
Jhony melangkah memasuki perusahaan DYANA grup dan di ikuti Melly dari belakang.
"Kenapa jalanyamu lambat sekali seperti kura-kura, Atau kamu mau Aku gendong seperti dulu," ucap Jhony berhenti dan berbalik kearah Melly.
"Apaan si!, ini juga sudah cepat kali, kaki kamu aja yang panjang seperti orangnya," ucap Melly tidak mau kalah.
Jhony sedikit sersenyum mendengar ucapan Melly.
"Bukan hanya kaki dan orangnya saja yang panjang tapi ada suatu benda tersembunyi dalam tubuhku ini yang bentuknya kadang panjang kadang pendek, tergantung dari keadaan siapa yang berada di dekatnya dan tentunya belum pernah kamu lihat kalau memegangnya sudah dua kali kalau Aku tidak salah hitung, kalau kamu penasaran dengan yang itu, dengan senang hati Aku akan perlihatkan untukmu, Bagaimana?" tanya Jhony tersenyum, membuat Melly begitu malu karna dia mengerti apa yang di maksudkan oleh Bos somplaknya itu.
"Iiih ..ini orang sudah putus urat malunya kali," jawab Melly sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
Tidak lama kemudian, Kembali mereka berdua melangkah lebih masuk kedalam gedung perurahaan tersebut setelah terjadi pertengkaran kecil diantara mereka berdua.
Jhony dan Melly memasuki lift dan melesat menuju kearah atas dimana ruang kerja Jhony berada.
Hanya butuh beberapa menit saja, kini mereka berdua sudah berada di sebuah ruangan yang cukup besar yang biasa Jhony gunakan untuk menyelesaikan pekerjaan kantor dan juga mengontrol keadaan perusahaan melalui CCTV.
"Duduklah!, kamu mau minum apa biar nanti Nina yang menyiapkanya untukmu." Jhony mempersilahkan Melly untuk duduk di sofa yang ada dalam ruangan itu kemudian dia melangkah menuju kursi kerjanya.
Melly tidak menolak seperti biasanya, dia langsung menuju kearah sofa lalu duduk cantik disana.
Melly terus memperhatikan Jhony yang sibuk dengan laptop yang ada di depanya.
Sesekali dia tersenyum malu kala mengingat kejadian di mobil tadi.
"Kenapa kamu senyum-senyum seperti Ayam petelur," ucap Jhony tanpa melihat kearah Melly.
Melly sontak terkaget lalu mengalihkan pandanganya ke lain tempat.
"Kok bisa dia melihatku padahal kedua matanya terarah pada laptop yang ada di depanya. Atau jangan-jangan dia memiliki mata yang bersembunyi di rambutnya itu," ucap Melly dalam hati dan tak mau lagi menatap kearah Jhony.
Tidak lama kemudian pintu ruang tersebut di ketuk beberapa kali dari luar sana.
"Masuk......," ucap Jhony yang masih terus fokus menatap pada laptop yang ada di depanya.
__ADS_1
Pintu ruangan itu sedikit demi-sedikit terbuka dan muncul Nina dari balik pintu.
"Selamat Pagi Tuan, Eee.... selamat pagi juga Melly," sapa Nina sopan sambil tersenyum.
"Pagi mba Nina," balas Melly sedangkan Jhony tidak membalas sama sekali.
Nini melangkah mendekat kearah Jhony dan Meletakkan beberapa map di atas meja depan majikanya itu.
"Silahkan Tuan tanda tangani berkas yang belum sempat Tuan tandatangani kemarin," ucap Nina.
"Simpan saja di situ!, selesai ini baru Aku tanda tangani," tanya Jhony masih fokus menatap layar laptopnya.
Nina mengangguk pelan dan setia menunggu sampai Jhony selesai.
Tidak lama kemudian Jhony menutup layar laptopnya dan mengambil map yang tadi di letakkan Nina di depanya.
Jhony membaca dengan seksama semua berkas yang ada dalam map itu sebelum dia benar-benar menandatanganinya.
Tak lama kemudian Jhony menyerakan kembali map itu kepada Nina setelah semuanya sudah dia tanda tangani.
"Nina bagaimana perkembangan produk baru kita dalam sebulan ini!, Apa ada kendala dalam memasarkan produk kita itu,?" tanya Jhony yang sudah menatap Nina yang berdiri tepat depanya saat itu.
"Kalau masalah pemasaran Nina rasa tidak ada Tuan, Kita hanya terkendala pada bahan bakunya saja. Setiap harinya para Konsumen makin banyak, sementara bahan baku kita mulai menipis. Mungkin satu minggu ini bahan baku kita sudah habis otomanis kita tidak bisa lagi memproduksi produk kita itu," jawab Nina.
"kenapa kamu tidak memberi tahuku sebelum-sebelumnya," Jhony sedikit meninggikan suaranya.
Membuat Nina sedikit takut di buatnya.
"Saya juga baru tahu Tuan!, soalnya minggu kemarin bahan baku kita masih lancar-lancar saja, sehingga tidak ada kekuatiran untuk kita kekurangan bahan baku, tapi dua hari belakangan ini tiba- tiba supplier kita menghentikan memasok bahan baku mereka ke perusahan kita ini," ucap Nina tertunduk karna takut menatap wajah Jhony.
"Apa kamu bilang!, para supplier itu menghentikan memasok bahan baku mereka ke perusahaan kita!, Apa kamu sudah menyelidikinya kenapa sampai mereka melakukan itu?," tanya Jhony berdiri dari tempat duduknya.
"Sudah Tuan, Malah Saya sendiri yang datang menemui Tuan David dan Tuan Dony di kantornya, Kata mereka berdua mereka menghentikan memasok bahan baku ke perusahaan kita karena mereka sudah mendapat perusahaan yang membeli bahan baku mereka dengan harga tinggi," jawab Nina masih menunduk sakin takutnya melihat kemarahan Jhony.
"Kurang ajar!, Mereka sudah menandatangani kontrak kenapa mereka dengan mudah memutuskan kerja sama ini, tanpa memberi tahu kita terlebih dulu, Nina kamu tahu siapa yang berani membeli bahan baku para supplier dengan harga tinggi?," tanya Jhony
__ADS_1
"Tuan David dan Tuan Dony tidak mau membuka inisial siapa yang sudah mematok semua bahan baku mereka itu dengan harga tinggi," jawab Nina.
"Baiklah, mereka mau bermain-main denganku, Kita lihat saja nanti apa akibatnya telah berurusan denganku," Jhony begitu marah dengan kedua bola matanya yang sudah memerah.
Melly yang sedari tadi melihat dan mendengar langsung kemarahan Jhony ikut merinding.
Pria yang selama ini Jaiil dan humoris bila marah seperti malaikat pencabut nyawa.
"Kalau begitu kamu keluar dan buatkan kami berdua minuman dingin, agar pikiranku bisa dingin sebelum memberi pelajaran pada David dan Dony si penghianat itu," perintah Jhony pada Nina.
"Baik Tuan segera Saya siapkan," ucap Nina lalu melangkah ke arah pintu keluar sambil menenteng map yang ada di tanganya.
Setelah kepergian Nina, Jhony melangkah mendekat kearah Melly yang saat pura-pura tidak melihatnya.
Jhony duduk disamping Melly sambil memijiti kepalanya.
"Kamu temani Aku menemui David dan Dony nanti," ucap Jhony tertunduk dan masih memijiti terus kepala.
Melly yang memandang ke tempat lain segera mengalihkan pandanganya kearah Jhony yang saat itu duduk tepat di samping kirinya.
"Untuk apa Aku ikut! Apa kamu tidak takut kalau Aku menambah runyam masalahmu disana," ucap Melly sedikit menolak.
Jhony mendongakkan kepalanya lalu menatap kearah Melly.
"Tolonglah, temani Aku kali ini saja ..please," ucap Jhony dengan wajah memohon.
Melly yang baru kali ini melihat wajah permohonan Jhony membuatnya tidak enak hati, mau tidak mau terpaksa Melly mengangguk pelan tanda kalau dia setuju.
"Baiklah Aku akan menemanimu," Melly sembari tersenyum membuat semangat dalam diri Jhony kembali bangkit.
"Terima kasih ...," ucap Jhony dan langsung memegangi tangan Melly.
Kedua bola mata mereka saling memandang beberapa menit, hingga terdengar suara ketukan pintu dari luar ruangan dan keduanya langsung bergegas melepas tangan dan memperbaiki kembali posisi duduk mereka berdua seperti sediakala.
Tidak lama kemudian Nina masuk sambil membawa nampan berisi minuman dingin serta cemilan di dalam toples.
__ADS_1
đŸ‘‰terus beri like , coment, votenya dong ...makasih.