MELLY DAN JHONY

MELLY DAN JHONY
54. DEMO DIMULAI.


__ADS_3

Hafid, Shanty dan bodyguard mereka terus melangkah menuju kearah kerumunan massa dan bergabung dengan mereka di garda paling depan.


Mereka ikut menyuarakan semua kata-kata yang menyudutkan perusahaan DYANA grup.


"Mana janji kalian, kalau dalam dekat-dekat ini kalian akan memproduksi produk kalian itu!, Woy... Kalian yang ada di dalam sana memang pembohong, kalian hanya memanfaatkan orang-orang miskin seperti kami untuk meraut keuntungan besar," teriak Hafid begitu bersemangat dengan memakai Toa sebagai pengeras suaranya.


"Ya betul, kalian semua memang tidak punya hati, hanya memanfaatkan orang-orang kecil seperti kami ini, demi mencapai tujuan kalian," balas Shanty yang tidak mau kalah semangatnya dengan Hafid.


"Iya, betul......." teriak massa secara bersamaan hingga menggelegar di langit perusahaan DYANA grup.


Tidak lama kemudian, keluar Nina dan beberapa pembesar DYANA grup dari dalam gedung.


"Tenang semua saudara-saudari!, semua ini bisa kita bicarakan secara baik-baik. Kami sudah melakukan hal terbaik untuk kembali memproduksi produk kami. Jadi beri kami sedikit waktu untuk menemukan bahan bakunya supaya proses produksi bisa berjalan seperti sediakala tanpa ada hambatan seperti ini," ucap Nina mencoba menenangkan para massa dengan menggunakan microphone.


"Kami sudah bosan dengan janji- janji kalian itu, kalau perusahaan kalian tidak sanggup memproduksi, baiknya perusahaan kalian serahkan saja kepada perusahaan lain agar memproduksinya biar kami tidak mendemo perusahaan kalian lagi," teriak Hafid makin menggebu-gebu untuk membakar emosi massa yang ada disana.


"Iya benar, jangan sampai kami tidak percaya lagi dengan perusahaan ini," teriak Emak-emak yang ada diatas badan mobil sambil mengibarkan bendera.


"Kenna kau!," ucap Hafid sambil tersenyum dan menatap kearah Nina dan juga teman-temanya yang saat itu masih berdiri di depan gedung DYANA grup.


"Iya baik-baik!, semua aspirasi kalian akan kami tampung. Perusahaan kami akan terus mengusahakan yang terbaik bagi kita semua. Jadi, sekiranya kalian bisa pulang dulu untuk sementara supaya kami bisa bekerja dengan baik dan juga memikirkan cara bagaimana supaya produk baru itu bisa kembali beredar di pasaran," Nina yang masih saja mencoba menenangkan para massa.


"Huu...enak saja, pokoknya kami tidak akan pulang sebelum ada kepastian kapan produk itu akan di produksi lagi. Atau kami semua akan memboikot semua produk DYANA grup yang sudah beredar dipasaran," Hafid yang terus saja menghasut massa agar perusahaan DYANA grup makin terpojok.


"Bagai mana ini pak Joko, kalau begini terus kita pasti kewalahan penghadapi mereka," ucap Nina yang mulai sedikit panik.


"kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi Nina, kecuali menenangkan mereka. Hanya Tuan Jhony seorang yang bisa memberi pengertian pada mereka. Jadi, kamu terus menghubungi beliau supaya segera datang kemari sebelum massa itu bertindak anarkis.", balas Joko yang juga mulai panik.

__ADS_1


"Baik," ucap Nina singkat.


Tidak lama kemudian mobil milik Tety masuk dan berhenti pas di belakang Nina dan teman-temanya.


Tety dan Melly keluar dari dalam sana dan ikut bergabung dengan Nina dan juga yang lainya.


"Nina, kenapa bisa seperti ini!," tanya Tety dengan wajah sedikit ketakutan melihat kerumunan massa saat itu.


"Mereka menyuarahkan aspirasi mereka mengenai produk baru kita yang sudah langkah di pasaran, mereka curiga kalau kita sengaja menimbun produk kita itu untuk menaikkan harganya," balas Nina.


"Astaga!, tapi tunggu sebentar, coba kalian lihat dua orang yang ada di depan itu! bukankah mereka itu Hafid dan juga Shanty istrinya?," Tety menunjuk kearah Hafid dan Shanty yang memang saat itu berdiri paling depan.


Nina dan yang lainya menatap kearah dua orang yang baru di tunjuk oleh Tety, Beberapa kali mereka mengucak mata karna tidak percaya kalau yang berdiri disana adalah Hafid dan juga istrinya dan di tambah lagi karna memang jarak mereka dengan Hafid saat itu lumayan jauh.


"Benar, dia itu Hafid dan juga Shanty. Oh ternyata semua ini adalah ulah mereka untuk menjatuhkan nama perusahaan kita. Dasar licik pantas saja mereka berdua yang paling bersemangat berorasi," ucap Joko sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Jhony keluar dari dalam mobilnya dan bergabung dengan yang lainya.


"Tuan bagaimana ini!," ucap Nina langsung menyambut kedatangan Jhony dengan pertanyaa.


"Tenanglah!, biarkan mereka menyampaikan pendapat mereka selagi masih dalam tahap wajar. Semua orang di negara ini bebas menyampaikan aspirasi mereka karna memang negara kita ini adalah negara demokrasi" Jhony mencoba menenangkan yang lain.


Sementara itu, di kerumunan massa, tampak Shanty sedang berbisik ke telinga Hafid.


"Itu yang namanya Jhony,"


"Oh... ternyata dia orangnya. Sekarang kamu tidak bisa lagi berbangga Jhony, karena sebentar lagi kamu dan perusahaanmu akan hancur," Hafid dengan pandangan lekat menatap kearah Jhony sambil tersenyum tipis.

__ADS_1


"Mohon Perhatian semua....." ucap Jhony sambil mengankat tangan kananya keatas sedangkan tangan kirinya memegangi microphone.


Seketika riuh suara pendemo terhenti. Mata mereka bersamaan menatap kearah Jhony yang saat itu masih mengangkat tangan kananya kearah mereka.


"Selamat pagi saudara-saudari yang ada disana. Terima kasih banyak atas kedatangan kalian di perusahaan yang kita cintai bersama ini untuk menyampaikan unek-unek yang mungkin sudah lama kalian pendam dalam hati. Dengan kedatangan kalian mempertanyakan produk baru dari DYANA grup berarti kalian benar-benar menyukai produk baru kami itu. Tapi sayang, karna adanya kendala bahan baku maka kami sementara menyetop memproduksi produk itu untuk beberapa waktu. Tapi kami berjanji akan memproduksinya kembali setelah kami menemukan bahan bakunya. Saya sebagai CEO di perusahaan DYANA grup dengan rendah hati memohon maaf sebesar-besarnya pada kalian para konsumen setia kami yang mungkin merasa dirugikan dengan penghentian sementara produk kami itu," ucap Jhony mencoba menenangkan para massa.


Seketika para massa mengangguk-ngangguk setelah mendengar penjelasan dari Jhony.


"Oh ternyata mereka benar-benar kehabisan bahan baku," ucap seorang perempuan parubaya pada temanya.


"Benar..."balas temanya singkat.


Melihat para pendomo mulai termakan ucapa Jhony, Api kemarahan Hafid kembali membludak.


Hafid kembali mengangkat Toa yang ada di tanganya lalu mendekatkan ke mulutnya.


"Kita semua jangan percaya dengan omonganya. Apa kalian tidak merasa jenuh dengan setiap janji yang di lontarkan oleh perusahaan pembohong itu," Hafid dengan penuh semangat dan menambah hasutan di setiap kata yang dia lontarkan.


Shanty segera berbalik kearah masa dan sedikit mundur ke belakang.


"Betul sekali, kita jangan termakan oleh janji-janji merekan itu. kalau mereka memang dekat-dekat ini mau memproduksi produk mereka itu, baiknya mereka tunjukkan sekarang bahan baku mereka, supaya kita percaya, bagaimana saudara-saudariku yang ada di sana apa kalian semua setuju kalau perusahaan DYANA grup memunculkan bahan baku mereka supaya kita semua bisa melihat dengan mata kepala kita sendiri.Setuju!," Shanty yang begitu bersemangat membakar semangat para massa.


Tak hayal lagi semua massa yang kala itu terdiam, kembali bergemuru sambil mengangkat tangan kanan mereka secara bersamaan.


"Setuju.....!, Tunjukkan pada kami semua kalau memang perusahaa DYANA grup memiliki bahan bakunya," ucap para pendemo secara bersamaan.


👉 terus beri like, coment serta votenya ya ..makasih.

__ADS_1


__ADS_2