
"Tante serius?" tanya Luvi senang.
Mami Eri langsung menelpon Luvi begitu Eri sudah menyampaikan keinginannya untuk melamar Angel.
Akhirnya, anak tunggalnya mengatakan hal yang sudah lama mereka tunggu tunggu.
"Iya, kamu ajak Ilham sana anak anak. Sayang sekali orang tua kamu ngga lagi di sini," kata mama Eri agak nyesal.
.......
Terdengar suara tawa halus Luvi. Hatinya senang sekali mendengar kabar ini.
Akhirnya sepupunya bisa mengambil keputisannyang bener juga, kekehnya dalam hati.
"Ngga apa tante, mami papi pas nikahan aja datangnya. Mereka langsung kita nikahkan, ya tan?" tanya Luvi antusias membuat mami Eri yang kini tertawa.
"Ya, kita akan cari waktu yang tepat," kata mami Eri dengan nada suara riang.
"Jangan lama lama, tante," kata Luvi mengingatkan.
"Seperti kamu dulu?" ledek mami Eri kemudian tertawa.
Luvi balas tertawa.
Ya, akhirnya Ilham melamarnya. Dan hanya memberikan waktu sebulan untuk menyiapkan pernikahan mereka.
Untunglah kedua orang tua mereka memang sudah menyiapkannya sangat lama. Seperti punya firasat kalo anak anak mereka pasti akan menikah, tapi hanya masalah waktu saja.
*****
"Lamaran juga Lo," kata Aldi sambil menyenggol bahu Eri.
Eri hanya nyengir saja melihat teman temannya ikut berkumpul. Bahkan Vero dan Ando juga datang.
Mobil mereka berjejer rapi di halaman rumah orang tua Angel yang berdekatan dengan rumah orang tua Eri.
Eri meminta Aldi mengabari teman teman mereka untuk ikut datang membawa hadiah lamaran yang sangat banyak.
Seperti biasa, Eri ngga akan lupa menunjukkan sisi kesombongannya. Teman temannya tentu saja dengan rela dan senang hati ikut menjadi saksi lamaran teman dekat mereka. Seperti dulu waktu Vandra melamar Mia. Malah teman teman yang datang lebih banyak lagi.
"Yang jomblo minggir," tawa Eri
sombong.
Ngga ada yang marah, udah paham sifatnya.
Eri terihat bahagia sekali.Vandra pun bahagia melihatnya. Teringat curhatan Eri tentang dipaksa nikah sama papi Angel waktu SMA dulu.
"Ayo, kita ke rumah Angel," kata papi Eri memberi aba aba.
Akhirnya mereka masing masing membawa hadiah lamaran buat Angel.
"Lo ngapain bawa bawa juga, sini gue yang bawa," kata Toni saat melihat Eri menentemg sebuah kotak pipih cukup gede. Ukuran 1x1 m.
"Jangan, ini spesial," cegah Eri sambil menepis tangan Toni yang akan meraihnya
"Cieee.....," ledek Toni dan Aldi berbarengan.
__ADS_1
"Sudah, jangan di gangguin," larang Fino sambil menyembunyikan senyumnya dan melangkah mengikuti papi Eri
Vandra pun tersenyum smirk.
"Udah, biar aja," tukas Irfan sambil mengikuti langkah Eri juga menyembunyikan senyumnya.
Doni, Igo, Ando, dan Vero juga mengikut langkah Vandra di depannya dengan reaksi yang sama, mengembangkan senyum miring.
"Lo sama Belinda ngga ada kabarnya?" tanya Vero kepo.
"TTM gue tuh, ngga tau ngilang kemana," kekeh Ando.
Mereka masih berhubungan sampai kuliah tingkat tiga. Setelah itu Belinda dan keluarganya pindah ke Sorong, Papua. Belinda juga ikut pindah. Setelah itu mereka lost contact.
Mungkin karena hubungan mereka yang hanya ttm, jadi Ando ngga gitu terlalu cemas. Hanya agak heran aja, biasanya Ando gampang menghubungi Belinda, tapi sampai sekarang Belinda ngga bisa dihubungi.
"Kok bisa?" tanya Vero heran.
"Aku heran juga, kirain Lo tau dimana Belinda. Tuh anak benar benar ngga ada kabarnya," tambah Vero lagi.
"Kemana ya dia."
Vero menatap Ando sambil tersenyum miring.
"Jangan bilang kalo akhirnya Lo suka sama.dia," ejek Vero kemudian terkekeh.
Ando ikut terkekeh. Dia ngga tau perasaannya seperti apa. Bahkan sampai sekarang Ando belum ketemu ttm yang seperti Belinda.
****
"Akhirnya. Kok telat, sih, Er," sambut Luvi senang melihat wajah sepupunya.
"Ya iya lah. Gue kan saksi perjalanan cinta kalian," kekeh Luvi membuat Eri merengut.
Tapi dia tertegun saat Luvi merangkul bahunya.
"Gue senang, semoga Lo bahagia selalu dengan Angel," kata Luvi tulus.
Hati Eri bergetar juga mendapat perlakuan hangat Luvi.
"Ayo, udah ditunggu Angel," kata Luvi sambil menarik tangannya untuk masuk ke dalam. Aldi.dan Toni mengikuti langkah Eri dan Luvi.
Dady dan maminya sudah masuk ke dalam. Bahkan Vandra, Ando. Igo, Vero, dan Fino juga udh duduk santai di teras setelah meletakkan hadiah lamaran di dalam.ruang tamu Angel yang sudah didekor sangat indah.
Eri terpaku saat melihat Angel. Fatty girlnya sangat cantik.
"Cepat Lo nikahin, sebelum di sambar yang lain," bisik Toni sebelum keluar, ngumpul di teras bareng yang lain.
Eri ngga menjawab, hatinya terlalu gembira karena Angel benar benar menuruti keinginannya.
Apa selama ini Angel juga suka sama gue ya? batin Eri mulai ge er.
Aldi hanya tersenyum saat melihat Eri yang masih memandang Angel dengan mata berbinar.
Aldi dan teman temannya ikut bahagia untuk.Eri.
*****
__ADS_1
Angel menatap lukisan yang diberikan Eri untuknya dengan dada berdebar. Lukisan yang disimpan dalam kotak khusus. Lukisan dua anak kecil dengan seragam tk dan sedang makan es krim.
Angel benar benar terharu. Lukisan itu begitu nampak hidup. Dan kenangan mereka waktu kecil mengalir begitu saja di pikirannya.
"Mau di pasang dimana?" tanya Eri benar benar mengejutkan Angel.
Angel menatap bingung.
Bukannya sudah pulang?
"Eri, gimana kalo ketahuan mami?"
Angel langsung menutup pintu kamarnya.
Eri hanya nyengir. Dia menunjukkan dua tangannya yang memegang palu dan paku buat nge gantung lukisan.
"Malah kalo ditutup jadi mencurigakan," kata Eri membuat Angel salah tingkah.
Iya juga. Tapi dia ngga mau diintip maminya.
"Mau digantung di mana?" tanya Eri lagi karena Angel masih diam.
"Di sini aja," kata Angel yang sudah mulai bisa bersikap biasa dengan Eri.
"Oke," kata Eri sambil menarik kursi di meja rias Angel dan langsung menaikinya.
Angel hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Eri.
Syukurlah kamu ngga berubah.
"Mana lukisannya?" tanya Eri yang ternyata sudah selesai memasang paku dan telah berada didekatnya.
Angel semakin malu karena ketahuan melamun
"Kenapa wajahmu sering merah, sih," ledek Eri sambil memasang lukisan itu.
"Ngaco."
Eri tertawa. Dia kembali memandang kamar yang sudah lama tidak ditempati Angel.
Kamar itu masih seperti dulu. Warna pink tetap mendominasi dindingnya.
Keluarga Angel baru pulang lagi beberapa bulan kemarin setelah membiarkan rumah ini kosong dalam.waktu sangat lama.
"Ngga ada hantunya ntar?" tanya Eri menakut nakuti Angel.
"Hantu apa, sih," kesal Angel. Gara gara Eri, Angel jadi kepikiran. Padahal beberapa bulan tidur sendiri di kamarnya, ngga ada kejadian apa apa.
Bisa bisa dia tidur di kamar Susan. Angel jadi misuh misuh sendiri.
"Kalo takut liat lukisan ini aja. Dua anak yang sama sama gendut," kekeh Eri lagi membuat Angel tersenyum tipis.
"Aku pulang dulu ya, mimpi yang indah," pamit Eri nggak lupa mentowel pipi Angel membuat gadis itu kaget.
"Eri."
"Tirus. Makan yang banyak. Aku lebih suka punya istri yang agak gendutan," kata Eri santai kemudian tergelak sambil melangkah keluar dari kamar Angel.
__ADS_1
Angel ngga menjawab. tapi bibirnya tersenyum melihat kepergian Eri.