MELLY DAN JHONY

MELLY DAN JHONY
50. PERCAYALAH PADA JHONY.


__ADS_3

Sementara itu di kediaman Hafid, tampak pesta kecil-kecilan sedang berlangsung dirumah mewah itu.


Ada beberapa mobil mewah sedang terparkir disana.


"Selamat Tuan Hafid, Anda berhasil menggoyakahkan pertahana dari DYANA grup," Seorang pria berjas menyalami Hafid yang saat itu sedang berdiri di depan pintu di temani oleh Shanty untuk menyambut tamu mereka yang datang.


"Itu belum seberapa Hartono, masih banyak lagi yang akan aku pertontonkan pada kalian jika Jhony itu masih macam-macam denganku," balas Hafid dengan sombong sambil menyalami Hartono.


"Betulkah?, ha ..ha..ha," Hartono sambil terbahak-bahak.


"Betul sekali, ha ..ha...ha," Hafid dan Shanty ikut tertawa.


Suasa pesta saat itu begitu meriah dan hanya kalangan tertentu saja yang bisa masuk kedalam kediaman Hafid itu untuk menikmati pesta yang memang sengaja Hafid adakan untuk menghormati patner kerjanya yang selalu siap membantunya kapan saja.


Hafid dan Shanty seganja menyelenggarakan pesta kecil-kecilan itu untuk merayakan kemenangan mereka karna sudah membuat perusahaan DYANA grup kalang kabut.


Lain halnya di mension keluarga Aldo, tidak ada hal heboh sedikitpun yang tampak di keluarga itu, semua berjalan biasa-biasa saja padahal mereka yang harusnya panik karna perusahaan DYANA grup milik Gisel sudah di ujung tanduk.


Aldo yang siang itu selesai mandi dan keluar dari kamar mandi dengan balutan handuk di pingganya mendapati istrinya sedang berbaring miring sambil menyusui kedua buah hatinya.


Aldo melangkah mendekati pembaringan kemudian naik keatas sambil ikut membaringkan tubuhnya di sisi putra-putranya.


"Hay ...jagoan Ayah!, apa kalian berdua sudah kenyang," Aldo sambil menggoyang-goyangkan tangan Ziko putra bungsunya.


"Udah Ayah, kami berdua udah kenyang cekalan gililan Ayah agi," ucap Aldo membalas ucapanya sendiri yang menyerupai ucapan anak kecil.


"Baiklah kalau begitu putra-putra Ayah yang baik hati. Ayah sebenarnya tidak mau tapi karna kalian berdua memaksa, maka Ayah akan melakukanya," ucap Aldo sambil mendekatkan kepalanya kearah dada Gisel.


Tapi belum juga bibirnya menyentuh dua gunung kembar Gisel tersebut sebuah bantal sudah menutupi wajahnya.


Aldo segera menarik kembali wajahnya dan segera menarik bernafas lalu menghempaskanya.


"Kenapa kamu melakukan ini padaku, Dinda!." protes Aldo setelah deruh nafasnya sudah normal kembali.


"Pikir sendiri," balas Gisrl sambil melanjutkan menyusui si sulung Zaky.

__ADS_1


"Kikir amat," Aldo memanyun-manyunkan bibirnya lalu duduk di pinggir tempat tidur sambil terus memandangi Zaky mengisap pu+ing payudara milik istrinya.


Beberapa kali air liur Aldo menetes di sudut bibirnya membuat Gisel hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat suami mesumnya itu.


Bukan Aldo namanya kalau secepat itu mengalah.


Aldo berdiri dari tempat duduknya dan melangkah kearah belakang Gisel yang saat itu sedang tidur miring menyusui putra si sulung Zaky


Mata Aldo kembaki terbelalak setelah melihat lekukan tubuh Gisel yang siang itu menggunakan daster yang sedikit terlihat trasfaran.


Aldo naik kembali keatas pembaringan dan menidurkan tubuhnya searah dengan Gisel.


Aldo kemudian memeluk tubuh Gisel dari belakang.


"Sayang lepasin, Aku lagi menyusui anak-anak kita lo," protes Gisel yang masih pada bosisi yang sama.


"Biarin dulu seperti ini supaya Kanda bisa memberi aura positif pada dirimu dan mengalir ke tubuh anak kita," ucap Aldo sambil mengeraskan pelukanya.


Gisel tidak bisa berbuat apa-apa lagi, Aldo kalau dilarang pasti dia makin menjadi, Jadi biarin saja, to nanti dia berhenti juga. Gisel yang sudah pahan betul dengan sifat suaminya itu.


Pelan-pelan sekali Gisel menggerakkan tanganya. Ketika benda itu benar-benar sudah tepat sasaran Gisel langsung menangkapnya.


"Auo.......," ringis Aldo sambil bangun dari tidurnya.


Melihat wajah Aldo memerah seperti itu, Zaki dan Ziko sontak tertawa sambil menendang-nendangkan kaki dan bertepuk tangani.


Mereka berdua begitu senang melihat wajah Ayahnya yang tidak seperti biasanya.


"Tu lihat, Zaky dan Ziko begitu bahagia bila Ibunya menangkap ubur-ubur milik Ayahnya, iya kan sayang!," Gisel sambil memandangi kedua putranya.


Ziko dan Zaki kembali terbahak membuat Aldo menggeleng gelengkan kepalanya.


"Lepasin sayang nanti segatan umur-uburnya berkurang," ucap Aldo sedikit memelas.


"Baiklah, cepat pakai bajumu, Aku sudah menyiapkanya semua diatas meja," ucap Gisel sambil melepaskan ubur-ubur milik Aldo.

__ADS_1


Sebelum benar benar pergi Aldo sempat- sempatnya mendaratkan ciumanya kearah bibir Gisel.


Setelah kepergian Aldo dari pembaringan.


suara ketukan dari pintu kamar terdengar sebanyak tiga kali hingga Gisel bangun dan turun dari tempat tidur lalu melangkah menuju kearah pintu.


Gisel memutar gagang pintu kamar miliknya dan sedikit menariknya hingga daun pintu terbuka dan menemukan Elin sedang berdiri disana.


"Ee...Ibu!, silahkan masuk," Gisel membuka lebar daun pintu dan mempersilahkan mertuanya untuk masuk.


"Terima kasih," balas Elin lalu melangkah menuju kearah pembaringan dimana Zaky dan Ziko sedang terbaring sambil memaikankan jari-jari mereka.


"Cucu nenek udah pada ganteng- ganteng nich! Ayo ikut Nenek, kita ketaman untuk menikmati pemandangan indah disana," Elin menciumin sikembar saling bergantian.


Setelah puas menciumi kedua cucu kesayanganya itu, Elin duduk di sudut pembaringan disamping Gisel yang saat itu duduk searah dengannya.


"Nak apa kamu sudah mendengar berita tentang DYANA grup?," Elin menatap kearah Gisel.


"Gisel sudah dengar Bu!, pemberitaan kan sekarang marak-maraknya menceritakan tentang produk baru DYANA grup yang saat ini sangat langkah di pasaran," balas Gisel biasa saja tanpa ada kekuatiran di wajahnya, sehingga membuat Elin mengerutkan dahinya.


"Apa kamu dan Aldo tidak sedikit pun kuatir tentang masalah yang melanda DYANA grup?," tanya Elin lagi yang masih dengan tatapan tajam kearah Gisel.


"Selama Jhony belum mengaduh kapada kami, maka selama itu pula kami percaya kalau DYANA grup masih dalam keaadaan baik-baik saja," ucap Gisel sambil tersenyum pada mertuanya itu.


Tidak lama kemudian datang Aldo dari arah lemari pakaian.


"Benar Bu!, Ibu jangan terlalu kuatir dengan masalah yang melanda DYANA grup, dan percayalah pada anak Mama yang satu itu kalau dia bisah melewati ini semua dan membalas dendamnya kepada Hafid tanpa harus ada campur tangan kita, Aku yakin bila Jhony bisa melewati ini semua, kelak pasti dia akan menjadi orang besar dan sejajar denganku didunia bisnis" Aldo sambil memasang kancing bajunya.


"Kalian benar pasangan yang unik, bukan cuman kalian berdua yang terus mendukung Jhony, Ibu pun sering mendoakan yang terbaik untuknya dan tetap terus memberinya semangat. Ngomong-ngomong ibu tadi mendegar dari pemberitaan kalau besok ada pergerakan massa yang menjulur ke DYANA grup. Apa kalian berdua akan kesana esok!," tanya Elin pada Aldo dan Gisel.


"Aku akan kesana besok, tapi Istriku tidak soalnya bayi-bayi kami sangat membutuhkanya," Aldo duduk di samping pembaringan dan nencium pucuk kepala.


Gisel.


"Baiklah kalau begitu, besok Ibu juga akan ke perusahaan DYANA grup untuk melihat apa yang akan terjadi disana, tapi sebelumnya itu Ibu mau bermain dengan kedua cucu-cucu Ibu ini dulu," Elin mengangkat tubuh Zaky lalu memasukkanya ke keranjang dorong khusus bayi kemudian melanjutkanya ke Ziko.

__ADS_1


đŸ‘‰terus beri like, coment dan vote ya ....makasih.


__ADS_2