
Dokter Fadlan mendekat kearah monitor. Lalu sedikit mengontrol alat medis tersebut.
keringat dingin keluar dari pori-pori wajahnya memandang ke layar monitor. Ada rasa gelisah dalam hatinya kalau kali ini nyawa Raka benar-benar akan kembali pada sang pencipta.
Sama seperti yang dialami Dokter Fadlan. Shanty dan Hafid pun mengalami hal yang sama. Mereka berdua benar-benar panik kalau-kalau nyawa Raka anak mereka itu tidak bisa tertolong lagi.
"Raka bertahanlah," Hafid menggenggam tangan Raka.
"Betul sayang!, bertahanlah, kamu pasti bisa melalui ini semua. Fadlan cepat lakukan sesuatu jangan hanya diam diri," kembali Shanty membentaki Dokter Fadlan.
"Iya Nyonya, ini juga kami sedang berusaha. Merry pasang pemicu jantung itu. lalu bawa segera kemari," perintah Dokter Fadlan pada sang perawat.
"Baik Dok!," balas sang perawat dengan tergesa-gesa memasang alat pemicu jantung tersebut lalu segera memberikanya kepada Dokter Fadlan.
"Tolong kalian berdua minggir sebentar, biar kami melakukan tugas kami," ucap Dokter Fadlan pada Hafid dan Shanty.
Tanpa berkata apa-apa lagi Hafid dan Shanty segera menjauh.
"Bagaimana ini sayang!, Aku tidak mau kalau sampai terjadi apa-apa dengan Raka," Shanty sambil memeluk lengan Hafid.
"Tenanglah, semua akan baik-baik saja dan percayakan semuanya pada Dokter Fadlan," balas Hafid sambil memeluk bahu Shanty.
Perlahan-lahan Dokter Fadlan meletakkan alat penicu jantung ke dada Raka dan seketiga itu juga tubuh Raka tersentak.
Dua kali Dokter Fadlan meletakkan alat pemiju jantung itu kearah dada Raka tapi tetap saja hasilnya nihil.
Grafik dalam layar motinor tidak berubah sama sekali, malah semakin menurun dan semakin nyaring berbunyi.
__ADS_1
"Merry naikkan tekananya," perintah Dokter Fadlan pada sang perawat.
Dengan sigap sang perawat melakukan seperti yang di perintahkan Dokter Fadlan.
Kembali Dokter Fadlan meletakkan alat pemicu jantung itu kedada Raka dan kembali tubuh Raka tersentak tapi kali ini lebih kuat dari dua sentakan sebelumnya dan hasilnya sungguh luar biasa kini grafik dalam layar monitor kembali norma seperti sedia kala.
"Alhamdullilah," ucap Dokter Fadlan sambil melap keringat di wajahnya menggunakan punggung tangan kananya.
Hafid dan Shanty segera mendekat setelah melihat grafik dalam layar monitor kembali normal.
"Bagai mana keadaan anak Aku Fadlan?," tanya Hafid saat sudah berada di dekat Dokter Fadlan.
"Syukurlah, Kali ini Nyawanya masih bisa tertolong, Aku harap kalian bayak-banyaklah berdoa kepada TUHAN, supaya Raka segera bisa sadar dari komonya," balas Dokter Fadlan sambil memegangi lengan Hafid.
Hafid hanya bisa mengangguk, bedah Jauh dari Shanty dia malah tersenyum sinis kearah Dokter Fadlan.
Setelah membereskan semua alat yang sempat mereka gunakan tadi untuk menolong Raka, Dokter Fadlan melangkah Menuju kearah sofa untuk rehat sejenak.
Tapi belum juga Dokter muda itu duduk, tiba-tiba handphone dalam saku celananya bergetar lalu berbunyi.
Dokter Fadlan kemudian merogoh saku celananya lalu kemudia mengeluarkan benda pipih miliknya itu dari dalam sana.
Dengan segera Dokter Fadlan menjawab panggilan telepon setelah dia tahu siapa yang menelponnya saat itu.
"Iya Tuan ada apa!," tanya Dokter Fadlan setelah sambungan telepon mereka terjalin.
"Aku sudah berada di ruang kerjamu. sekarang, beritahu pada mereka berdua kalau si punya ginjal yang cocok dengan milik Raka sudah ada dirumah sakit ini. Lalu antar mereka berdua kesini untuk menemuiku," jawab si penelphon.
__ADS_1
"Baik Tuan," balas Dokter Fadlan lalu mematikan sambungan telepon diantara mereka berdua.
Dokter Fadlan kemudian memasukkan kembali handphone miliknya kedalam saku celananya lalu kemudia dia berbalik dan melangkah mendekat kearah Hafid dan Shanty.
"Tuan Hafid dan Nyonya Shanty, ada kabar baik untuk kalian berdua. Si empunya ginjal yang bisa di cangkokkan ginjalnya ke ginjal Raka sudah berada di rumah sakit ini, dia sudah menunggui Anda berdua di ruang kerja Aku.," ucap Dikter Fadlan sambil menatap kearah Hafid dan Shanty secara bergantian.
"Benarkah!," balas Hafid dan Shanty bersamaan dengan wajah serius.
"Benar sekali. kalau kalian mau, biar Aku yang menghantar kalian berdua kesana, bagaimana?," tanya Dokter Fadlan pada Hafid dan Shanty.
"Iya kami mau , Ayo kita kesana sekarang," ucap Hafid begitu bersemangat.
"Baik!, Merry, kamu tunggu sebentar disini, bila ada apa-apa yang terjadi pada pasien segera hubungi Aku," perintah Fadlan pada sang perawat.
"Baik Dok! Akan Saya laksanakan," jawab si perawat.
Ketiganya pun melangkah keluar dari ruangan itu, lalu menuju kearah ruang kerja Dokter Fadlan di mana si penelpon tadi sudah menunggui mereka bertiga di sana.
Tidak lama kemudian, mereka bertiga tiba di depan ruang kerja Dokter Fadlan. Si empunya ruangan yaitu Dokter Fadlan memutar gagang pintu ruangan tersebut lalu sedikit mendorongnya sehingga pintu ruangan itu terbuka lebar.
Tampak dari dalam ruangan itu, seorang pria berjas hitam sedang duduk diatas kursi sambil membelakangi mereka bertiga.
"Silahkan masuk Tuan dan Nyonya," ucap Dokter Fadlan pada Hafid dan juga Shanty.
Hafid dan Shanty saling menatap sebelum mereka berdua melangkah masuk kedalam ruangan tersebut.
👉 Bantu like , vote , coment dan juga Favorite ya makasih....
__ADS_1