
Tidak lama kemudian, Jhony melangkah untuk mengambil jasnya yang sengaja dia letakan di punggung kursi tempat tadi dia duduk.
Jhony kemudian memakai jas tersebut lalu sedikt merapikanya.
"Sudalah, Aku sudah puas dengan apa yang kalian berdua rasakan saat ini. Itu artinya kalian berdua juga telah merasakan apa yang Aku rasakan saat itu," Jhony melangkah menuju kearah pintu keluar, tapi belum juga beberapa kali kakinya dia Ayunkan, Hafid merangkak lalu memegangi kakinya.
"Tolonglah, lupakanlah semua yang telah terjadi. Walau bagaimanapun Ibumu telah meninggal dan tak mungkin hidup kembali" ucap Hafid sambil memegang kuat kaki Jhony.
"Apa katamu!, melupakan semua yang telah terjadi!. Astaga, Jenis manusia macam apa kamu sebenarnya ini Hafid. Kamu dengan mudah menyuruhku melupakan manusia yang paling Aku sayangi. Kalau begitu, lupakankanlah juga anakmu itu, biar kita impas, dan kita sama-sama merasakan apa arti kehilangan seorang yang kita sayangi," ucap Jhony geram sambil menendang-nendangkan kakinya agar Hafid melepaskan tanganya seperti yang dia lakukan dulu kepada Jhony kecil.
"Kurang ajar sekali kamu anak haram, Itu artinya kami kamu menginginkan anak kami mati! rasakan ini," Shanty mengarahkan tamparannya kewajah Jhony tapi dengan sigap Jhony menangkapnya.
"Iya seperti itu kira-kira," ucap Jhony memutar pergelangan tangan Shanty membuat perempuan itu meringis kesakutan.
'Awo...lepasin Aku anak haram," Shanty terus merontah untuk melepaskan tanganya dari tangan Jhony.
"Ingat nenek sihir. Aku bukan Jhony yang dulu, yang dengan mudah kalian sakiti, Aku ini Jhon, sang malaikat pencabut nyawa bagi kalian berdu. Baik hari ini, esok dan seterusnya. Jadi mulai saat ini, kalian berdua jangan coba-coba menyentuhku lagi, karena bila itu kalian lakukan padaku, maka dua kali lipat pembalasan yang akan kalian terima,Paham!," bentak Jhony sambil mendorong tubuh Shanty hingga menabrak badan kursi.
"Dan kau tua bangka, Segera lepaskan kakiku, karna Aku ingin pulang. Masih banyak urusan penting yang harus Aku kerjakan, bukan hanya sekedar mengurusi manusia tidak punya hati seperti kalian berdua ini," ucap Jhony sambil menarik kuat kakinya dari pelukan tangan Hafid.
"Tolonglah, Selamatkan anakku!," ucap Hafid menegadah keatas memandang ke arah wajah Jhony.
__ADS_1
Tampak butiran-butiran air mata menetes di kedua kelopak mata pria parubaya parubaya itu.
Jhony begitu tersentuh melihat Hafid menangis di hadapanya sambil terus memohon agar dia mau menyerahkan satu ginjalnya pada Raka.
Walau bagaimana pun Jhony mencoba untuk memungkiri kalau Hafid itu bukan Ayahnya, tapi dalam hati kecilnya, Hafid tetaplah Ayahnya walau dia tidak pernah sekalipun mengakuinya sebagai anak.
"Sekali Aku bilang tidak-tidak," Jhony mencoba tegar tapi hatinya harus teriris.
"Sudalah sayang, tak perlu kamu memohon pada anak haram itu," ucap Shanty sambil menarik tubuh Hafid agar berdiri dari atas lantai.
"Cukup Shanty, kenapa kamu terus menghinanya sebagai anak haram," bentak Hafid sambil melepaskan tangan Shanty dari dirinya.
"Jadi kamu membelah si haram ini." balas Shanty membentak balik Hafid.
Seketika itu juga Shanty menutup mulunya dan membulatkan kedua matanya. Dia benar benar tidak percaya kalau Hafid mengakui Jhony sebagai anak di depanya.
Lama mereka terdiam di situ dengan pikiran mereka masing-masing. Hingga, terdengar Hafid menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya dengan sangat pelan sekali sampai-sampai tidak terdengar oleh gendang telinga.
"Sebenarnya Akulah yang bersalah dalam hal ini, Aku yang memperkosa Wulandari saat itu. Dan menfitnahnya kalau dialah yang merayuku dan menuduhnya sebagai wanita murahan yang siapa saja bisa memakainya," ucap Hafid terpotong, lalu melap air matanya menggunakan punggung tanganya.
"Saat pesta di rumah kita, Aku pura-pura mabuk, dan masuk kedalam kamar Wulandari. Setelah Aku berada di dalam kamar tersebut, tampak gadis itu sedang tertidur pulas. Dengan hati-hati sekali Aku mendekatinya, lalu kemudian Aku menerkam tubuhnya, Dia mencoba berteriak tapi kuancam dengan sebuah senjata api dan seketika itu juga dia terdiam. Setelah kurasa semuanya aman, Aku melakukan aksi bejatku pada gadis perawan itu selama beberapa kali. Setelah puas melakukanya, Aku turun dari tempat tidur dan mencoba memakai pakaianku. Tapi belum juga aku menyentuh selembar pun dari pakaianku itu, tiba-tiba Hayati masuk kedalam kamar Wulandari dan mendapati Aku sedang telanjang bulan dan Wulandari terisak diatas tempat tidur sambil menutup tubuhnya dengan selimut. Hayati berteriak sehingga kamu dan semua orang datang memergoki kami berdua. Aku terus berkilah kalau Aku dirayu Wulandari saat dalam keadaan mabuk tapi, semua itu bohong. Aku melakukan itu semua dalam keadaan sadar seratus persen," tutur Hafid dengan panjang lebar sehingga membuat Jhony begitu geram mendengarnya.
__ADS_1
"Kurang Ajar, kamu menodai dan menfitnah perempuan yang begitu baik seperti ibuku. Dasar manusia setan kamu Hafid," Jhony menegangi kera baju Hafid dan memukuli mawajahnya hingga beberapa kali sehingga, tampak terlihat pria parubaya itu begitu kesakitan dan tak hayal lagi darah segar keluar dari kedua lobang hidungnya.
Anda saja tidak ada Dokter Fadlan disana menghalanginya, mungki Hafid sudah mati saat itu di tangan Jhony.
"Kamu benar-benar manusia Iblis hafid, Tega-teganya kamu melakukan itu pada ibuku yang tak pernah berbuat jahat pada keluarga kalian," ucap Jhony begitu emosi dan kembali ingin memukuli Hafid yang sudah tersungkur diatas lantai dengan bergelimangan darah.
"Sudah Tuan, Dia sudah tidak berdaya lagi," cegah Dokter Fadlan yang terus menghalangi Jhony dari arah depan sambil membentangkan kedua tanganya.
Hafid berdiri dari lantai dengan wajah sedikit pucat. Sementara itu Shanty hanya diam melihatnya. Perempuan itu masih syok berat ketika mendengar Hafid menyebut Jhony sebagai anak kandungnya.
Sampai akhirnya handphone dalam saku celana Dokter Fadlan berdering.
Dokter Fadlan merogoh saku celananya dan mengeluarkan handphonenya dari dalam sana.
"Hallo ada apa Merry!," tanya Dokter Fadlan saat jalinan telphone mereka tersambung.
"An...u Dok!," ucap Merry sang perawat terbata-bata.
"Anu apa Merry!, cepat katakan!," bentak Dokter Fadlan.
"Raka ..kembali seperti tadi, tolong Pak Dokter cepat kemari," balas Merry masih dengan nada suara gugup.
__ADS_1
"Apa, kembali seperti tadi! baiklah, Kamu kontrol terus keadaannya karna sebentar lagi Aku akan disana," ucap Dokter Fadlan lalu mematikan sambungan telepon diantara mereka berdua.
đŸ‘‰terus beri like, coment, vote dan rate bintang lima ya maksih....