MELLY DAN JHONY

MELLY DAN JHONY
92. GINA.


__ADS_3

Helena meringis dan sedikit mundur kebelakan karena tak tahan dengan rasa sakit akibat rambutnya di jambak oleh seseorang dari arah belakang.


"Sakit, lepasin sialan!," bentak Helena.


"Apa kamu bilang!, Aku sialan," Nenek Fatimah melepaskan genggaman tanganya pada rambut Helena kemudian menarik bahunya.


Plack....plack ...plack....


Tiga tamparan keras di kipaskan Nenek Fatimah kearah wajah Helena.


"Awo......," Kembali Helena meringis.


"Kurang ajar," Helena mengangkat tanganya ke udara dan ingin membalas orang yang baru saja menamparnya tapi, belum juga tanganya diayun matanya sudah meloton melihat siapa orang yang ada di hadapanya saat itu sambil tersenyum getir kepadanya.


"Coba saja kalau kamu berani,"


"Bibi Fatimah,"


"Ayo lakukan!, kenapa kamu diam saja Helena, hah!," kembali Nenek Fatimah membentak Helena yang saat itu langsung tertunduk lesu sepeti orang yang sudah tidak memiliki tenaga lagi.


Bukan saja Helena yang kaget dengan kehadiran Nenek Fatimah saat itu. Pandu dan Rudy pun juga mengalami hal yang sama. Mereka berdua begitu kaget dengan kemunculan Nenek Fatimah secara tiba-tiba di tempat itu.


"Helena angkat wajahmu," Nenek Fatimah masih dengan nada suara tinggi.


Helena masih terus saja terdiam seperti patung dan tidak berani menatap wajah Nenek Fatimah.


Karena Helena sama sekali tidak menggubris ucapanya, Nenek Fatimah mengangkan dagu Helena menggunakan jari telunjuknya.


"Tatap Aku!," ujar Nenek Fatimah pada Helena.


"I....ya, Bi!," Helena dengan nada gugub.


"Dimana Anastasia putriku kamu sembunyikan?," Tanya Nenek Fatimah yang masih mengangkat dagu Helena mengggunakan jari telunjuknya.


"Aku benar-benar tidak tahu dimana Anatasia sekarang ini" jawab Helena dengan wajah sedikit pucat.


"Kamu jangan bohong!, kamu dan Rudy bukan, yang mengajak Ana lari dari rumah saat mengandung!, kamu memanfaatkan ketidak berdayaanya dan beban pikiran yang dia tanggung untuk membuat Aku dan suamiku semakin tress setelah kebangkrutan usaha kami,"


"Bibi jangan asal nuduh kalau tidak ada bukti!, Aku bisa saja melaporkan Bibi ke pihak yang berwajib karna sudah mencemarkan nama baik Aku," ucap Helena mengancam balik Nenek Fatimah sambil menepis tangan perempuan tua itu yang masih saja mengangkat wajahnya menggunakan jari telunjuknya.


"Oh... ..jadi kamu mau melaporkanku ke polisi, Silahkan dengan senang hati Aku akan meladenimu,"


Helena tercengang, ternyata ancamanya pada Nenek Fatimah sunggu tidak berarti.


"Sial!, Nenek Peon ini benar-benar tidak mampan dengan ancamanku," ucap Helena dalam hati.


"Kenapa kamu diam!, kalau begitu Aku yang akan nelaporkanmu dan Juga Rudy ke pihak yang berwajib dengan tuduhan penculikan,"

__ADS_1


Seketika mata Helena dan Rudy melotot.


"Jangan Bi, Helena benar-benar tidak tahu dimana keberaan Ana saat ini," balas Helena mengatupkan kedua tanganya di depan dada.


"Aku tidak akan percaya lagi padamu! Kalau kamu benar-benar tidak mau memberi tahu kepadaku dimana ke beradaan Ana saat ini maka, Aku akan menyuru satpam Mall ini untuk menyeretmu beserta Rudy ke kantor polisi. Lina tolong panggilkan Pak Satpam kemari untuk menyeret kedua bajingan ini,"


"Baik Nek!," jawab Lina.


"Jangan-jangan, Aku benar-benar tidak tahu dimana keberadaan Helena saat ini. Tapi kalau mengenai putrinya Aku tahu dimana dia sedang berada,"


Tiba-tiba raut wajah Nenek Fatimah berubah sama halnya dengan Pandu.


"Dimana putriku berada Helena?," Pandu maju dan mendekati Helena dan Nenek Fatimah.


"Cepat katakan dimana keberadaan cucuku sekarang Helena" Nenek Fatimah dengan wajah serius sambil memegangi pundak Helena dan menggoyang-goyangkanya.


"Akhirnya dua kelinci ini masuk dalam jebakanku," ucap Helena dalam hati.


" Aku akan beri tahu tapi lepasin Aku dulu,"


"Baiklah!. Awas saja kalau kamu sampai membohongiku," Nenek Fatimah melaskan pundak Helena.


Sementara di posisi Rudy pria parubaya itu hanya bisa mengeryitkan dahinya mendengan ucapan Helena.


"Rencana apa lagi yang akan dibuat Helena pada Pria bodoh itu dan juga Nenek peot itu," ucap Rudy dalam hati.


Helena melangkah menuju kearah mobilnya untuk mengambil hanpone yang sedari tadi dia simpan disana.


"Sebentar, Aku akan menelepon Gina dan menyuruhnya untuk datang kemari menemui kalian berdua,"


Pandu dan Nenek Fatimah serentak mengangguk, Mereka sangat berharap untuk segera bisa bertemu dengan Gina, orang yang di sebutkan oleh Helena tadi.


Helena kembali berjalan sedikit menjauh dari pandu dan Juga Nenek Fatimah.


Helena mencari nama Gina dan menghubunginya.


Setelah sambungan telpon antara dirinya dan Gina tersambung Helena sedikit berbisik " Waktunya sudah tiba Gina, cepatlah kemari ke Mall tempat biasa kita berbelanja,"


Tidak lama kemudian, setelah Gina mengiyakan, Helena menutup sambungan telepon mereka dan mendekati Pandu serta Nenek Fatima.


"Kalian berdua bersabarlah karena sebentar lagi orang yang selama ini kalian cari akan datang kemari untuk menemui kalian," ucap Helena pada Nenek Fatimah dan juga pandu sembari tersenyum.


Kembali Nenek Fatimah dan Pandu hanya mengangguk.


Betul kata Helena, Tidak lama kemudian datanglah sebuah mobil mewah mendekat kearah mereka.


"Nah, itu dia orangnya!," tunjuk Helena kearah mobil Gina.

__ADS_1


Pandu dan juga Nenek Fatimah segera mendekat kearah mobil milik Gina.


Gina keluar dari dalam mobil setelah mobilnya benar-benar sudah terparkir dengan baik.


Melihat Gina keluar dari dalam mobil, mata Melly dan Lina melotot.


"Apa benar rubah betina itu cucu Nenek Fatimah?, Ah...Aku sungguh tidak percaya kalau Gina itu benar-benar cucu Nenek Fatimah. Sifat mereka saja berbanding terbaik bagai comberan dengan air zam-zam," ucap Lina pada Melly tapi tatapan matanya mengarah kearah Gina.


"Aku juga tidak percaya. Tapi bila itu benar, berarti didikan Helenalah yang membuat Gina seperti itu. Jahat dan tidak memiliki tatakrama," sambung Melly.


"Bi dimana Ayah dan juga Nenekku?," Gina sedikit berteriak kearah Helena.


"Dia sekarang ada di hadapanmu Nak!," balas Helena lembut sambil mendekat kearah Gina.


Gina sontak menatap Kearah Pandu dan juga Nenek Fatimah.


"Aya, Nenek!," Gina melangkah mendekat kearah Nenek Fatimah dan juga Pandu dengan membentangkan kedua tanganya dengan tujuan memeluk Pandu dan Nenek Fatimah.


Pandu dan Nenek Fatimah pun membentangkan tangan mereka untuk menyambut kedatangan Gina.


Gina memeluk Nenek Fatimah, setelah puas dia berganti memeluk Pandu.


"Akhirnya, rencana kita berjalan dengan sempurna," ucap Helena pada Rudy yang sedari tadi hanya terdiam mematung melihat permainan yang dilakukan Helena.


"Kamu benar-benar pintar sayang!, Aku sungguh tidak percaya kalau kamu bisa melakukan drama ini dengan sangat sempurna," balas Rudy memeluk pundak Helena sembari tersenyum menatap adegan drama yang di lakukan Gina di depan mata mereka.


"Gina kangen banget sama Nenek sama Ayah, untung ada Bibi Helena dan Om Rudy yang merawat Gina sejak kepergian Ibu ke syurga. Dari kecil mereka berdualah yang Gina anggap sebagai pengganti kedua orang tua Gina" ucap Gina sambil memeluk Nenek Fatimah dari arah samping dan meletakkan kepalanya di pundak perempuan tua itu.


"Jangan bersedih sayang!, Nenek sudah ada bersamamu," Nenek Fatimah membelai lembut pucuk kepala Gina.


"Akhirnya Aku akan menjadi orang kaya juga, Emang ya rezeky itu tidak akan lari kemana-mana. Gina-Gina beruntung banget si kamu hidup di dunia ini. Sudah cantik, cerdas calon milyader lagi ..ha ha ha," girang Gina dalam hati.


"Kalau begitu Ayo ikut Nenek berbelanja, Nenek akan membelikan apapun yang kamu inginkan," ucap Nenek Fatimah menarik tangan Gina.


"Tapi Nek!," Gina pura-pura menolak.


"Gina, Nenek tidak mau ada penolakan," Nenek Fatimah membulatkan kedua matanya kepada Gina


"Baiklah-baiklah Nenek," Gina memanyun-manyunkan bibirnya.


Nenek Fatimah menarik tangan Gina untuk mendekat kearah Melly, Nenek Farida dan juga Lina.


"Hay! coba kalian lihat, Nenek sudah menemukan cucu Nenek yang selama ini Nenek cari, cantik bukan?," ucap Nenek Fatimah kepada Melly, Lina dan Nenek Farida.


Melly, Lina dan juga Nenek Farida tersenyum manis walau dalam hati mereka tidak bisa percaya sedikitpun kalau Gina itu benar-benar cucu Nenek Fatimah.


"Siapa bilang kalau Dia itu putri Anastasia," ucap seorang pria tampan berjalan mendekat kearah mereka di temani seorang pria tampan pula yang seumuran denganya.

__ADS_1


👉maaf lambat up soalnya semalam begadang ditambah pusing yang mendera.....untuk episode berikutnya Author berencana up di channel yotube jika teman-teman ingin mendengarkan bisa langsung ke channel Author ya!, dengan nama Channel cerita novel dan masih judul yang sama Melly dan Jhony...mampir ya setiap hari up jangan ketinggalan detik-detik kebohongan Helena dan Rudy terbongkar...lanjut sampai Melly dan Jhony nikah dan nemiliki seorang anak...pokoknya seru dhe ..mampir ya makasih.



__ADS_2