MELLY DAN JHONY

MELLY DAN JHONY
116. PEREMEMPUAN MISTERIUS.


__ADS_3

Karena melihat mertuanya Pandu hanya termenung di sana, Jhony segera melangkah mendekatinya.


"Ayah, siapa yang datang?," ucap Jhony dari arah belakang sambil memegangi pundak mertuanya.


"Anu...Ayah juga tidak tahu," jawab pandu gelabatan.


"Ini Saya Tuan!," ujar perempuan yang ada di depan pintu.


Seketika Jhony memandang kearah perempuan parubaya itu.


"Ibu Yati, silahkan masuk Bu" ujar Jhony sembari mempersilahkan Ibu panti untuk masuk kedalam.


"Terima kasih Tuan," Ibu yati segera masuk kedalam tanpa mempedulikan Pandu yang terus saja menatapnya.


"Ayah kenapa hanya bengong di situ," ucap Jhony sebelum membalik badan dan melangkah.


"Tunggu dulu Nak, Ada hubungan apa kamu dengan perempuan itu," Pandu menarik lengan Jhony.


Jhony sedikit mengeryitkan dahinya menatap kearah mertuanya.


"Maksud Ayah Bu Yati?,"


"Iya," balas Pandu singkat.


"Oh!, Beliau itu adalah pemilik panti asuhan dimana dulu Jhony tinggal sebelum Ibu Elin mengangkatku sebagai anak. Memangnya ada apa Ayah menanyakan Beliau?,"


"Ayah hanya penasaran saja. Terus dimana suaminya. kenapa dia tidak datang bersamanya kemari untuk menjeguk putrimu?,"


"Beliau itu adalah seorang janda. Suaminya meninggalkanya karena dia di vonis mandul oleh Dokter. Walaupun begitu dia tidak pernah mengeluh ataupun bersedih di hadapan para anak panti. Semua waktu Beliau habiskan untuk merawat dan menjaga anak panti. Mungkin inilah rencana Allah buatnya.


Walaupun Beliau tidak memiliki anak kandung tapi para anak panti sudah menganggapnya sebagai Ibu kandung mereka termaksud Aku dan Fadlan. Tunggu dulu jangan-jangan Ayah naksir sama Ibu Yati?," Jhony memandang kearah Pandu sembari tersenyum.


"Mana ada," wajah Pandu mulai memerah.


"Terus kenapa tiba-tiba wajah Ayah memera seperti tomat, Awasloh sedikit saja Ayah terlambat orang lain akan menikung Ayah dari belakang. Begitu-begitu Ibu Yati tapi Fansnya banyak loh," ujar Jhony melangkah masuk sembari tersenyum.


"Dasar menantu aneh!, orang tua belum selesai bicara dianya sudah pergi," Pandu bersungut-sungut dan mengikuti langkah Jhony masuk kedalam.


Sementara itu, di sebuah rumah mewah tampak seorang perempuan sedang duduk sambil melipat kedua kakinya menyilang menyerupai hurup X.


Sesekali dia terlihat mengisap rokok yang saat itu ada di tangan kirinya.


Tidak beberapa lama kemudian tiga ketukan terdengar dari arah pintu.

__ADS_1


"Masuklah, pintu tidak di kunci," ujarnya tanpa memandang kearah pintu sakin asyiknya memandan taman melalui jendela yang terbuat dari kaca trasfaran.


Sedikit-demi sedikit daun pintupun terbuka. Dua pria tinggi besar sedang masuk dan melangkah kearah perempuan tersebut.


"Siang Nyonya, semua informasi yang Anda ingini sudah semua kami dapatkan. Istri Jhony sudah melahirkan seorang anak perempuan. Sekarang mereka masih berada di rumah sakit. Terus apa lagi yang harus kami lakukan setelah ini?," ucap salah seorang dari dua pria tadi.


"Bagus, kalian tidak usah melakukan apa-apa dulu. Awasi dan pantau terus apa yang mereka lakukan. Nanti Aku akan memberi tahu apa lagi rencanaku selanjutnya, paham,"


"Paham Nyonya!, kalau begitu kami permisi," kedua pria itu menunduk dan berbalik arah menuju kearah pintu keluar.


Kalian semua akan merasakan pembalasanku. Akan kubuat kalian semua merasakan apa yang aku rasakan selama ini terutama kamu Jhony dan juga putrimu.


Perempuan itu bangkit dari tempat duduknya dan melangkah meninggalkan ruangan itu.


Enam bulan kemudian....


Minggu 03 maret 2021.


Hari-hari Melly semakin disibukan dengan menjaga dan merawat bayi mungilnya, tentunya di temani oleh Jhony dan Nenek Fatimah.


Pagi itu, jam sudah menunjukkan pukul 06.00. Melly kembali terbangun setelah mendengar tangisan putrinya.


Hampir semalam suntuk dia begadang karena putri kecilnya itu tiba-tiba rewel tidak seperti biasanya.


"Cup...cup sayang. Kamu ngompol ya?," ujar Melly sambil membalik sedikit bokong milik putrinya.


"Kan!, apa Mama bilang pasti kamu ngompol," Melly membuka pampers yang melekat pada tubuh bayi kecilnya itu dan menggantinya dengan yang baru.


Setelah selesai mengganti pampers si kecil, Melly membuat susu ke dalam botol dan memberikanya pada si kecil.


"Nak!, minumlah, tapi jangan nangis lagi ya!, Mama mau beristirahat sejenak. Nanti Papamu yang akan mengurusmu lagi," Melly mencubit lembut pipi gembul milik putrinya.


Seolah-olah tahu dengan ucapan Ibunya, bayi mungil itu mengangkat kedua kakinya dan kembali menendang-nendangkanya seperti tadi.


Melly kembali ke pembaringan dan menjatuhkan tubuhnya diatas sana.


Rasa ngantuk dan lelah yang menderanya membuat perempuan cantik itu tidak peduli lagi bagaimana bentuk posisi tidurnya.


Asal matanya sudah tertutup, dan pikiranya masuk kedalam alam mimpi, mungkin itu sudah cukup baginya untuk menebus waktu tidurnya yang semalam sempat hilang karena bayinya rewel semalaman.


Belum juga seluruh pikiranya menembus kedunia lain. Tiba-tiba dia harus terbangun lagi karena bayi perempuannya kembali menangis.


Melly bangun dan kembali melangkah kearah pembaringan putrinya.

__ADS_1


"Sayang, kamu kenapa lagi?," tanya Melly sembari memutar kembali bokong putrinya untuk kedua kalinya.


"Astaga Sayang, kenapa tidak sekalian saja sih," Melly kembali membuka pampers milik si kecil karena melihat pampers si kecil kembali basah tapi kali ini bukan pipis melainkan Pub.


Setelah menganti pampers putrinya dengan pampers yang baru. Melly mengambil pampers bekas pub tadi dan berencana membuangnya ke tempat sampah.


Belum juga dia meletakkan barang bekas itu ke tempat semestinya, tiba-tiba bibirnya tersenyum memandang kearah suaminya yang sedang tertidur pulas sambil menyelimuti tubuhnya dengan selimut bulu.


Melly melangkah mendekati Jhony sembari tersenyum-senyum tidak menentu.


"Hem!, apa Baban mau melanjutkan yang semalam?," ujar Melly sambil mengangkat pampers bekas yang ada di tanganya.


Seketika itu juga Jhony terbangun dari tidurnya dan mendapati sebuah pampers melayang dengan aroma sedikit menyengat.


"Sayang apa ini?," ujar Jhony pura-pura bodoh.


" Emas batangan," balas Melly sembari mengayun-ayunkan pampers tersebut kiri dan kanan.


"Kamu ini mengganggu tidur Baban aja," protes Jhony sembari membaringkan badanya kembali keatas pembaringan.


"Stop cepat bangun!, Kalau masalah bikin Baban pasti paling cepat bergerak. Saat di suruh ngurus Baban pasti pura-pura lupa dengan tanggung jawabmu sebagai seorang Ayah" Melly membangunkan kembali tubuh Jhony dari atas pembaringan setelah sebelumnya menyimpan pampers pada tempat sampah.


"Tapi sayang, Baban masih ngantuk sekali. Lagian sebentar lagi Baban harus kekantor. Jadi, tolong beri waktu buat Baban untuk tidur 20 menit lagi ya!," ujar Jhony sedikit memelas dan kembali menjatuhkan tubuhnya diatas pembaringan.


"Jangan banyak alasan. Ini hari minggu, kantor libur. jadi cepatlah bangun!," bentak Melly sedikit memplototkan matanya.


Lama Melly menunggu Jhony untuk bangun tapi pria itu tetap saja tidak menampakkan tanda-tanda kalau dirinya akan terbangun.


"Baiklah kalau Baban tidak mau, jangan salahkan Melly kalau Ban dalam yang berenda-renda akan Melly ganti dengan Ban dalam yang terbuat dari besi dan dilengkapi oleh gembok sebagai pembukanya," ujar Melly tersenyum sembari melipat dua tanganya.


Seketika itu juga Jhony terbangun sembari menggaruki kepalanya.


"Baiklah-baiklah, Baban akan menjaga Azisah, kamu boleh beristirahat sekarang," Jhony bersungut-sungut sembari masuk kedalam kamar mandi untuk mencuci muka dan buang air kecil.


Seketika itu juga Melly tersenyum dan melangkah kearah pembaringan putrinya.


"Azisah sayang, kamu bermainlah dulu bersama Ayahmu, biarkan Mama beristirahat sejenak ya!," Melly mencium kedua pipi gembul putrinya secara bergantian kiri dan kanan.


Melly kembali ke pembaringan dan menjatuhkan tubuhnya diatas sana.


"Akhirnya bisa beristirahat juga," Melly menutup mata sembari membungkus tubuhnya dengan selimut.


Tidak lama kemudian kini dia sudah berada dialam mimpi.

__ADS_1


__ADS_2