
Jhony dan Nenek Fatimah terus membopong tubuh Melly menuju kearah Mobil.
"Nek, Sakit," ringis Melly dengan wajah mulai pucat.
"Tahan sayang, sebentar lagi kamu akan menjadi ibu. Rasa sakitnya akan hilang ketika kamu melihat anakmu lahir ke dunia," Nenek Fatimah memberi semangat pada Melly walau hati kecilnya merasa ikut sakit melihat penderitaan cucunya yang terus saja meringis sambil memegangi perutnya.
Jhony tidak bisa berkata ap-apa. Dia hanya bisa mengelus pundak Melly untuk memberinya semangat.
Tidak beberapa lama kemudian kini mobil mewah Jhony melaju dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit.
Beberapa kali Jhony membunyikan klakson mobilnya cukup keras supaya pengendara lain segera menyingkir untuk memberinya jalan. Tapi tak sedikit pula dirinya dapat bentakan dari pengguna pengendara lain.
Jhony tidak peduli, yang ada dalam pikiranya saat ini bagaimana caranya agar dia cepat sampai di rumah sakit dan Melly segera mendapatkan penanganan dari dokter.
Hanya butuh lima belas menit saja, kini kendaraan yang mereka tumpangi sudah berbelok masuk kearea rumah sakit.
Jhony sudah tidak lagi memarkirkan mobilnya di tempat parkir pada umumnya. Jhony langsung ke depan pintu utama rumah sakit dan merem mendadak di sana.
Para pengunjung dan karyawa rumah sakit segera mengalihkan pandangan mereka kearah mobil mewah milik Jhony.
Satpam rumah sakit yang Melihat hal itu segera mendekat dan ingin memberi teguran pada Jhony.
Tapi seketika langkah kakinya segera terhenti ketika Melihat sang pemilik.mobil tersebut keluar dari dalam mobil.
'"Suster, cepat bawa brankarnya kemari....," teriak Jhony memecah seisi suasana rumah sakit.
Mendengar teriakan Jhony, tiga perawat segera berlari dan membawa sebuah brankar kearah mobil Jhony.
Jhony segera membuka pintu mobil penumpang dimana Melly dan Nenek Fatimah ada di dalam sana.
Jhony mengangkat tubuh Melly naik keatas brankar dan meletakkanya dengan sangat hati-hati sekali.
"Pak satpam ini kuncinya" Jhony Melemparkan kunci mobilnya pada pak satpam agar memarkirkan di tempat parkir.
Jhony sudah tidak mempedulikan lagi orang-orang yang ada di sekitaran situ yang memandangnya. Penampilannya yang dulu terlihat macho kini bak gembel emperan kota sakin paniknya melihat keadaan Melly yang terus meringis kesakitan.
"Sakit baban,"
"Tahan sayang, sebentar lagi kamu akan di tangani dokter.," jhony mengusap lembut pucuk kepala Melly.
Tidak lama setelah kepergian Jhony membawa Melly kedalam rumah sakit.
__ADS_1
Kembali sebuah mobil Mewah ngrem mendadak di depan pintu utama rumah sakit.
Kembali sebuah teriakan yang cukup Nyaring terdengar disana.
"Dokter cepak kemari, dan bawakan brankar untuk istriku, cepat!,"
Melihat siapa yang berteriak disana, kini bukan lagi suster dan perawat yang membawa brankar untuknya melainkan Dokternya yang langsung terjun sendiri mendorong brankarnya.
"Ini Tuan Aldo," ucap seorang Dokter parubaya dengan rambut mulai memutih sebagian.
Aldo segera membuka pintu mobil bagian belakang dan mengeluarkan tubuh Gisel dari dalam sana lalu meletakanya diatas brankar.
Sama halnya yang di lakukan Jhony, Aldo pun melakukan hal yang sama. Mendorong brankar masuk kedalam bersama para Dokter di ikuti Elin dari belakang.
Sementara itu Jhony yang sudah duluan ada di dalam terus mendorong Melly masuk kedalam ruang persalinan.
Rintihan Melly masih terus terdengar di telinganya hingga Jhony terkadang taksanggup untuk mendengarnya.
"Baban sakit," ujar Melly sambil memegang kuat pada ujung brankar.
"Aku tahu sayang, tapi apa yang harus Aku perbuat supaya kamu tidak merasa sakit lagi. Andaikan bisa bertukar posisi Aku iklas berada di tempatmu dan menanggung rasa sakit itu," Jhony dengan wajah sayup.
Tidak henti-hentinya dia berdoa dalam hati supaya istri dan anaknya di beri keselamatan.
"Sakit.....," suara rintihan Melly mulai terdengar lagi di sana. Seketika itu juga Jhony mendekat dan menggenggam erat tangannya.
"Tahan Nyonya, bayinya sudah mulai kelihatan, Nyonya tarik nafas dalam-dalam dan hempaskan dengan kuat," ucap Bu Dokter yang menangani persalinan Melly saat itu.
"Dokter, apa tidak sebaiknya persalinanya di tunda dulu atau apalah. Kasihan istriku sudah tidak tahan lagi menahan rasa sakit,"
Seketika Dokter dan suster saat itu saling memandang satu dengan yang lain mendengar ucapan Jhony.
"Mana bisa seperti itu Tuan!, ini bukan mini bus yang setiap saat bisa di hentikan saat penumpang sudah sampai tujuan. Ini masalah nyawa ibu dan anak. Sedikit saja kita salah menanganinya maka, tidak menutup kemungkinan nyawa ibu dan anak tidak bisa di selamatkan," ujar Ibu Dokter itu pada Jhony sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Kini rasa panik yang menyelimuti wajah jhony mendengar keselamatan Istri dan bayinya.
Andai Melly tidak merasa sakit saat itu, mungkin dia sudah tertawa mendengar perkataan Jhony yang rada-rada konyol.
Tidak lama kemudian kembali Melly meringis.
"Tarik nafas Nyonya, lalu dorong!, bayinya sudah mulai kelihatan," perinta Bu Dokter pada Melly.
__ADS_1
Melly melakukan sesuai perintah Ibu Dokter.
Satu tarikan nafas Melly lakukan hingga.....
Tangisan seorang bayi terdengar lantang dan bergema di dalam ruangan itu.
"Alhamdulillah," ucap Jhony, Ibu Dokter dan para perawat yang ada disana.
"Terima kasih sayang, karena kamu sudah melahirkan anakku," Jhony mencium kening Melly dan melap keringat yang membasahi wajanya.
Melly cuman mengangguk sembari tersenyum.
"Selamat, bayi Tuan dan Nyonya berjenis kelamin perempuan. Lihatlah wajahnya sangat cantik dan manis bukan?," Ibu Dokter pun memperlihatkan seorang bayi mungil pada Jhony dan Melly.
"Kami bersihkan dulu bayinya, setelah itu baru boleh kalian menggendongnya. Sus, tolong bersihkan bayinya dan juga bekas darah yang masih tersisa pada Nyonya Melly dan juga alat yang baru saja kita gunakan" perintah Bu Dokter pada dua orang suster yang ada disana.
"Baik Dok!," jawab kedua suster tersebut.
Tidak lama kemudian setelah Bu Dokter keluar dari dalam ruangan itu.
Nenek Fatimah segera masuk kedalam.
"Nelly, akhirnya kamu jadi Ibu dan kamu Jhoko sudah Jadi papa. selamat ya!," Nenek Fatimah menyalami Jhony dan mencium kening Melly.
Setelah kedua perawat itu selesai membersihkan bayi mungil Jhony dan Melly. Kedua perawat itu mendekat dan menyerahkan bayi mungil itu pada Jhony.
"Tuan ini bayi Anda,"
Jhony segerah meraih bayi mungil itu dan menatapnya dengan penuh kegembiraan.
Jhony mengangkat bayi mungilnya lalu
mengumandangkan azan di telinga kanan bayinya , kemudian membacakan iqamah di telinga kiri.
Setelah itu, Jhony meletakkan bayi mungil itu di samping Melly dan tidak lupa mencium pipinya beberapa kali.
"Lihatlah wajahnya, mirip sekali denganmu bukan?. sedangkan mata, hidung serta bibirnya mirip sekali denganku," jhony membelai lembut wajah bayinya dengan jari telunjuknya.
"Iya benar sekali, dia cantik seperti diriku," jawab Melly dengan suara parau.
Benar sudah kata Nenek Fatimah, semua kesakitan dan pengorbanan yang Melly rasakan akhirnya terbayar sudah setelah melihat putri imutnya tergeletak di sampingnya.
__ADS_1