
Dua bulan kemudian......
Mension milik Aldo kembali terlihat ramai. Lantunan musik dangdut mendayu merdu di bangunan megah itu.
Hiasan dan ucapan selamat menempuh hidup baru banyak bersandar di dinding depan mension tersebut.
Ya benar....
Hafid bersanding dengan Elin, Hambali dengan Bi Nining sedangkan Pandu bersanding dengan Bu Yati.
Pernikahan mereka tidak semegah pernikahan Jhony dan Melly karena mereka membatasi tamu undangan. Hanya kalangan keluarga terdekat mereka saja yang mereka undang.
Walaupun tidak seramai pesta Jhony dan Melly waktu itu, tapi pesta pernikahan para lansia itu terbilang cukup meriah.
Berbagai makanan dan minuman tertata rapi diatas meja.
"Ayo semua, kita ambil gambar sebagai kenang-kenangan," Ajak Melly pada Gisel, Lina dan lainya.
Mereka semua pun mengambil posisi dan mengabadikan moment bahagia itu.
Setelah puas mengambil gambar, Melly dan yang lain turun dari atas panggung untuk memberi kesempatan pada tamu undangan atau keluarga yang lain untuk mengambil gambar dengan para mempelai.
"Lin!, kapan nich giliran kamu dan Dokter Fadlan, kami berdua juga ingin mencicipi kue pernikahan kalian, betul gak Sel," ujar Melly memandang Gisel sembari cengegesan.
"Iya Lin, coba lihat, kami masing-masing sudah memiliki anak sedangkan kamu masih begitu-begitu saja. Apa kamu tidak takut menjadi perawan tua," balas Gisel sembari tertawa dan di ikuti oleh Melly.
"Benar sekali katamu sayang, atau kalian berdua mau menikah setelah umur kalian seperti tiga pasang lansia diatas panggung itu," Aldo yang baru saja datang bersama Jhony dan Dokter Fadlan.
"Hii ..apaan sih, kami berdua itu sudah mempersiapkan hari dan moment yang tepat, jadi kalian tenanglah, semua pasti ke bagian undangan, betulkan sayang," Rindu megelayut manja di lengan Dokter Fadlan.
"Betul sekali, dan kami berdua akan berbulan madu di mekah, kalian semua pasti iri bukan?, soalnya bulan madu kalian cuman dalam kota ini saja, ha ..ha ..ha," tawa Dokter Fadlan membuat Jhony dan Aldo merasa Risih.
"Kamu," Jhony dan Aldo membunyikan rahang mereka masing-masing.
__ADS_1
"Huss, Sudah-sudah kalian ini seperti anak kecil saja. BDW saat ngumpul gini Aku keingat Rindu," Melly melerai perdebatan mereka.
"Iya, Aku juga. Aku sangat kangen padanya, terakhir bertemu pada pesta pernikahan kalian, selepas itu dia hilang bak di telan bumi, rumah kosnya kosong dan handponya sudah gak aktif lagi, apa ada yang tahu dimana dia sekarang?
"Yang Aku tahu Dia pergi membawa Neneknya pada hari pemakaman Dirga," balas Aldo.
"Atau jangan-jangan mak lampir itu mengancamnya lagi,"
"Bisa jadi, Soalnya sejak dulu dia tidak pernah merestui hubungan Dirga dan Rindu,"
"Kalau begitu kapan-kapan kita cari dia ya Sel,"
"Iya, semoga dia dan Neneknya dalam lindungan Yang Maha Kuasa,"
"Aamin...." ucap mereka bersamaan.
Tidak terasa waktu terus berlalu hingga seluruh tamu undangan mulai kembali ke rumah mereka masing-masing.
Ketiga pasangan pengantin baru itu terlihat menurunin panggung dan bergabung bersama kumpulan Jhony, Aldo, Gisel, Melly, Lina dan Dokter Fadlan.
"Kami berdua berencana ke paris sekalian menyelesaikan bisnis Ayah disana, betulkan sayang," Hafid mencolek dagu milik Elin.
"Jangan norak, ini tempat umum, Apa tidak malu di lihatin anak-anak ini?," protes Elin.
"Berarti kalau di tempat sepi boleh dong," kembali sekali lagi Hafid mencolek Elin tapi kali ini bukan di dagu melainkan lenganya.
"Hii ..kamu ini. Yati dan Nining apa tidak sebaiknya kalian ikut kami ke paris biar kita ramai-ramai gitu," ajak Elin pada Bu Yati dan Bi Nining.
"Kami lain kali saja Elin, Soalnya kami berdua berencana membuka toko kue di sekitaran sini, agar bisa memantau perkembangan Zaky, Ziko serta Hafiza, betulkan sayang," ujar Hambali sembari menatap Bi Nining.
Bi Nining hanya mengangguk tanda mengiyakan.
"Kalau kalian Pandu gimana?," kini Elin berpaling menatap Pandu.
__ADS_1
"Kami juga lain kali saja, Soalnya bila kami pergi kasihan anak-anak panti tidak ada yang mengurusnya," balas Pandu.
"Baiklah kalau begitu mau kalian, kami juga tidak bisa memaksa,"
Setelah semuanya dirasa beres. Hafid, Bi Nining, Pandu dan juga Bu Yati mohon diri untuk balik kerumah mereka masing-masing.
Sementara itu, Elin dan Hafid juga sudah siap-siap berangkat ke bandara.
Mereka sudah memasuki mobil tapi sebelum Hafid menyalakan kendaraanya. Ziko, dan Zaky berlari kecil menghampiri mereka.
"Kakek tasnya kelupaan?," ujar Ziko menenteng tas kecil milik Hafid.
"Oh... iya kakek lupa, dasar kakek sudah tua," Hafid keluar dari dalam mobil dan mengambil tas yang ada di tangan Ziko.
"Kakek itu isinya apa sih, Aki dan iko tadi buka macam tablet ama jamu, iyakan Iko," Zaky memandang pada saudara kembarnya.
"Ummuuu..." balas Ziko mengangguk.
"Ini jamu dua kali diatas dua kali di bawah dan anak kecil tidak boleh tahu, ya!. Nanti kalau Kakek balik kalian mau Kakek beliin apa?,"
"Iko buku saja"
"Aki lobot-lobotan"
"Baiklah kalau begitu, kalian berdua jangan nakal dan jaga adik kalian baik-baik," Hafid mencium pipi gembul kedua bocah tampan itu sebelum memasuki mobil.
"Woy, jangan sampai kalian berdua tak sanggup berjalan besok pagi, Ha ..ha ..ha" Nenek Fatimah yang baru saja keluar dari dalam mension bersama Nenek Farida.
"Tenang saja Bu, kami pasti bisa jaga-jaga," balas Hafid sembari menjalankan kendaraanya sedangkat Elin hanya bisa melambaikan tangan.
.........TAMAT......
INFO.
__ADS_1
KISAH RINDU : KUJUAL PERAWANKU DEMI NENEK JUGA SUDAH TAMAT DI NOVELTOON