MELLY DAN JHONY

MELLY DAN JHONY
67. JHONY ANAK HARAM.


__ADS_3

Dokter Fadlan, Hafid dan juga Shanty melangkah masuk dalam ruangan itu.


Hafid dan Shanty sedikit mempercepat langkah mereka dikarenakan mereka berdua sudah tidak sabar lagi ingin tahu siapa gerangan yang duduk di kursi sambil membelakangi mereka.


"Apa kamu pemilik ginjal seperti yang di sebutkan Dokter Fadlan pada kami!," tanya Hafid berdiri tepat di belakan pria misterius itu.


Pria itu tidak menjawab, dia cuman mengangguk tanda mengiayakan ucapan Hafid.


"Berapa bayaran yang kamu minta biar kami membayarmu asal kamu mau menyerahkan satu ginjalmu pada anak kami!," tanya Shanty


"Aku tidak butuh uang kalian" balasnya.


"Sombong sekali kamu," ucap Shanty mulai geram.


"Ust....sabar, kita tidak boleh kasar padanya karna dialah satu-satunya kunci agar Raka bisa bertahan hidup," bisik Hafid di telinga Shanty.


"Tapi dia sepertinya ingin mempermainkan kita," balas Shanty.


"Kita ikuti saja apa maunya," bisik Hafid lagi.


"Kalau kamu tidak butuh uang, terus apa maumu!, supaya kami bisa menukarnya dengan salah satu ginjalmu itu," ucap Hafid dengan hati-hati sekali agar tidak membuat pria tersebut merasa tersinggung.


Pria itu tampak menarik nafas dalam-dalam kemudiam memperbaiki posisi duduknya.


"Aku mau kalian berdua mengembalikan nyawa seseorang," balasnya dengan suara sedikit parau.


Hafid dan Shanty sontak saling memandang.

__ADS_1


"Kamu dengar itu bukan!, dia hanya mempermainkan kita.," ucap Shanty dengan wajah memerah.


"Ust....,"Hafid meletakkan jari telunjuknya di depan bibir untuk memberi kode pada Shanty agar diam sejenak.


"Apa maksudmu dengan mengembalikan Nyawa, Kami ini bukan TUHAN yang bisa dengan muda mengembalikan nyawa seseorang yang sudah meninggal. Kamu jangan bercanda dengan kami. Cepat katakan apa maumu sebenarnya," ucap Hafid masih mencoba menahan diri untuk tidak emosi.


"Tetap seperti tadi, kembalikan Nyawa, maka akan Aku memberikan salah satu ginjalku kepada anak semata wayang kalian itu," balas pria misterius itu dengan permintaan yang masih sama seperti sebelumnya.


"Hiih...Benar-benar ya!," ucap Shanty kini benar-benar geram dan ingin memukul pria itu tapi dengan sigap Hafid mencegahnya.


"Shanty tahan dirimu. Kalau kamu sampai menyentuhnya, dan dia tidak mau menyerahkan ginjalnya pada Raka, kamu tahu sendiri bukan!, apa yang akan terjadi selanjutnya pada Raka," bentak Hafid dengan menarik lengan Shanty yang sudah siap-siap ingin memukuli pria yang ada di hadapanya saat itu.


Shanty sontak terdiam, benar kata Hafid kalau orang misterius itu tidak memberikan satu ginjalnya pada Raka maka, di pastikan nyawa Raka tidak akan bisa tertolong lagi.


Dokter Fadlan hanya bisa terdiam. Dalam pikiran Dokter muda itu beribuh pertanyaan sudah mengotak-atik dalam sana.


Hafid sedikit maju kedepan, kemudian pria parubaya itu menjatuhkan tubuhnya keatas lantai dengan lutut sebagai tumpuanya.


Kedua tanganya dia katupkan di depan dada seperti orang yang sedang berdoa kepada TUHAN.


"Tolonglah anak kami, hanya kamulah satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan nyawanya," ucap Hafid dengan nada parau.


Pria misterius itu sontak mengernyitkan dahinya sembali tersenyum.


"Akhirnya kamu memehon juga kepadaku Tuan Hafid, Ha ..ha ..ha," tawa pria itu pecah begitu saja hingga bergema dalam ruangan itu.


"Siapa kamu sebenarnya, cepat perlihatkan wujudmu," ucap Shanty maju mendekati Hafid.

__ADS_1


"Apa kalian berdua masih ingat kejadian dua puluh tahun silam, dimana seorang bocah laki-laki datang kerumah kalian untuk meminta pertolongan demi menyalamatkan nyawa ibunya," ucap Pria misterius dengan sedikit membentak.


Hafid dan Shanty sontak saling memandang dan mencoba mengingat kejadian masa lalu.


"Apa yang kamu maksudkan itu Jhony, anak Haram dari pembantu sialan itu," bentak Shanty balik.


"Iya benar, Akulah anak malang itu, yang kalian hina dan dera dua puluh tahun silam," Jhony bangkit dari tempat duduknya dan berbalik menatap kearah Hafid yang masih terduduk dilantai dengan mengatupkan kedua tanganya.


Mata Hafid seketika melotot demikian pula dengan Shanty.


"Ah ...Jhony!," ucap Hafid dan Shanty bersamaan.


"Iya benar!, Akulah Jhony, anak yang sering kalian panggil dengan sebutan anak haram dan setiap kali Aku datang ke rumah kalian pasti mendapat luka, baik luka memar maupun luka penuh darah, kalian berdua masih ingat kejadian itu bukan?," ucap Jhony sambil melangkah mendekat kearah Hafid dan Shanty.


Kembali santy dan Hafid saling menatap. Lain halnya lagi dengan Dokter Fadlan pria itu langsung menutup mulutnya dengan kedua telapak tanganya.


Apa yang barusan dia dengar benar -benar membuatnya Syok. Bagaimana tidak, Jhony yang selama ini dia kenalnya sebagai seorang yang dingin, keras kepala dan sering mengerjainya memiliki sejarah hidup yang begitu memilukan.


Dalam hati Dokter Fadlan, bila dia berada di posisi Jhony dua puluh tahun silam mungkin dia sudah bunuh diri karna tidak sanggup menahan beban hidup yang begitu kelam.


"Kalau kamu benar-benar Jhony, berarti Raka itu adalah saudaramu. Na sekarang serahkan ginjalmu pada Raka agar dia bisa sembuh kembali seperti semula," ucap Shanty sambil menatap kearah Jhony.


"Ha ..ha ..ha, Apa katamu saudara?, apa kalian pernah menganggap Aku ini sebagai anak kalian sehingga aku harus menyebut Raka itu saudaraku!, tidak bukan?," ucap Jhony sambil menyilang kedua tanganya di depan dada.


Kembali untuk beberapa kalinya Shanty dan Hafid saling memandang satu dengan yang lain mendengar ucapan Jhony barusan.


👉bagi like, coment , vote dan favorite ya makasih.

__ADS_1


__ADS_2