MELLY DAN JHONY

MELLY DAN JHONY
108. PULANG KE RUMAH JHONY.


__ADS_3

Setelah bermalam pertama di hotel, Jhony dan Melly kembali ke rumah Jhony. Semua pakaian dan benda kebutuhan Melly sudah di pindahkan kesana atas perintah Jhony pada bawahannya.


"Sayang, apa sudah tidak Nyeri lagi!," tanya Jhony sesaat menatap Melly dan kembali fokus mengemudikan mobilnya.


"Sudah mendingan, Baban!," Melly sedikit memotong perkataanya. Ada rasa tidak enak hati untuk melanjutkan itu.


"Iya kenapa!," Jhony menoleh sebentar.


"Tapi Baban jangan marah ya!," balas Melly sedikit cangggung.


Jhony sedikit mengeryitkan dahinya.


"Aku tidak akan marah padamu sayang, emang ada apa kayaknya begitu penting ya sampai kamu harus meminta maaf segala pada baban,"


"Anu...Ee!, Melly pengen Nenek Fatimah tinggal bersama-sama dengan kita. Melly ingin menjalin hubungan baik denganya karena selama ini kami terpisah begitu lama. Apa baban tidak keberatan?," Melly menatap lekat kearah Jhony.


Seketika tawa Jhony pecah mendengar ucapan Melly.


"Ha ha ha!, kamu ini ada-ada saja, Nenek Fatimah itu juga adalah Nenek baban sekarang, jadi wajarlah kalau kita berdua merawat dan menjaga beliau. Ah kamu ini!," Jhony menggeleng- gelengkan kepalanya.


"Benarkah!," Melly dengan wajah serius.


" benarlah sayang,"


Seketika itu juga Melly memeluk Jhony.


"Melly sayang baban,"


"Baban juga sayang Melly," Jhony mencium pucuk kepala Melly.


Keduanya pun saling tertawa hingga mereka tiba di sebuah rumah terbilang cukup mewah yang berdiri kokoh di pusat kota.


Jhony memasukkan mobilnya dalam garasi. Setelah dirasa cukup keduanya pun keluar dari dalam sana sambil berpegangan tangan.


Dari arah pintu masuk, tampak nenek fatimah dan Bi Jhoana sudah menunggui mereka berdua disana.

__ADS_1


"Cie ...ada yang sudah pecah telur nich," Nenek Fatimah tertawa cengegesan diikuti oleh bi Jhoana.


"Iya dong Nenek, andai Jhony sudah tahu sejak dulu begini Enaknya pengantin baru mungkin sejak dulu Jhony nikah," ujar Jhony ikut tertawa.


Lain hanya dengan Melly dia hanya tersimpuh malu dan bersembunyi di belakang Jhony.


"Sudah-sudah, kalian berdua masuklah Nenek dan bi Jhoana sudah masak makanan yang lezat buat kalian berdua, Nenek tahu kalau kalian berdua capek sehabis perang dunia ke sembilan semalam," Nenek Fatimah menarik lengan Jhony untuk masuk kedalam rumah.


Setelah tiba di meja makan dan duduk di kursi masing-masing, Melly segera mengambil piring dan mengisikan nasi serta lauk pauk buat Nenek Fatimah.


"Nek silahkan dimakan!,"


"Terima kasih Nelly," Nenek Fatimah mengambil piring yang di sodorkan Melly padanya.


"Sama-sama Nek. Baban!, apa Baban mau juga Melly ambilin?," tanya Melly pada Jhony.


"Tentu dong sayang!. Baban juga pengen merasakan layanan seorang istri baru yang cantik dan kuat sepertimu," ujar Jhony tertawa tipis.


"Kuat apa maksudnya Nich!," Nenek Fatimah langsung memotong.


"Aduh ....., sakit sayang," protes Jhony.


"Makanya jangan asal coplos,"


Nenek Fatimah yang saat itu ada di depan mereka hanya tersenyum dan menggeleng melihat tingkah laku kedua pengantin baru itu.


Tidak beberapa lama kemudian mereka pun menyantap hidangan yang ada di atas meja sambil sesekali berbicara ringan untuk menghilangkan kecanggungan diantara mereka bertiga.


Setelah selesai menyantap makan siang mereka. Mereka bertiga menuju kearah ruang tamu untuk ngobrol.


"Jono, Nelly kalian berencana bulan madu kemana nantinya," Ujar Nenek Fatimah setelah mereka bertiga sudah berada di ruang tamu.


"Aku terserah Istriku saja, kemanapun dia pergi Aku akan ikut denganya," balas Jhony.


"Keputusan ada di tanganmu Nelly, Lepas ini kamu mau bulan madu kemana dengan suamimu?,"

__ADS_1


"Aku tidak mau kemana-mana Nek, Aku mau kembali bekerja dan menyelesaikan kontrakku di DYANA grup," balas Melly.


"Sayang kamu tidak usah bekerja lagi, biar model lain yang akan menggantikanmu," Jhony memegangi tangan Melly dan menatapnya dengan sangat lekat.


"Aku tidak mau, pasti kamu nanti main-main dengan model barumu itu," Melly melepas genggaman tangan Jhony lalu sedikit membelakanginya.


"Ada yang cemburu Nich," Nenek Fatimah kembali coplos.


"Siapa juga yang cemburu Nenek!," Melly memanyun-manyunkan bibirnya.


"Kalau kamu tidak cemburu, biar baban cari model baru yang lebih cantik imut dan seksi," Jhony ikut memanas-manasi Melly.


Seketika mata Melly melotot dan berbalik kearah Jhony.


"Coba saja kalau kamu berani, Kepala kura-kuramu akan Melly potong lalu Melly jadikan sosis panggang," ancaman Melly


Mendengar ancaman Melly, seketika itu juga Jhony memegangi celananya.


"Jangan sayang, mana berani Babang mau macam-macam denganmu,"


"Bagus ..., anak pintar," Melly mengusap pucuk kepala Jhony seperti seorang ibu membelai lembut kepala anaknya.


Tidak lama kemudian muncul Pandu dari arah pintu dengan wajah sedikit lesuh.


"Assalamu alaikum," ucap Pandu dan mendaratkan tubuhnya diatas sofa.


'Waalaikum salam," Jawab Melly, Jhony dan Nenek Fatimah bersamaan.


"Panda kenapa wajahmu seperti kain kusut yang sudah sembilan abad tidak pernah lihat strikaan," Nenek Fatimah menatap Pandu.


"Pandu kali Bu!.Ini semua gara-gara Hafid, dia tidak membiarkan Pandu mendekati Elin, wanita pujaan pandu setelah Ana," Pandu tanpa menatap orang-orang yang ada disana.


"Jadi Ayah suka dengan Ibu Elin?," tanya Melly pada Pandu.


"Iya, tapi keduluan ama Hafid,"

__ADS_1


Seketika Nenek Fatimah, Jhony dan Melly tertawa mendengar ucapan Pandu yang seperti anak ABG yang baru putus cinta


__ADS_2