
Nenek Farida, Melly dan juga Lina mengikuti kemana arah langkah Nenek Fatimah dan seorang pegawai perempuan dari arah belakang.
Mereka semua berhenti tepat di depan pintu sebuah ruangan.
Tok...tok.....tok....
Tiga ketukan di arahkan pegawai perempuan itu kearah daun pintu.
"Masuk......" ucap Seorang perempuan dari dalam ruangan.
Setelah di persilahkan orang yang dalam ruangan itu. Pegawai perempuan yang menemani Nenek Fatimah di depan dengan pelan memutar gagang pintu dan sedikit mendorongnya.
"Silahkan masuk Nyonya-Nyonya dan Nona-Nona," ucap Sang pegawai mempersilahkan mereka berempat untuk masuk.
"Terima kasih," balas Nenek Fatimah sambil tersenyum diikuti oleh Nenek Farida, Melly dan Lina.
"Ayo kita masuk!,"ajak Nenek Fatimah pada Nenek Farida, Melly dan juga Lina.
Keempatnya pun masuk kedalam ruangan tersebut yang terbilang luas dengan interior ruangan yang cukup menarik.
Lukisan-lukisan Bait suci, kaligrafi berlafazkan nama ALLAH dan juga hamparan gurun pasir terpampang di setiap dinding ruangan itu.
Tidak jauh dari mereka, tampak seorang perempuan parubaya sedang duduk di meja kerja sambil memandang lekat pada layar laptop yang ada di hadapanya.
Perempuan parubaya itu tidak menyadari kalau ada empat orang sedang melangkah mendekatinya.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," sapa Nenek Fatimah pada perempuan parubaya itu.
Mendengar ada yang menyapanya, perempuan parubaya itu sedikit mendogak.
"Eeee..., Waalaikumsalam warahmatullahi wabbarakatuh, maafkan Saya Nyonya besar, Saya benar-benar tidak menyadari kalau Anda ada disini," balas perempuan parubaya itu merasa tidak enak hati dan segera bergegas untuk berdiri
"Santai saja Tania!, bagaimana dengan pesananku yang kemarin. Apa kamu sudah menyiapkan semuanya?," tanya Nenek Fatimah pada Tania.
"Baiknya Nyonya besar, Nyonya dan juga Nona-Nona manis ini duduk dulu biar lebih enak kita bicara," ucap Tania mempersilahkan mereka semua untuk duduk.
"Terima kasih," ucap Mereka serentak lalu duduk di kursi kosong yang ada dalam ruangan itu.
Setelah semua tamunya duduk Tania pun ikut duduk seperti posisi semula.
"Semuanya sudah Saya siap Nyonya besar, tinggal tanggal keberengkatannya saja yang belum Saya Acckan karena kemarin Nyonya tidak sempat memberi tahu kepada Saya kapan yang bersangkutan ingin berangkat,"
__ADS_1
"Oh baiklah begitu!, kalau boleh, Aku ingin melihat semua berkas yang telah kamu persiapkan seperti katamu tadi," ucap Nenek Fatimah.
"Boleh Nyonya besar, tunggu sebentar," Tania menunduk dan mengambil sebuah amplop yang sengaja dia simpan dalam laci meja kerjanya.
Tidak lama kemudian, Tania menyodorkan sebuah amplop berwarna putih kepada Nenek Fatimah.
"Ini Nyonya besar silahkan Anda lihat dan beri tahu pada Saya apa saja yang perlu Saya rubah biar Saya segera merubahnya"
Nenek Fatimah segera mengambil amplop putih yang di sedorkan Tania padanya.
Setelah membuka amplop tersebut dan mengeluarkan beberapa jenis kertas berukuran sedang dari dalam sana. Nenek Fatimah dengan seksama membaca setiap detail yang tercantum dalam setiap lembar surat-surat yang ada di tanganya itu.
"Kurasa semuanya cukup Tania," Nenek Fatimah memasukkan kembali setiap lembar kertas yang ada di tanganya kedalam amplop.
"Alhamdullilah, kalau begitu Saya merasa senang bila Nyonya besar menyukai pekerja kami," Tania tersenyum manis.
"Baiklah kalau begitu!, Kami permisi dulu. Kamu urus saja semua kebutuhan temanku nantinya. Mulai dari keberangkatanya, tibanya di sana dan juga kepulanganya kembali ke tanah air. Berikan pelayanan yang terbaik untuknya seperti kamu melayaniku selama ini," ucap Nenek Fatimah berdiri sambil menjulurkan tanganya kearah Tania.
"Nyonya besar jangan kuatir kami akan melayani dengan sebaik-baiknya teman Nyonya selama menjalani program umroh," balas Tania menyambut jabatan tangan Nenek Fatimah sembari membungkuk.
Setelah semuanya di rasa beres keempanya pun kembali melangkah keluar dari gedung perusahaan jasa itu.
Kembali mobil yang mereka tumpangi melaju dengan kecepatan sedang menuju kearah Mall.
La' upa segera memarkirkan mobilnya di tempat parkir yang sudah di sediakan oleh pihak Mall.
Sebelum keluar mobil, Nenek Fatimah berbalik dan dan menyerahkan sebuah amplop putih kearah Nenek Farida yang saat itu duduk tepat di belakangnya.
"Ambillah Ida,"
"Apa ini Timang?," tanya Nenek Farida heran dan mengambil amplop dari tangan Nenek Fatimah.
"Itu tiket umroh buatmu. Aku tahu kamu sudah lama menginginkan itu bukan," Nenek Fatimah tersenyum manis pada sahabatnya itu.
"Apa?, tiket umroh!, ah ...kamu jangan bercanda Timang. Aku tidak mau menerimahnya. Ini terlalu berlebihan untukku," Nenek Farida menyodorkan kembali amplop itu kearah Nenek Fatimah tapi dengan sigap Nenek Fatimah menolaknya menggunakan telapak tanganya.
"Ini tidak berlebihan Ida, Aku melakukan ini semua bukan karena ada niat untuk merendahkanmu. Tapi memang sejak dulu aku ingin memberikan itu sebagai hadiah persahabatan kita dan segala jasa-jasamu melatih dan menjaga Ana. Dan lagian, baru-baru ini Lina cucumu sudah menyelamatkan nyawaku dari para penjahat. Jadi, sangat wajarlah bila Aku memberi itu padamu sebagai ucapan terima kasihku pada kalian berdua," Nenek Fatimah sedikit mengangguk agar supaya Nenek Farida mau menerima pemberianya itu.
"Tapi Timang....,"
"Terimalah...Nek!, Melly tahu Nenek ingin sekali ke tanah suci bukan?, Jadi, ini kesempatan baik bagi Nenek untuk melihat Baiturrahman. Bila nanti Melly ada uang lebih, Melly juga akan kesana dan mengajak Lina untuk melaksanakan rukun Islam yang kelima itu," ucap Melly menambahkan.
__ADS_1
Sebelum menjawab Nenek Farida terlebih dulu menatap kearah Lina dan dianggukkan pelan oleh cucunya itu.
"Terima kasih banyak,"
Tangis harupun pecah pada Nenek Farida. Tidak henti-hentinya perempuan tua itu memanjatkan puji dan syukur atas berkah yang baru saja di terimanya.
Setelah semua keharuan dan kegembiraan selesai. Mereka berempat pun keluar dari dalam mobil setelah sebelumnya di bukakan pintu oleh La' upa.
Belum juga Mereka Melangkah, Melly menepuk punggung Lina dengan tatapan mata tajam kesebuah mobil yang tak asing baginya.
"Lin, coba lihat mobil itu," kata Melly memegangi pundak Lina tanpa menatapnya sakin fokusnya melihat kearah mobil yang dia tunjuk.
"Mobil yang mana?," tanya Lina sambil melayangkan pandanganya kearah deretan mobil yang di tunjuk oleh Melly.
"Mobil yang warna biru tua itu," ucap Melly lagi.
"Ada apa dengan mobil berwarna biru tua," tanya Lina semakin heran.
"Apa kamu masih ingat waktu kita pergi ke pekuburan Ibuku, Mobil itu yang di gunakan bos preman itu bukan?,"
Lama Lina tak menjawab. Dia mencoba memulihkan kembali ingatanya beberapa bulan yang lalu saat dia dan Melly berangkat ke pekuburan.
Dan tak lama kemudian ....
"Betul mobil itu memang mobil yang waktu itu," Lina mengiyakan perkataan Melly karna dia sudah mengingat jelas mobil yang di pake preman waktu itu.
"Lina, Ayo ikut Aku!, kita selidiki siapa sebenarnya mereka itu" ajak Melly menarik tangan Lina.
Lina hanya mengangguk dan mengikuti kemana langkah Melly.
"Woy ...kalian mau kemana," teriak Nenek Fatimah dan Nenek Farida.
"Kami ada urusan sebentar Nek!, kalian duluan saja masuk kedalam, nanti kami berdua akan menyusul kalian," teriak Melly tanpa berbalik.
"Anak itu benar-benar," omel Nenek Fatimah.
"Sudalah Timang!, kita tunggu mereka disini saja," Nenek Farida mengelus punggung Nenek Fatimah.
"Iya, kita menyerah pada yang muda saja!, Ngomong-ngomong apa kamu tidak merasa kalau Melly itu ada kemiripan dengan Ana?," tanya Nenek Fatimah pada Nenek Farida.
"Aku juga merasa seperti ini. Semua tingkah dan kelincahan serta kebaikan hati Melly tidak jauh beda dengan Ana!. Atau jangan-jangan apa Melly itu putri Ana?," Nenek Farida menatap lekat kearah Nenek Fatimah.
__ADS_1
"Aamiin, semoga itu benar," balas Nenek Fatimah berkaca-kaca menatap ke pergian Melly dan Lina.
👉maaf kalau terkadang lambat upnya ..author sibuk bangat dan harus membagi otak di kerjaan dan novel ini jadi di harap kesabaranya ya.....lagian Sebentar lagi novel ini END Author harus memeras otak bagaimana ending terbaik dari novel ini supaya berkesan di hati para readers.