
Jhony terus melajukan kendaraanya menuju kearah Mall dengan dendang lagu dandut mengiringi perjalanan mereka.
Hanya butuh waktu 20 menit saja, kini kendaraan mereka sudah memasuki area Mall yang mereka tuju.
Setelah memarkirkan kendaraanya di tempat seharusnya. Jhony mematikan mesin mobilnya dan keluar dari dalam mobil lalu berlari kecil mengelilingi mobil untuk membuka pintu buat Melly dan Nenek Fatimah yang saat itu duduk di bagian belakang.
"Silahkan Nyonya-nyonya kita sudah sampai!," ucap Jhony sambil membungkukkan badan dengan tangan kanan memegangi perutnya seperti seorang pelayan yang sedang menyambut tuanya.
"Terima kasih," ujar Melly dan Nenek Fatimah sembari cengengesan.
Melly keluar dari dalam mobil sembari menggendong putrinya Azisah diikuti Nenek Fatimah dari arah belakang.
Sebelum masuk kedalam Mall, Jhony tidak lupa membuka garasi mobil untuk mengambil kereta dorong buat Azisah putrinya.
Keempatnya pun menuju kearah pintu utama Mall tersebut dengan sedikit candaan dari Jhony dan Nenek Fatimah.
Jhony dan Melly menuju kearah toko yang menyediakan perlengkapan bayi, sedangkan Nenek Fatimah ke toko perhiasan yang letaknya tak jauh dari mereka saat itu.
Jhony dan Melly memilih-milih sebuah kebutuhan Azisah mulai dari baju sampai perlengkapan sehari-hari bayi imut itu.
"Sayang bagus tidak?," ujar Jhony mengankat sebuah gaun berwarna putih dengan motif kembang berwarna hijau.
Melly yang saat itu juga sedang sibuk memilih gaun buat putrinya sedikit berbalik kearah Jhony.
"Iya Baban, motifnya cantik, dan kelihatanya kainya juga adem, coba berikan padaku,"
Jhony segera menyodorkan baju itu kearah Melly.
Setelah baju itu sudah berada di tanganya. Melly sedikit menunduk dan melekatkan gaun kecil itu ke tubuh Azisah yang saat itu sedang duduk di kereta dorongnya sambil memainkan sebuah boneka barbie.
"Cantik bukan sayang, Ayahmu benar-benar pandai memilikanmu baju," ujar Melly sembari berdiri.
"Siapa dulu dong, Baban!," balas Jhony bangga.
Keduanyapun kembali melanjutkan memilih baju serta berbelanja kebutuhan si kecil.
"Sayang kamu tunggu Azisah sejenak di sini ya, Baban mau ke kamar kecil sebentar untuk buang air kecil," Jhony sembari memberikan kereta kearah Melly.
"Iya, tapi jangan lama-lama !," Melly mengambil pegangan kereta dari tangan Jhony.
Jhony hanya mengangguk dan melangkah keluar toko menuju kearah toilet.
__ADS_1
Sementara itu. Nenek Fatimah yang sedari tadi berada di toko perhiasan belum juga menemukan apa yang dia cari.
Dia terus menyusuri box kaca yang ada didalam toko tersebut untuk mencari perhiasan sesuai dengan keinginanya.
Tiba-tiba tubuhnya berbenturan dengan pengunjung lain yang juga sedang asyik melihat-lihat perhiasan dalam box kaca.
"Maaf, Maaf Aku tidak sengaja menabrak anda," ujar Nenek Fatimah sambil tertunduk mengambil tasnya yang jatuh diatas lantai.
"Tidak apa-apa Nyonya, harusnya Aku yang meminta maaf karena sakin asyiknya Aku tidak memperhatikan keadaan sekelilingku," balas Perempuan parubaya itu sembari memegangi pundak Nenek Fatimah yang saat itu masih tertunduk mengambil tasnya yang jatuh diatas lantai.
Nenek Fatimah segera mendongak setelah mendengar suara yang sudah tidak asing lagi baginya.
"Elin," ujarnya.
"Ibu," balas Elin.
"Kamu lagi apa di sini?," tanya Nenek Fatimah sambil memperbaiki posisi berdirinya.
"Eee...Anu," ujar Elin gugup.
"Sayang!, Apa kamu sudah menemukan cincin yang pas buat pernikahan kita nantinya," ujar seorang pria parubaya yang baru datang sembari memeluk pundak Elin dengan sangat mesrah.
"Apa katamu?, kalian mau menikah?," tanya Nenek Fatimah sembari memandang mereka secara bergantian.
Elin hanya tertuduk malu, sedangkan Hafid mengangguk bangga sembari tersenyum tanpa melepaskan rangkulan tanganya pada pundak Elin.
"Benar Bu!, kami berdua berencana menikah. Ini baru perencanaan soalnya kami berdua belum meminta izin pada Aldo dan Jhony. Betulkan Sayang?," tatap Hafid Fada Elin yang saat itu masih menundukkan kepala.
"Mulai deh, ikatan cinta tali rafia. Sayang-sayangan di depan umum. Tidak dirumah, tidak di Mall pasti ada lelaki bucin yang sudah mati urat malunya karena cinta," ujar Nenek Fatimah sembari menggeleng- gelengkan kepalanya.
Bukanya malu, Hafid malah cengengesan mendengar penuturan Nenek Fatimah.
"Terus Ibu kesini mau ngapain?, Jangan bilang kalau Ibu juga mau mencari cincin?," kini Elin mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Iya, Ibu juga cari cincin dan gelang," balas Nenek Fatimah sembari mengalikan pandanganya kearah box.
"Apa!, jangan bilang Ibu juga mau menikah," ujar Elin dan Hafid bersamaan.
Pluk....pluk...
Dua pukulan tas di layangkan Nenek Fatimah kearah Elin dan Hafid.
__ADS_1
"Sakit tahu Bu," ujar Elin protes sementara Hafid hanya tertawa cengengesan.
"Makanya jangan asal bicara," Nenek Fatimah kembali menatap perhiasan yang tertata rapi dalam Box besar yang ada di hadapanya.
"Terus cincin dan gelang buat siapa?," tanya Elin sakin p-enasaranya.
"Buat siapa lagi kalau bukan buat cicit kesayanganku Azisah," balas Nenek Fatimah tanpa menoleh kearah Elin sakin sibuknya mencari perhiasan buat cicitnya itu.
Setelah selesai membayar barang belanjaan mereka. Nenek Fatimah, Elin dan Hafid segera melangkah keluar menuju ke tempat Jhony dan Melly.
Belum juga beberapa kali langkah kaki mereka Ayun, tiba-tiba Hafid berhenti hingga membuat kedua perempuan itu ikut terhenti.
"Ada apa Mas, kenapa kamu hanya terdiam disitu," tanya Elin menghampiri Hafid yang saat itu menatap tajam kearah seorang perempuan memakai jaket kulit berwarnah hitam dengan kacamata juga serba hitam.
"Aku melihat Shinta!," balas Hafid yang terus menatap kearah perempuan berjaket itu yang mulai menjauh.
"Shinta?," tanya Elin.
"Iya, Shinta saudara kembar dari Shanty. Setahu Aku dia menjalankan bisnisnya di luar negeri. Kenapa tiba-tiba dia kembali ketanah air. Sudalah tidak usah pedulikan dia. Selagi dia tidak mengganggu ke tenangan keluarga kita biarkan saja. Ayo!," ajak Hafid sembari menggenggam tangan milik Elin.
Ketiganya pun kembali melanjutkan perjalananya.
Untuk kedua kalinya kembali langkah kaki mereka terhenti ketika melihat Melly berlari mendekat kearah mereka sembari menangis.
"Nek, Azisah hilang" ujar Melly sembari memeluk Nenek Fatimah.
"Apa hilang?," tanya Nenek Fatimah, Elin dan Hafid secara bersamaan.
"Tenangkan dirimu. Coba ceritakan ke Nenek apa sebenarnya yang terjadi kenapa sampai Azisah bisa hilang," Nenek Fatimah membelai lembut rambut panjang Milik Melly.
"Tadi kami berada di toko peralatan bayi. Jhony ke toilet sedangkan Aku dan Azisah menungguinya di dalam toko. Karena kelamaan nunggunya Aku berencana membayar barang yang kami beli pada kasir. Hanya beberapa detik saja Azisah sudah menghilang dalam kereta dorongnya,"
Melly yang terus saja menangis.
Tidak lama kemudian muncul Jhony dari kejauhan sambil berlari kecil.
"Sayang ada apa denganmu?. dan dimana putri kita?," ujar Jhony dari arah belakang sembari memeluk pundak Melly.
"Putri kita hilang Baban!," seketika Melly menghamburkan pelukanya pada Jhony.
"Apa Azisah hilang?," Jhony dengan nada suara lumayan keras.
__ADS_1