Me And You

Me And You
Kemarahan Eri


__ADS_3

PRRAAANGG!


Eri melempar lampu duduk.di kamar hotel di dinding dengan sekuat tenaganya sampai pecah.


Teganya mereka semua membohonginya. Membuat dia sampai hilang kepercayaan dirinya hingga harga dirinya.


Angel Kenapa Lo hanya menurut! teriaknya dalam hati.


Dia sering mengatai Angel dengan kasar.


Tapi gadis itu hanya diam saja. Sedikitpun ngga membela diri.


Bodoh!


Bodoh!


Bodoh!


Eri menggusar kasar rambutnya. Lima tahun ini dia memang sudah membuat keinginan orang tuanya terkabul. Tapi dia menderita secara batin. Perasaan ditolak Angel begitu mengganggunya.


Untung dia ngga terlibat *** bebas. Hanya sekedar icip icip saja. Eri jadi nyengir sendiri.


Salahkan para gadis itu yang selalu mendekati dan minta dikecup olehnya. Dan yang membuatnya lega, Angel ngga pernah terlibat dalam skandal *** selama menjadi model.


Apakah Angel juga menyukainya?


DEG


DEG


Jantung Eri berdetak keras membuat dadanya terasa sakit.


Nggak mungkin. Yang dia suka kan Zaki, bantahnya dalam hati. Benar benar ngga bisa dipercaya.


Lagi pula yang disuka Angel pria pria pintar dan tidak punya catatan buruk. Tidak suka bolos, tidak suka tawuran, tidak suka clubbing, dan miliki catatan buruk lainnya. Bukan seperti dirinya.


Tidak mungkin Angel menunggu dia lamar, kan?


Eri bermonolog dalam hati.


Erii pun melemparkan tubuhnya ke kasur.


Aaahhhh, rasanya berat sekali kepalanya.


Eri pun memejamkan matanya. Rasanya kepalanya terasa semakin berat karena rasa pusing di kepalanya.


Eri masih membenci orang orang yang membodohinya.


Apa karena dia selalu terlihat bodoh sehingga orang orang terdekatnya tega membohonginya dan mengerjainya abis abisan.


Mami, papi, aku ngga akan ngurus perusahaannu lagi!


Eri betul betul dendam pada kedua orang tuanya.


Angel, kamu juga membuatku terlihat bodoh!

__ADS_1


****


Eri terbangun dari tidurnya. Niatnya yang hanya berbaring sebentar menjadikannya tidur nyenyak selama tiga jam.


Pasti sudah bubar pestanya, batinnya


Eri mengaktifkan hpnya kembali. Banyak sekali pesan yang masuk.


Teman teman jinnya pun menanyakan dimana keberadaannya.


Sandrina juga.


Eri tersenyum miring saat membaca pesan dari Irfan.


Eri terus mengurutkan pesan pesan di hpnya. Ada rada kecewa menyergap hatinya. Angel sama sekali ngga mengirimkan notifikasi apa pun.


Eri pun memutuskan bangkit meninggalkan kamarnya.


Betapa terkejutnya dia ketika membuka pintu kamar, dua wajah jahil tersenyum smirk melihatnya.


"Ngapain kalian di sini?!" seru Eri yang ngga bisa menutupi kekagetannya.


Toni dan Aldi serentak tertawa.


"Untung dia ngga molor sampai pagi," kekeh Aldi.


"Ada singa bon bin ngamuk," kekeh Toni ketika melongok ke dalam kamar Eri dan mendapati banyak pecahan kaca berserakan di lantai.


"Udah bangun dia," seru Irfan yang berjalan mendekat bersama Fino, Igo dan Doni. Kedua tangan mereka menenteng plastik berisi makanan ringan dan minuman kaleng.


Pintu kamar sebelah Eri terbuka. Vandra ternyata. Dia pun ikut bergabung, berkumpul bersama yang lain.


"Ngapain kalian di sini semua! Belum pada pulang!" bentaknya marah. Lagi lagi dia dikerjain.


"Lantai ini dengan semua kamarnya udah di sewa Kak Luvi," jelas Vandra ringan.


"Apa?" kagetnya sambil kedua tangannya mengusap kepalanya yang jadi pusing tiba tiba.


Vandra pun ikut duduk di lantai lorong bersama yang lainnya.


"Kirain Lo pingsan sampai pagi. Kita mau mabar sambil nungguin Lo," ledek Toni yang masih belum bisa berhenti tertawa membuat yang lain mengembangkan senyum lebarnya.


Sambil menyandar di dinding lorong, mereka pun saling membuka minuman soda yang dibawa Fino dan Irfan.


"Lo tidur ngga kira kira. Lama banget," omel Doni sambil menikmati sodanya.


"Di kasih obat tidur, kali sama Kak Luvi," kekeh Irfan membuat teman temannya ngga bisa lagi ngga tertawa ngakak.


Eri yang masih kesal melihat keberadaan teman temannya yang berkumpul di lorong kamarnya, ikut mendudukkan bokongnya dan berselonjor. Dia pun mengambil soda kaleng yang masih dingin dan meneguknya.


Matanya memperhatikan teman temannya yang terlihat santai menikmati soda dan kacang kulit dari minimarket di hotel Emir.


"Angel juga menginap di sini. Tuh dua kamar samping Lo," ucap Igo sambil menunjuk kamar Angel membuat Eri tercekat.


Nginap?

__ADS_1


"Mau Lo sanperin? Mungkin belum tidur," ledek Doni membuat Eri sewot.


"Nggak!" sergahnya kasar.


Kali ini mereka ngga tertawa lagi, tapi malah nyengir membuat Eri bertambah tambah sewot.


"Mia sama Rosa juga. Semuanya nginap di sini. Udah pada tidur mungkin," tambah Fino lagi memberitau.


"Kalian ngapain juga di sini!" bentak Eri ngga bisa lagi menahan marahnya.


"Di suruh nginap sama Kak Luvi. Jarang jarang, kan, kita bisa ngumpul begini," jelas Vandra berusaha mengendorkan kemarahan Eri.


"Nih, tambah lagi sodanya," kata Toni sambil menyodorkan sekaleng soda yang langsung diterima Eri.


"Gue butuh bir," katanya sambil membuka tutup kaleng soda itu dan meneguknya.


"Bir nenek Lo. No alkohol," sergah Aldi sambil melotot.


Eri ngga menanggapi, tetap cuek menghabiskan sodanya.


"Sandrina udah gue antar pulang. Lo suka ngga sama dia? Gue mau maenin bentar," kata Irfan sambil melempar kulit kacang ke bahu Eri.


"Ambil aja," jawab Eri cuek.


"Kalo Angel, boleh nggak?" usik Igo memancing.


"Boleh," jawab Eri tetap cuek.


"Serius boleh?" tanya Igo pura pura ngga percaya. Niatnya buat ngerjain Eri terbuka lebar.


"Besok pagi mau gue samperin lah. Biasanya cewe kalo tidur cuma pake lingerie aja," lanjutnya santai.


BUUGHH


"Aww! Sakit, bodoh!" jerit Igo pura pura kesakitan sambil mengusap kepalanya.


Ternyata Eri melempar pelan kaleng sodanya ke kepala Igo membuat mereka semua tertawa terbahak bahak.


"Ngga boleh bilang bos," ejek Igo kemudian ikut tergelak.


"Cemburu aja Lo gedein," sarkas Toni dalam ngakaknya.


"Musibah Angel dapat Lo," hina Aldi kemudian lanjut tergelak.


"Otak Lo kapan gedenya," lanjut Doni juga menghina dan kemudian tertawa.


"Sialan Lo semua!" maki Eri sambil meraup kulit kacang yang sudah dikumpul dalam kantong plastik dengan dua telapak tangannya, dan melemparkannya pada teman teman jinnya yang masih betah mengetawainya.


Toni dan Aldi pun ngga mau kalah. Dia melakukan hal yang sama dan melemparkannya pada Eri. Bahkan Doni juga ikut ikutan menyerang Eri.


"Sialan," rutuk Eri bahkan kini mengambil kaleng soda kosong dan melemparkannya, khususnya pada Aldi, Toni dan Doni yang ngga henti menyerangnya.


Sementara yang lain tertawa tawa menghindari lemparan Eri.


Rasanya sudah lama sekali tidak melihat teman temannya tertawa lepas seperti ini. Vandra terus menatap teman temannya dengan perasaan senang. Sesekali dia juga terkena lemparan kulit kacang dan membuatnya tersenyum lebar.

__ADS_1


Tapi saat Vandra melihat karpet lorong yang kini dikotori kulit kacang dan kaleng kaleng soda di mana mana, dia pun menghela nafas panjang.


Besok dia akan memberi tips yang banyak untuk pegawai tukang bersih bersih lantai lorong yang sudah mereka buat sangat sangat kotor ini.


__ADS_2