
Kak, kamu dimana? Apa sebenarnya yang terjadi padamu, batin Mikaela benar benar sedih.
Dirinya begitu shock mendengar kabar menyedihkan yang terjadi pada keluarga kakak angkatnya. Niat untuk bersenang senang karena akan keliling Eropa malah menjadi bencana yang ngga mungkin bisa dilupakan begitu saja.
Setitik air matanya mengalir membasahi pipinya. Cepat dia hapus. Mikaela menguatkan kakinya yang terasa lemas.
"Kamu mau duduk aja?" tanya Doni perhatian ketika melihat wajah siswa sekolahnya yang pucat.
"Tidak pak," tolaknya cepat.
Matanya menatap sayu pada peti peti yang akan di kuburkan.
Ingatannya kembali mengenang saat mama dan papanya meninggal. Hanya saja saat itu dia berdiri sendiri, hanya ditemani pengacara dan kolega kolega bisnis papanya, tanpa ada keluarga yang menemani dan menguatkan.
Sejak kehadiran Erika, Mikaela merasa hidupnya mulai berarti. Mendapat kasih sayang dari seorang kakak yang ngga ada ikatan darah, tapi selalu memperhatikannya.
Tapi kini kakak angkatnya dinyatakan hilang. Semoga saja dia mampu bertahan dan selamat.
Dua jam kemudian penguburan pun selesai. Para kolega sudah pamit. Hanya tinggal kerabat dan para sahabat. Termasuk Anastasia.
Tapi mereka dikejutkan kedatangan tiba tiba Alex dengan wajah yang sangat keruh dan geram.
"Ada apa?" tanya Om Halim heran.
"Tuan, jenazah dua pengawal yang kita kira selamat, ada di depan," katanya gugup.
"APPAAA!" teriak Kakek Handy yang ikut mendengar sambil memegang dadanya.
"Kakek," seru Arven sambil menahan tubuh kakeknya yang akan tumbang.
Om Halim memejamkan matanya.
Gimana nasib Erika.
"Calon istrimu, gimana.... keadaannya," ucap Kakek.Handy dengan suara serak. Nenek Rani pun menangis lagi. Saat ini beliau benar benar takut akan kehilangan cucu sahabatnya.
Swasti, Widya, jangan bawa cucu kalian. Tolong, aku mohon, ratap Nenek Rani dalam hati.
Ilham yang merasa ngga ada pergerakan di kamera cctv nya, langsung mendekati kepala pengawal itu.
"Dimana?" tanyanya dingin. Dia benar benar kecele kali ini.
"Ayo, antar kami untuk melihatnya," perintah Om Halim sambil menarik tangan Alex yang segera membawa Om Halim keluar.
Valen dan yang lain pun ikut keluar.
__ADS_1
"Bang Arven pergi aja. Aku yang akan menjaga kakek," kata Vandra sambil mendudukkan Kakek Handy di kursi yang dibawanya.
"Terimakasih, Van," kata Arven kemudian melangkah pergi menyusul teman temannya.
Amastasia ngga bergerak di tempatnya berdiri, hanya menatap sinis.
Rasakan, batinnya senang.
Ternyata dua orang pengawalnya yang kini sudah memejamkan mata, sepertinya telah meninggal nggak lama setelah mereka selamat dari ledakan.
Tubuh mereka yang basah menandakan kalo mereka selamat tercebur ke sungai.
Apakah mereka sempat selamat setelah itu? Apakah saat selamat mereka langsung diberondong tembakan? Bagaimana dengan Erika
Berbagai pertanyaan bergema di rongga dada mereka. Mereka bingung apa yang terjadi. Arven dan teman temannya menatap Ilham yang kini mengepalkan tangannya. Ilham terlihat sangat marah dengan wajah yang mengeras.
Ternyata benar kekhawatirannya. Mereka terlambat dalam selisih waktu yang cukup banyak, sehingga para penjahat itu telah lebih dulu mengutak atik cctv untuk menipu polisi dan dirinya. Sehingga terciptalah harapan palsu.
"Jadi siapa yang kita lihat di cctv itu?" bisik Valen geram pada Ferdi.
"Orang orang mereka yang di dandani seperti Erika dan para pengawalnya," sahut Ferdi balas berbisik. Hatinya pun geram. Tapi kesalahan ini wajar karena kualitas cctv yang tampak kabur menyulitkan mereka untuk melihat secara detil.
"Tapi gue rasa mereka sempat selamat dari ledakan. Kita benar benar terlambat," kata Celon dengan asumsinya, karena kulit mayat kedua pengawal itu tidak menghitam.
Arven menghampiri salah satu pengawal yang seperti menggenggam sesuatu. Teman temannya memperhatikannya.
Mata Arven sedikit membesar. Gelang yang terbuat dari manik manik berbentuk bulat cukup besar berwarna biru yang sudah sangat pudar warnanya.
Ingatannya seolah kembali pada seorang gadis kecil yang mungkin berusia lima tahun, sedang menangis ketakutan karena terpisah dari orang tuanya di pasar malam yang sangat ramai.
Arven pun mengajaknya ke ruang informasi. Tapi sebelumnya, Arven membelikan gadis itu gelang manik manik berwarna biru agar gadis kecil itu tidak menangis lagi.
"Lihatlah. Gelang ini cantik di tanganmu yang putih," bujuk Arven kecil saat memakaikan gelang yang cukup besar di lengannya yang mungil.
"Tapi ini terlalu gede," tolaknya sambil mengulurkan tangannya, mnta dilepaskan dengan wajah manyun. Tapi Arven senang karena berhasil membuatnya ngga menangis lagi.
"Ngga apa. Biar bisa dipake sampai kamu semakin besar," kekeh Arven sambil mengangkat tangannya setinggi orang dewasa.
Gadis kecil itu ikut tertawa.
Mungkinkah itu dia? Tapi ngga mungkin. Gelang ini sangat murah dan siapa saja bisa membelinya, bantahnya dalam hati.
"Arven," panggil Valen menyadarkannnya dari lamunan.
"Apa itu gelang Erika?" tanya Valen sambil menatapnya tajam.
__ADS_1
"Entahlah," sahut Arven sambil menatap gelang itu kembali dengan hati kusut.
"Itu gelang nona Erika. Ya, Allah," seru Om Halim dengan suara tertahan.
Arven dan teman temannya menatap wajah Om Halim yang tampak pucat.
Lalu Om Halim mengambil gelang itu dari tangan Arven dan menaruhnya ke dadanya. Matanya terpejam.
Erika, kamu masih hidupkan? batinnya pilu.
"Gelang ini hadiah dari teman kecil Erika di pasar malam. Temannya juga yang mengantarkannya ke bagian infirmasi orang hilang. Tapi kami ngga sempat bertemu temannya untuk mengucapkan terimakasih," kata Om Halim pelan.
DEG
DEG
Arven merasa dadanya tiba tiba sakit. Gadis itu ternyata Erika. Memang Arven ngga menungguinya karena sudah ada mbak mbak dan pak polisi. Arven juga sudah ditunggu papa dan mamanya di parkiran. Tadinya Arven bermaksud membeli arummanis, tapi ngga jadi. Uangnya malah buat dibelikan gelang untuk.gadis kecil itu.
Sekian tahun ngga pernah bertemu, malah kini hanya gelangnya saja yang ditemuinya.
"Kamu ngga apa apa?" tanya Celon cemas melihat Arven yang hanya membisu dan seperti orang bingung.
"Kita akan cari dia," kata Celon berusaha menenangkan Arven.
Walaupun dia suka meledek sahabatnya sebagai jones, tapi dia tidak akan tinggal diam. Dia akan mencari calon istri Arven sampai ketemu. Kalo perlu nyebur ke sungai itu.
"Mereka dibawa oleh ambulance. Kata supirnya, mereka dihubungi nomer hp ini dan meminta mengantarnya ke alamat ini, tuan," lapor Alex sambil menunjukkan nomer hp yang diberikan salah satu petugas ambulance.
"Tapi nomer hp ini sudah ngga aktif lagi, tuan," sambung Alex.
Arven dan teman temannya saling pandang dengan pikiran yang sama. Mereka dipermainkan, diremehkan sampai ke dasar dasarnya. Itu yang membuat mereka benar benar geram dan marah.
"Apa Erika masih berada di sekitar sungai?" bisik Celon pada Ferdi dengan pikiran alternatifnya.
"Maybe yes, maybe not. Kalo dia masih hidup, dia pasti akan mencari orang orang terdekatnya," sahut Ferdi balas berbisik. Hatinya ngga tenang. Ini sudah terlalu lama dari waktu kejadian. Ferdi membenci dirinya yang sangat ceroboh kali ini. Ferdi pun menelpon anak buahnya menyusuri sungai, dan mencari bukti sekecil apa pun yang masih tersisa di sana.
"Mungkin mayat mayat yang ada di pinggir sungai itu korban yang jatuh dari pihak musuh. Hebat juga dalam kondisi terdesak begitu bisa membunuh hampir lima orang. Ada berapa penyerangnya? Lebih dari lima?" analisis Celon dalam hati sambil menggelengkan kepalanya. Kagum akan kehebatan para pengawal.
"Supir itu bertemu dengan yang menyuruhnya?" bisik Ferdi sambil melihat Alex.
"Katanya iya tuan. Ada satu orang yang menunggu jenazah itu saar ambulance datang dan pelukis kami sedang menggambar sketsa wajahnya, tuan," lapor Alex balas berbisik.
"Memang orang itu memakai topi dan masker, tapi topinya sempat terbang tertiup angin, jadi kedua supir itu sempat melihat bentuk alis, kening dan rambutnya lebih jelas," tambah Alex lagi dengan suara perlahan.
"Tolong dirahasiakan. Berikan padaku kalo sudah jadi," perintah Ferdi tegas.
__ADS_1
"Siap tuan," sahut Alex patuh.
"Tolong shalatkan dan kuburkan jenazah ini seperti sebelumnya. Hubungi juga keluarganya," perintah Om Halim sambil memandang hornat pada dua jenazah yang selama hidupnya dan sanpai akhir nyawanya melindungi keluarga Danutirta dengan kerelaan hati yang tulus. Wajah mereka pun terlihat tenang dan tersenyum seakan malaikat pun sangat bahagia menyambut kedatangannya.