
Sementara itu, di kantin perusahaan DYANA grup. Tampak Melly dan Nenek Fatimah sedang duduk sambil menikmati minuman dingin serta beberapa makan diatas meja. Sesekali terdengar canda tawa dari kedua perempuan itu.
"Melly salut bangat sama Nenek, dalam usia seperti sekarang ini, Nenek masih bisa mengemudi mobil sebesar itu. Sebenarnya Nenek belajar darimana?," tanya Melly sambil meletakkan minuman yang ada di tanganya ke atas meja.
"Almarhum suami Neneklah yang mengajari nenek semua itu. Nenek dan Almarhum suami Nenek sering Keluar masuk kota untuk mengambil bahan baku dari pedalaman menggunaka mobil kontainer. Saat beliau mengantuk atau kelelahan Neneklah yang menggantikanya mengemudi," balas Nenek Fatimah mengingat kembali kejadian beberapa tahun silam.
"Loh kok bisa, kan pada saat itu Nenek dan Almarhum suami Nenek pemilik perusahaan, kenapa Juga Nenek dan Almarhum suami Nenek yang melakukan semua itu!," tanya Melly lagi sakin penasaranya dengan kehidupan Nenek Fatimah.
"Walau kami pemilik perusahaan tapi kami berdua tidak pernah tinggal diam dan hongkang-hongkang kaki seperti kebanyakan bos-bos pada umumnya. Almarhum suami Nenek selalu mengingatkan pada Nenek untuk hidup sederhana dan juga jangan sombong.
Perjuangan Nenek dan Almarhum suami Nenek tidak begitu mulus. Kami banyak di terjang badai dan gelombang sebelum perusahaan kami maju. Tapi dalam hitungan tahun semuanya itu lenyap oleh ulah Hafid dan juga Shanty," Jawab Nenek Fatimah dengan raut wajah sedih mengingat perjuangannya bersama Almarhum suaminya dalam memajukan perusahaan mereka dulu.
"Loh, ada hubungan apa Nenek dengan kedua manusia itu," ucap Jhony yang baru saja datang kemudian menarik kursi kosong yang terletak diantara Melly dan Nenek Fatimah lalu kemudian mendudukkan dirinya disana.
"Hafid dan Shanty adalah patner kerja kami. Perusahan H&S milik mereka itu sering memesan bahan baku dari perusahaan kami. Hingga suatu hari, ada sebuah perusahaan besar dari luar yang mengadakan lelang untuk suatu proyek besar. Mendengar hal itu Almarhum suami Nenek mencoba untuk ikut dalam lelang proyek tersebut dan hasilnya perusahaan kami bisa memenangkan lelang itu. Disinilah awal dari semuanya. Hafid dan Shanty tidak terimah kalau perusahaan kami yang memenangkanya karena mereka berdua berpikir kalau perusahaan H&S lah yang pantas karna perusahaan mereka itu adalah perusahaan besar. Dengan berbagai cara Hafid dan Shanty menjatuhkan perusahaan kami mulai dengan menekan keluarga kami sampai menekan semua karyawan yang ada di perusahaan kami. Bukan hanya itu saja, mereka pun begitu tega memfitnah kalau bahan baku dari perusahaan kami itu tidak layak pake, Mereka memaparkan semua bukti palsu yang sudah mereka rancang untuk menjatuhkan perusahaan kami di mata para pengusahaan baik yang ada dalam kota ini maupun yang ada di luar kota. Hingga kami betul-betul terpuruk dan harus menanggung malu. Bukan cuman itu saja perusahaan kami saat itu langsung anjlok karna tidak ada lagi perusahaan yang mau memakai jasa kami....Sampai akhirnya keluarga Nenek porak-poranda. Anak semata wayang Nenek stres dan meninggalkan rumah dan suami nenek sakit-sakita seketika itu juga. Keluarga kami benar-benar di titik nol karena ulah ke dua ular beludak itu," ucap Nenek Fatimah dengan linangan air mata.
Kembali perempuan tua itu harus mengingat kembali peristiwa pahit yang terjadi di masa lalu hingga, memporak-porandakan kehidupan keluarganya dan juga perusahaan yang mati-matian dia bangun bersama almarhum suaminya.
"Nek maafkan Jhony!, Jhony benar-benar tidak berniat untuk membuat Nenek sedih seperti ini," Jhony dengan wajah bersalahnya sambil memegangi pundak Nenek Fatimah.
"Tidak apa-apa Jono!," balas Nenek Fatimah
__ADS_1
Melly segera bangkit dari tempat duduknya dan memberi sebuah saputangan kesayanganya kepada nenek Fatimah.
"Terima kasih Nelly," ucap Nenek Fatimah mengambil saputangan dari tangan Melly lalu menyapu air matanya menggunakan saputangan tersebut.
Melly hanya mengangguk dan memperlihatkan senyum termanisnya kepada Nenek Fatimah.
Setelah selesai mengusap air matanya, Nenek Fatimah berniat mengembalikan saputangan milik Melly.
Tapi alangkah kagetnya perempuan tua itu setelah melihat motif bunga mawar putih yang ada di tengah-tengah saputangan itu.
"Kenapa saputangan ini mirip sekali dengan sapu tangan Ana!," ucap Nenek Fatimah dalam hati dan terus memandangi saputangan yang ada di tanganya saat itu.
Melly dan Jhony seketika saling memandang melihat Nenek Fatimah yang terus saja memandang saputangan yang ada di tanganya.
"Tidak apa-apa, cuman Nenek teringat saja dengan saputangan milik Ana, anak Nenek. Warna dan motif saputangan milikmu ini sama persis dengan saputangan kesukaan Ana, anak Nenek yang hilang itu," Jawab Nenek Fatimah.
"Kalau Nenek mau ntar Melly buatkan yang sama persis dengan itu supaya Nenek dan Melly samaan gimana!," tanya Melly tersenyum.
"Benarkah!," balas Nenek Fatimah.
"Benar Nek," ucap Melly lalu memeluk nenek Fatimah dari belakang dan meletakkan dagunya di pundak Nenek Fatimah.
__ADS_1
Ke duanya pun kembali tersenyum hingga membuat Jhony turut tersenyum melihat kedua perempuan yang ada di sampingnya saat itu.
Setelah suasana kembali tenang, Melly duduk kembali di tempat duduknya semula.
Mereka kembali melanjutkan ngombrol-ngobrol mereka hingga terhenti sesaat saat handpone dalam saku celana Jhony berbunyi lalu bergetar.
Jhony merogoh saku celanya kemudian mengeluarkan handphone dari dalam sana.
Jhony menatap layar handphone dan sedikit mengeryitkat dahinya ketika melihat nama sang pemanggil.
"Iya ada apa kamu menghubungiku," tanya Jhony sedikit membentak saat sambungan telphone keduanya tersambung.
"................." balas sang penelphon.
"Benarkah!," ucap Jhony sedikit tersenyum.
"................"
"Kalau begitu, Jalankan sesuai rencanaku dan sembunyikan mengenai identitasku supaya mereka penasaran. Aku akan muncul pada waktu yang tepat! paham,"
"Paham Tuan," Balas sang penelpon lalu menutup sambungan telphon mereka.
__ADS_1
"Sekarang kamu akan merasakan, apa yang dulu pernah Aku rasakan," ucap Jhony dengan bibir tersungging.
👉hay teman-teman sempatkan vote, comen dan like agar author lebih semangat....terima kasih.