MELLY DAN JHONY

MELLY DAN JHONY
26. TARIK SIS...SEMANGKO.


__ADS_3

Belum juga Melly menyentuh gagang pintu. Seseorang telah menggil namanya dari arah belakang.


"Melly anastasya, berhenti di situ." ucap Fenny sedikit mengeraskan suaranya.


Melly lansung menghentikan langkahnya lalu berbalik.


"Iya....! ada apa Mba Fanny memanggilku." jawab Melly.


"Kemarilah." Fanny memanggil Melly untuk mendekat.


Melly melangkah kembali ke tempatnya semula.


"Duduklah." perintah Tety.


Melly hanya mengangguk lalu duduk kembali ketempatnya semula.


"surprise" ucap kelima dewan juri sambil bertepuk tangan.


Melly hanya mengkerutkan dahinya melihat kelima dewan berdiri lalu bertepuk tangan.


"Melly kamu kena 'prank' dari kami" ucap Tety sambil membentangkan tangannya kearah para dewan juri yang lain.


Kembali Melly hanya menggaruk-garuk kepalanya. Dia benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi sekarang ini.


"Melly, apa kamu bahagia?." ucap Tety sembari menatap kearah Melly.


"Bahagia!" Melly sambil tersenyum kuda.


"Kamu terpilih jadi model produk DYANA grup." ucap Tety lagi sambil tersenyum.


Melly langsung memplototkan kedua matanya, kedua jari telunjuknya dia gunakan untuk mengorek lubang telinganya. Melly benar-benar tidak percaya apa yang baru saja dia dengar dari mulut Tety.


"Bisa Ibu ulang sekali lagi, apa yang barusan Ibu ucapkan." pinta Melly pada Tety.


"Melly kamulah pemenang. Model sepertimulah yang di cari perusahaan ini. Apa kamu tahu kenapa kami memilihmu?." tanya Tety lagi pada Melly yang masih dengan wajah bingungnya.


Melly hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, tanda kalau dia tidak mengerti sama sekali kenapa dia bisa terpilih dan mengalahkan Jessy.


"Kami memilihmu karna kamu adalah seorang perempuan tangguh, kuat dan tidak mudah untuk di tindas. Kedepanya nanti, kamu akan mengalami banyak cobaan saat membintangi produk dari perusahaan ini.


kamu akan diincar oleh orang-orang yang tidak ingin melihat perusahaan ini berhasil. Maka dari itu, persiapkan dirimu mulai dari sekarang." ucap Tety dengan wajah yang sangan serius.


Bukanya merasa takut dengan ucapan Tety barusan, Melly malah tersenyum girang


"Jadi benar nich! Aku yang jadi pemenangnya?." tanya Melly untuk memperjelas.

__ADS_1


Para dewan juri serentak mengangguk tanda mengiyakan.


Melihat anggukan dari para dewan juri, Melly langsung naik keatas kursi lalu berpindah ke atas meja sembari melompat untuk memeluk Tety sakin senangnya.


Tety menyambutnya dan mereka pun saling berpelukan.


Keempat dewan juri yang lain hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah laku Melly yang mirip sekali dengan anak kecil yang baru saja mendapat permen dari kedua orang tuanya.


Setelah suasana gembira mulai redah. Para dewan kembali duduk ke tempat duduk mereka masing-masing. Begitu pula yang di lakukan oleh Melly.


"Melly, tolong kamu baca perjanjian dalam kontrak ini, setelah kamu yakin betul, kamu boleh menandatanganinya." ucap Tety sambil menyodorkan sebuah map dan sebuah pulpen kehadapan Melly.


Melly membuka map yang di sodorkan oleh Tety padanya lalu membacanya dengan seksama.


Setelah beberapa menit kemudian, Melly menatap para dewan juri secara bergantian sembari tersenyum.


"Bismillah". ucap Melly lalu membubuhkan tanda tanganya diatas kerta itu.


Kembali kelima dewan juri itu berdiri dan menyodorkan tangan mereka kearah Melly.


Melly berdiri dari tempat duduknya dan menyambut uluran tangan dari masing-masing dewan juri.


"Selamat bergabung di perusahaan ini." ucap Tety setelah mereka berdua berjabat tangan.


"Terima kasih banyak Bu." balas Melly sambil tersenyum sangat manis.


"Baik Bu! Kalau begitu Melly permisi dulu." ucap Melly berpamit.


"Oke, Kamu jaga diri baik-baik dan juga jaga kesehatanmu, karna hari-harimu akan di sibukkan dengan produk baru yang akan di luncurkan perusahaan kita ini." ucap Tety sedikit menasehati Melly.


"Terima kasih banyak Bu, atas nasehatnya." balas Melly sembari menunduk.


Tidak lama kemudian Melly keluar dari dalam ruang audisi sembari tersenyum-senyum sendiri.


Lina yang sedari tadi menungguinya di kursi segera berdiri dan berjalan mendekat kearah Melly.


"Melly, Bagaimana!. Apa mereka memarahimu dan mendeskualifikasimu?." pertanyaan demi pertanyaan di lontarkan Lina ke pada Melly sakin kuatirnya dengan keadaan sahabatnya itu.


"Iss...kamu itu ya, tidak bisa membaca situasi. Coba lihat raut wajahku, apa ada kesedihan yang terpancar di sini?." tanya Melly balik sambil menunjuk kearah wajahnya.


Lina hanya menggeleng.


"Itu artinya...." ucapan Melly terpotong karna Lina langsung memotongnya.


"Itu artinya mereka masih mengizinkanmu untuk terus lanjut mengikuti perlombaan?." potong Lina begitu girang.

__ADS_1


"Bukan mengikuti lagi Lin!, Malah mereka memilihku sebagai pemenangnya." ucap Melly sembari tersenyum lebar.


"Benarkah ucapanmu itu Rhoma." balas Lina.


"Benar Any." sambut Melly.


Keduanya pun tertawa lepas dan melangkah meninggalkan tempat itu menuju kearah parkiran.


Setelah mereka berdua tiba di tempat parkir. Lina memberikan helm ke pada Melly untuk dia kenakan.


"Mell, setelah ini kita mau kemana?." tanya Lina pada Melly.


"Kita lihat rumah baruku yuch!." jawan Melly.


"Dimana?." tanya Lina lagi.


"Entar de Aku tunjukin." jawab Melly.


"Baiklah kalau begitu!. Ayo naik" ajak Lina


"Lin!" ucap Melly sebelum Dia naik keatas motor milik Lina.


"Iya, ada apa lagi!." balas Lina sedikit heran.


"Nanti setelah Aku pindah ke rumah baruku! Kamu dan Nenekmu pindahlah ke rumah lamaku. Aku akan memberikan rumah itu untukmu sebagai tanda terimah kasihku karna kamu sudah membantuku hingga aku bisa seperti ini." ucap Melly sambil menatap Lina.


Lina seketika terperangah mendengar ucapan dari Melly.


"Kamu jangan berlebihan Melly, Itu rumah adalah hasil keringatmu selama berbulan-bulan bahkan sampai tahun lamanya, masa kamu mau beri percuma padaku." ucap Lina menolak.


"Kamu ini, Aku iklas memberikan padamu. Lagian nich ya!, apa kamu mau, terus-menerus tinggal di rumah kontrakan bersama Nenekmu?." tanya Melly.


Lina tidak menjawab sama sekali, dia hanya terdiam. Di hati kecil perempuan itu, dia ingin sekali membahagiakan Neneknya dengan membelikannya sebuah rumah walau sangat sederhana itu sudah cukup baginya.


"Kenapa kamu diam saja! pokoknya rumah itu akan aku serahkan padamu mau tidak mau kamu harus menerimahnya. paham." ucap Melly sedikit menyondongkan kepalanya kearah Lina.


"Tapi Melly!." ucap Lina tidak enak hati.


"Tidak ada tapi-tapian." ucap Melly sembari duduk diatas motor.


"Ayo kita berangkat....tarik sis....." ucap Melly dari belakang sambil menepuk pundak Lina.


"Semangko" balas Lina sambil menjalankan kendaraanya.


Mereka berduapun cegegesan seperti orang gila di sepanjang jalan yang mereka lalui.

__ADS_1


👉dukung terus ya teman- teman dengan memberi like, coment , vote ...terima kasih.


__ADS_2