
"Lo masih belum bisa nemuin perempuan ini?" sentak Reksa emosi. Sudah tiga hari berlalu, perempuan itu bagai hilang ditekan bumi.
Bahkan Reksa sudah beberapa kali ke apartemen itu. Anehnya rekaman kedatangan perempuan itu terhapus di file cctv. Reksa semakin yakin kalo perempuan itu bukan orang biasa. Apesnya lagi sekuritinya merupakan petugas baru, tentu saja ngga mengenal foto yang diberikannya maupun Axis.
Axis bahkan selama tiga malam ini nongkrong di club hanya untuk memenuhi permintaan bosnya. Mengawasi pengunjung perempuan club, siapa tau perempuan yabg dicari bosnya itu akan datang lagi.
Sepertinya perempuan itu ingin menghindarinya. Reksa ingat, perempuan itu memakai wig panjang yang halus persis rambut berwarna ungu. Reksa berhasil melihat rambut panjang hitam lurus yang indah, tergerai setelah aksi pertama mereka. Sungguh sangat cantik dan menggoda.
Reksa yakin, Aro dan teman temannya juga ngga akan mengenali perempuan itu. Dia saja yang tau aslinya perempuan itu sampai sekarang masih kesulitan mendapatkannya.
"Memang bos ngga tau siapa namanya, di mana rumahnya, apa hobinya?" tanya Axis ngelantur dan kemudian mengaduh sakit karena lututnya ditendang cukup keras oleh Reksa.
"Sakit bos," ringis Axis sambil terpincang pincang menjauhi bosnya yang sedang dalam mode angker.
"Syukurin," sumpah Reksa puas melihat wajah kesakitan asisten pribadinya.
CEKLEK!
"Lo abis ngamuk?" kekeh Vero ketika memasuki ruangan sepupunya. Ando di belakangnya ikut terkekeh melihat wajah masam Reksa dan ringisan kesakitan Axis.
"Axis, lo ikut gue aja. Ngga bakal semena mena gue sama lo," masih tergelak Vero menawarkan pekerjaan pada Axis.
Axis hanya nyengir saja. Dia ngga marah walaupun Reksa sewenang wenang dengannya. Reksa kecil pernah menyelamatkannnya dari para preman ketika ngemis di lampu merah. Reksa juga yang membiayainya lulus SD, SMP, STM, bahkan kulliah di jurusan manajemen. Setelah lulus, Axis sendiri yang menawarkan diri menjadi asistennya. Reksa ngga pernah memintanya secara khusus, apalagi untuk membalas kebaikannya.
Walaupun Reksa bos yang suka seenaknya, Axis tetap mematuhinya. Bahkan Axis selalu bebas bersikap usil padanya. Reksa fine fine saja.
Dengan sudut matanya, Reksa mengkode Axis agar keluar dari ruangannya. Tanpa kata Acis pun keluar dan menutup pintu ruangan Reksa.
"Masih emosi gara gara cewe ONS," ejek Vero ngga henti hentinya mentertawakan sepupunya.
"ONS aja sampai kebakaran jenggot begini. Gimana kalo gue kenalin lo sama teman gue yang super cantik," pancing Ando menawarkan membuat mata Reksa mendelik.
"Emang gue ngga laku apa," ketusnya kesal tambah membuat Vero terbahak bahak. Ando hanya menggeleng gelengkan kepalanya.
"Swear, lo ngga bakal nyesal kalo udah ketemu," tukas Ando tetap sabar bernegoisasi.
"Si Clara maksud lo?.Ogah," tolaj Reksa cepat. Saat ini pikirannya lagi penuh dengan cewe ONSnya yang menghilang. Dia pun malas dengan perempuan yang ada hubungannya dengan Vandra.
__ADS_1
"Dia memang sudah gila, Do," cela Vero di sisa tawanya. Kepalamya pun terus saja menggeleng melihat kekeras kepalaan sepupunya.
"Gimana sama pilihan mami?" sambung Vero ingin tau. Udah beberapa hari ini mereka ngga ketemu Mumpung udah selesai meeting dengan Ando di dekat perusahaan Reksa, Vero pun mengajak Ando untuk mampir. Dia ingin tau cerita kencan yang sudah diatur tantenya.
"Cantik dan seksi, sih," jawab Reksa asal sambil membuka ponselnya dan memberikannya pada Vero.
"Bukannya ini Stefi?" Vero menatap Ando yang netranya juga mengarah ke ponsel Reksa.
"Kalian kenal?" Reksa bertanya heran. Tapi kemudian dia berpikir wajarlah, mungkin pernah memjadi rekan kerja.
"Kenalan tante oke oke juga," dengus Vero kemudian tertawa.
"Katanya anak arisan teman mami," jelas Reksa malas. Stefi memang cantik dan seksi, tapi bagi Reksa masih kalah jauh dengan cewe ONSnya.
Sialan, apa.dia sudah ONS dengan pria lain, batin Reksa mendumel gusar. Rasanya agak takut membayangkan cewe ONS itu akan bersama pria pria lain.
"Kita dulu hampir terlibat kerja sama dengan Dewi Kirana yang dipegang Anastasia," jelas Vero pelan.
"Yang udah meninggal kena bom?" tanya Ando memperjelas.
"Anastasianya," sahut Vero.
"Stefinya mau sama lo?" pancing Vero.
"Ngga tau juga. Dia belum ngasih kabar ke gue," kata Reksa cuek.
"Bego lo! Dia nunggu kabar dari lo lah," maki Vero sambil melemparkan bantal kursi ke wajah Reksa, tapi dengan tangkas Reksa mengelak. Sekarang dia malah tertawa bersama Ando. Membiarkan Vero yang mengomel karena lemparannya meleset.
Beberapa menit kemudian.
"Do, gue heran sama lo. Ngapain lo repot repot deketin Clara," cela Reksa.
"Biar ngga ganggu hubungan Vandra sama Mia lah. Gimana, sih, lo," balas Vero menghina sepupunya.
Oon banget, dengusnya dalam hati.
"Kalo Vandra ngga mau, kan, ngga ada masalah," tuding Reksa sangat yakin.
__ADS_1
"Gue juga yakin Vandra ngga akan mau. Tapi Clara tetap ngejar Vandra, dimana pun. Lama lama Vandra pasti bisa luluh juga karena kasian," sergah Ando mengutarakan kekhawatirannya.
"Yakin gue. Vandra ngga gitu," ngeyel Reksa penuh percaya diri. Dulu aja mata Vandra ngga pernah meleng. Lika yang cantik gitu aja sama sekali ngga dianggap sama dia.
"Si Clara sama Lika cantik mana?" tanya Reksa melanjutkan omongannya. Ando dan Vero saling pandang.
"Si Vandra ngga pernah melirik Lika," tandas Reksa tegas.
"Mereka sama cantiknya. Tapi Clara itu lembut dan terlihat lemah. Gue takut Vandra jatuhnya kasian, ngga tegaan," tukas Ando ngotot.
"Iya juga, sih," balas Vero mulai mikir. Memang Clara seperti kertas yang mudah robek. Sangat rapuh. Beda dengan Lika yang psycho.
"Sekarang mau lo gimana?" tanya Reksa mulai terpengaruh dengan reaksi Vero.
"Gue mau aja deketin Clara. Soal cinta belakangan. Tapi gue harus nyari ttm gue dulu. Dia lebih butuh gue," jelas Ando kemudian membuang nafas kasar. Sampai sekarang dia belum berhasil nemuin Belinda dan putrinya? Walau ragu, tapi Ando yakin hitungannya ngga salah. Anak Belinda adalah anaknya. Bibit unggulnya.
"Kalo lo ketemu Belinda, apa ntar lo bakal tes dna anaknya?" tanya Vero dengan raut serius.
"Belinda pasti marah. Dia aja ngga butuh tanggung jawab gue," sergah Ando. Ngga mungkin dia melakukan itu walau masih ada keraguan dalam hatinya. Padahal mama dan papanya pasti butuh kepastian tentang keabsahan cucu mereka..Tapi mengingat watak keras Belinda, pasti akan sangat sulit.
"Aneh juga yang namanya Belinda. Namanya anak, pasti butuh sosok ayahnya, kan. Apalagi anaknya perempuan. Da nikah tetap butuh wali, kan," ucap Reksa memberi pendapat.
"Ando tetap ngga bisa jadi wali. Karena anak Ando lahir di luar pernikahan," tandas Vero. Sedikit banyak dia ngerti ilmu agama.
"Oh, gitu ya, kasian anak gue." Ando menggusar rambutnya kasar. Dia merasa sangat menyesal. Pantas saja Belinda ngga butuh tanggung jawabnya. Tapi anaknya pasti akan jadi bulan bulanan teman temannya. Karena ngga ada papinya. Dan Belinda pasti akan dapat cap buruk karena punya anak tanpa suami.
"Kira kira ada lagi ngga anak lo selain Belinda?" tanya Reksa beberapa menit kemudian sambil menatap Ando serius.
"Cuma sama Belinda aja. Yang lain ngga pernah," kata Ando yakin. Memang hanya sama Belinda dia lost control.
"Lo sok nanya nanya. Lo berapa kali buang di dalam?" sarkas Vero pada sepupunya dengan tatapan merendahkan.
Reksa menggaruk kepalanya sambil nyengir.
"Sering, sih. Tapi gue, kan, pake sarung. Aman," pungkas Reksa dengan cengiran di wajahnya.
Vero tergelak.
__ADS_1
Sama, batinnya.
"Moga aja sarung sarung Lo ngga rembes," kekeh Ando membuat Reksa jadi tergelak juga.