
SEMUANYA TERUNGKAP.
Sial betul nasib Helena setelah rambutnya sudah di jambak oleh NenekFatimah kini lehernya lagi yang harus di kait memakai tongkat dengan orang yang sama yaitu Nenek Fatimah sebagai pelakunya.
"Sudah Aku bilang sejak tadi Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kamu berkata jujur padaku dimana Ana putriku sekarang berada," ucap Nenek Fatimahmenarik tongkatnya agar Helena mendekat.
"Aku sudah bilang Ana sudah meninggal, tinggal Gina putrinya saja yang masih hidup," Helena memegangi tongkat Nenek Fatimah agar lehernya tidak semakin sakit karna Nenek Fatimah terus saja menarinya.
"Aku tidak percaya!, atau jangan-jangan Gina itu bukanlah cucuku sebenarnya, Ayo Jawab!,"
"Kalau kamu tidak percaya tidak usah, cepat lepaskan tongkamu dari leherku, Aku bisa mati kalau kamu memperlakukanku seperti ini," Helena menarik tongkat yang menempel lekat di lehernya untuk memberi ruang agar dia bisa bernafas.
Semakin Helena ingin melepaskan diri dari tongkat miliknya semakin keras pula Nenek Fatimah menariknya hingga membuat Helena begitu kesulitan untuk bernafas.
"Aku tidak akan melepaskanmu lagi! Aku hitung sampai tiga kali kalau kamu tidak memberi tahuku dimana Ana dan ada hubungan apa Aku dengan keluarga Melly maka, jangan salahkan Aku bila Aku menarik tongkat ini sampai lehermu benar-benar putus. satu, dua .....,"
belum juga sampai hitungan ke tiga Helena sudah mengangkat tangan kanda kalau dia menyerah.
"Baik....baik Akan mengatakanya padamu tapi lepaskan dulu tongkat sialanmu ini,"
Seketika Nenek Fatimah tersenyum.
__ADS_1
"Bagus ....!, Anak pintar!," Nenek Fatimah melepas gagang tongkatnya dari leher Helena.
Setelah terlepas dari jeratan tongkat Nenek Fatimah, Helena menarik nafas dalam-dalam untuk mengisi rongga paru-parunya dengan oksigen yang sempat terkuras habis.
Setelah dirasa cukup perempuan parubaya itu mulai berbicara.
"Ana benar-benar sudah meninggal!," ucap Helena tertunduk lesu.
"kalau memang putriku sudah meninggal, dimana kuburanya," Nenek Fatimah sedikit mendekat kearah Helena. Lama helena terdiam hingga perempuan parubaya itu menarik nafas dalam-dalam dan menghempaskanya dengan sangat kasar.
"Kuburan Ana hanya Melly yang tahu," balas Helena yang masih saja terus menunduk dan tak berani menatap Nenek Fatimah.
Mendengar nama di sebut oleh Helena melly maju mendekat.
"Ana yang di maksud Bibi Fatimah itu adalah Anastasia Hermanto, Ibumu kandungmu. Kami sengaja menghapus nama Hermanto di belakang nama Ibumu karena kami takut Bibi Fatimah pasti dengan mudah menemui kami suatu hari nanti.
Dulu Ibumu stres berat akibat hamil diluar nikah di tambah lagi usaha bibi Fatimah dan om hermanto bangrut. Kesempatan itu kami gunakan untuk mengajak Helena pergi sekaligus untuk membalas dendam Aku pada keluarga Om hermanto karena mengambil semua harta dari orang tuaku,"
Kini Helena mengangkat kepalanya dengan mata berkaca-kaca.
"Jadi benar Melly ini cucuku," Nenek Fatimah memegangi pundak Helena dan menggoyangkanya.
"Iya benar, Melly cucu bibi sesungguhnya, Lihatlah wajahnya mirip sekali bukan dengan Ana!," Helena sedikit senganggukan kepalanya.
Nenek Fatimah berbalik dan menatap kearah Melly.
__ADS_1
"Melly cucu Nenek," Nenek Fatimah membuang tongkatnya lalu berjalan mendekat kearah Melly lalu memeluknya.
Melly tidak membalas dia hanya berdiri bak patung karena dia benar-benar tidak percaya dengan semua yang telah di dengarnya.
Pandu pun maju dan mendekat kearah mereka berdua.
"Putri Ayah!," Pandu ingin memeluk Melly tapi dengan sigap Nenek Fatimah menghalanginya.
"Kamu jangan sentuh cucuku sebelum aku mengizinkanmu,"
"Tapi Bu, Aku juga sangat merindukan Putriku, dua puluh tahun lebih Aku mencarinya tapi setelah bertemu denganya ibu malah melarangku untuk menyentuhnya" ucap Pandu dengan wajah sedih.
"Aku bilang tidak-tidak, ini juga semua karena kesalahanmu hingga Ana pergi dari rumah dan meninggalkan kami. kamu itu pria yang tidak bertanggung jawab. Jadi terimalah hukumanmu,"
Pandu hanya bisa terdiam semua yang di katakan Nenek Fatimah benar. Ana hamil dan Pandu meninggalkanya karena di paksa oleh kedua orang tuanya keluar negeri untuk mengembangkan bisnis keluarga mereka.
Setelah kangen-kangenan dengan Melly selesai Nenek Fatimah mendekat kearah Helena.
"Helena apa yang kamu bilang tadi tentang om hermanto salah besar. Kamilah disini yang jadi korban. Ayahmu, Shanty dan juga Hafid bekerjasama untuk menghancurkan perusahaan kami.
"Ayahmu membocorkan semua rahasia perusahaan kami lalu kemudian Ayahmu menfitnah kami dengan cara memberi tahu pada colega perusahaan kami kalau bahan baku yang kami pasarkan adalah bahan baku yang sudah tak layak pake. Kami bangkrut dan harus menanggung malu.
Untung ada teman om hermanto dari luar negeri yang mengajak kami untuk kerja sama walau dia tahu kalau dana kami saat kekurangan dana. Jadi kamu salah pahan terhadap om hermanto selama ini," Nenek Fatimah menepuk pundak Helena.
*** kisah Rindu akan aku up di Youtube ..rindu tidak akan senasib Gisel, Melly dan Lina ...akan kujadikan kisah Rindu membuat kakak berderai air mata .
__ADS_1