MELLY DAN JHONY

MELLY DAN JHONY
57. HARI-HARI TRAGIS UNTUK HAFID DAN SHANTY.


__ADS_3

Mendengar ucapan para pendemo Jhony dan kawan-kawan tertawa lepas. Beban yang selama ini membelunggu dalam diri mereka kini terlepas begitu saja.


Lain halnya dengan Hafid dan Shanty, tampak dari wajah mereka berdua ada kepanikan besar merajai hati mereka berdua saat itu.


Hafid dan Shanty mulai kuatir kalau kedepanya pasti produk mereka akan semakin anjlok di pasaran.


"Sayang bagaimana ini! kita tidak mungkilan lagi mempengaruhi mereka. Apalagi senjata andalan kita sudah di patahkan dengan kemunculan Nenek peot itu membawa bahan bakunya kemari," Shanty yang begitu panik sambil memegangi pundak Hafid.


Hafid tidak menjawab sama sekali, pria parubaya itu hanya menampakkan raut wajah panik sebagai jawaban dari ucapan istrinya.


"Wahai para sahabat DYANA grup, karna hari ini kalian sudah melihat bahan bakunya sudah ada, maka dengan hormat kami persilahkan para sahabat untuk pulang terlebih dulu dan berikan kami kesempatan supaya bisa memproses bahan baku ini menjadi bahan yang siap pakai tentunya hasilnya untuk kalian para pelanggan terbaik kami. Bagaimana setuju!," ucap Jhony memberi arahan pada para pendemo.


"Setuju.....," teriak para pendemo serentak sambil mengangkat tangan.

__ADS_1


Dan tidak lama kemudian, satu-persatu dari para pendemo itu meninggalkan halaman perusahaan DYANA grup dengan sangat tertib serta memungut sisa-sisa sampah mereka dengan kesadaran mereka sendiri tanpa ada yang menyuruh.


Hafid dan Shanty ikut bubar, tapi belum juga mereka berdua masuk ke dalam mobil, Nenek Fatimah sudah meneriaki mereka.


"Hay Hafid dan Juga kamu Shanty. Bagaimana pertunjukkan Aku tadi!, Apa kalian berdua merasa puas?," Nenek Fatimah tersenyum sambil mengedipkan kedua matanya kearah Hafid dan Shanty.


"Dasar kau tua bangka! tega-teganya kau menghancurkan rencanaku yang sudah berjalan hampir 100%," bentak Hafid begitu geram kepada Nenek Fatimah.


"Ha ..ha ..ha...., tega!, apa kami lupa dengan apa yang kamu lakukan padaku serta pada Almarhum suamiku dulu, Kamu memfitnah perusahaan kami, agar perusahaan kamu leluasa menguasai semua proyek yang nyata-nyatanya sudah di menangkan oleh perusahan kami, sehingga kami harus hengkang dari kota ini karna merasa malu dan melanjutkan hidup di luar negeri dimana orang-orang jarang mengenal kami. Sebenarnya siapa yang tega diantara kita, Aku atau kau!," bentak Fatimah kembali.


"Kamu harusnya bersyukur, karna hanya perusahaan kecilmu saja yang kami bumi hanguskan saat itu. Coba bayangkan!, kalau saat itu kami juga membumi hanguskan kalian berdua tentu, kamu tidak mungkin bisa berdiri disini dan memiliki perusahaan nomor satu di luar sana?," balas Shanty sambil melipat tangannya di depan dada.


"Itu salah kalian, kenapa pada waktu itu kalian tidak membumi hanguskan Aku dan juga suamiku saat ini, dan sekarang kalian berdua lihat bukan!, Aku yang memimpin. Aku yang akan membumi hanguskan perusahaan kalian secara perlahan hingga, kalian melarat dan merasakan apa yang Aku dan Almarhum suamiku rasakan dulu. Makanya jangan sombong, roda kehidupan akan terus berputar dan kebenaran akan terus menang walau prosesnya lama! dan ingan, untuk kalian berdua ular beludak, TUHAN tidak akan tinggal diam melihat hambanya terzalimi, DIA akan selalu berpihak pada orang benar dan akan menurunkan bantuanya pada saat yang tepat! paham!. Jadi mulai hari ini nikmatilah hari-hari tragis kalian berdua," Nenek Fatimah berkacak pinggang sambil tersenyum sinis kearah Hafid dan juga Shanty.

__ADS_1


"Kau benar-benar Nenek peot kurang ajar. Tunggu saja pembalasanku nanti. Mungkin bukan hanya padamu tapi pada keluargamu juga," acam Hafid dengan begitu geram.


"Sebelum kamu melakukan itu, Aku yang akan menghancurkanmu terlebih dulu tentunya dengan bantuan cucu-cucu Aku ini, Jadi bersiaplah menikmati hari-hari kalian yang begitu menyeramkan," balas Nenek Fatimah sambil memegangi pundan Melly dan Jhony.


Hafid menatap tajam kearah Jhony demikian pula Shanty.


Jhony yang mendapatkan tatapan tajam dari Hafid dan Shanty ikut menatap balik kearah mereka sambil tersenyum. Entah apa arti di balik senyuman Jhony itu.


"Tak usah pedulikan Mereka!, ayo kita pulang. masih banyak hal yang lebih penting yang bisa kita kerjakan selain mengurusi para sampah-sampah ini," Hafid menarik tangan Shanty masuk kedalam mobil dan di ikuti para bodiguard mereka.


"Hu.........." Teriak Nina, Joko dan para petinggi perusahaan DYANA grup.


Setelah kepergian Hafid, Shanty serta koloni-koloninya. Jhony memerintahkan anak buahnya untuk membawa tiga mobil kontainer yang dibawa oleh Nenak Fatimah tadi kedalam gudang dan menyuruh mereka untuk segera mengelolah bahan baku tersebut menjadi barang jadi lalu segera melempemparnya ke MAll, pasar serta toko-toko kecil agar segera bisa mencukupi kebutuhan para konsumen perusahan mereka yang semakin hari makin tidak terbendung jumlahnya.

__ADS_1


đŸ‘‰bantu like, coment serta vote ya ...makasih.


__ADS_2