MELLY DAN JHONY

MELLY DAN JHONY
126. PANDU DI LARIKAN KE RUMAH SAKIT.


__ADS_3

Sebelum melanjutkan kisah Melly dan Jhony, mari kita bersama-sama mendoakan para TNI angkatan laut yang telah gugur dalam mengembang tugas demi ketahanan dan pertahanan negara tercinta kita ini, Indonesia.


SELAMAT JALAN, PARA SYUHADA..


Sering aku mendengar berita musibah.


Tapi entah kenapa kali ini begitu menyayat dada. Kuikuti setiap berita, perkembangan tentang keselamatan kalian, tapi semakin hari semakin tipis harapan..


Dan akhirnya musnah. Kepingan-kepingan badan kapal yang ditemukan menunjukkan bukti bahwa kapal kalian pecah. Tekanan dalamnya laut membuat sekuat apapun baja, akan remuk seperti kaleng minuman yang diremas. Dinding itu pasti terkoyak..


Setiap hari aku membayangkan betapa kosongnya situasi yang kalian hadapi. Kalian pasti ketakutan luar biasa. Gelap, Panas, Pengap. Kurangnya oksigen. Teman disamping pingsan kehabisan udara..


Ditambah suara mengerikan dinding kapal yang berdentam seperti dipalu oleh godam raksasa. Sekuat-kuatnya mental, itulah saat yang menyiutkan nyali seorang manusia.


Pada situasi kritis itu, kalian pasti membayangkan orang rumah. Kerinduan yang amat sangat pada seruan anak kecil yang tersenyum menyambut di pintu rumah. "Papa pulang.." dan itu saja sudah membuat kalian bahagia.


"Papa gak bisa pulang, nak.. Maafkan papa gak bisa menemani kamu sampai besar.." begitu pasti hatimu teriris. Dan sesudah semua kerinduan itu, pasrahpun memenuhi dada. "Tuhan, aku berserah.." Aku membayangkan airmata dimata kalian mengalir deras.


Ah, kalian tidak pergi. Tidak. Kalian hanya menyelam lebih dalam lagi. Ke alam yang lebih kekal. Dimana karpet merah dibentangkan, dengan tepukan gemuruh menyambut kalian, "Selamat datang, para syuhada. Nikmatnya surga sudah tersedia.."


Selamat jalan, pelautku..


Iri hatiku padamu. Indahnya akhir hidupmu. Semoga kelak akhir hidupku seindah itu.


Selamat jalan, pelautku..


Siapkan secangkir kopi untukku, jika kelak kita bertemu..


Beristirahatlah dalam kedamaian..Amiin.


*********


Ayo lanjut lagi......... Melly dan Jhony.


Jhony segera mendekat kearah Melly setelah memberikan pelajaran pada Shinta. Demikian pula dengan yang lain.


Jhony membuka jaketnya dan memberikan pada Melly.


"Sayang pakailah ini untuk menutupi tubuhmu,"


"Baban, Papa!," Melly dengan tatapan sayup kearah Jhony.


"Tenanglah Sayang, Coba kamu menyingkir biar baban mengangkat Papa dan kita bawa dia ke rumah sakit,"


Melly segera menyingkir dan mengikatkan jaket milik Jhony di pinggangnya.

__ADS_1


Sebelum mengangkat tubuh Pandu, Jhony memeriksa denyut nadinya terlebih dulu.


Setelah mendapat denyut nadi pada mertuanya masih ada,


Jhony segera mengangkat tubuh Pandu dan membawanya keluar diikuti Melly dari belakang.


Tidak lama setelah kepergian Jhony dan Melly. Elin dan beberapa polisi tiba.


"Apa kalian baik- baik saja," tanya Elin memeriksa sekujur tubuh Gisel dan Lina secara bergantian.


"Kami baik-baik saja Ibu, cuman paman Pandu yang harus di larikan kerumah sakit karena terkena tembakan dari Shinta," balas Gisel.


"Iya Ibu tahu, tadi Ibu berjumpa Jhony dan Melly diluar sembari menggendong Pandu,"


"Siang Tuan Aldo, Tuan Hafid, semua penjahatnya sudah kami borgol dan kami akan bawah mereka semua ke kantor polisi untuk mempertanggung jawabkan perbuatan mereka. Kami harap kalian bisa datang ke kantor polisi untuk memberikan keterangan saat kami butuhkan," ujar seorang polisi sembari memberi hormat pada Aldo dan Hafid.


"Kapanpun polisi membutuhkan ke terangan kami, kami siap datang," balas Hafid yang saat itu masih menggendong Azisah.


Sedangkan Aldo cuman mengangguk tanda menyetujui.


"Kalau begitu, kami permisi. Ayo seret para penjahat itu kemobil," perintah pak polisi itu pada bawahanya.


Shinta dan anak buahnya pun di seret keluar dengan tangan terborgol.


Setelah ke pergian para polisi itu membawa Shinta dan anak buahnya, Aldo dan yang lain pun meninggalkan tempat itu menuju kearah rumah sakit dimana Jhony dan Melly membawah Pandu.


"Perawat cepat bawa brankar kemari," suara Jhony memecah suasana dalam rumah sakit.


Tanpa berpikir panjang lagi, para perawat yang ada disana segera mendorong brankar menuju kearah Jhony dan Melly.


Jhony segera meletakkan tubuh Pandu diatas brankar.


"Ayo cepat bantu Aku mendorongnya," Perintah Jhony pada para perawat itu.


Kini tubuh pandu yang ada diatas brankar di dorong Jhony di bantu para perawat menuju ruang Operasi.


Setibanya di depan ruang operasi, seorang perawat segera membuka pintu ruangan itu.


Tampak Dokter Fadlan dan beberapa Dokter sudah siap melakukan pembedahan pada Pandu.


Dokter Fadlan segera mempersiapkan peralatan operasi setelah sebelumnya dapat telepon dari Elin.


Setelah tubuh Pandu di pindahkan dari brankar menuju ranjang operasi. Dokter Fadlan menyuruh Jhony dan Melly keluar demi kelancaran jalanya operasi pengangkatan peluruh yang bersarang di dada pandu.


"Tuan dan Nyonya sebaiknya Anda berdua tunggu di luar saja, Supaya kami bisa memulai operasinya,"

__ADS_1


"Tolong Dokter Fadlan, beri yang terbaik buat Papa," Melly memegangi tangan Dokter Fadlan dengan raut wajah penuh pengharapan.


"Baik Nyonya, kami akan upayakan dan sebisa mungkin memberi yang terbaik," balas Dokter Fadlan sembari menepuk punggung tangan Melly.


"Ayo sayang kita keluar, biarkan para Dokter itu melakukan tugasnya," Jhony mengelus punggung Melly.


Tidak lama kemudian keduanya pun keluar dari ruangan itu.


Tampak diluar, sana Aldo, Gisel, Elin, Hafid yang menggendong Azisah serta Lina sudah menunggui mereka diluar.


"Bagai mana keadaan Papamu?" Elin sambil memberi pelukan pada Melly.


"Melly belum tahu Bu, kata Dokter kita lihat setelah operasinya selesai,"


"Kalau begitu, mari kita bersama-sama berdoa, Semoga Papamu di beri keselamatan dan tidak ada kendala selama operasi pengangkatan peluru dalam tubuhnya berlangsung,"


"Aamiin," Melly mengusap kasar wajahnya.


Lama mereka terdiam disana, hingga dua perempuan datang mendekati mereka dengan langkah tergesah-gesah.


"Bagaimana keadaan Pandu?," Ibu Yati dengan wajah panik.


Sebelum menjawab mereka semua saling memandang satu dengan yang lain.


"Hii...tadi di bilangi jangan terlalu memperlihatkan kekwatiranmu pada mereka. Tu kan mereka semua sudah curiga kalau kalian berdua ada hubungan spesial," Nenek Fatimah menepuk punggung Ibu Yati.


"Ibu ..yang ember, sudah terang-terangan bilang pada mereka barusan," Ibu Yati dengan wajah memerah.


"Iya..iya Ibu yang salah!, sudalah, lambat laun pasti mereka juga akan tahu ,"


Yang lain cuma bisa menggeleng kepala melihat perdebatan kecil diantara perempuan tua itu.


Waktu terus berlalu hingga tidak terasa sudah satu jam mereka menunghui jalanya operasi Pandu.


Pintu ruangan operasi lambat laun terbuka dan keluar Dokter Fadlan sembari melap keringatnya menggunakan sapu tangan.


Melly dan Jhony segera mendekat.


"Dok bagai mana keadaan Papaku?," tanya Melly dengan penuh was-was dan bibir bergetar.


"Operasinya berjalan lancar, cuman jantungnya kami pasangkan ring untuk menyuplai oksigen yang sempat tersumbat akibat peluru yang tadi bersarang di tubuhnya,"


"Alhamdulillah," ucap Jhony dan Melly bersamaan.


Catatan. Tinggal satu bab lagi TAMAT. kawan-kawan jangan lupa ikuti kisah Rindu...

__ADS_1


Sinopsis. Rindu harus menjual ke perawananya untuk membiayai operasi Neneknya, bagaimana kisah selanjutnya yuck mampir di youtube," RINDU SAYANG, RINDU YANG MALANG. Jangan lupa beri subscreb, like, coment, shere dan nyalakan lonceng notifikasinya terima kasih.



__ADS_2