MELLY DAN JHONY

MELLY DAN JHONY
120. SHANTY TIDAK MAU BUKA MULUT.


__ADS_3

Sementara itu. Hafid terus melajukan kendaraanya menuju rutan kelas satu yang ada di kota itu.


Pria parubaya itu terlihat begitu emosi. Sesekali dia terlihat memukuli stir mobilnya cukup keras.


"Kurang ajar!. Perempuan siluman itu memang tidak ada kapok-kapoknya sama sekali melakukan kejahatan. Entah iblis apa yang bersemayam dalam tubuhnya sehingga belum juga merasa jerah setelah mendapat hukuman dari pihak berwajib,".


Tidak lama kemudian kini mobil mewah yang dia tumpangi sudah berbelok masuk ke dalam area rutan.


Hafid memarkirkan kendaraanya di tempat parkir dan keluar dari dalam mobil. Pria parubaya itu melangkah menuju kearah pintu utama rutan tersebut.


Hafid melangkah masuk lebih dalam dan menuju kearah ruang balai informasi.


Cukup lama pria parubaya itu berada di dalam sana, hingga terlihat daun pintu bulai terbuka kembali.


"Ayo Tuan mari ikut Saya," ajak seorang pegawai rutan pada Hafid.


Hafid hanya mengangguk dan mengikuti langkah pria tersebut.


"Tuan boleh tunggu di sini sebentar, biar Saya memanggilkan Nyonya Shanty buat anda," ujar pegawai rutan itu dan mempersilahkan Hafid untuk duduk.


Ada sekitar 5 menit Hafid menunggu disana, hingga dua orang datang mendekat padanya.


"Sayang, kenapa baru datang menjengukku!. Apa kamu sudah rindu padaku dan menyesali semua perbuatanmu selama ini," Shanty sambil memeluk Hafid yang saat itu sedang duduk di kursi.


"Lepaskan Shanty. Apa kamu tidak malu dilihat orang. Dan ingatlah, kamu itu bukan siapa-siapa lagi bagiku," Hafid mendorong tubuh Shanty agar menjauhinya.


"Tapi Sayang, Aku masih sangat mencintaimu," ujar Shanty kembali ingin memeluk Hafid tapi langsung di cegah oleh si pegawai rutan.


"Cukup Nyonya. Sebaiknya Anda duduklah karena waktu untuk menjenguk sangatlah terbatas," ucap pegawai rutan itu sembari mempersilahkan Shanty untuk duduk.

__ADS_1


Shanty mau tidak mau terpaksa harus duduk di depan Hafid dengan meja sebagai perantaranya.


"Terus kalau bukan kangen padaku. Apa tujuan kamu datang kemari?," kini wajah Shanty mulai terlihat kurang bersahabat.


"Kamu jangan pura-pura tidak tahu apa tujuanku datang kemari," Hafid memplototkan matanya kearah Shanty.


"Maksudkamu apa?," balas Shanty dengan wajah sedikit bingung.


"Kamu tidak pernah berubah. Kamu pintar sekali menyembunyikan kebohonganmu di wajah palsumu itu. Cepat katakan dimana Shinta sekarang,"


"Shinta?," tanya Shanty masih terlihat bingung.


"Shinta siapa lagi kalau bukan saudara kembarmu itu,"


"Untuk apa kamu mencarinya?,"


"Jangan pura-pura bodoh. Cepat katakan dimana dia membawa Azisah cucuku?," Hafid mencoba berdiri dan mendekatkan wajahnya kearah Shanty.


"Masalah sepeleh katamu!," Hafid dengan geram sambil memegangi kedua kera baju milik Shanty.


"Tenangkan dirimu Tuan!, atau waktu jenguknya kami sudahi," Sang pegawai rutan memegangi tangan Hafid supaya melepaskan peganganya pada kera baju milik Shanti.


Seketika itu juga Hafid melepaskan peganganya.


"Cepat katakan dimana bajingan itu menyembunyikan cucuku?," kembali Hafid membentaki Shanty.


Santy sersungging mengejek kemudian berdiri.


"Aku kira kamu dan anak harammu itu hebat, ternyata Aku salah selama ini. Kamu cari sendiri saja karena sampai kapanpun Aku tidak akan memberi tahumu..ha...ha ..ha....," Shanty melangkah meninggalkan Hafid.

__ADS_1


"Shanty!, dasar manusia tidak punya hati kamu," teriak Hafid pada Shanty yang saat itu sudah menghilang di lorong kecil menuju selnya.


"Azisah, kemana lagi Kakek akan mencarimu," Hafid mengusap kasar wajahnya.


Pria parubaya itu begitu Frustasi karena Shanty sebagai kunci satu-satunya untuk menemukan keberadaan Azisah tidak mau buka mulut.


Hafid melangkah sempoyongan menuju kearah tempat parkir.


Setelah berada di dalam mobil dan menghidupkan mesin mobilnya. Hafid melajukan kendaraannya meninggalkan area rutan.


Di sepanjang perjalan pria paru baya itu terus memutar otak dimana kebaradaan Shanti menyembunyikan cucunya.


Hingga dia tiba-tiba merem mendadak dan memarkirkan mobilnya di pinggir trotoar.


"Apa Shinta menyembunyikan Azisah di gedung tua tempat penyimpanan bahan baku itu?. Soalnya kota ini masih sangat asing baginya. Shanty satu-satunya orang yang bisa memberi saran dimana tempat yang aman untuk dia bersembunyi,"


Hafid merogoh saku celananya dan mengeluarkan handphonnya dari dalam sana.


"Hallo Nak, dimana kamu sekarang?," tanya Hafid setelah sambungan telponya dengan Jhony sudah terjalin.


"Aku ada di rumah pa!, Apa sudah ada tanda-tanda dimana keberadaan putriku saat ini?," tanya Jhony dalam sana.


"Papa belum terlalu pasti, Shinta ada di sana atau tidak. Tapi yang jelasnya hanya tempat itulah satu-satunya menurut papa tempat strategis bagi perempuan itu untuk bersembunyi,"


"Dimana itu pa!, biar kita kesana dari pada kita hanya berdiam diri saja tidak melakukan apa-apa sama sekali,"


"Baiklah, lokasinya nanti papa kirim lewat SMS. Papa duluan kesana untuk memantau keadaan,"


"Baik pa!, papa hati-hati," balas Jhony.

__ADS_1


Hafid pun mematikan sambungan telepon mereka dan kembali melajukan kendaraannya menjauh dari pusat kota.


__ADS_2