
Melly dan Jhony masih terus memperebutkan celana dalam tanpa mempedulikan teriakan perempuan yang sudah dari tadi meneriaki mereka.
Karena tidak ada respon dari kedua orang yang sedang bergulat diatas ranjang itu, sang perempuan tersebut mendekati mereka dan mencolek pundak Melly menggunakan jari telunjuknya.
Melly sontang menghentikan aksinya dan memalingkah wajahnya kearah orang yang sedang mencolekinya itu.
Seketika mata Melly melotot setelah mengetahui siapa gerangan perempuan tersebut.
"Ibu.......," Melly menutup wajahnya sakin malunya.
"Iya, Kamu kaget!, cepat turun dari situ atau jangan-jangan kamu menikmati gesekan- gesekan benda tumpul pria mesum ini!" bentak Elin pada Melly sambil menunjuk kearah Jhony yang sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi karna kepergok sedang mengerjai Melly.
Melly pelan-pelan sekali turun dari tubuh Jhony kemudian melanjutkan turun dari atas pembaringan lalu berjalan menundukan kepalanya ke belakang Elin.
"Nah ini lagi satu, kenapa celana dalam kamu masukkan ke kepalamu. Cepat buka atau Aku ledakkan kepalamu itu agar seluruh otak mesummu keluar dari dalam sana," kembali Elin membentak, tapi kali ini bukan Melly yang kena melainkan Jhony.
Mendengar bentakan Ellin, Jhony terburu- buru menarik celana dalam yang sedari tadi menutupi kepalanya.
Hanya dengan satu tarikan saja dari Jhony , celana dalam yang ada di kepalanya sudah terlepas.
"Astaga! tidak bos, tidak bawahan kok sama-sama mesumnya!, kenapa Tuhan memberiku putra-putra semesum ini," Elin menggeleng-gelengkan kepalanya sambil meletakkan sebuah rantang keatas nakas.
"Melly cepat bawah baskom ini kedapur dan bawahkan piring serta sendok buat calon suamimu ini." ucap Elin santai sambil memberikan sebuah baskon berisi kepada Melly.
Melly dan Jhony saling melotot memandang satu dengan yang lain.
"Melly Kenapa kamu hanya diam saja disitu!, atau jangan-jangan kamu mau melanjutkan adegan yang tadi," Elin dengan mata melotok kearah Melly.
"Tidak seperti itu Bu!," kilah Melly dan segera merampas baskom kecil yang ada di tangan Elin lalu melangkah kearah dapur untuk mengambil piring dan sendok sesuai perintah Elin tadi.
Lain halnya dengan Jhony, dia malah terbahak-bahak melihat tingkah Melly yang begitu panik dan salah tingkah di depan Elin.
"Kenapa kamu ketawa?, pasti semua ini ulahmu bukan, untuk menjaili Melly," ucap Elly sambil memplototkan matanya kearah Jhony yang sedang terbahak-bahak.
__ADS_1
"Bukan Bu," balas Jhony menghentikan tawanya dan tertunduk lesu setelah melihat Elin memplototinya.
"Mo tong lolos," ucap Elin sambil duduk tubuhnya di kursi samping pembaringan Jhony.
"Coba kemarikan lukamu biar Ibu lihat,"
Jhony tidak menjawab, dia hanya memiringkan sedikit tubuhnya untuk memperlihatkan lenga kirinya kepada Elin yang sudah di tertutup perban.
Elin mengusap dengan lembut perban yang ada di lengan Jhony itu.
"Jhony, mulai sekarang kamu harus mulai waspada. Karna kedepanya kamu akan di perhadapkan dengan orang-orang yang tidak menyukaimu. Mulai dari urusan bisni sampai urusan pribadi. Ibu tahu, kamu dan Aldo itu jago dalam strategi bisnis dan juga trategi menaklukkan musuh-musuh. Tapi alangkah baiknya kalau mulai dari sekaran kamu tingkatkan ke waspadaan. Mungkin hari ini mereka hanya melukaimu tapi tidak tahu hari besok, mungkin mereka akan melenyapkan nyawamu. Kalau pun mereka tidak bisa melakukan itu, mereka akan mencari opsi lain yaitu melukai orang-orang yang kamu sayangi," ucap Elin sambil mengusap pucuk kepala Jhony .
"Terimah kasih Bu atas nasehatnya," balas Jhony menggenggam tangan Elin yang mulai sedikit berkeriput karna termakan oleh usia.
"Sama-sama Nak! Ibu hanya tidak mau kamu dan Aldo itu ada apa-apa, Semalam Ibu ingin sekali ke mari untuk menjegukmu tapi Aldo melarang Ibu karna sudah larut malam.," ucap Elin sedikit menampakkan wajah sedihnya.
"Tidak apa-apa Bu!, Jhony paham maksud
Melly yang sedari tadi berdiri di belakang Elin hanya bisa diam, Dia benar-benar terharu melihat perlakuan Elin pada Jhony.
Walau Jhony bukanlah anak kandungnya sendir, tapi kasih sayangnya begitu besar pada Jhony sama seperti kasih sayangnya pada Aldo dan juga Gisel.
Tidak lama kemudian dua orang masuk kedalam bilik itu dengan mengendong bayi mungil masing-masing di tangan mereka.
"Celamat pagi paman Jhony," ucap Gisel dengan suara menirukan anak kecil.
"Pagi ganteng!, boleh kemarikan sebentar Aku sangat kangen pada mereka berdua," balas Jhony sambil sedikit mengangkat tangan kananya.
Gisel mendekat kearah Jhony dan meletakkan bayi zaki di pangkuanya.
"Keponakan paman ganteng banget! wajarlah pamannya juga ganteng, hi hi hi" ucap Jhony sambil tertawa menatap bayi Zaki.
"Enak saja, bayi-bayiku ganteng soalnya itu menular dari Ayahnya!, betulkan Nak!," balas Aldo sambil tersenyum menatapi Ziko yang saat itu berada di gendonganya.
__ADS_1
Seolah-olah Ziko mengerti dengan ucapan Ayahnya bayi mungil itu tertawa riang sambil menendang-nendangkan kakinya.
"Sudah-sudah kalian berdua ini seperti anak kecil saja, Jhony kamu makan dulu lalu minum obatnya," Elin mencoba melerai perdebatan kecil antara Aldo dan Jhony lalu mengambil Zaki dari pangkuan Jhony.
Setelah puas bercengkrama dengan Jhony dan Melly. Elin, Gisel dan Aldo pun pamit.
Melly menghantar mereka sampai pintu utama rumah sakit sambil melepas kangen dengan Gisel karna sudah lama mereka tidak bertemu.
Setelah kepergian Elin, Aldo dan Gisel. Melly kembali keruangan Jhony dan mendapati pria tersebut sedang tertidur nyenyak, mungkin pengaruh kecapean atau reaksi obat yang baru dia makan.
Melly menyelimuti tubuh Jhony lalu membawa rantang ke ruang dapur untuk sarapan karna perutnya juga sudah mulai keroncongan.
Tujuh hari kemudia..........
Keadaan Jhony mulai membaik dan rencananya hari ini dia sudah mau 'check out' dari rumah sakit tersebut.
Melly tidak bisa menemaninya, karna sibuk mengadakan pemotretan sedangkan Elin, Aldo dan Gisel ingin menemaninya tapi Jhony melarang mereka.
Ketika semua barang-barang Jhony sudah siap, seorang pria masuk kedalam ruangan itu.
"Apa semuanya sudah siap Tuan!?" tanya La' Tahang pada Jhony, supir pribadi perusahaan DYANA grup.
"Semuanya sudah siap!, Kamu boleh membawa semua barang-barang ini ke mobil. Nanti Aku akan menyusulmu kesana, karna ada hal penting yang harus Aku bicarakan dengan Dokter Fadlan terlebih sebelum "check out, dari sini," perintah Jhony lalu melangkah keluar ruangan itu.
"Baik Tuan," balas Sang Supir.
Jhony terus melangkah menyusuri lorong rumah sakit untuk menemui Dokter Fadlan, Dokter yang selama ini menaganinya saat dia berada di rumah sakit tersebut.
Tapi belum juga Jhony tiba di ruang Dokter Fadlan, Matanya menangkap sosok yang sudah tidak asing baginya memasuki ruangan Dokter tersebut.
"Mau apa tua bangka itu ke ruangan Dokter Fadlan?," ucap Jhony sambil bersembunyi di dinding rumah sakit.
đŸ‘‰terus beri like, coment dan votenya ya makasih.
__ADS_1