Me And You

Me And You
Obrolan Pria Sukses


__ADS_3

"Kata Bang Ferdi, tadi asistennya udah manggil Arabela," info Vandra.


Siang ini mereka sengaja kumpul di ruangan Vandra.


Ada Eri, Aldi, Igo, Fino, Doni, dan Irfan. Toni sedang melakukan operasi jadi ngga bisa datang.


Mia, Angel dan Rosa berada di ruangan lain, ngga mau mengganggu.


"Syukurlah," respon Eri puas.


"Kata Bang Ferdi, karena bukti sudah lengkap, Arabela akan didakwa dengan tuntutan human trafficking. Untuk memberinya pelajaran, dia akan mendekam selama tiga bulan di penjara," jelas Vandra lagi.


"Syukurlah. Paling engga si Aurelia aman selama tiga bulan," tukas Eri lagi.


"Kamu juga, Van," kekeh Doni membuat Vandra jadi kesal.


"Sudah, jangan kesal lagi. Arabela udah masuk kotak sekarang. Case closed," kata Fino ikut senang.


"Kok ngga nyampe bertahun tahun ya," sesal Igo.


"Bisa, sih, sebenarnya. Tapi kata Bang Ferdi, hanya ingin nyentil dikit. Sehari aja di penjara, kan, udah kayak sebulan di luaran," kekeh Vandra.


"Betul. Gaul sama macam macam profesi napi. Bisa ko-it dia," kata Doni memyumpahi Arabela.


"Nanti pas di luaran juga bakal ada yang mengawasi. Bisa masuk penjara lagi dia kalo ketahuan meleng lagi," tambah Vandra puas.


"Mantap itu," timpal Eri.


"Biar jadi pelajaram. Beraninya mengganggu kita," kata Irfan ringan.


"Tapi adiknya Arabela cantik juga ya," sambung Irfan lagi yang ngga sadar dapat lirikan membunuh Aldi.


Vandra yang menyadarinya hanya menyeringai.


Sayang ngga ada Toni, batin Vandra.


"Lo mau?" samber Eri yang ngga peka kalo saudara iparnya kini ganti meliriknya marah.


Vandra mengalihkan tatapannya ke tempat lain sambil menahan tawa.


"Asal jangan Lo maenin aja," kata Eri dengan nada sedikit mengancam.


"Kok Lo protektif banget. Pacar kedua Lo?" ledek Igo membuat teman temannya tertawa kecuali Aldi.


Dari tadi tampangnya udah semrawut.


"Sembarangan Lo ngomong," kesal Eri.


Tapi teman temannya malah terus mentertawainya.


"Dia itu kasihan. Kakaknya mau jual dia. Papanya meninggal karena serangan jantung. Ibunya katanya sakit sakitan," cerita Eri setelag tawa teman temannya reda.


Aldi terkesiap juga mendengarnya. Begitu juga yang lain


"Kasian kalo gitu" komen Igo.


"Makanya kalo pacaran sama dia, jangan dimaenin," kata Eri memberikan nasehat.


"Lo kayaknya belum bisa, Fan. Lo aja masih suka kiss kanan kiri," kata Vandra melarang membuat Aldi senang karena dukungan Vandra padanya.

__ADS_1


"Kalo sampai ketahuan Lo maenin dia, gue hajar Lo," ancam Eri ngga maen maen.


Anak orang udah menderita, ditambah lagi deritanya, rutuk Eri dalam hati.


"Iya, gue belum siaplah," kata Irfan ngeri ngebayangin Eri bakal menonjoknya. Pasti berkali kali, ngga mungkin hanya sekali.


"Gue baru mau serius kalo udah tiga puluh tahun," tambah Irfan lagi.


"Umur berapa Lo nikahnya. Emang Lo abis jumpa perempuan langsung Lo nikahi kalo udah tiga puluh tahun" cerca Eri membuat Irfan menyeringai.


"Sebenarnya gue iri sama Lo, Er. Bentar lagi Lo nikah sama perempuan yang Lo cinta dari kecil," kqta Irfan dengan mata menerawang.


"Hebat Lo bisa nyimpan rahasia cinta Lo dari kita kita," timbrung Doni kemudian tertawa.


"Pasti dia insecure sama Zaki," ledek Irfan membuat ruangan itu pecah oleh tawa.


"Sial," umpat Eri sangat amat kesal.


"Jangan khawatir. Lo sekarang udah jauh di depan Zaki," dukung Vandra. Dia juga sebal mendengar nama itu. Kenapa cewe cewe seperti Mia dan Angel bisa cukup dekat dengan si Zaki.


"Lo beruntung, Eri. Di cintai perempuan sepert Angel," kata Irfan dengan wajahnya seriusnya.


"Betul. Gue salut sama Angel, bisa setia sama orang seperti Lo," tambah Igo memanas manasi.


"Padahal dulu waktu SMA, lo parah banget," kekeh Fino diikuti Irfan.


Eri hanya nyengir aja. Dia pun masih ngga percaya kalo saat mereka SMA, Angel juga masih tetap menyukainya.


Vandra dan Aldi saling pandang kemudian tersenyum miring karena Eri ngga membantah lagi, tapi malah senyum senyum ngga jelas.


"Fin, Lo kapan nikahnya sama Rosa?" cetus Irfan mengalihkan topik pembicaraan.


"Jangan bilang Lo masih suka sama Clara," tuduh Irfan membuat Fino kesal dan langsung menendang tulang keringnya yang ditutupi celana panjang kain.


"Sakit, dodol!" maki Irfan sambil meringis.


Fino cuek tanpa dosa, yang lainnya terkekeh sambil sama membatin.


Sensitif dia, bego.


"Clara jadi CEO juga kan, di perusahaan papanya. Kalian pernah kerjasama dengan dia?" tanya Eri yang tetap ngga pernah bisa peka.


Vandra pura pura sibuk dengan hpnya. Sedangkan yang lain hanya melirik Fino yang sana seperti Vandra, pura pura sibuk dengan hpnya.


"Dia juga belum nikah," sambung Eri lagi.


"Adduuhh! Kenapa, sih, Fan," seru Eri marah dengan wajah meringis. Gantian dia sekarang yang ditendang Irfan.


Irfan hanya menyeringai.


Semuanya tau kisah mereka waktu SMA. Clara yang menyukai Vandra, Vandra yang cinta mati dengan Mia dan second lead Fino yang meyukai Clara.


Setelah lulus, gadis itu pun menghilang ngga ada kabar. Baru baru ini Eri tau ketika ngga sengaja bertemu karena perusahaan papanya melakukan kerjasama dengan perusahaan papa Angel.


"Jangan bilang Lo belum move on," tuduh Eri melihat kediaman teman temannnya.


"Jangan jangan Clara juga belum move on juga," nyinyir Eri lagi sambil melirik Vandra.


"Lo banyak omong, Er. Van, gue balik ke kantor dulu," kata Aldi yang diikuti Fino, Igo, dan yang lainnya.

__ADS_1


"Gue, kan, cuma nanya," bela Eri tanpa rasa bersalah.


"Terserahlah," tukas Igo sambil melangkah melewati Eri.


"Gue udah move on tau," kata Fino kesal sambil pergi membuat Eri menarik sedikit sudut bibirnya.


"Gue pulang, Vand. Lusa aja kita lihat lokasi," kata Eri sebelum pergi.


"Oiya, kita bareng. Lusa ya," kata Irfan baru ingat.


"Oke," seru Aldi yang sudah sampai di depan pintu.


"Oke," balas Vandra sambil menyatukan jempol dan jari telunjuknya.


Nggak lama kemudian Mia pun masuk ke ruangan Vandra dan tersenyum melihat sampah kotak kotak sisa makanan sudah dimasukkan ke dalam tiga kantong plastik.


Vandra pun menarik tangan Mia ke dalam pelukannya.


Mia tersenyum mendapat perlakuan hangat Vanda.


"Lusa ikut ya. Kita tinjau lokasi resort," kata Vandra setelah melepaskan pelukannya beberapa lama.


"Oke."


"Aku kangen maen musik sama kamu," kata Vandra sambil berjalan ke arah keyboard nya yang ada di sudut ruangan kerjanya.


Tangannya tetap merengkuh Mia. Mia menuruti langkah Vandra. Iya, udah hampir dua minggu mereka ngga menyentuh keyboard di ruangan kerja Vandra. Terlalu banyak meeting di luar, juga persiapan melamar Eri.


"Kita main bentar yuk. Lagu apa ya," kata Vandra sambil menekan tuts tuts keyboard.


Mia juga ikut menekan, dan lagu secret lover song pun mengalun dengan indah. Keduanya bermain sambil mengembangkan senyum dan mata penuh binar cinta.


"Vand," panggil Aldi yang akan masuk dan baru akan melebarkan pintu ruangan Vandra, jadi tersenyum dan menghentikan gerakannya.


Aldi pun menutup pintu kembali.


"Kok ngga jadi?" tanya Eri pelan. Ternyata mereka semua belum pulang.


"Vandra sama Mia lagi ngapain. Lo kenapa juga senyum senyum," kata Doni curiga, lalu membuka pintu ruangan Vandra pelan.


Seperti saat Aldi membuka sedikit pintu itu, suara alunan keyboard terdengar merdu.


Doni kembali menutup pintu dan bibirnya pun tersenyum seperti Aldi.


"Gue juga mau lihat," kata Eri sambil melangkah ke depan, tapi langsung ditahan Aldi dan Irfan.


"Kalian kenapa, sih?" kesal Eri malah membuat Angel dan Rosa terkikik.


"Mereka lagi main keyboard. Jangan di ganggu," larang Doni membanntu Aldi dan Irfan menyeret Eri.


Fino, Igo hanya menyerigai saja melihat Eri yang misuh misuh dengan omelannya yang ngga berhenti.


Angel dan Rosa pun makin geli hati melihat kelakuan Eri dan ketiga temannya yang menyeret paksa Eri.


"Mereka manis, ya,"puji Doni ketika mereka sudah masuk ke dalam lift CEO.


"Iya," jawab Aldi sambil tersenyum menyetujui.


Sama sama suka maen musik, didekatkan juga dengan alat musik.

__ADS_1


__ADS_2