
Sementar itu, di perusahaan H&S grup. Suasana perusahaan besar itu tampak lumayan ramai karna hari ini hari peluncuran produk baru mereka.
Para collega dari perusahaan tersebut berdatangan karna mendapat undangan langsung dari sang pemilik perusahaan.
Tapi anehnya, hanya mereka mereka-mereka itu saja yang hadir. Wartawan cuman ada dua, tiga orang saja yang tampak sedang meyetel posisi kamera, itupun mereka di sewa khusus untuk mengambil gambar saat pelucuran produk baru mereka nantinya, sedangkan para konsumen yang mereka gadang-gadang akan membludak hari ini terlihat sangat sepi.
Hafid yang baru saja tiba disana segera melangkah memasuki gedung perusahaan pribadinya itu.
Pria parubaya itu begitu geram setelah melihat apa yang di harapkan tidak sesuai dengan keinginanya.
Melihat majikannya datang, Elsa sang sekertaris berlari kecil untuk menghampirinya.
"Elsa, kenapa kurang sekali yang datang, Apa kamu tidak menyebarkan undangan kepada para konsumen kita" bentak Hafid pada sekertarisnya itu.
"Maaf Tuan! semua yang Anda perintahkan sudah Saya kerjakan, tapi tetap saja mereka tidak datang, mungkin ada pihak lain yang mencengah mereka untuk datang kemari," balas Elsa yang mencoba membela diri degan cara menyalahkan pihak lain.
"Maksud kamu apa Elsa?." tanya Hafid lagi dengan suasana hati yang masih begitu geram.
"Maksud Saya begini Tuan!, pasti ada kekuatan besar yang mencegah atau menjatuhkan produk baru kita ini agar para konsumen kita tidak datang ke acara ini."
Hafid sedikit mengerutkan dahinya mendengar jawaban dari Elsa.
"Perusahaan DYANA grup yang melakukanya!, begitu maksudmu?," tanya Hafid lagi.
" Siapa lagi Tuan!, hanya perusahaan itu saja yang menjadi saingan terberat kita selama ini. Pasti perusahaan DYANA grup tidak akan membiarkan acara kita ini berjalan dengan mulus. Apa lagi, produk yang baru-baru ini mereka luncurkan sama persis seperti produk yang akan kita luncurkan sesaat lagi," Jawab Elsa yang masih terus memojokkan perusahaan DYANA grup.
"Kurang ajar!, Pasti si Jhony yang melakukan ini semua, dia begitu pintar membaca taktik kita, sehingga kita kalah duluan dalam meluncuran produk yang memang mirip sekali dengan produk mereka itu," ucap Hafid sambil memukul-mukulkan kepalan tangan kananya di telapak tangan kirinya.
Lama mereka terdiam disitu hingga kembali Elsa angkat bicara.....
"Terus bagaimana dengan acara ini Tuan!. Apa kita lanjut atau kita tunda dulu untuk mencari cara agar para konsumen bisa kita datangkan kembali kemari seperti dulu?,"
__ADS_1
"Hah .....Terserah kamu, mau lanjuk kek mau tidak kek itu urusan kamu, Aku mau pulang saja!, semua acaraku berantakan gara-gara si Jhony itu. Elsa kamu perintahkan orang untuk menyelidiki siapa sebenarnya Jhony. Aku benar-benar penasaran denganya, kenapa setiap rencanaku dengan mudah dia baca," perintah Hafid sambil membalikkan badanya menuju pintu keluar perusahaanya.
"Baik Tuan! Akan Saya kerjakan sesuai perintah Anda," ucap Elsa sambil menundukkan kepalanya.
Hafid terus melangkah menuju keluar gedung raksasa itu.
Melihat Tuanya keluar, sang Supir segera menjalankan mobilnya menuju ke depan pintu utama dan berhenti tepat di depan Hafid berdiri.
Sang supir membuka pintu mobil lalu berlari kecil memutari mobil untuk membukakan pintu buat Tuanya.
"Kamaruddin, Kita kembali kerumah!," ucap Hafid pada sang Supir setelah mereka berdua sudah berada di dalam mobil.
"Baik Tuan," Jawab sang supir lalu menghidupkan mesin mobilnya.
Kamaruddin kemudian melajukan kendaraanya dengan kecepatan sedang menuju kearah kediaman Hafid.
Sementara Hafid yang duduk di belakang kursi penumpang terus saja menatapi layar handponenya.
Paparan poto-poto Raka putranya terlihat jelas di dalam sana.
Tampak kesedihan mendalam pada wajah pria parubaya itu menatapi poto putra semata wayangnya itu.
"Kenapa semuanya bisa seperti ini nak!," ucap Hafid dengan samar-samar.
Tidak lama kemudian mobil yang mereka tumpangi kini berhenti tepat di depan pintu gerbang sebuah rumah mewah.
Seorang satpam berlari kecil membukakan pintu untuk mereka.
Setelah pintu benar-benar terbuka sang supir kembali menjalankan kendaraanya memasuki halaman luar rumah mewah tersebut.
Hafid keluar dari dalam mobil dan melangkah masuk kedalam rumah pribadinya itu.
__ADS_1
Belum juga Hafid menginjakkan kakinya di ruang tamu, Shanty sudah menghampirinya yang baru saja keluar dari dalam kamar dengan pakaian serta dandanan yang begitu glamour.
"Sayang kenapa kamu cepat sekali pulangnya!, padahal Aku baru saja ingin keperusahaan untuk menghadiri acara peluncuran produk baru kita," ucap Shanty sambil memperlihatkan dandanan serta pakaianya kepada Hafid.
"Kamu tidak usah kesana, acaranya berantakkan semua!," balas Hafid yang terus melangkah menuju kearah ruang tamu.
Shanty mengekori Hafid dari belakang, "Apa berantakan!, Kenapa bisa seperti itu sayang."
"Entalah Aku juga tidak tahu, Tapi kata Elsa ini semua ada hubunganya dengan perusahaan DYANA grup," Hafid mendudukan tubunya diatas sofa sambil memijiti kepalanya.
"Maksud kamu ini semua ulah Jhony?," tanya Shanty lagi.
"Siapa lagi kalau bukan dia. Sejak dia menjadi CEO di perusahaan itu, perusahaan kita menjadi porak-poranda. Banyak konsumen kita lari. Kalau begini terus, lambat laun pasti perusahaan kita akan bangkrut,"
"Kurang Ajar si Jhony itu mau bermain-main dengan kita!. Sayang hanya ada satu cara untuk menghentikan supaya perusahaan DYANA grup menghentikan produk baru mereka beredar di pasaran," ucap Shaty tersenyum tipis.
Hafid yang sedari tadi memijiti kepalanya seketika berhenti dan menatap Shanty yang masih berdiri di samping kananya sambil melipat kedua tanganya di depan dada.
"Maksud apa kamu sayang!," Hafid dengan tatapan begitu serius.
"Biarkan dulu mereka menikati masa ke jayaan mereka satu dua minggu ini, setelah itu baru kita mulai beraksi,"
"Aku tidak paham dengan jalan pikiranmu. Coba jelasin supaya segera kita mulai rencana kamu itu,"
"Begini! setelah satu, dua minggu produk mereka laris di pasaran otomatis mereka akan kehabisan bahan baku. Na, sebelum mereka menyadari kita tada semua bahan baku yang masuk di dalam kota ini agar mereka tidak bisa lagi memproduksi produk mereka itu karna kehabisan bahan baku, Para konsumen mereka pastinya akan bosan menunggu. Kesempatan besar ini kita ambil dengan menarik konsumen mereka agar mau membeli produk kita yang tak jauh beda dengan produk mereka itu,"
Seketika Hafid tersenyum tersenyum bahagia mendengar penuturan dari Shanty istrinya.
"Ide kamu benar-benar cemerlang sayang dalam menaklukkan lawan-lawan bisnis kita. Baiklah akan kuhubungi semua collega-collega kita dalam kota ini supaya mereka semua menahan bahan baku yang masuk ke perusahaan DYANA grup. Jhony, Kamu tunggu saja kehancuranmu siapa suruh mengusik harimau yang sedang tertidur."
👉 Terus beri like, coment serta vote ya ...terima kasih.
__ADS_1