
"Ando, kamu, tau, Vandra ternyata suka sama Clara," seru Nesa mengejek ketika berkunjung ke rumah sepupunya itu.
Ando yang kaget melihat sepupunya yang langsung masuk ke kamarnya mengerutkan keningnya mendengarkan berita sampah itu.
"Lo mending ngga usah balik balik lag i kalo mulut Lo masih penuh racun," sarkas Ando sambil melanjutkan merapikan isi pakaianya.
Nesa haya tertawa mengejek atas sindiran pedas sepupunya.
"Lo memamg selalu membela Mia dari gue. Padahal gue lihat sendiri," ngeyel Nesa tajam.
"Lo lupa soal banner? Itu kesalahan fatal mata Lo," tuding Ando pedas.
Nesa terdiam.
"Wajarlah kalo Clara begitu. Vandra juga ngasih dia harapan," tepis Nesa ngga kalah pedas.
Ando menutup lemarinya. Bermaksud akan keluar dari kamar. Dia pusing mendengar isi sampah yang keluar dari mulut sepupunya.
"Eits, jangan marah dulu. Nih, buat kamu. Dibeliin sama Clara," tahan Nesa sambil mengulurkan paper bagnya.
"Balikin. Aku bisa beli sendiri," tolak Ando sambil menepis tangan Nesa kaaar.
"Padahal Clara memberikannya dengan tulus. Ya, udah akan aku sampaikan kalo kamu menolak pemberiannya," tukas Nesa tersinggung sambil membalikkan tubuhnya dan melangkah keluar dari kamar Ando.
Ando menggusar rambutnya kesal. Tentu saja dia ngga mau menyakiti hati lembut Clara. Pasti sepupunya akan membumbuinya dengan kata kata kejamnya.
"Bilang padanya, makasih," kata Ando sambil mengambil paper bag dari tangan Nesa yang tersenyum miring.
"Aku rela kalo Clara jadian sama kamu, Do," katanya sambil melangkah keluar dari kamarnya.
Ando ngga menjawab, tapi langsung menutup dan mengunci pintu kamarnya sambil menghembuskan nafas kesal.
Dia memang bersimpati pada Clara, karena gadis itu beda dari Sepupunya Nesa. Tapi dia tau temannya Dio masih berharap. Lagi pula akhir akhir ini Ando selalu memimpikan Belinda. Ttmnya. Gadis itu sudah lama menghilang tanpa kabar.
*
*
*
Mereka pun berkumpul di pernikahan Aldi. Vero, Ando, dan Bagas juga ikut ngumpul.
"Semoga kejadian buruk ngga ada lagi," kata Doni penuh harap.
"Aamiin," sahut mereka kompak.
Dalam rentang waktu yang berdekatan, mereka bermain lagi dengan nyawa mereka. Untungnya masih selamat. Dan mereka selalu bersyukur karenanya.
"Abhi masih opname, Van?" tanya Doni cukup cemas karena belum melihat kedatangan Abhi.
"Sudah keluar tadi sore. Nanti juga dia datang," sahut Vandra santai.
"Syukurlah," balas Doni lega.
"Ngga nyangka dia jadi target," kata Irfan sambil menggelengkan kepalanya.
"Memang di luar dugaan," sambung Fino.
"Ndo, kapan itu gue ketemu Belinda sama anak kecil. Dia nikah sama siapa?" tanya Gio membuat mereka berpaling ke Ando.
"Kapan?" tanya Ando tertarik.
"kemaren," tukas Igo.
"Dimana?" tanya Vero kepo.
"Di bandara. Waktu gue mau kejar, udah hilang dia," sambung Igo.
"Dia balik ke kota ini lagi?" gumam Ando perlahan.
"Tapi kenapa di ngga menghubungi gue?" lanjutnya lirih.
"Jadi kalian belum tau? Papa Belinda ditembak di Papua. Ibunya meninggal karena sakit sakit jantung," tambah Igo lagi.
"APAA?" kaget mereka bersamaan.
__ADS_1
"Kalian ngga dengar berita ya? Kan heboh, terjadi penyanderaan dan penembakan. Papanya Belinda meninggal di tempat," jelas Igo lagi.
Ando terhenyak saking kagetnya. Vandra dan yang lainnya pun begitu.
"Gue ngga sempat nonton tivi," kata Eri memecah kesunyian.
Apalagi mereka juga terlibat dalam kasus yang mendebarkan. Sepertinya kasus papa Belinda ketutup kasus mereka.
"Ada apa?" tanya Mia yang mendekat bersama Rosa. Keduanya terlihat heran dengan wajah wajah di depannya. Terlihat pias dan terguncang.
"Belinda?" ucap Vandra pelan.
"Mana?" tanya Mia excited sambil menolehkan wajahnya mencari ttmnya Ando.
"Dia ngga datang," jelas Vamdra pelan.
Mia baru sadar kalo wajah Vandra nampak sedih.
"Apa ada hal yang buruk?" tanya Mia pelan dengan jantung berdebar keras. Belinda sangat baik dengannya, padahal mereka baru saja kenal. Apalgi gadis itu lama ngga ada kabarnya.
"Orang tuanya sudah meninggal. Kemarin Igo ketemu dengannya di bandara," jelas Vandra.
"Berarti dia baik lagi ke sini," ucap Mia sambil menoleh pada Ando yang sudah selesai menelpon.
"Kamu telpon siapa?" tanya Mia sambil menatap Ando.
"Om Iwan, asistennya Om.Emir. Minta tolong nyariin keberadaaan Belinda," tukas Ando.
"Kita akan bantu," kata Vandra sambil merengkuh bahu Mia.
"Siap," sahut Eri dan Toni berbarengan.
"Tenang Bro," sambung Fino dan Irfan pun menganggukkan kepalanya. Igo dan Bagas pun meenepuk pundak Ando. Vero melipat kedua tangannya di dada. Rosa tersenyum sambil berpandangan dengan Mia.
"Kami mengganggu?" tanya Nesa membuat mereka berpaling.
Nesa berdiri di dekat mereka bersama Clara. Keduanya tanpak cantik sekali, apalagi Clara. Fino sampai ngga berkedip melihatnya.
"Hai Vandra," sapa Nesa mengerling pada Clara yang hanya tersenyum sungkan.
Vandra hanya menatap sekilas pada Nesa dan Clara. Datar.
"Udah lama ngga ketemu ya," sambut Bagas pada teman satu SMAnya.
Clara membalas dengan senyum manisnya membuat Fino makin ngga bisa berpaling. Dia melirik Vandra yang terlihat ngga acuh.
Fino menarik nafas lega. Seharusnya dia ngga perlu memikirkan kata kata Nesa. Vandra ngga mungkin berpaling dari Mia.
*
*
*
Vandra baru saja akan mengambilkan puding buat Mia, ketika tanpa sengaja.dia berpapasan dengan Clara yang juga akan mengambil puding.
Vandra dengan cuek ingin berlalu, tapi suara gadis itu menahan langkahnya.
"Vandra, aku minta maaf untuk kejadian banner dulu," ucap Clara canggung. Tapi dia harus mengatakannya agar ngga terus memikirkan kebodohan fatalnya. Dia ingin memulai dari awal lagi.
Berteman mungkin, karena sepertinya hati Vandra sudah mentok. Padahal kalo Vandra mau, Clara rela jadi istri keduanya. Dia terlalu mencintai Vandra. Sampai sekaramg belum bisa melupakan perasaannya.
Ngga apa ngga terlalu dipedulikan Vandra asal bisa di dekat Vandra walaupun hanya sebentar. Dulu mereka pernah berpelukan, walaupun Vandra melakukannya hanya untuk menolongnya yang tercebur di kolam renang.
"Aku sudah ngga ingat," kata Vandra lugas sambiil melangkahkan kakinya pergi tapi kembali tertahan oleh pegangan tangan Clara.
Vandra menampakkan wajah ngga sukanya. Ini acara sahabatnya, banyak yang mengenalnya, dia ngga ingin ada yang salah paham. Apalagi Mia.
"Maaf Van, tapi apakah kamu ngga punya sedikitpun perasaan padaku?" tanya Clara sendu.
Untungnya tenpat aneka puding jauh dari keberadaan teman temannya dan letaknya di bagian souvenir di batasi dinding kayu jati yang penuh dengan ukiran.
Vandra menarik kasar tangannya.
"Nggak. Menjauhlah," tukasnya sambil melangkah pergi.
__ADS_1
"Van, aku ngga apa jadi yang kedua. Aku ngga minta banyak, berikan hatimu sedikit saja, aku sudah bahagia," ucapnya dengan nada sedih.
"Aku ngga bisa. Hatiku semuanya udah kukasih sama Mia," tegas Vandra.
Vandra menghentakkan tangannya sampai pegangan Clara terlepas dan cepat berlalu pergi. Clara menatap kepergian Vandra dengan mata mulai basah. Untungnya hanya ada pegawai catering yang pura pura ngga melihat adegan mereka..Saat ini para tamu sedang fokus pada Irfan, Eri, Toni dan Igo yang sedang manggung. Keempat cowo tampan itu begitu memukau. Suara Irfan mengalunkan lagu akad dengan lembut membuat para tamu ikut bernyanyi.
Clara kaget saat ada sapu tangan terulur padanya.
"Ando?" ucapnya sedih sambil menatap Ando dengan mata semakin basah.
"Jangan permalukan dirimu lagi," tukas Ando sambil menghapus air mata Clara yang mengalir di pipi dengan sapu tangan yang belum juga diambil Clara.
Tanpa ragu Clara menjatuhkan wajahnya di bahu Ando.
"Maaf, sebentar saja ya, Ando," kata Clara teisak.
Ando hanya menganggukkan kepalanya.
Ngga jauh dari situ Fino menatap keduanya dengan tangan terkepal.
Dia merasa sedih. Dia iri dengan Ando yang bisa menjadi pria yang dijadikan tempat Clara menangis.
"Kamu jangan salah paham. Ando hanya menganggap Clara sebagai sahabat saja," ucap Bagas mengagetkan Fino.
Fino ngga nyangka ke gep dengan Bagas. Entah berapa lama Bagas berada di belakangnya.
"Kamu suka dengan Clara?" tanya Bagas lagi karena Fino masih belum menjawabnya.
"Tapi berat. Clara dari dulu sampai sekarang hanya mencintai Vandra. Tadi kamu dengar juga, kan, dia bahkan rela jadi istri kedua Vandra," sambung Bagas ngga peduli apakah Fino akan menanggapinya atau ngga.
Hatinya pun saat ini sangat sedih. Sahabatnya Dio yang sudah menikah pun masih menyukai Clara. Sekarang ditambah Fino yang juga sudah punya tunangan.
Clara, teman SMAnya yang cantiknya seperti bidadari, lembut dan sangat baik, sampai menawarkan dirinya menjadi yang kedua untuk Vandra.
Vandra sangat beruntung. Banyak yang patah hati, yang menawarkan jadi yang pertama buat Clara. Tapi Clara malah menjadikan dirinya yang kedua buat Vandra.
Cinta memang aneh, batin Bagas.
Fino tetap bergeming. Ternyata Bagas mendengar juga. Vandra sangat beruntung, batinnya iri.
Sementara Vandra sudah berada di samping Mia.
"Kamu dari mana?" tanya Mia di dekat telinganya.
Vandra tersenyum sambil menyodorkan puding padanya.
"Makasih," kata Mia senang sambil menyendokkan puding ke mulut Vandra yang langsung terbuka menerimanya.
Mia tersenyum kemudian menyendokkan puding untuknya. Begitu terus sampai pudingnya habis.
Vandra memberikan mangkok puding pada petugas catering yang lewat. Kemudian Vandra menarik Mia ke panggung. Tamu tamu pun semakin heboh.
Valen dan teman tenannya beserta keluarga besar mereka bersorak paling heboh.
Wajah Mia bersenu merah. Dia merapatkan tubuhnya ke Vandra dengan perasaan malu.
Tapi Vandra merengkuhnya santai dan membawanya ke dekat keyboard.
"Kita maen lagu apa?" tanya Eri sambil menoleh pada keduanya.
"Gimana kalo lagu dusk till down?" usul Toni.
"Oke," sambut Eri dan Igo. Vandra dan Mia pun saling berpandangan setuju.
"Oke, gue mulai dulu. Seperti biasa, sayang. Kamu masuk setelah nada kelima," ucap Vandra sambil menekan tuts keyboard membuat suasana tambah heboh. Kemudian Mia pun melanjutkan diikuti Eri dan teman temannya. Irfan pun dengan lantang memperdengarkan suara emasnya.
Ando mengajak Clara yang sudah mulai tenang mendekat, dan mengarahkan pandangannya ke panggung.
Vandra dan Mia terlihat bahagia bisa bermain keyboard bersama. Senyum Vandra yang jarang terlihat, malah terkembang lebar sambil menatap Mia. Begitu juga Mia.
"Kamu lihat kan? Mereka sangat bahagia," ucap Ando berusaha menyadarkan Clara.
Clara ngga menjawab. Hatinya semakin sedih.
"Percuma kamu memaksa. Kalo yang dilihat Vandra hanya Mia," tukas Ando lembut.
__ADS_1
Ando ngga mau Mia terluka hatinya. Apalagi sepupunya itu sedang hamil. Dia akan terus mengawasi Clara. Walaupun Ando tau Vandra sangat mencintai Mia, tapi Ando takut Vandra tergoda. Apalagi Clara rela menjadi yang kedua. Ando ngga mau sepupunya yang cengeng itu patah hati.
Sepasang mata Clara buram kembali.