
HAMIL KAH?
Sudah hampir dua bulan pernikahan Jhony dan Melly sudah selesai di gelar.
Pagi itu Jhony baru saja membuka mata dari tidur nyenyaknya. Pertempuran semalam membuat wajah pria itu kembali ceria setelah hampir sepuluh hari lamanya tidak kebagian jatah karena Melly sering merasa tidak enak badan.
Jhony bangun dari tempat tidur dan masih mendapati istrinya yang masih tertidur pulas. Sebenarnya Jhony heran melihat sesiang ini Melly masih tertidur tidak seperti biasanya sebelum dirinya terbangun istrinya pasti sudah hilang di pembaringan untuk membuatkanya sarapan pagi atau nyetrika baju kerjanya.
"Cup!" satu ciuman lembut mendarat di kening Melly hingga perempuan cantik itu sedikit demi sedikit membuka kedua kelopak matanya.
"Hummm," Melly menguap sambil merenggangkan otot-ototnya.
"Sayang ini sudah jam berapa!, kenapa kamu cepat sekali bangunya," Melly yang masih malas-malasan untuk bangun dari tempat tidur.
Jhony segera mengeryitkan dahinya mendengar perkataan Melly.
"Cepat gimana maksudnya?, sayang ini sudah pukul delapan pagi loh,"Jhony tersenyum.
Seketika mata Melly melotot dan segera bangun dari tempat tidur.
"Astaga!, Maafkan Melly baban, Melly belum menyiapkan baju kerja serta sarapan pagi baban," Melly bangun gelabatan dan mencoba turun dari atas pembaringan tapi tanganya segera di tangkap oleh Jhony.
"Ini hari libur sayang, kamu tidak usah melakukan itu. Lagian Baban sudah bilang, kamu jangan melakukan hal itu lagi, biarlah bi Jhona yang melakukanya bersama bi Wati," Jhony membelai lembut pucuk kepala Melly.
"Tapi baban, Melly hanya ingin menjalankan tugas istri pada suaminya,"
Seketika otak Jhony berputar dan tidak lama kemudian dia tersenyum.
"Kalau begitu kita lakukan lagi seperti semalam,"
"Iii...apaan Sih!," Melly mencoba bangun dan turun dari tempat tidur tapi tiba-tiba kepalanya pusing. Hampir saja dia terjatuh diatas lantai kalau Jhony tidak segera menangkap tubuhnya.
"Sayang kamu kenapa," wajah Jhony mulai panik sambil mendudukkan kembali tubuh Melly diatas pembaringan.
"Melly tidak tau!, tiba-tiba saja kepala Melly pusing dan ada rasa pahit melekat di tenggorokan Melly," wajah Melly terlihat begitu pucat membuat Jhony semakin panik saja.
"Kamu tidurlah, biar baban membuatkanmu minuman jahe plus susu," Jhony membaringkan tubuh Melly diatas pembaringan dan segera mengenakan pakaianya lalu keluar dari dalam kamar.
"Nelly.....Apa kamu hamil, kata Joko kamu pusing dan hampir jatuh kelantai," ucap Nenek Fatimah yang baru saja datang dengan suara cemprengnya.
"Iiii...Nenek ini, orang lagi sakit kepala di bilangi hamil," Melly mengkerutkan seluruh wajahnya.
"Anak ini, dibilangi juga tidak mau mendengar. Bisa jadi bukan!, kamu itu sedang hamil. Lagian, kalian sudah menikah hampir dua bulan lamanya jadi ada kemungkinan itu bisa saja terjadi kecuali Joko kurang gergajinya,"
__ADS_1
"Siapa bilang gergaji Jhony kurang Nek!, Lima belas kalipun Jhony sanggup asal yayangku juga sanggup," Jhony yang baru saja datang membawa gelas berisi minuman Jahe plus susu.
"Apaan si! kenapa larinya ke hal yang tabu," Melly mencoba bangun dari tempat tidur tetapi segera di cegah oleh Jhony.
"Sayang kamu jangan bangun dulu, kepalamu pasti masih terasa sakit bukan!," ujar Jhony dengan sangat lembut.
"Aku tidak apa-apa sayang!,' oowe....," seketika Melly muntah di baju milik Jhony.
"Baban maafkan Melly," ujar Melly dengan raut wajah bersalah pada Jhony.
"Tidak apa-apa sayang, kamu istirahat ya," Jhony membelai lembut wajah istrinya.
Lain halnya dengan Nenek Fatimah, bukanya kuatir, perempuan tua itu sontak berdiri sambil menari-nari membuat Jhony dan Melly begitu keheranan.
"Hore hore sebentar lagi dapat cicit, si es lilin itu tidak akan lagi bisa mengejekku. Hore hore," Nenek Fatimah masih terus menari di hadapan Melly dan Jhony.
Setelah puas Menari, dan Melly sudah meminum minuman jahe yang di bawah Jhony, Nenek Fatimah kembali duduk dan mengeluarkan sebuah benda kecil dari dalam saku sweeternya.
"Nelly, kamu pake ini,"
"Ini buat apa Nek!," tanya Melly sambil memandang heran kearah Jhony.
Jhony yang di pandangi seperti itu oleh Melly hanya megedikkan bahunya tanda tak mengerti.
"Ini teks pack alat pengecek kehamilan. Nenek yakin betul kamu pasti hamil," ucap Nenek Fatimah dengan yakin.
"Benarkah sayang kamu hamil?, Alhamdulillah sebentar lagi aku jadi papa, dan si gado-gado itu tidak lagi mengejekku dengan kura- kura tak bernyawa,Cup," sebuah ciuman kegembiraan mendarat di kening Melly.
"Ini lagi satu, belum pasti sudah heboh kayak petasan berjalan," Melly hanya menggelengkan kepalanya melihat kehebohan dua orang yang ada di hadapanya.
Setelah melakukan drama panjang dan berbagai bujukan yang di lancarkan Nenek Fatimah dan Jhony, akhirnya Melly mengalah dan mau mencoba alat yang di berikan oleh Nenek Fatimah.
Hampir lima belas menit Melly di dalam kamar mandi hingga sebuah teriakan keras dari dalam sana.
"Baban, Nenek ......."
Seketika Jhony dan Nenek Fatimah membuka pintu kamar mandi dan mendapati Melly sedang bengong menatapi alat tets pack yang ada di tanganya.
"Gimana hasilnya?," tanya Nenek Fatimah
"Tidak tahu," balas Melly polos sambil menggelengkan kepalanya.
"Kemarikan itu biar Nenek yang melihatnya," Nenek Fatimah menyodorkan telapak tanganya kearah Melly.
Melly segera meletakkan test pack itu ke telapak tangan Nenek Fatimah.
Lama nenek Fatimah menatap benda kecil itu. Hingga terlihat raut wajah murung terpancar dari wajah perempuan tua itu.
__ADS_1
"Sabar sayang, mungkin belum rezeki kita," Jhony mengelus pundak Melly.
"Siapa bilang?," Nenek Fatimah sembari tersenyum.
Seketika Jhony dan Melly saling menatap.
"Maksud Nenek apa?,' Jhony dan Melly bersamaan.
"Maksud Nenek, kalian berdua sebentar lagi akan jadi orang tua, ha ha ha," Nenek Fatimah kembali menari seperti tadi.
"Benarkah!," ujar Jhony dan Melly.
"Benarlah, yuhuy .... sebentar lagi Aku akan jadi oma ..yuhuy," Nenek Fatimah yang terus menari.
Walau usianya sudah tidak muda lagi tapi perempuan tua itu sangat energik melakukan gerakan memutar sambil cengengesan sendiri.
Jhony yang mendengar ada pembenaran dari Nenek Fatimah seketika tersenyum manis kearah Melly. Jhony secepat kilat mengangkat tubuh Melly dan membawanya keluar dari bilik kamar mandi.
"Hore....sebentar lagi Aku akan jadi papa, terima kasih ALLAH, terima kasih sayangku," Jhony mencium lembut kening Melly tanda kalau dirinya saat itu sangat bahagia.
"Joko, cepat letakkan Nelly diatas pembaringan jangan sampai ada susuatu terjadi pada janinya," perintah Nenek Fatimah pada Jhony.
"Baik Nek!, sayang kamu tiduran saja ya. Mulai sekarang kamu tidak usah melakukan apapun. Bila kamu perlu sesuatu kamu tinggal bilang padaku, pada bi Jhona ataupun bi Wati," ujar Jhony meletakkan tubuh Melly diatas pembaringan dan membelai lembut pucuk kepalanya.
"Jangan lebay, wanita hamil juga butuh bergerak, bukan hanya tertidur sepanjang ke hamilanya," balas Melly yang tak mau nasibnya seperti Gisel.
"Tapi sayang, biar Aku menjagamu dan menjaga buah hati kita ini. Cup," satu ciuman mendarat di perut milik Melly.
"Benar kata Nelly Joko, biarkan dia melakukan aktifitas seperti biasanya tapi jangan sampai kecapean apalagi janinnya masih sangat lemah. Siang nanti kamu bawa Nelly ke rumah sakit dan periksakan kandungannya. Joko, mulai sekarang kamu harus menjaga istrimu dan calon anak kalian dengan baik, jangan sampai terjadi apa-apa dengannya, paham," Nenek Fatimah membelai pundak Jhony yang saat itu sedang duduk di kursi sambil memegangi perut Melly.
"Paham Nek!, Sayang mulai sekarang Aku akan menjagamu dan menjaga buah cinta kita. Aku akan jadi suami siaga bagimu dan akan menjadi calon papa yang terbaik bagi anak kita yang ada dalam kandunganmu ini. Nak tenanglah dalam sana, papa sangat menyayangimu beserta Ibumu," Kembali Jhony menciumi perut milik Melly.
"Sudah kalau begitu, Nenek mau keluar dulu, Nenek mau pergi mencari es lilin itu untuk membuat perhitungan denganya," Nenek Fatimah meninggalkan Melly dan Jhony berdua dalam kamar itu.
Setelah merasa sudah mendingan dan sudah tidak mual-mual lagi. Melly dan Jhony bersiap-siap berangkat ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungan Melly.
Perhatian Jhony pada istrinya berubah 90 derajat setelah mengetahui kalau Melly sedang mengandung. Itu terlihat dari caranya memperlakukan Melly bak seorang putri kerajaan.
"Sayang biar Baban yang membawa tasmu, Baban takut kamu cape dan tanganmu lecet gara-gara menjinjing tasmu ini," ujar Jhony mengambil tas kecil dari tangan Melly.
"Baban ini sungguh berlebihan, masa menjinjing tas sekecil ini akan membuat Melly kecapean dan tangan sampai lecet si!. Tenanglah, Melly akan menjaga diri dan menjaga bayi kita," ujar Melly sedikit menolak.
"Kamu ini di bilangi juga, pokoknya mulai saat ini kamu harus menuruti baban. Baban hanya ingin menjadi suami terbaik bagimu dan juga calon Papa yang terbaik bagi calon bayi kita. Paham!," Jhony sedikit memplototkan matanya kearah Melly.
"Baiklah, terserah maumu," Melly mencoba mengalah dari pada terjadi perdebatan lagi.
Keduanyapun melangkah keluar rumah dengan Jhony merangkul tubuh Melly saat berjalan dan menjinjing tas kecil miliknya.
__ADS_1