
Hari terus berganti, Kini kondisi Raka semakin hari semakin memburuk, hingga membuat Hafid dan juga Shanty harus memeras otak lebih bagaimana caranya agar mereka secepatnya mendapatkatkan donor ginjal buat Raka sebelum semuanya terlambat.
Segala upaya telah mereka lakukan untuk menolong anak semata wayang mereka itu.
Mulai dari memasang iklan di televisi, mendatangi sebagian besar rumah sakit, baik yang ada dalam negeri maupun yang ada luar negeri bahkan tidak tanggung-tanggung mereka masuk dalam situs ilegal yang memperjual belikan organ tubuh manusia demi mendapatkan ginjal yang cocok buat Raka, tapi lagi-lagi semua usaha mereka hanya isapan jempol belaka.
Siang itu Hafid dan Shanty sudah berada di rumah sakit terbesar yang ada di kota itu. Dimana lagi kalau bukan di rumah sakit PERSADA NUSANTARA dimana Raka sudah beberapa hari terbaling dalam keadaan koma disana.
"Sayang bagaimana ini, kondisi Raka semakin hari semakin memburuk saja, tapi kita belum juga mendapatkan pendonor yang tepat sesuai dengan ginjal yang di miliki Raka," ucap Shanty yang saat itu sedang duduk di kursi di samping pembaringan Raka sedangkan Hafid berdiri di dekatnya.
"Aku juga sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk bisa mendapatkan pendonor yang tepat untuk Raka. Jalan satu-satunya kita harus bersabar menunggu kabar dari Dokter Fadlan kapan orang misterius itu datang kemari dan menyerahkan ginjalnya kepada Raka," balas hafid dengan raut muka putus asa.
"Terus kalau orang itu tidak datang bagaimana!, Apa Kamu hanya diam saja dan membiarkan Raka meninggal begitu saja!," tanya Shanty sedikit emosi sakin frustasinya melihat keadaan putranya.
"Apa katamu, Aku tinggal diam saja?, Kenapa kamu tidak sedikit pun menghargai pengorbananku selama ini, bagaimana perjuanganku kesana kemari demi mendapatkan pendonor ginjal buat Raka," Hafid membentak balik Shanty karna tidak terima dengan ucapan Shanty barusan.
"Tapi nyatanya hasilnya nol bukan! Kamu itu kurang usaha, coba kamu gunakan kekuasaan yang kamu miliki untuk metekan Fadlan atau pembesar rumah sakit ini supaya bisa membocorkan siapa pemilik ginjal yang sama dengan ginjal yang dimiliki Raka," ucap Shanty lalu berdiri sejajar dengan Hafid.
"Tidak semudah itu menekan Fadlan atau pembesar rumah sakit ini, mereka semua itu takut dengan Aldo melebihi takut mereka dengan hantu, paham kamu!," ucap Hafid kemudian melangkah menuju kearah sofa yang ada dalam ruangan itu.
"Aldo lagi Aldo lagi kenapa kamu takut sekali dengan dia, atau jangan-jangaan kamu masih menaru hati pada Ibunya," Shanty sedikit berteriak sehingga suaranya bergema dalam ruangan itu.
Hafid sama sekali tidak memperdulikan ucapan Shanti, dia terus saja melangkah menuju kearah sofa.
__ADS_1
Tidak lama kemudian Hafid mendudukkan dirinya disana dan menyandarkan badanya pada punggung sofa lalu kemudian menegadah ke langit-langit ruangan itu.
"Apa ini karma," ucap Hafid dengan tatapan kosong.
Tidak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar dari luar ruangan yang mereka tempati saat itu.
Tiga kali ketukan pun terdengar dari arah daun puntu.
Shanty bergegas membuka pintu dan mendapati Dokter Fadlan sedang berdiri disana di temani seorang perawat.
"Masuklah," ucap Shanty rada-rada cuek.
Dokter Fadlan tak menjawab dia hanya tersenyum lalu melangkah masuk kedalam ruangan tersebut dan menuju tempat pembaringan dimana Raka masih tergeletak koma dengan alat bantu pernafasan terpasang di hidungnya dan jarum infus masih yang terpasang di tanganya.
"Maaf Tuan Hafid sedikit mengganggu, Aku hanya ingin bertanya pada Anda, apakah Anda sudah menemukan pendonor yang sesuai dengan ginjal yang di milik Raka?," tanya Dokter Fadlan setelah dia duduk tepat di depan Hafid.
Hafid tidak langsung menjawab, Pria itu terlihat menarik nafas dalam-dalam lalu menghempaskanya dengan kasar kemudian memperbaiki posisi duduknya.
"Aku belum juga menemukan orang yang tepat seperti kamu bilang tadi. Jalan satu-satu untuk menyelamatkan nyawa Raka, kamu harus memberi tahu kepadaku siapa orang yang cocok ginjalnya seperti yang kamu sebutkan tempo hari pada kami," ucap Hafid dengan tatapan datar.
"Aku belum bisa memberi tahu pada Tuan sebelum orangnya sendiri yang muncul, biarpun Aku beri tahu tapi kalau orangnya tidak mau kita tidak bisa berbuat apa-apa. Jadi saran Aku berdoalah agar keajaiban datang sehingga semua masalah ini bisa segera di tangani dan Raka bisa sembuh seperti sedia kala,"
"Apa katamu berdoa, persetan dengan semua doa, hanya orang malas saja yang melakukan doa tanpa usaha, cepat katakan kepada kami siapa orangnya biar anakku segera sembuh seperti sebelum-sebelumnya," bentak Shanty sambil melangkah mendekat kearah mereka berdua.
__ADS_1
"Astafirullah Nyonya!, Istighfar segala sesuatu yang ada di dunia ini berasal dari SANG pencipta. Jadi kita sepatutnya terus meminta padaNya agar segala urusan kita di dunia bisa di permudahkan. Sekuat apapun kita berusahan tapi kalau TUHAN tidak mau, kita mau apa!. Mintalah maka akan AKU beri itulah Janji TUHAN pada umatnya," ucap Dokter Fadlan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya menatap kearah Shanty.
"Kamu tidak usah menceramahiku disini, karna Aku tidak akan pernah tertarik dengan ceramah bodoh mu itu. Kamu katakan saja sekarang siapa orangnya, biar Aku sendiri yang menemuinya," bentak Shanty yang masih terus emosi menatap kearah Dokter Fadlan.
"Aku tidak akan menyebut siapa orangnya sebelum orangnya sendiri yang datang kemari titik," balas Dokter Fadlan biasa saja tapi hatinya sudah sangat geram mendengar ucapan Shanty yang terus saja menghina dan memojokkanya.
"Hiih......., benar-benar ya Dokter gadungan ini," ucap Shanty sambil membunyikan rahanya bergantian sakin kesalnya.
"Sudah-sudah! kalian berdua jangan bertengkar disini. Lagi pula, Apa kalian berdua tidak malu apa, di dengar oleh seluruh penghuni rumah sakit ini," lerai Hafid pada Shanty dan juga Dokter Fadlan.
Shanty dan Dokter Fadlan sontak terdiam mendengar ucapan Hafid.
Lama mereka terdiam di sana, hingga ke tiganya sontak berpaling kearah pembaringan setelah mendengar teriakan dari sang perawat yang sedari tadi duduk di samping pembaringan Raka.
"Dok!, grafik monitornya bergerak tidak teratur," ucap sang perawat sambil mengecek alat monitor siapa tahu ada kabel yang terlepas.
Hafid dan Shanty sontak panik dan berlari menuju kearah pembaringan.
Sementara itu, Dokter Fadlan segera mengeluarkan handphonenya dari dalam saku celananya lalu mengirim pesan singkat kepada seseorang.
"Tuan saatnya sudah tiba ..kemarilah" kira- kira seperti itulah isi pesan singkat Dokter Fadlan sebelum dirinya berjalan ke arah pembaringan Raka mengikuti Hafid dan Shanty.
👉Hay para emmak-emmak yang baik hati dan ledis yang gak sombong...bagi vote, like, comentnya dong supaya Authornya semakin semangat ...terima kasih.
__ADS_1