MELLY DAN JHONY

MELLY DAN JHONY
113. MANUSIA POHON.


__ADS_3

Tidak terasa hari terus berganti minggu, minggu berganti bulan hingga kandungan Melly sudah berusia delapan bulanan lebih.


Kata dokter, dalam minggu ini Melly di predisksikan sudah akan melahirkan. Itu membuat Jhony tidak mau meninggalkan istrinya di rumah.


Walau Melly dan Nenek Fatimah sering menasehatinya untuk ke kantor, tapi Jhony tetap saja ngotot untuk menemani persalinan Melly apapun yang terjadi.


Troma masa kecilnya membuat Jhony tak ingin nasibnya akan seperti anaknya yang lahir tanpa ada Ayah disisinya.


"Baban sayang!, baban berangkatlah kerja dulu, Melly masih belum ada juga tanda-tanda akan melahirkan. Kasihan dengan perusahaan DYANA grup sudah dua hari baban tidak masuk hanya untuk menemani Melly dirumah saja," ujar Melly memijit punggung Jhony yang saat itu sedang berada di depan meja kerjanya sambil fokus menatapi laptop.


Jhony segera berbalik dan mengelus perut buncit milik Melly .


"Melly sayang, baban juga bekerja disini sama halnya di kantor. Baban bisa mengontrol perusahaan lewat sini. Hanya berbeda ruang dan waktu saja. Jadi kamu jangan kuatir. Tanggung jawab di kantor dan tanggung jawabku sebagai suami dapat aku jalankan secara bersamaan,"


"Apa bisa seperti itu?," tanya Melly heran.


"Ayo duduk di pangkuan baban, biar baban jelasin," Jhony mendudukkan tubuh meli di pangkuanya.


Melly hanya menuruti keinginan dari suaminya itu dan duduk di paha milik Jhony.

__ADS_1


"Sekarang ini jaman sudah canggih sayang, kita bisa mengontrol bahkan melihat semua kejadian diluar sana melalui laptop ataupun smart phone dan tentunya atas bantuan CCTV. Baban sudah memasang semua CCTV di perusahaan DYANA grup jadi dengan muda baban bisa mengontrol semua peristiwa yang terjadi disana.paham!," Jhony merapikan rambut Melly yang Melly biarkan terurai begitu saja.


"Paham, baban sayang!,"


"Bagus istri pintar. Kalau begitu Ayo kita keluar, kamu pasti bosan di kamar terus menemani baban bekerja bukan?,"


"Tu tahu, Ayo!," Melly berdiri dan menarik tangan Jhony untuk ikut berdiri.


Mereka berdua melangkah keluar kamar dan tidak lupa menutup daun pintu kamar mereka kembali seperti semula.


Mereka berdua terus melangkah menuju kearah taman belakan rumah.


Belum juga mereka tiba di tempat tujuan mereka, Nenek Fatimah sudah menghalangi langkah keduanya.


Melly dan Jhony saling menatap keheranan sebelum menjawab pertanyaan yang diajuhkan oleh Nenek Fatimah.


"Kami berdua mau ke taman Nek, untuk menghirup udarah segar disana," balas Melly menatap heran pada Neneknya.


"Tidak boleh- tidak boleh!, kamu pasti mau manjat pohon mangga lagi bukan?. Kalau kamu mau menghirup udara segar, di halaman depan pun bisa. Disana banyak bunga-bunga yang bisa memanjakan mata dan udara disanapun tidak kalah segarnya dengan di taman," Nenek Fatimah yang masih terus membentangkan kedua tanganya.

__ADS_1


"Iya sayang, kita kehalaman depan saja ya!, disanapun udaranya segar seperti kata Nenek. Lagian Nenek sudah menanam banyak bunga mawar merah dan putih kesukaanmu disana,"


"Baiklah, Ayo kita kedepan saja dari pada kena marah cat woman," ujar Melly menarik tangan Jhony sambil tertawa.


"Kerenan Cat woman dari pada manusia pohon," Nenek Fatimah sembari tersenyum kemenangan.


Setelah kepergian Melly dan Jhony ke taman depan rumah. Nenek Fatimah kembali ke ruang tamu untuk melanjutkan kembali acara kesukaanya di tivi, di temani secangkir teh panas dan beberapa cemilan ringan diatas meja.


Belum juga perempuan tua itu mendudukkan tubuhnya diatas karpet, suara Jhony dan rintihan dari Melly terdengar dari arah pintu.


"Nek........!, Melly sudah mau melahirkan. Air ketubanya sudah keluar," teriak Jhony yang membopong tubuh Melly.


Nenek Fatimah segera berbalik dan berlari kecil menuju kearah Jhony dan Melly.


"Astafirullah!, Ayo cepat bawa dia ke mobil, Bi Jhona cepat kemari," teriak Nenek Fatimah.


Tidak lama kemudian muncul Bi Jhona dan Bi Wati dari arah dapur.


"Iya Nyonya besar, ada apa Anda memanggilku?," tanya Bi Jhona.

__ADS_1


"Nanti kamu bawa pakaian Melly kerumah sakit, suruh pak Anton untuk mengantarmu kesana. Kami duluan soalnya Melly sudah mau melahirkan. Ayo Joko kita pergi," Nenek Fatimah ikut membopong tubuh Melly menuju kearah mobil.


"Baik Nyonya," balas bi Jhona.


__ADS_2