MELLY DAN JHONY

MELLY DAN JHONY
99. IJAB KABUL.


__ADS_3

99 .IJAB KABUL.


Kini rombongan mobil dari pihak mempelai pria menuju kearah mension milik Aldo.


Ada sekitar dua puluhan mobil mewah keluarga Hafid menuju kesana.


Mobil mereka di kawal oleh pihak kepolisian beserta pihak TNI.


Seketika pengendara lain berhenti sejenak ketika arak-arakan mobil mereka melintas.


Mobil mewah Jhony yang berada tepat di belakang mobil polisi terlihat berjalan dengan kecepatan sedang dengan La'upa sebagai pengemudinya.


Tampak di dalam sana, Jhony terlihat gelisah. Sesekali pria yang sudah berpakaian bak pangeran itu meremas-remasi jari-jarinya saling bergantian.


Pandangan matanya diarahkan keluar jendela.


Hafid yang saat itu duduk di kursi penumpang bersamanya tersenyum lalu menepuk punggungnya.


"Nak!, kamu jangan tegang seperti ini. Jalanilah prosesnya, papa yakin anak papa pasti bisa," Hafid mencoba memberi semangat pada Jhony.


Jhony yang saat itu menatap keluar jendela mobil segera berbalik menatap Hafid.


"Pa'!, Aku sangat gugup!, apa aku bisa lancar nantinya mengucapkan ijab kabul di depan pak penghulu?," Jhony yang masih terlihat begitu tegang.


"Rilexlah, Papa yakin kamu bisa! Aku percaya anak papa pasti bisa. Jadi, tenang dan berdoalah semoga segalah sesuatunya dimudakah oleh ALLAH,"


"Aamiin, terima kasih pa' atas saranya," Jhony tersenyum tipis pada Hafid dan di sambut rangkulang Hafid pada pundaknya.


Tidak lama kemudian, kini rombongan kendaraan mereka memasuki halaman mension.


Elin, Aldo, Nenek Fatimah,Nenek Farida, Lina, Dokter Fadlan, pandu, Rindu, Dirga, Ibu Yati dan beberapa orang family mereka menyambut kedatangan rombongan mempelai pria itu.


Setelah kendaraanya sudah terparkir rapi, La'upa membuka pintu dan keluar dari dalam mobil. Pria parubaya itu berlari kecil membuka pintu untuk tuanya.


Sebelum keluar, Jhony merapikan kembali pakaianya begitu pula yang di lakukan oleh Hafid.


Setelah dirasa cukup, keduanya pun keluar dari dalam mobil.


Jhony dan Hafid melangkah menuju pintu utama mension di ikuti oleh rombongan yang tadi bersaman datang dari kediamanya.


Melihat kedatangan Jhony rombongan Elin pun maju menghampiri mereka dan menyambutnya dengan senyum kegembiraan.


"Kamu benar-benar tampan, Nak!," Elin merapikan dasi dan kemeja Jhony. Elin benar-benar memperlakukan Jhony seperti perlakuanya pada Aldo.


Setelah Elin selesai merapikan jas dan dasi Jhony lalu mundur sedikit kebelakang, sekarang giliran Ibu yati yang maju. Perempuan parubaya itu berdiri di hadapan Jhony dengan mata berkaca-kaca. Bu Yati membelai wajah Jhony sesaat lalu kemudian memeluknya dengan erat.


"Akhirnya kamu menikah juga Tuan!, Janjiku pada Almarhuma Ibumu sudah terpenuhi. Dia sudah Melihatmu dewasa dan sebentar lagi mengarungi bahtera rumah tangga mengunakan kedua matanya yang melekat pada mata Ibu Ini," Ibu Yati melepas pelukanya lalu melepas kacamatanya dan memperlihatkan kedua bola mata milik Wulandari pada Jhony.


Jhony menatap lekat kedua bola mata itu. Bola mata yang dulu selalu menatapnya saat terbangun dari tidur dan melotot saat Wulandari memerahinya.

__ADS_1


"Ibu, sekarang Jhonymu sudah dewasa dan sebentar lagi akan menikah dengan perempuan yang Jhony cintai. Jhony minta restumu, semoga kami berdua terus bersama hingga ajal memisahkan kami berdua," Jhony membelai lembut mata Ibunya yang sudah berpuluh-puluh tahun lamanya melekat pada Ibu Yati.


Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya beberapa puluh tahun yang lalu, Wulandari, Ibu dari Jhony menyerahkan kedua bola matanya pada Ibu Yati yang saat itu memang hampir mengalami kebutaan akibat dari kecelakaan.


Wulandari berpesan pada Ibu Yati, kelak bila dia sudah tiada, dia ingin melihat perkembangan Jhony melalui tubuh Ibu Yati tapi menggunakan kedua bola matanya sendiri.


Ibu Yati pun berjanji akan menepati keinginan dari Wulandari, dan akhirnya janji itu pun terpenuhi hari ini dimana sebentar lagi Jhony akan mengucapkan ijab kabul dan resmi menikah dengan Melly.


Setelah Jhony puas menatap kedua bola mata ibunya, Bu Yati kemudian memasang kembali kaca matanya.


Tidak lama kemudian dari arah belakang tampak kumpulan anak kecil berlari mendekat kearah Jhony sambil berteriak.


"Papa Jhony,"


Jhony segera tersenyum dan kemudian berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan anak-anak itu.


"Upss....harus antri ya anak-anak Papa!," Jhony menggeleng-gelengkan kepalanya tanda kalau dia tidak suka anak-anak itu saling berebutan untuk mendapatkan pelukanya.


Seketika anak-anak itu berhenti dan membentuk barisan panjang.


Jhony kembali tersenyum lalu membentangkan kedua tanganya.


Radit bocah imut yang berdiri paling depan segera maju. Mata bocah kecil itu berkaca-kaca dan seketika itu juga memeluk tubuh Jhony dengan sangat erat.


"Adit Rindu papa Jhony!," tangis Radit pecah dalam pelukan Jhony.


Air matah bocah itu sedikit membasahi jas yang di kenakan oleh Jhony.


"Apa papa juga akan melupakan kami setelah papa menikah sama mama Melly seperti yang di lakukan orang tua kami?," Radit melepaskan pelukanya dan menunduk lesuh di hadapan Jhony.


Sebelum menjawab Jhony menatap orang-orang yang ada disana.


Tampak dari wajah orang-orang yang di tatapinya terlihat kesedihan mendalam setelah mendengar penuturan dari Radit.


"Siapa bilang kalau Papa akan melupakan kalian!. Menikah tidak menikah, papa akan terus menyayangi kalian seperti sebelum-sebelumnya," ucap Jhony dengan lembut dan kembali membelai pucuk kepala bocah itu.


Radit seketika mengangkat kepalanya dengan tatapan tajam kearah Jhony.


"Benarkah!, Papa akan terus menyayangi kami sampai kapan pun?," tanya Radit dengan wajah begitu serius.


"Tentu saja!, kalian itu anak-anak papa yang ALLAH titipkan pada Papa. jadi, Papa akan terus menjaga dan menyayangi kalian semua sampai kapanpun! papa janji," Jhony mengankat jari kelingkingnya.


Radit tersenyum dan mengaikat jari kelingking mungilnya ke jari kelingking milik Jhony.


Kembali sekali lagi bocah itu memeluk erat tubuh Jhony.


Setelah semua anak-anak itu mendapat pelukan hangat dari Jhony. Jhony bangkit dan kembali bergabung dengan rombongan.


Elin mempersilakan semuanya masuk kedalam mension karna sebentar lagi ijab kabul akan segera di mulai.

__ADS_1


Jhony dan Hafid melangkah menuju kearah Pak Penghulu yang sedari tadi sudah menungguinya.


Jhony melayangkan pandanganya mencari sesorang yang sudah sedari tadi memenuhi pikiranya.


Hafid yang saat itu berada tepat di samping Jhony segera berbisik ke telinga Jhony.


"Sabarlah Nak'!, karena sebentar lagi dia akan menjadi milikmu seutuhnya," ucap Hafid sangat pelan hingga hampir-hampir tidak kedengaran oleh gendang telinga.


Jhony hanya tersenyum sambil memperlihatkan sederetan gigi putihnya pada Hafid yang selalu suka memantau setiap gerak gerik yang dia lakukan.


Tidak berselang beberapa lama kemudian Melly muncul bersama Gisel, Rindu, Lina serta Zaki dan Ziko yang saat itu memakai setelan jas berwarna hitam di padukan dengan celana hitam pula.


Seketika orang-orang yang ada dalam ruangan itu melotot tanpa berkedip sedikitpun menatap kearah Melly yang saat itu mengenakan kebaya berwarna putih dengan rambut di sanggul rapi.


Lain halnya dengan Jhony, tanpa sadar dia langsung bangkit dari tempat duduknya dengan mata melotot dan mulut sedikit terbuka.


"Cantiknya.....,calon ibu dari anak-anaku,"


Hafid dan Elin yang melihat itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.


Melly berjalan gemulai bak putri keraton di temani tiga bidadari yang tidak kalah cantiknya dan dua pangeran tampan yang tidak henti-hentinya memberi ciuman jauh pada orang-orang yang mereka lewati.


Melly duduk tak jauh dari Pandu Ayahnya.


Setelah dirasa cukup pak penghulu mulai angkat bicara.


"Assalamualaikum Warahmatullahi wabarakatuh" ucap pak penghulu


" Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," balas orang-orang dalam ruangan itu.


"Baiklah!, sebelum melakukan ijab kabul, Saya sebagai wali yang telah diamanakan oleh Ayah mempelai perempuan ingin bertanya pada calon mempelai perempuanya terlebih dulu sebelum ijab kabul ini benar-benar di laksanakan. Melly anatasia Pandu Subakti apa Anda benar-benar ingin menerima lamaran dari Jhony iskandar Hafid?


"tanya pak penghulu pada Melly,"


Semua mata sontak menatap kearah Melly yang saat itu sedang tertunduk.


Sebelum menjawab Melly menarik nafas dalam-dalam lalu menghempaskanya. Tampak bibir perempuan cantik itu sedikit bergetar membaca doa.


"Bissmillah, Saya bersedia," ucap Melly mengangkat kepalanya dengan suara sedikit lantang.


"Alhamdulillah" ucap orang-orang yang ada dalam ruangan itu secara bersamaan.


"Kalau calon mempelai perempuanya sudah setuju maka kita langsung mulai saja ijab kabulnya.


Bismillahirrahmanirrahim Ankahtuka wa Zawwajtuka Makhtubataka Jhony Bin Hafid iskandar.


Aku nikahkan engkau, dan Aku kawinkan engkau dengan pinanganmu, Melly binti Pandu subakti dengan mahar seperangkat alat sholat di bayar tunai.


"Saya terimah nikah dan kawinnya, Melly binti Pandu subakti dengan seperangkat alat sholat di bayar tunai " ucap Jhony dengan satu tarikan nafas .

__ADS_1


" Bagaimana readers ....!,sah?" tanya Pak penghulu .


__ADS_2