
"Lagi happy Lo," sindir Toni ketika Eri mampir ke ruangannya.
Eri hanya nyebgir, tapi matanya menatap aneh pada Aldi yang juga ada di sana sambil maenin hp.
"Lo sakit?" tanya Eri sambil menepuk pundak Aldi yang ngga menyadari kehadirannya.
"Lo ngapain kesini?" kaget Aldi balik nanya.
"Ditanya malah balik nanya," omel Eri jutek.
"Ada pacarnya di sini," info Toni dengan tampang usilnya.
"Haaah? Dokter? Perawat?" tanya Eri heboh membuat Aldi menatapnya kesal. Toni tergelak.
"Pasien," cetus Toni yang langsung mendapatkan lirikan sinis Aldi.
Eri menatap Aldi sambil menggelengkan kepalanya.
"Parah ngga penyakitnya? Lo ngapa, sih, ngga nyari pacar yang sehat aja," cerocos Eri sok tau.
Toni langsung menoyor jidat Eri membuatnya hampir jatuh.
"Bener, kan, gue," kata Eri ngga ngerasa salah.
"Udah, banyak omomg Lo. Gue lapar, nih," kata Toni sambil membawa tas kecilnya. Dia pun sudah ngga memakai jas dokternya dan sudah mandi di ruangannya. Mereka udah janjian makan malam di kafe bareng Fino dan Irfan juga.
"Gue penasaran, siapa pasienya," ganggu Eri lagi. Penasaran banget.
Tadi setelah mengantar Angel, Eri udah mandi dulu di rumahnya yang di sebelah rumah Angel, terus cabut ke rumah sakit menemui Toni.
"Nanti kalo pas ketemu dikasih tau," jawab Toni enteng.
"Awas kalo ngga kasih tau," sungut Eri kesal.
"Iya tenang aja Lo," janji Toni sambil mengedipkan sebelah matanya ke Aldi yang langsung melengos.
Barulah Eri bisa tersenyum walau masih kesal.
"Tadi Sandrina ke kantor. Maen masuk ke ruangan gue aja," cerita Eri ketika mereka masuk ke mobil Eri.
"Lihat Lo lagi ciuman?" ledek Toni.
Aldi mulai serius mendengarkan omongannya.
"Untung lagi nggak," jawab Eri cuek.
"Tapi ada Angel?" tanya Aldi kepo.
"Iya. Kata Sandrina papanya ngundang gue ke rumah. Tapi gue tolak," cerita Eri lagi sambil menghidupkan mobilnya.
Toni dan Aldi saling pandang
"Dia kayak orang mau nangis waktu tau gue mau nikah sama Angel," sambung Eri, tetap dengan nada suaranya yang ringan tanpa beban.
Andai aja ngga lagi nyetir, Toni dan Aldi pasti akan menimpuk kepala yang ngga ada isinya itu.
"Angel juga marah. Dia curiga kalo gue ada hubungan dengan Sandrina," cicit Eri lagi.
Krik
Krik
Krik
"Ngapa, sih, Lo berdua ngga komen," omel Eri kesal karena sekian menit menunggu, dua sahabat jinnya tetap diam aja.
"Mau komen apa?" tanya Aldi heran. Dia dan Toni kan lagi nungguin lanjutan omongan Eri.
__ADS_1
"Parah punya teman kayak kalian," sungut Eri kesal membuat Toni dan Irfan ngakak.
"Lo diputusin sama Angel?" tanya Toni asal setelah tawanya reda.
"Ya enggak lah," tangkis Eri sombong.
"Sandrina mungkin ngirain Lo serius sama dia, karena Lo ngajakin dia ke pesta Iqbal," cuit Aldi akhirnya.
"Patah hati dia," tambah Toni.
"Gue kan ngga pernah ngenalin dia ke ortu gue. Ngga pernah bilang suka juga," bela Eri.
"Angel masih marah sama Lo?" tanya Aldi ingin tau. Baru juga lamaran udah ada masalah perempuan.
"Udah ngga..Tadi gue bawa dia ke pantai. Gue nyuruh Handy meng handle kerjaan gue," jelas Eri santai.
"Si Handy nurut banget sama Lo," kata Aldi ngga abis pikir. Diperlakukan semena mena gimana pun tetap aja setia.
Eri hanya tertawa. Dia juga beruntung ketemu Handy yang ngga banyak tingkah.
"Lo hati hati aja. Jangan sampai masalah Sandrina seperti masalah Lika dulu," kata Tobi memperingatkan.
Aldi terdiam. Tentu dia masih ingat.
"Tenang aja. Sandrina bukan psycho," jawab Eri enteng.
*
*
*
Akhirnya mereka sampai juga di kafe.
"Vandra datang," kata Akdi sambil menunjukkan mobil sport Vandra.
"Untung Mia ngga posesif sama Vandra," puji Aldi.
Mia memang ngga pernah melarang Vandra untuk kumpul dengan geng lamanya. Begitu juga Angel.
Perhatian mereka terpecah oleh suara ribut perempuan ngga jauh dari tempat mereka berada.
Dengan kepo mereka mendekat.
Toni menyenggol Aldi karena salah satu perenpuan yang terlibat keributan itu idamannya Aldi. Aurelia Zahra.
Kok bisa kenal dengan Arabela, batin Aldi dan Toni penuh tanya.
"Arabela?" ucap Eri perlahan begitu melihat salah satu perempuan yang mengeluarkan suara marahnya.
*
*
"Kata Lo udah ngga ada duit. Mama kok bisa dioperasi?"
seru Arabela sengit.
"Bisa aja. Uang bisa datang dari mana mana," sahut Aurelia kesal.
Dia yang ngambil shift malam untuk bekerja di kafe ngga nyangka ketemu kakaknya yang lagi menghambur hamburkan uang bersama teman temannya.
"Melacur sama siapa Lo sampai dapat duit gede?" sarkas Arabela ngga berperasaan.
"Gue bukan Lo," kata Aurelia berniat pergi. Ngga guna mengurusi kakaknya yang sama sama sekali ngga punya hati.
"Jangan pergi dulu. Mana sisa penjualan uang rumah," sentak Arabela sambil menark kasar tangan adiknya.
__ADS_1
"Lepas Arabela!" bentak Eri sambil menyingkarkan tangan Arabela dari Aurelia.
Toni dan Aldi agak terkejut melihat reaksi marah Eri. Keduanya masih berdiri ngga gerak, ngga jauh dari situ. Tapi segala perkataan Arabela terdengar jelas di telinga mereka.
"Eri!" kaget Arabela.
"Bang Eri," seru Aurelia membuat Toni dan Aldi saling pandang.
"Eri kenal sama si Aurel?" tanya Toni yang ngga dijawab Aldi.
Aldi masih konsen melihat Eri.
"Lo ngapa lagi meras adik Lo? Mau gue lapor ke polisi Lo!"
Adik?
Toni dan Aldi saling pandang.
"Bu.. bukan gitu," tukas Arabela gugup
"Lo berani berani juga ganggu teman gue!" marah Eri.
"Gue suka sama teman Lo," sergah Arabela ngga tau malu.
"Duitnya kan," tawa Eri menghina.
"Memang!" jawab Arabela berani membuat Eri tambah tertawa mengejek. Sementara Aurelia berdiri di belakang punggung Eri.
"Gue suka Lo. Tapi Lo tolak terus. Terserah gue suka sama teman Lo sekarang."
Eri tertawa lagi.
" Lo belum tau, teman gue bisa lebih kejam dari gue," tandas Eri mengancam.
Arabela agak bergetar.
"Gue ngga takur," teriaknya sambil pergi.
"Makasih, Bang," kata Aurelia lega melihat kepergian kakaknya. Sudah dua kali Eri menolongnya.
Pertama waktu di Manchester. Kakaknya dengan tega menjualnya karena papa mereka ngga bisa lagi mengirimkan uang yang banyak seperti biasa.
Papa mereka bangkrut dan akhirnya meninggal akibat serangan jantung.
Untung saja Eri melihat transaksi itu dan langsung mengancam akan melaporkan Arabela ke polisi jika masih mengganggu adiknya.
"Kamu kerja di sini?" tanya Eri sambil melihat seragam Aurelia.
"Iya, Bang," ucap Aurelia pelan. Dadanya berdebar keras. Ngga nyangka ketemu malaekat penyelamatnya lagi.
"Ooo."
"Aku pamit, Bang," kata Aurelia beranjak pergi.
"Ya," jawab Eri sambil memperhatikan kepergian Aurelia yang masuk lewat pintu belakang kafe.
"Lo kenal dari mana?" tanya Toni kepo setelah keduanya mendekat.
"Di Manchester. Adiknya Arabela."
"TTM Lo ya," tuduh Aldi sedikit cemburu membuat Toni menyeringai.
"Sembarangan kalo ngomong!" sentak Eri kesal.
"Gue pernah nolong si Aurel waktu mau dijual kakaknya itu," kata Eri menjelaskan.
"Haahh, dijual?" kaget Toni ngga abis pikir.
__ADS_1
Seorang kakak tega menjual adiknya?
Aldi tanpa sadar mengepalkan kedua tangannya dengan ekspresi marah yang ngga bisa dia sembunyikan