Me And You

Me And You
Curhat


__ADS_3

"Sejak kapan lo tau kalo Sandrina keguguran?" tanya Vandra yang sengaja keluar dari mobilnya mendekati Eri yang masih bersandar di pintu mobilnya sambil merokok. Wajahnya terlihat stres.


Aldi dan Toni juga ikut keluar, mendekati keduanya.


"Kalian mengikuti gue?" kesal Eri campur kaget melihat ketiganya sudah berada di dekatnya.


"Lo aja yang kelewat serius," sarkas Toni membuat Eri menyemburkan asap rokoknya tepat kenwajah Toni.


"Si*alan! Uhuk. uhuk," maki Tobi langsung terbatuk. Tangannya sibuk mengibas ngibaskan asap rokok di depan wajahnya.


"Jadi kapan?" tanya Vandra ngga peduli pertengkaran keduanya. Aldi hanya diam saja mengamati.


"Dua minggu yang lalu."


"Kok, lo ngga cerita?" sergah Aldi jadi kesal.


Sudah lama tau malah dipendam sendiri.


"Angel agak lemah. Gue niatnya mau cerita, tapi jadi lupa karena sibuk ngurus Angel," jelas Eri.


Selama dua minggu itu Angel selalu mual dan demam. Sekarang aja sudah mendingan. Eri sampai kerja di rumah dna melakukan meeting online dengan pegawainya dari rumah. Selama dua minggu, asisten setianya yang menghandle semua kerjaan yang ngga bisa dia lakukan secara online.


Amarah Aldi berangsur hilang. Dia pun teringat istrinya yang jadi manja sejak hamil. Tapi matanya langsung melirik tajam Toni.


"Apah?!" protes Toni menantang.


"Lo pasti udah tau Sandrina keguguran, kan?"


Toni terdiam. Ya, dia tau. Dia heran kenapa Keduanya nampak panik waktu berada di rumah sakit tempat dia bekerja. Kondisi Sandrina juga pucat. Tapi Irfan melarangnya bercerita. Belum waktunya katanya.


"Apah?!" ganti Aldi menyentak sinis.


"Irfan melarang gue cerita," aku Toni jujur


"Sebenarnya apa yang terjadi? Apa karena gue mereka kehilangan bayi mereka?" tanya Eri dengan rasa bersalah yang sangat nyata dalam ucapan dan sorot matanya.


Ketiganya terdiam. Apalagi Aldi yang tau secara jelas dari mulut Irfan.


Eri tau, diamnya teman temannya seolah mengatakan memang itulah yang sebenarnya terjadi.


Eri menghembuskan asap rokoknya lagi kuat kuat. Kali ini menjauhi ketiga teman dekatnya.


Padahal setelah menikah dengan Angel, Eri sudah menjauhi interaksi pertemuan dengan Sandrina. Kalo memamg harus bertemu karena kerja sama mereka, asisten setianya lah yang mewakili. Dia sudah menjaga perasaan Irfan. Lagi pula Irfan tau, yang disukainya hanyalah Angel, sampai jadi istri.


"Irfan marah karena Sandrina bilang masih mencintai lo. Padahal dia sudah berusaha berubah menjadi suami dan ayah yang baik," jelas Aldi akhirnya ngga bisa lagi menahan rahasia ini lebih lama lagi.


"Karena itu Irfan mendorong Sandrina sampai dia keguguran?"


" Ya."


Vandra dan Toni saling pandang sambil memcerna perkataan Aldi dan Eri.


"Sandrina sudah berangkat duluan ke Belanda. Mungkin mereka akan bercerai," tambah Aldi lagi membuat ketiganya terdiam.


Kaget dengan kenyataan yang barusan mereka dengar.

__ADS_1


"Tapi biarlah, Irfan berhak bahagia," kata Toni setelah mereka terdiam cukup lama.


"Ya," sahut Aldi pelan. Hatinya merasa sangat kasian dengan temannya. Pasti sangat menyakitkan.


Vandra juga hanya diam, begitu juga Eri. Tapi dalam hati mereka juga berharap demikian.


*


*


*


"Ando, menurut lo apa kelebihan Vandra?" tanya Reksa yang mengekor Ando masuk ke kamarnya. Bahkan Reksa membaringkan tubuhnya di samping Ando.


Ando menatap aneh.


"Maksud Lo? Gue ngga nafsu bahas dia. Gue bukan homreng," ketus Ando sambil menatap langit langit kamarnya.


Reksa terkekeh mendengarnya.


"Gue heran banyak.cewe yang suka dengan dia," jelasnya setelah tawanya reda.


"Ternasuk Mia," kata Ando mulai mengerti arah pembicaraan Reksa.


"Bahkan Lo sama Vero terlihat baik dengan dia," tambah Reksa sambil melirik Ando yang masih juga menatap ke langit langit kamar.


"Walaupun dia menyebalkan, tapi Vandra setia kawan".


Reksa masih diam menunggu lanjutan omongan Ando.


Apa iya? batin Reksa ngga percaya.


"Padahal teman temannya iblis semua," tambah Ando lagi dalam tawa senangnya mengatai geng Vandra.


"Karena itu lo lebih milih Vandra dari pada gue?" tanya Reksa sarkastik.


"May be. Lebih tepatnya karena Mia juga suka sama Vandra. Kalo Mia suka sama Lo, gue milih lo dengan berbagai persyaratan," sambung Ando masih betah dengan tawanya.


Reksa pun tertawa tergelak. Sudah tau dia apa yang menjadi syaratnya.


"Lo tau Clara?" tanya Ando setelah sekian lama tawa mereka terhenti.


"Ya?"


Yes, Ando kepancing juga, batin Reksa senang.


"Gue percaya Clara bisa luluh sama lo. Menurut pengamatan gue, dia butuh laki laki kasar kayak lo," gelak Ando lagi.


Reksa juga ikut tertawa dalam hati membenarkan. Selama ini, Clara menurutinya karena dia selalu memaksa. Gadis itu takluk pada kemauannya. Percintaan mereka juga dinikmat oleh Clara. Reksa masih ingat, berkali kali Clara selalu meminta dan meminta untuk dipuaskan. Bahkan gadis itu sampai memohon ketika Reksa dengan angkuh menolaknya. Padahal waktu itu Reksa hanya pura pura. Dia hanya ngga ingin menjadi budak Clara. Tapi Clara lah yang harus jadi budaknya.


Tapi kejadian Irfan membuatnya berpikir ulang akan metodenya dalam mendekati Clara. Dia takut, saat itu tiba ketika Clara membandingkannya dengan Vandra. Pasti dia bakal emosi. Seperti Irfan. Itu yang dia tangkap dari obrolan singkat mereka di kafe.


"Gimana hubungan lo dengan Clara?" tanya Ando sambil memgalihkan pandangannya pada Reksa.


"Entahlah. Gue juga bingung."

__ADS_1


"Masa lo ngga tertarik dengan dia?" heran Ando.


Malam itu Reksa terlihat dingin memperlakukan Clara.


Reksa nyengir.


"Dia cewe yang memabukkan."


Ando tertawa kecil.


"Lo sudah bercinta dengan dia?" tebak Ando santai. Dia tau kadar kebrengsekan Reksa sampai dimana.


"Berkali kali malahan."


Mata Ando membulat.


"Serius? Hebat lo," puji Ando tergelak. Bukan dia jahat, tapi dia lega mendengarnya. Dengan begini, Clara akan berpikir banyak kali jika masih mau merebut Vandra dari Mia.


"Clara itu baik dan lembut. Beda sama Nesa. Gie harap lo ngga terlalu mempermainkan dia."


"Gue mau serius dengannya. Sebelum gue tau dia cinta mati sama Vandra, gue udah garap dia. Ngga sengaja memang. Dia mabok sendirian di klab. Hampir diganggu geng sebelah. Gue nyelamatin sekaligus gitulah. Lo pasti tau siapa gue. Salahnya sendiri. pakaiannya sangat seksi malam itu," cerita Reksa dengan bibir menyisakan senyum senang.


Ando masih menatap Reksa ngga percaya. Semudah itu dia mendapatkan Clara. Kalo saja temannya tau. Tanpa sadar bibirnya menyunggingkan senyum.


"Dia masih virgin. Gue beruntung, kan," kekeh Reksa.


Ando pun kembali tergelak


"Iya, lo sangat beruntung."


Kembali keduanya tertawa sampai air mata hampir keluar. Ando bisa membayangkan gimana keadaan Clara di tangan Reksa sang cassanova brengsek. Luluh lantak pasti. Sama seperti dirinya. Bisa saja dia melakukan seperti Reksa. Tapi bayangan Dio yang menyukai Clara membuatnya ngga tega. Apakagi dia hanya kasian melihat Clara yang selalu bersedih karena Vandra.


"Hanya saja sekarang gue kepikiran Irfan. Gimana nanti sikap gue kalo Clara membandingkan gue dengan Vandra."


Ando terdiam. Irfan juga menggarap Sandrina saat dia mabok di klab.


"Semoga akhir percintaan lo beda dengqn Irfan," kata Ando memberi semangat.


Reksa hanya menyeringai.


"Apa Vero tau?"


"Gue baru cerita ke lo."


Ando mengangguk mengerti.


"Terus terang gue lega. Gie ngga harus bersama Clara. Dan juga Mia ngga bakal mendam kesal terus dengan Clara."


Reksa tersenyum miring.


"Banyak berkah dari hubungan gue maksud lo," ejek Reksa membuat Ando tersenyum miring.


"Sama sama menguntungkan lah."


Kembali keduanya tergelak gelak.

__ADS_1


__ADS_2