
Melly terus melangkah menuju kearah pintu pagar, di mana disana Lina sedang menunggunya sambil menerima telepon dari seseorang.
"Lin, Ayo!, keburu siang nich!," ucap Melly membuka pintu pagar rumahnya lalu menutupnya kembali.
Lina tidak menjawab karna dia lagi sibuk menerima telepon dari seseorang.
"Baik bu , terima kasih atas pengertianya. Tapi lain kali, bila Ibu memerlukan bantuan Lina, Ibu jangan sungkan-sungkan ya untuk hubungi Lina!," ucap Lina pada lawan bicaranya.
"Pasti itu de' Lin, Ibu akan terus menghubungi de'Lina bila Ibu mau bepergian, kalau begitu selamat bersenang-senang ya." balas seorang perempuan dari dalam sana.
"Iya, makasih sekali lagi ya Bu," ucap Lina memutuskan panggilan telepon diantara mereka.
Setelah sambungan Telepon antara Lina dan pelanggananya terputus. Lina memasukankan handponenya kedalam tas kecil miliknya.
Lina sengaja membawa tas kecil dan berpenampilan layaknya anak gadis pada umumnya karena hari ini dia sengaja meliburkan diri demi menemani Melly yang tidak henti-hentinya memaksanya, baik siang maupun malam untuk menemaninya hari ini.
Mau tidak mau, Lina terpaksa menyetujuinya, tentu saja dengan syarat Melly harus membayaran dua kali lipat dari pemasukanya ngojek tiap hari.
Dasar Lina pandai sekali memanfaankan situasi.....
"Ayo cepat!, nanti keburu siang!," ucap Melly langsung mengambil Helm yang sengaja Lina gantung di bagian depan motornya.
"Iya bawel, Sebenarnya kita mau kemana si!, kok nyuruh Aku dandan yang cantik dan harus memakai gaun yang cantik pula," balas Lina sedikit heran dengan permintaan Melly yang menyuruhnya dandan dan memakai baju yang cantik tidak seperti biasanya.
"Aku ingin mengajakmu ke Mall untuk berbelanja sambil makan makanan mahal yang tak pernah kamu makan di sepanjang sejarah hidupmu," ucap Melly tersenyum geli sambil menaiki motor dan duduk di belakang Lina.
"Apaan si!, memangnya makanan mahal apa yang belum pernah Aku makan dalam kota ini. Pizza lewat, steak daging bosan, spageti keseringan dan bahkan makanan mahal dari restaurant bintang lima sampai bintang tujuh semuanya pernah Aku cicipi," ucap Lina dengan sangat bangga.
"Betulka ucapanmu itu Any!," Melly sedikit menyondongkan wajahnya kedepan.
"Betul Rohma, Tapi ...Boonk! ha ha ha..," ucap Lina sambil terbahak-bahak.
"Dasar tukan ojek gendeng!, berani-beraninya kau membohongiku," Melly memukul pundak Lina.
"Lagian Kamu juga si, mudah sekali percaya! mana mungkin juga orang seperti Aku ini sanggup membeli makanan semahal itu, walaupun Aku punya uang lebih untuk membeli semua itu, Aku tidak mungkin melakukanya, mending Aku tabung buat biaya Nenekku ke tanah suci,"
"Hatimu betul-betul mulia Lin!, semoga kamu cepat mendapat uang banyak dan segerah membawa Nenek Farida ke tanah suci. Aamiin," Melly mengusap wajahnya menggunakan kedua telapak tanganya.
"Aamiin.....Terima kasih atas doanya,," ucap Lina tersenyum.
"Sama-sama, Sudah-Sudah ayo kita berangkat nanti kesingan lagi," ajak Melly sambil menepuk punggung Lina.
"Baik Nona Melly. ...Ayo kita berangkat. Tarik sis.......!," ucap Lina sambil menjalankan kendaraanya.
"Semangko......," balasa Melly terkeke-keke.
__ADS_1
Keduanya pun memasuki pusat kota dengan mengendarai sepeda motor milik Lina.
Di sepanjang perjalanan keduanya terus saja cegegesan tanpa mempedulikan keadaan di sekeliling mereka.
Ada-ada saja yang membuat mereka tertawa hingga terkadang orang-orang menatapnya dengan tatapan aneh.
Ya, bukan namanya Melly dan Lina kalau cuman di tatap nyalinya menciut. Makin orang menatap mereka berdua semakin menjadi pula yang mereka lakukan. Sehingga membuat orang yang menatapnya hanya geleng-geleng kepala di buatnya.
Tidak lama kemudian mereka berdua pun tiba di sebuah Mall yang terletak di pusat kita.
Suasana Mall kala itu terlihat sangat ramai. Orang-orang berdatangan untuk menikmati diskon besar-besaran yang diadakan oleh Mall tersebut.
Lina memarkirkan kendaraanya di tempat parkir yang sudah di sediakan oleh pihak Mall.
Setelah semuanya dirasa cukup, Melly dan Lina melangkah menuju pintu masuk dan berbaur dengan pengunjung lain.
Ada beberapa orang disana mengenali Melly sebagai model dari DYANA grup. Sehingga tidak sedikit dari mereka itu meminta poto bersama dan juga tanda tangan sebagai kenang-kenanga.
Melly dengan senang hati mengikuti keinginan mereka sebagai tanda terima kasihnya karena mereka telah setia menggunakan produk dari DYANA grup.
Tidak lama kemudian Melly dan Lina melanjutkan perjalanan menyusuri seisi Mall.
Entah sudah berapa toko pakaian yang sudah mereka masuki demi mendapat pakaian yang mereka inginkan.
"Mell, sudah ya, betisku sudah mau meletus nich!," ucap Lina sambil memegangi betisnya.
"Iya sama, Aku juga. Yuk kita duduk disana," ucap Melly sambil menunjuk kearah sebuah kursi panjang yang terletak di pojokan.
Lina hanya mengangguk tanda kalau dia setuju.
Mereka berdua melangkah kearah kursi yang di tunjuk Melly barusan. Belum juga keduanya duduk di kursi tersebut, sesesorang sudah memanggil nama mereka dari arah belakang.
"Mell, Lin!," ucap seorang gadis berlari kecil menghampiri mereka berdua.
Melly dan Lina sontak berbalik badan dan mendapati seorang gadis cantik mendekat kearah mereka.
"Rindu," Ucap Melly dan Lina secara bersamaan.
Ketiganya pun saling berpelukan dan melompat kegirangan ala-ala ABG masa kini.
Setelah puas berpelukan dan melompat seperti cacing kepanasan. Ketiga gadis cantik itu kemudian duduk di kursi.
"Rin, kamu kemari dengan siapa?," tanya Melly menegok kekiri dan kekanan.
"Aku sama Dirga," balas Rindu tertundukan kepalanya.
__ADS_1
"Dirga sekertaris Tuan Aldo maksud kamu!," tanya Melly lagi.
"Iya," balas Rindu masih menundukkan kepanya karena malu.
"Kalian berdua pacaranya!," tanya Melly lagi sakin penasaranya.
"Iya kami pacaran!," balas Dirga yang baru saja datang dari arah toilet.
Rindu seketika mengangkat wajahnya dan membulatkan kedua bola matanya.
"Boonk, kami tidak pacaran. Soalnya mamanya belum merestui kami," kilah Rindu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya menatap Melly.
"Biarpun mama Aku tidak merestui kita, Aku akan terus bersamamu. Aku sudah meninggalkan rumah dan semua kekayaanku demi memilihmu. Lagian Papa setujuh kok dengan hubungan ini," Dirga mendudukkan dirinya di samping Rindu dan memeluk bahunya.
"Ciee.... ada yang sebentar lagi nikah nich!," Melly dan Lina tertawa terbahak-bahak se hingga membuat Rindu begitu malu, sedangkan Dirga hanya tersenyum-senyum melihatnya.
"Turus kapan kamu nikah dengan Jhony!, Aku lihat di pesta pada saat itu, dia begitu memperhatikanmu," kini giliran Dirga yang bertanya pada Melly.
Rindu dan Lina sontak menatap kearah Melly yang saat itu duduk di tengah-tengah mereka.
Melly tidak menjawab dia malah merotasikan kedua matanya.
"Jawab tidak?," ucap Rindu sambil mencubit paha Melly.
"Sakit tau," Melly sedikit protes.
"Makanya Jawab cepat," Rindu melotot dan masih terus mencubiti paha Melly.
"Lepasin makanya, baru Aku jawab,"
Rindu segera melepas cubitanya dan menatap lekat kearah Melly.
"Bulan depan," ucap Melly menunduk.
"Apa!, bulan depan," ucap Lina, Rindu, Dan Dirga secara bersamaan.
Melly mengangguk pelan sambil berdiri.
"Iya ....Tapi boonk!, ha ..ha..," Melly langsung pergi meninggalin mereka bertiga.
"Dasar Melly," Lina dan Rindu menggerutuh sedangkan Dirga hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
Ketiganya pun berdiri dan mengikuti kemana Melly pergi.
đŸ‘‰Terus beri Vote, coment, favorite dan rate bintang lima...makasih.
__ADS_1