
Kembali mata Hafid dan juga Shanty melotot ketika mendengar percakapan antara Dokter Fadlan dengan Mery sang perawat.
"Apa yang terjadi dengan anak Aku Fadlan?," tanya Shanty mengeraskan suaranya.
"Ayo ikut Aku saja, nanti kita dihat disana sebelum semuanya terlambat," balas Dokter Fadlan berbalik arah dan melangkah menuju ke arah pintu keluar.
Hafid dan Shanty mengekori Dokter Fadlan dari arah belakang. Sementara Jhony hanya terdiam. Tampak ada keraguan besar sedang memberontak di dalam jiwanya.
Dokter Fadlan semakin mempercepat langkah kakinya menuju kearah ruangan di mana Raka sedang dirawat dan tentunya masih terus di ikuti oleh Hafid dan Shanty dari arah belakang.
Tidak butuh waktu lama, kini mereka bertiga sudah berada di depan kamar Raka. Dokter Fadlan segera memutar gagang pintu kamar tersebut dan mendorongnya cukup keras.
"Apa yang terjadi dengannya Mery?," tanya Dokter Fadlan saat sudah berada di depan layar monitor dan langsung mengontrol alat medis tersebut tampa memandang kearah lawan bicaranya.
"Tiba-tiba saja Dia kembali drop seperti tadi, Padahal sebelumnya, grafik dalam layar monitor itu normal-normal saja seperti sebelum Dokter Fadlan pergi meninggalkan tempat ini," balas Mery sambil meremas-remasi kedua jari-jarinya saling bergantian sakin gugupnya.
"Dok bagaimana keadaan Raka?," kini giliran Hafid yang bertanya pada Dokter Raka.
__ADS_1
"Kondisinya semakin mlemah, Tuan dan Nyonya harus segera mencari pendonor ginjal agar kami segera bisa melakukan operasi. Kalau sampai seperti ini terus, Aku tidak bisa menjamin kalau nyawanya masih bisa di tertolong lagi," balas Dokter Fadlan sambil mengarahkan wajahnya sesaat kearah Hafid lalu kembali mengontrol layar monitor yang ada di depanya.
"Terus kami harus cari kemana lagi Fadlan, Kamu bisa dengar sendirikan tadi bukan!, bagaimana anak haram itu menolak mentah-mentah menyarahkan ginjalnya pada Raka," Shanty nyolot dengan emosi yang masih di bawanya tadi dari ruang kerja Dokter Fadlan.
"Sudalah Shanty, kenapa kamu terus menyalahkan Jhony tampa bercermin terlebih dulu. Kita seharusnya tidak menyalahkan orang lain dalam masalah ini. Ini semua salah kita sebagai orang Raka yang tidak tahu cara bagaimana mendidiknya ke jalan yang benar. Andai saja dulu kita tidak terlalu memanjakan dan menuruti semua keinginanya, mungkin keadaanya tidak akan seperti sekarang ini," ucap Hafid mencoba menenangkan Shanty yang terus saja memojokkan Jhony.
"Oh ..Jadi sekarang kamu lebih membela anak harammu itu ketimbang membela putra sahmu ini. Coba lihat Hafid betapa menyedihkan hidupnya saat ini, nyawanya sudah di ujung tanduk tapi kamu masih saja menyalahkanya," balas Shanty yang masih tidak mau mengalah.
"Bukanya Aku membela salah satu dari mereka, tapi apa yang aku ucapkan tadi benar adanya. Dalam hal ini kita sebagai orang tualah yang salah salam mendidik Raka, kita terhanyut dalam kemewahan tampa pedulikan masa depan Raka, Kita hanya tahu kalau dengan memberi materi yang berlimpah pada Raka maka tugas kita sebagai orang tua sudah selesai padahal bukan begitu sebenarnya caranya. Pendidikan agama dan pengenalan akhlak lah yang harus kita tanamkan sejak dini pada Raka, sehingga saat dia dewasa, dia bisa menghindari hal-hal buruk yang selama ini dia sering lakukan bersama teman-temannya," balas Hafid terus mencoba menasehati Shanty yang memang hatinya bak batu karang di lautan lepas.
"Kau benar-benar sudah berubah setelah mengenal sekelip mata anak harammu itu dan terus saja menyalahkan Raka yang sudah tidak ada gunanya bagimu lagi. Oh.... atau jangan-jangan kamu sengaja membiarkan Raka cepat meninggal supaya kamu bisa memberikan semua hartamu pada si haram itu." Shanty masih terus mengeraskan suaranya dan tak henti-hentinya menyebut Jhony si haram sehingga membuat Hafid yang selama ini tidak pernah memukulnya terksa harus mendaratkan telapak tanganya kearah wajah Shanty.
Satu tamparan keras mendarat indah di wajah perempuan parubaya itu. Sehingga membuat wajah putihnya kini Tampak memerah akibat tamparan yang begitu keras yang dihadiahkan Hafid untuknya.
"Kamu sudah melewati batas menghina Jhony. Apa kamu mendengar tadi kalau dia menginginkan harta seperserpun untuk menukar ginjalnya?. Oh ...atau jangan- jangan kamu sendiri yang tergila-gila dengan semua harta yang Aku miliki," Hafid sedikit menyondongkan wajahnya lalu melototkan kedua matanya kearah Shanty.
"E...e ...siapa bilang," ucap Shanty dengan nada bicara gagap.
__ADS_1
"Sudah-sudah, bukanya kalian berdua mencari solusi demi kebaikan anak kalian, malah kalian berdua bertengkar dan saling menyalahkan. Kalau kalian berdua mau berengkar, bertengkarlah di luar sana dan jangan disini karna kalian bisa menambah stres kami dan membuat pasien semakin drop," kini giliran Dokter Fadlan yang membentaki Hafid dan Fadlan.
Hafid dan Shanty sontak terdiam, mendengar perkataan dari Dokter Fadlan.
Lama mereka terdiam di sana hingga, kembali layar monitor yang tersambung ke tubuh Raka kembali berbunyi nyaring. Sehingga semuanya kembali terlihat panik.
"Tuan, Nyonya kalau kalian berdua mau melihat Raka meninggal maka tetaplah disini. Tapi kalau kalian berdua masih ingin melihatnya hidup cepat bergerak dan carikan dia ginjal karna kini kondisinya sudah sangat sekarat," ucap Dokter Fadlah dengan mata sayup.
"Kemana lagi Aku harus mencari Fadlan, Hampir seluruh isi dunia ini telah Aku jelajahi tapi hasilnya tetap saja nihil. Andaikan nyawaku bisa Aku tukar dengan Raka, maka biarlah aku saja yang berada di posisinya saat ini"ucap Hafid dengan wajah frustasi dan mata berkaca-kaca menahan sedih.
"Cepat Hafid, kamu memohonlah ke pada Jhony agar dia mau memberikan ginjalnya pada Raka, Satu ginjalnya hilang belum tentu juga dia akan mati. jadi paksa dia untuk menyerahkan salah satu ginjalnya itu," Kini Shanty begitu panik dan menggoyang-goyangkan tubuh Hafid begitu kasar.
"Sudahlah Shanty, Kau ini selalu memaksakan kehendakmu kepada orang lain demi kebaikanmu sendiri tanpa memikirkan keadaan orang lain. Bila ini sudah takdir Raka iklaskanlah dan biarkan dia tenang dialam sana," ucap Hafid mencoba untuk tegar tapi hatinya begitu terluka.
Tidak lama kemudian hentakan langkah kaki terdengar mendekati mereka.
Hafid, Shanty, Dokter Fadlan dan Juga Merry segera mengalihkan pandangan kearah
__ADS_1
seseorang yang sedang mendekat kearah mereka.
đŸ‘‰terus beri like coment, vote , favorite serta ratebintang limanya ya .....terimah kasih.