
Setelah Hafid benar-benar masuk kedalam ruangan Dokter Fadlan, Jhony keluar dari persembunyianya dan mengambil sebuah majahalah yang ada di rak lorong rumah sakit.
Jhony melangkah menuju kearah kursi panjang yang biasanya di gunakan oleh para tamu atau penjeguk untuk menunggu atau sekedar melepas kebosanan mereka dalam ruangan saat menjagai keluarga mereka yang sedang dirawaat di rumah sakit itu.
Setelah tiba di kursi tersebut Jhony mendudukkan bokongnya lalu pura-pura membaca majalah yang dibawahnya tadi sambil terus mengintai ruangan Dokter Fadlan yang tak jauh dari tempatnya duduk saat ini.
Hampir sudah dua pulu menit lamanya Jhony duduk disana dan kembali pintu ruangan Dokter Fadlan terbuka. Dua orang pria keluar dari dalam ruangan itu, satunya Hafid dan satunya lagi Dokter Fadlan.
Hafid menjabat tangan Dokter Fadlan dan terburu-buru melangkah meninggalkan Dokter Fadlan sendiri disana.
Dokter Fadlan membalikkan tubuhnya ingin melangkah masuk kembali dalam ke ruanganya, tetapi tiba-tiba Jhony memanggilnya hingga Dokter muda itu menghentikan niatnya sesaat dan sedikit menoleh kearah samping dimana Jhony sedang melangkah mendekatinya.
"Jhony!," ucap Fadlan sedikit heran.
Jhony tidak menjawab dia malah tersenyum dan memperlihatkan sederetan gigi putihnya pada Dokter Fadlan.
"Ayo masuk!," Ajak Jhony sedikit memaksa dengan menarik tangan Dokter Fadlan masuk kedalam ruanganya.
"Kamu tidak pernah berubah, sejak jadi sekertaris Tuan Aldo sampai kamu jadi CEO seperti sekarang ini, sifat memaksamu tidak pernah berubah sama sekali," ucap Dokter Fadlan bersungut-sungut sambil mengikuti Jhony yang terus saja menarik pergelangan tanganya.
__ADS_1
"Diamlah Jangan bawel kayak mak-mak!, cepat duduk," perintah Jhony sambil menarik kursi yang biasa di gunakan oleh para pasien atau keluarga pasien untuk konsultasi dengan Dokter Fadlan.
Sedangkan Jhony mendudukkan bokongnya di tepi meja berhadapan dengan Dokter Fadlan.
"Apa tujuan Tua bangka itu datang kemari?," tanya Jhony sambil memukul-mukulkan majalah yang di bacanya tadi ke telapak tanganya.
Dokter Fadlan mengkerutkan dahinya sebelum menjawab.
"Msksud Kamu Tuan Hafid?," Jawab Fadlan sembari bertanya kembali pada Jhony.
"Iya..Siapa lagi! cepat jawab,"
"Hiih.....orang ini, seandainya kamu bukan sahabatku sudah ku kucak-kucak kepalamu seperti cucian kotor." balas Fadlan sedikit membunyikan rahangnya.
Seketika mata dokter Fadlan melotot.
"Jangan dong Jho! 'please' ," Dokter Fadlan mengatupkan kedua tanganya di depan dada dengan wajah memelas.
Jhony hanya tersenyum sambil memandang kearah lain, ingin sekali dia tertawa melihat wajah memelas sahabatnya itu tapi,sekuat mungkin dia tahan.
__ADS_1
"Baiklah-baiklah!, Aku akan memberi tahumu apa tujuan Tuan Hafid ke mari. Beliau ke mari untuk menanyakan apa pihak rumah sakit sudah menemukan pendonor ginjal untuk putra semata wayangnya sekaligus penerus tunggal dari perusahaan H&S miliknya,"
Ingin Jhony menagis mendengar Dokter Fadlan menyebut putra semata wayanya. Hafid benar-benar menganggapnya tidak perna ada dalam sejarah kehidupanya.
"Baiklah kalau kamu memang tidak pernah menganggapku ada, maka Aku juga tidak akan pernah menganggapmu ada," ucap Jhony dalam hati dengan mata memerah hingga membuat Dokter Fadlan merinding dibuatnya.
"Jhony kamu tidak apa-apa bukan!," tanya Fadlan tapi sedikit mengeser kursinya ke belakang.
Seketika Jhony tersadar dari lamunanya dan kembali dengan wajah datarnya.
"Sebenar apa yang terjadi dengan putranya, sehingga dia harus transplantasi ginjal seperti itu?, tanya Jhony
"Ginjal Raka rusak akibat terlalu banyak mengkonsumsi obat-obatan terlarang di tambah lagi minum-minuman keras dengan kadar Alkohol cukup tinggi sehingga kedua ginjalnya sudah hampir tidak berfungi lagi. Jalan satu-satunya Tuan Hafid harus mati-matian mencari pendonor yang sesuai demi menyelamatkan nyawa putra kesayanganya itu," jawab Dokter Fadlan.
Lama mereka berdua terdiam disana, hingga Jhony berdiri dan berjalan memutari meja kerja Dokter Fadlan.
"Coba kamu periksa ginjalku siapa tahu cocok dengan ginjal putra tua bangka itu," ucap Jhony sambil duduk kembali ke tempatnya semula.
"Apa kamu serius ingin mendonorkan ginjalmu pada putra Tuan Hafid?," tanya Dokter Fadlan dengan wajah cukup serius.
__ADS_1
"Aku kan hanya bilang mau memeriksa, bukan mau mendonorkan. Ayo cepat kita ke laboratorium karna banyak hal yang harus aku kerjakan, bukan cuman berleha-leha dengan Dokter kaleng-kaleng sepertimu" Jhony kembali menarik tangan Dokter Fadlan keluar dari tempat itu dan menuju ke ruang laboratorium yang ada di rumah sakit tersebut.
đŸ‘‰Selamat tahun baru semoga tahun yang akan datang kita semua di beri kesehatan dan rezeky melimpah .....Aamiin.