
DENDAM SHINTA.
Melly terus menangis memikirkan keberadaan putrinya hingga Jhony tak tegah mendengarnya.
"Tenanglah sayang semuanya akan baik baik saja," Jhony mengelus lembut pundak milik Melly.
"Benar nak! Azisah pasti akan baik-baik saja!. Jhony kamu hubungi pihak Mall dan periksa semua CCTV yang ada di Mall ini. Papa mau ke rutan untuk menemuhi Shanty. Papa rasa dia dalam di balik penculikan ini," ujar Hafid.
"Shanty?," tanya Jhony heran.
"Iya. Cepatlah sebelum semuanya terlambat,"
"Baik pa!, sayang tenangkan dirimu!. Nek!, Aku titip Melly ya?," Jhony mengalikan pandanganya kearah Nenek Fatimah.
"Tenanglah, Aku akan menjaganya. Cepat pergi dan temukan pelakunya," Nenek Fatimah merangkul tubuh Melly yang saat itu terus saja menangis.
Jhony segera berbalik arah dan melangkah meninggalkan tempat itu.
"Sayang, Mas pergi dulu!, tolong hubungi Aldo untuk meminta bantuanya," Hafid memegang kedua tangan milik Elin.
"Kamu hati-hati ya!," balas Elin sembari mengangguk.
Hafid pun bergegas meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Sementara itu, didalam sebuah mobil mewah yang sedang melaju kencang.
Seorang perempuan berjaket kulit dengan kacamata hitam yang sengaja dia selipkan diantara kancing kemejanya sedang menggendong seorang bayi perempuan yang saat itu sedang asyik memainkan boneka berbienya sembari tertawa.
"Iron, tambah kecepatanya, jangan sampai mereka menemukan jejak kita," ucap perempuan berjas kulit itu kepada supirnya.
"Baik Nyonya Shinta," balas supir tersebut dan menambah kecepatan mobilnya.
Tidak lama kemudian kini mobil mereka sudah memasuki sebuah gedung tua yang ada di pinggiran kota.
Setelah memasukkan mobil mereka kedalam bangunan tua itu. Shinta dan dua anak buahnya masuk kedalam gedung tersebut dan naik menuju lantai dua.
Ada sekitaran 9 orang bertubuh kekar dan satu perempuan dengan gaya tomboy sudah menunggui mereka sejak dari tadi disana.
Shinta memasuki sebuah ruangan sambil menggendong tubuh kecil Azisah dan di ikuti oleh 3 anak buahnya dari arah belakang.
Belum juga Shinta meletakkan tubuh mungil Azisah diatas pembaringan, tiba-tiba sebuah ledakan kecil terdengar di tubuh bocah kecil itu.
Bukanya menangis, bayi kecil itu malah tertawa sambil menendang-nendangkan kedua kakinya dan memukul-bukul tempat tidur dengan kedua tangan kecilnya.
"Malah tertawa lagi. Kamu dan Ayahmu itu sama-sama. Sama-sama menyebalkan," Shinta memplototkan matanya ke Arah Azisah sambil menunjuk wajah imutnya.
"Rita bersihkan najis bayi sialan ini, pampersnya ada di dalam tas itu. Dasar merepotkan!," ujar Shinta pada perempuan yang hampir menyerupai laki-laki itu.
"Saya Nyonya," balas Rita sembari menunjuk dirinya sendiri.
"Siapa lagi, masa Aku!, cepat kerjakan jangan banyak bacot!," gertak Shinta pada perempuan itu.
__ADS_1
"Baik Nyonya Shinta," Rita langsung bergegas mendekat keara pembaringan dimana bayi Azisah sedang tergeletak diatas sana.
Setelah Rita sudah membersikan tubuh Azisah. Perempuan yang bergaya tomboy itu segera mendekat kearah Shinta yang saat itu sedang duduk di sebuah kursi depan meja sembari menikmati minuman dalam sebuah botol plastik.
"Terus rencana kita berikutnya apa Nyonya?," tanya Rita berdiri di samping Shinta.
"Kita tunggu kabar dari Tomo, Aku sudah menyurunya untuk mengancam keluarga Jhony agar tidak melapor ke pihak berwajib dan menyuruhnya untuk memata-matai semua pergerakan dari keluarga itu," balas Shinta.
Seketika handphon milik Shinta yang sengaja dia letakkan diatas meja tiba-tiba saja berdering.
Shinta mengambil handphonya dan menatap kearah layar.
"Baru juga diomongin sudah menelpon!. Hallo Tomo ada kabar apa yang ingin kamu sampaikan?," tanya Shinta setelah sambungan teleponya dengan Tomo terjalin.
"Begini Nyonya. Keluarga Jhony mulai bergerak. Aku lihat Jhony memeriksa semua CCTV yang ada di dalam Mall. Sedangkat Hafid entah pergi kemana secara buru-buru," balas Tomo dari dalam sana.
"Secara buru-buru?," tanya Shinta lagi sambil mengeryitkan dahinya.
"Betul sekali Nyonya. Aku tidak sempat mengejarnya soalnya mereka memecah diri. Jhony menemui pihak Mall sedangkan Hafik keluar entah kemana," balas Tomo lagi.
"Apa tua bangka itu curiga kalau Aku dalang di balik penculikan ini!. Tapi tidak mungkin, soalnya dia pasti tidak menyadari kalau saat ini Aku berada di negara ini. Kalau begitu awasi pergerakan Jhony dan segera beri laporan bila ada hal yang mencurigakan, paham!,"
"Paham Nyonya," balas Tomo.
Setelah sambungan telepo antara Tomo berakhir. Shinta memasukkan handphonenya ke dalam tas kecil miliknya.
"Rita, suruh semua anak buah kita untuk berjaga-jaga di luar. Jika ada hal yang janggal cepat laporkan padaku. Dan jangan sampai ada satupun penyusup yang masuk kemari. paham!,"
__ADS_1
"Paham Nyonya, kalau begitu Saya permisi," ujar Rita menunduk kemudian berbalik arah dan melangkah menuju kearah pintu keluar.
"Jhony dan kamu Hafid. kalian berdua akan merasakan hal yang sama seperti yang telah kalian perbuat pada Shanty dan juga Raka. Aku janji itu," ujar Shinta dengan mata memerah dan wajah penuh dengan kebencian mendalam.