


Tapi kini dia malu bertemu teman temannya. Dia takut teman temannya meledeknya karena terlalu ge er dengan secuil perhatian Eri.


Entah berapa gelas alkohol yang masuk melewati keromgkongannya. Dengan liar dia pun mulai menari erotis di lantai dansa. Dia pun ngga peduli dengan tangan tangan nakal yang menjamahnya. Sampai kemudian dia merasa sangat pusing dan tidak ingat apa apa lagi.


Sandrina begitu terkejut ketika bangun dari tidurnya.


Dia berada di sebuah kamar hotel mewah dengan tanpa memakai apa apa di balik selimutnya.


Ketika dia akan mendudukkan dirinya, Sandrina menjerit karena organ intimnya terasa sangat sakit dan perih.


Matanya terbelalak melihat noda darah di seprei dan selimut yang menutupi tubuhnya.


Sandrina pun merasakan adanya cairan yang mulai mengering di sekitar kedua pahanya.


Dia benar benar ngga ingat apa pun selain terakhir kalinya dia menari dengan erotis.


Gila! Apa yang sudah diperbuatnya?


Sandrina pun menangis. Hampir dua jam dia menunggu. aTapi ngga ada yang datang ke kamarnya.


Dia ditinggalkan begitu saja oleh teman kencannya. Padahal dia masih perawan.


Dengan penuh rasa malu, setelah membersihkan tubuhnya, Sandrina pun meninggalkan kamar hotel dan berusaha melupakan kejadian paling tragis dan memalukan dalam hidupnya.


Tapi hasil test pack membuatnya mau ngga mau mengingat lagi kejadian malam itu.


Sandrina membayar orang untuk mencari rekaman cctv pada malam laknat itu, baik di kafe atau pun di hotel. Tapi dia sudah sangat terlambat. Rekaman itu sudah dihapus. Mungkin oleh orang yang memperkosanya.


Siapa? Ngga mungkin orang biasa. Karena hotel itu sangat mewah. Permalamnya sangat mahal.


Sandrina terus bertanya tanya dalam hatimya. Teganya orang itu padanya. Dia bukan perempuan murahan. Dia bahkan masih perawan.


Tapi mungkin aja orang itu mengira begitu. Karena dia begitu liar dan panas saat menari.


Harusnya dia tidak sendiri. Harusnya dia bersama teman temannya. Jadi ada yang menjaganya jika dia pingsan.


Sandrina terisak. Membayangkan perutnya bakal membesar tanpa ada seorang laki laki yang mengakui kehamilannya.


Mungkin saja yang memperkosanya lebih dari satu. Waktu itu dia merasa organ intimnya sangat perih selama berhari hari.

__ADS_1


Sandrina akhirnya masuk ke dalam mobilnya. Dia kembali menangis.


Apa yang akan dikatakanjya pada mama dan papanya. Juga pada dua kakak laki lakinya.


Sandrina takut. Takut sekali kalo keluarganya sampai tau mengapa dia bisa hamil.


Seandainya dia lamgsung minum obat pencegah kehamilan setelah kejadian itu, mungkin di ngga akan hamil. Tapi dia takut akan efek obat itu yang katanya bisa membuat rahimnya kering.


Kalo sekarang digugurkan, dosanya akan berlipat lipat. Siapa tau dia akan kehilangan nyawa akibat pendarahanan atau dokter salah menanganinya. Neraka udah jelas tempatnya.


Sandrina terisak lagi. Dia bingung, apa yang harus dia lakukan.


Tanpa Sandrina ketahui seorang laki laki tampan mengamatinya dengan wajah resah. Laki laki tampan itu mengusap wajahnya dengan kasar.


Sudah beberapa hari ini dia mengikuti gadis itu seperti orang gila. Tapi untuk menghampirinya dia takut. Apalagi mengakui perbuatan biadabnya.


Akhirnya dia melihat mobil Sandrina melaju pergi. Saat dia akan masuk ke dalam mobilnya, seseorang menepuk pundaknya.


"Ngapai Lo ngelamun di sini," cela Aldi sambil menyeringai.


Laki laki tampan itu masih diam, seolah ngga mendengar. Dia larut dalam pikirannya sendiri.


"Fan, woiiii," seru Aldi membuat dia tersadar.


"Eh, what are you doing here?"


Aldi terkekeh karena latah speak english nya keluar lagi akibat kaget.


"Beli apa?" tanya Irfan melihat dua kantong plastik besar yang ditenteng Aldi.


"Oh, ini," kata Aldi sambil mengangkat dua kantong plastiknya.


"Lo ngeborong jajanan buat ponakan Lo?" tanya Irfan sambil menggelengkan kepalanya melihat isi dua kantong plastik besar itu.


"Bukan," bantah Aldi kesal.


"Terus?" tanya Irfan heran.


"Mau Lo sumbang ke panti? Dikit ini," lanjut Irfan sok tau.


"Buat teman gue lembur," kata Aldi sambil pergi ke mobilnya yang cuma berjarak dua mobil dari mobil Irfan.


"Lo temenin gue ya," kata Aldi sambil membuka bagasi mobilnya.


"Boleh juga. Gue lagi bebas," kata Irfan setuju. Dari pada suntuk mikirin Sandrina ngga ada titik temunya, mendingan dia bantuin Aldi, buat ngurangin rasa stresnya.


"Si Eri dari dulu sampai sekarang, nyusahin terus," omel Aldi sambil menutup pintu bagasinya.

__ADS_1


Irfan tertawa mendengarnya. Dua orang yang ngga pernah akur dan selalu beda pendapat disatukan jadi saudara gara gara pernikahan Luvi dan Ilham.


Tentu Aldi yang sering disusahkan Eri dalam berbagai hal. Apalagi Eri bentar lagi mau nikahan.


"Dia nyuruh Lo ngapain?" tanya Irfan dengan tampang ngga ngga ada sedikitpun rasa simpati.


"Tiga proyeknya disuruh gue yang nge ngarap. Handy udah ngga sanggup katanya."


Ganti Irfan yang tergelak. Temannya itu memang beruntung punya asisten dan saudara ketemu gedenya yang selalu mengatasi masalahnya tanpa masalah.


"Tadi gue ketemu Sandrina di minimarket. Dia kelihatan seperti orang bingung."


Tawa Irfan terhenti seketika.


"Lo ngintilin Sandrina ya," tuduh Aldi curiga.


Irfan memicingkan matanya, bersikap meremehkan.


"Ngapain," bohongnya se santuy mungkin.


"Kirain," ucap Aldi ngga acuh.


"Lo ikutin mobil gue," kata Aldi sambil masuk ke dalam mobil dan langsung pergi. Dia ngga boleh membuang waktu. Terlalu banyak yang harus dia kerjakan.


Dasar sodara edan, maki Aldi sambil nyetir.


Irfan hanya menyeringai melihat kelakuan Aldi. Minta dibantu tapi ngga sopan banget.


Akhirnya Irfan pun mengikuti mobil Aldi.


Aldi masih mengingat dengan santuy nya Eri menghibahkannya tiga proyek dari papanya sendiri.


"Tolong gue, Al. Masa gue mau nikah masih lembur juga. Bisa kusut muka gue pas jadi penganten."


"Muka Lo emang udah kusut," cela Aldi ngga berperasaan.


"Nanti gue deketin Lo sama Aurelia. Lo suka kan?" tebak Eri jitu. Kemarin dia sempat memperhatikan gelagat aneh antara Eri dan Aurelia di kafe.


"Ngga perlu," tolak Aldi sombong. Heran dia dengan Eri. Anak itu kadang kadang bisa kuat juga instingnya. Padahal lebih sering zonknya.


"Beneran nggak mau. Anak itu nurut loh sama apa yang gue omongin," kata Eri mulai bernegoisiasi.


"Heemmm."


"Deal, ya. Nanti gue suruh Handy ke kantor Lo. Thank's bro," katanya sambil menutup sambungan telponnya membuat Aldi tambah kesal.


Belum juga disetujuin, udah maen putusin aja telponnya, sewot Aldi dalam hati.

__ADS_1


Dan bener saja, ngga lama kemudian, Handy pun mengantarkannya setumpuk berkas dan beberapa buah flashdish dengan tampang tanpa dosanya.


Memang saudara kurang ajar


__ADS_2