
Arabela tersenyum melihat target barunya keluar dari mobil. Saat ini Arabela sedang berada di basemen yang sama dengan targetnya.
Tapi senyumnya hilang melihat sang target dengan romantis membukakan pintu mobil di sebelahnya. Seorang gadis cantik dan anggun bergerak keluar dari dalam mobil.
Arabela benar benar terpesona melihat senyum incarannya. Sungguh memikat. Padahal tanpa senyum pun malam itu sang target telah memenjarakan hatinya.
Arabela menajamkan matanya melihat perut gadis yang kini digandeng dengan mesra itu agak membuncit.
Dia sudah menikah? Arabela termenung sebentar.
Tapi kemudian seringai sinis bermain di wajahnya. Dia akan mencobanya. Harus berhasil. karena targetnya ini lebih kaya dari pada Eri.
Kekayaannya bisa menghidupinya sampai tujuh turunan.
Tapi bagaimana cara mendekatinya?
Arabela terus mengawasi hingga ketika targetnya hanpir mendekatinya. Dia pun membuka pintu.
Arabela yang sudah berpakaian sangat seksi dengan dres brokat yang menampakkan sebagian dua asetnya yang berharga berjalan mantap mendekati Vandra yang sedang merangkul Mia.
Tanpa ragu gadis itu menjatuhkan dirinya ke dada Vandra.sambil meraih lengannya.
Mia yang terkejut reflek menarik Vandra menyingkir dengan cepat. Begitu juga Vandra yang menepis kasar tangan Arabella yang hampir menyentuhnya.
"Sekuriti!" teriak.Vandra menggelegar.
Dua orang sekuriti yang berdiri ngga jauh dari situ bergegas menghampiri anak pemilik gedung yang tampak begitu menyeramkan wajahnya.
"Vandra, kamu kenapa? Kamu lupa tentang semalam?" Arabela balas berteriak histeris.
Mia menatap Vandra bingung.
"Orang Gila," bentak Vandra murka.
"Tuan muda," ucap dua sekuriti itu berbarengan. Wajah mereka pucat menatap takut pada Vandra yang begitu emosi.
"Bawa perempuan gila ini pergi!"
__ADS_1
"Vandra, kalo kamu takut istri kamu marah, kenapa kamu laukan?"
Fitnah apalagi ini.
Vandra memijat keningnya. Sudah ada beberapa pegawai di situ yang memperhatikan mereka.
"Mia, suamimu semalam bersamaku," teriak Arabela berani.
Dia senang karena banyak yang mempehatikan.
Mia tersenyum sambil mengeratkan pegangannya pada Vandra. Dengan mesra dia mengecup pipi sebelah kanan suaminya.
Amarah Vandra mengendur. Baru kali ini dia bertemu perempuan gila dan nekat begini. Di area perusahaannya lagi. Benar benar cari perkara.
Mia juga baru kali ini menghadapi fans Vandra yang frontal.
"Ayo sayang kita pergi," kata Mia lembut. Ngga penting baginya mengurus cewe model gini.
Tanpa mempedulikan perempuan gila ini yang masih teriak teriak, Vandra mengarahkan pandangannya ke pata pegawainya ysng masih menonton.
Tatapan murka Vandra membuat nyali mereka ciut.
"Siap, Pak," kata dua satpam itu patuh dengan tubuh juga bergetar.
"Maaf, Pak."
"Maaf, Pak."
Begitu kata mereka berulang ulang dan langsung ngacir dengan pikiran semrawut. Surat pemecatan seakan tinggal selangkah lagi sampai di hadapan mereka.
"Vandra, aku akan terus menemuimu," teriak Arabela makin menjadi, padahal dia sudah digeret paksa dua sekuriti sekaligus.
Vandra ngga peduli, dia mengikuti langkah Mia melangkah menuju lift. Tangannya erat menggenggam jemari Mia. Emosinya yang sudah turun, naik lagi.
"Sudah, ngga usah dipedulikan," kata Mia lembut. Akhirnya mereka memasuki lift. Mia pun menekan lantai yang akan mereka tuju.
"Tumben kamu ngga marah?" tanya Vandra heran. Biasanya Mia sangat cemburuan. Apalagi sejak hamil.
__ADS_1
"Untung aja teman teman kamu buat status kalian tadi malam. Bahkan Toni juga bercerita kalo nemenin kamu," jelas Mia membuat Vandra lega.
"Kata Eri, perempuan gila itu ngikutin dia dari Manchester sampai ke.sini. Kenal ngga malah buat rumor aneh aneh," gerutu Vandra sewot banget.
"Nanti aku telpon Eri biar dia yang ngurusin perempuan gila itu," gerutu Vandra lagi.
Mia menyandarkan tubuhnya di dada Vandra. Bukan satu dua kali para perempuan cantik dan seksi mendekati Vandra. Dari jaman mereka SMA, kuliah, bahkan setelah mereka nikah pun. Nggk ada abisnya.
"Kamu capek?" tanya Vandra sambil mengeratkan pelukannya.
Mia menggelemgkan kepalanya.
"Maaf ya," ucap Vandra lembut.
"Ya," sahut Mia sambil menganggukkan kepalanya.
Seingat Vandra, dia tidak mempedulikan perenpuan sinting itu tadi malam di pameran lukisan Eri. Kenapa malah teriak teriak ngga jelas di basemen perusahaannya.
Vandra langsung mengetikkan prsan dan mengirimkannya pada Eri.
****
"Jangan seret saya!" sentak Arabela kasar.
"Nona melawan akan kami kirim ke kantor polisi," ancam salah satu satpam galak.
Arabela terdiam. Takut juga harus berususan dengan polisi. Akhirnya Arabela menurut membuat dua satpam itu menatapnya dengan pandangan meremehkan.
"Itu mobilku," tunjuk Arabela. pada mobilnya yang ngga jauh dari situ.
"Bisa lepaskan. Aku akan pergi," kata Arabela sambil menarik tangannya.
"Dari tadi harusnya nona. Sekaramg pergilah, jangan muncul lagi di sini," kekeh salah satu sekuriti. Temannya hanya ikut tertawa saja.
Arabela memasuki mobilnya denga kesal. Dia merasa terhina.
Akhirnya dia melajukan mobilnya keluar dari parkiran basemen dengan cukup kencang.
__ADS_1
Ada satu mobil yang juga keluar dan mengikuti mobil Arabela tanpa Arabela sadari.