MELLY DAN JHONY

MELLY DAN JHONY
112. MELLY MENGHILANG.


__ADS_3

Pagi itu Jhony sudah bersiap-siap berangkat ke kantor. Semua kebutuhanya sudah Melly siapkan. Mulai dari berkas-berkas penting perusahaan DYANA grup sampai laptop sudah Melly masukkan kedalam tas kerja miliknya.


Melly dan Jhony keluar dari dalam kamar dan tak lupa menutupnya kembali.


Mereka berdua melangkah ke arah meja makan untuk melakukan sarapan.


Melly terus mengayut manja di lengan Jhony sampai mereka tiba di sana.


Nenek Fatimah yang sedari tadi menunggui mereka disana hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan Melly yang berubah 80 derajat dari biasanya. Mungkin pengaruh dari kandungannya atau apalah namanya sehingga kelakuan manjanya pada Jhony bukanlah Melly yang biasanya.


Tapi hal itu tidak membuat Jhony merasa terbebani atau merasa en'nek dengan itu. Jhony malah sangat bersyukur karna Melly kini terlihat lebih feminim dan sudah tidak malu lagi untuk bermanja-manja denganya di depan umum.


Setibanya di meja makan, Jhony menarik kursi buat melly.


"Sayang, duduklah!," ujar Jhony memegangi lengan Melly dari belakang dan membantunya untuk duduk.


"Terima kasih baban," balas Melly sambil membelai lembut wajah tampan suaminya.


"Lebay dhe!," ujar Nenek Fatimah sambil menyeruput teh yang ada di tanganya.


Jhony dan Melly hanya tertawa mendengar ucapan dari Nenek Fatimah.


"Kalau Nenek mau romantis-romantisan juga, biar nanti Melly carikan pasangan yang pas buat Nenek!, gimana?," tanya Melly pada Nenek Fatimah yang masih cengengesan bersama Jhony .


"Amit-amit deh!. Kalian berdua kira nenek ini perempuan gak laku ya!, sehingga Akunya di carikan jodoh segala. Asal kalian berdua tahu Nenek ini dulu primadona sewaktu masih sekolah sampai kuliah. Sudah enam penghargaan best of the best telah nenek raih. Mulai dari gadis sampul tercantiik, gadis imut seantero jagat raya, gadis terseksi, gadis terkuat, gadis molek, gadis perkasa dan masih banyak lagi yang sudah Nenek lupain sakin banyaknya," ujar Nenek Fatimah begitu bangga.


Melly dan Jhony hanya bisa menutup mulut. Mungkin sakit takjubnya ataukah takut ketahuan kalau mereka berdua sedang tertawa terbahak-bahak mendengarkan penuturan Nenek Fatimah.


Selepas bercanda gurau, mereka bertigapun melanjutkan sarapan pagi mereka.


Jhony menyuapin Melly berkali-kali sedangkan dirinya belum sekalipun menyentuh makanan yang ada di piringnya.


"Baban makan juga, Baban kan kerja!, baban butuh tenaga jadi baban juga harus ngisi perut baban agar tidak lesu dan loyo saat bekerja nantinya," ujar Melly sambil mengunya makanan yang ada dalam mulutnya.


"Asal kalian berdua kenyang, baban juga ikut kenyang sayang. Baban tidak mau kamu kelaparan sehingga membuat anak kita ikut kelaparan," Jhony menyentuh wajah Melly dengan kedua tanganya.


"Melly pasti makan Baban. Jadi jangan kuatir. Apa baban mau bila anak kita ini menyalahkanku karena membiarkan papanya kelaparan," Melly yang kini memegangi wajah Jhony.


"Mirip sinetron ikatan cinta tali rapiah yang ada di tivi. So sweet banget. Jadi meleleh Akunya," Nenek Fatimah yang tanpa berkedip memperhatikan adegan mesrah yang ada di hadapanya itu.


Seketika Melly dan Jhony memperbaiki posisi duduknya dan melanjutkan makan tanpa berani menatap kearah Nenek Fatimah.


Hampir sudah sepuluh menit mereka di meja makan menikmati sarapan pagi, hingga nasi dan lauk yang ada di piring mereka semuanya ludas terlahap.


Jhony bangkit dari tempat duduknya dan mengambil tas kerjanya yang sejak tadi dia letakkan diatas meja makan sebelah kanan.


"Sayang, baban berangkat dulu ya!. Kamu di rumah hati-hati. Jangan melakukan pekerjaan yang berat dan jagan lupa minum susu yang kemarin baban beliin, paham," tanya Jhony mencium pucuk kepala Melly.

__ADS_1


"Paham sayang," Melly bangkit dari tempat duduknya dan kembali mengayut manja di lengan milik Jhony.


Ketiganyapun melangkah menuju kearah pintu keluar untuk mengantar kepergian Jhony ke kantor.


"Sayang baban berangkat dulu ya!. Dan ingat pesan baban tadi jangan kecapeaan," Jhony menyodorkan punggung tanganya pada Melly.


Melly mengangguk, kemudian meraih tangan Jhony lalu menciumnya.


"Nek!, Jhony titip Melly ya!, kalau ada apa-apa segera kabari Jhony,"


"Tenang saja Joko, percayakan saja semuanya pada cat women, hanya menjaga satu perempuan hamil bagiku ma kecil. Cepat pergi sebelum adegan Kuch Kuch Hota Hai terjadi lagi diantara kalian berdua,"


Tidak lama kemudian mobil Jhony pun meninggalkan halaman rumahnya.


Nenek Fatimah merangkul lengan Melly yang saat itu terus menatap kepergian Jhony seakan-akan tak ingin berpisah darinya.


"Ayo masuk!, biarkan Joko bekerja dulu, nanti kamu bisa bermanja-manja lagi denganya saat dia pulang," ujar Nenek Fatimah yang tahu kalau Melly tak ingin berpisah dengan suaminya.


"Iya Nek!," balas Melly lesu.


Nenek Fatimah membawa Melly menuju kearah taman belakang rumah untuk menghirup udara pagi.


"Kamu duduk dulu disini, biar Nenek menyuruh bi Jhona membuatkanmu teh hangat," Nenek Fatimah mendudukkan tubuh Melly di atas kursi.


Melly hanya mengangguk tanda mengiyakan.


Tidak lama kemudian Nenek Fatimah kembali ke taman dan tidak menemukan sosok Melly ada di sana.


"Nelly dimana kamu," teriak Nenek Fatimah menggetarkan seisi rumah sakin kaget bercampur takut.


Bi Jhona dan bi Wati yang mendengar teriakan dari Nenek Fatimah segera berlari kearah taman. Dengan masing-masing menenteng sapu dan untuk mewanti-wanti sesuatu yang terjadi disana.


"Ada apa Nyonya besar!, apa ada pencuri yang masuk dan menculik Nyonya Melly," ucap bi Jhona dengan nafas ngos-ngosan.


"Nelly hilang bi, Tadi dia ada disini tapi pas Aku pulang menemuimu tadi dia hilang tak tahu kemana. Gimana ini bi?," ucap Nenek Fatimah begitu panik.


"Siapa tahu Nyonya Melly kembali ke kamarnya Nyonya besar,"


"Mungkin juga, Wati tolong kamu lihat Melly di kamarnya!,"


"Baik nyonya," Wati segera berbalik dan melangkah menuju kamar Melly.


Hanya butuh waktu 5 menit saja, kini bi wati kembali sambil berlari kecil.


"Nyonya Melly tidak ada di kamarnya!," ujar Wati yang baru saja tiba disana.


Kini kepanikan semakin menjadi diantara ketiganya.

__ADS_1


"Terus kemana Nelly, Ya TUHANku kemana gerangan cucuku itu,"


"Baiknya Nyonya besar menghubungi Tuan Jhony dan katakan padanya kalau Nyonya Melly menghilang," saran bi Jhona.


"Itu jalan satu-satunya yang harus kita lakukan," Nenek Fatimah mengeluarkan handponnya dari dalam saku celananya.


Belum juga perempuan tua itu menyalakan handpon miliknya, Melly sudah berteriak diatas pohon mangga yang ada di taman itu.


"Biii, cepat bawakan sapunya kemari, tangan Melly tak sampai untuk meraihnya,"


"Nellly, nyonya," teriak ke tiga perempuan itu dan serentak berlari kearah pohon mangga dimana Melly sedang berada diatas sana.


"Turun ka gak!," teriak Nenek Fatimah menengada keatas.


"Tapi Nek!, Melly pengen makan mangga," ujar Melly berpegang kuat pada ranting pohong mangga.


"Turun...!," Teriak Nenek Fatimah semakin keras hingga urat leharnya hampir saja putus.


"Iya....." balas Melly dan pelan-pelan turun dari atas pohon mangga yang tingginya sekitaran dua meter.


Belum juga Melly menyentuh tanah, Nenek Fatimah sudah memukul bokongnya.


Pluck......


"Aduh....sakit tahu Nek!,"


"Makanya jangan nakal. Sekali lagi Nenek mendapatimu seperti ini Nenek tidak akan segan-segan memukulimu memakai sapu,"


"Iya Nek! tapi Melly pengen makan mangga,"


"Kalau pengen tinggal bilang saja sama pak satpam, bukanya manjat kayak tadi, paham tidak,"


"Iya maaf," Melly menunduk.


"Sudah, bi Jhona cepat panggilin pak satpam dan suruh beliau memetikkan buah mangga itu buat Melly," Perintah Nenek Fatimah pada bi Jhona.


"Baik Nyonya besar," balas bi Jhona berbalik dan berlalu dari tempat itu.


Tidak lama kemudian kini beberapa buah mangga sudah tergeletak diatas meja.


Mata dan bibir Melly menggambarkan kegembiraan menatap beberapa buah mangga tergeletak di depanya.


"Sekarang makanlah, tapi jangan berlebihan. Kasihan janin yang ada dalam kandunganmu itu."


Seketika Melly tersenyum.


"Terima kasih Nek, melly sayang Nenek." Melly menghamburkan pelukanya pada Nenek Fatimah.

__ADS_1


"Nenek juga sangat sayang padamu," Nenek Fatimah membelai lembut pucuk kepala Melly.


__ADS_2