MELLY DAN JHONY

MELLY DAN JHONY
41. BOSQ.


__ADS_3

Jhony terus melangkah menuju kearah mobilnya dengan tubuh Melly yang masih berada dalam gendonganya.


Semua mata tertuju kearah mereka berdua sehingga Melly tidak berani menampakkan wajahnya.


Nenek Fatimah yang baru saja menyelesaikan pembayaran dikasir mengekori mereka dari belakang.


"Kalian berdua benar-benar pasangan serasi, satu pemalu yang satunya lagi tahan malu. Bagaimana kalau kalian berdua Aku nikahkan saja!," ucap Nenek Fatimah sambil berlari kecil mengejar langkah kaki Jhony.


"Apaan si Nenek!, Amit-amit Aku dengan dia," balas Melly sambil terus membenamkan wajahnya di dada bidang Jhony.


"Kalau kamu amit-amit denganku kenapa kau betah sekali menciumi dadaku," jawab Jhony santai.


"Ha ..ha ..ha..!Dasar Melly, malu-malu kucing," ucap Nenek Fatimah sambil tertawa lebar.


"Ha ..ha..ha..Memang dia Meong." balas Jhony ikut tertawa.


Melly tidak bisa berkata apa-apa lagi, semua yang diucapkan Jhony padanya memang benar. Dia mencoba menolok tapi hatinya berkata lain.


Berada pada gendongan Jhony ada rasa kedamaian dalam hatinya.


Setelah mereka tiba di mobil Jhony, Nenek Fatimah segera membuka pintu mobil bagian belakang.


Jhony kemudian memasukkan tubuh Melly kedalam sana.


"Nenek Ayo kerumah Aku dong!," ajak Melly setelah berada dalam mobil.


"Tapi Nenek ada mobil di sana!, lagian supir Nenek sudah dari tadi menunggui Nenek," ucap Nenek Fatimah sedikit menolak.


"Ayolah Nek!, sekalian Nenek temani Melly kemas-kemas di rumah baru Melly," Melly sedikit memelas hingga Nenek Fatimah tidak sanggup untuk menolaknya.


"Baiklah!, tapi tunggu sebentar, Nenek telpon dulu supir Nenek agar duluan kembali ke hotel ,"


Melly tidak menjawab dia hanya mengangguk sambil tersenyum bahagia tanda kalau dia setuju.


Nenek Fatimah mengeluarkan handpone dari dalam tas kulit miliknya, lalu mengambil handponenya dari dalam sana.


Tidak lama kemudian Nenek Fatimah memasukkan kembali handponenya kedalam tas kulit miliknya itu setelah memutuskan panggilanya dengan sang supir pribadinya.


"Beres!, Joko ayo kita berangkat," ucap Nenek Fatimah sambil masuk kedalam mobil.


"Jhony kalis Nek!," protes Jhony sambil menutup daun pintu mobil setelah kedua perempuan itu sudah berada dalam mobil.


Mendengan protes dari Jhony kedua perempuan dalam mobil tersebut tertawa terbahak-bahak.


"Hih ..dasar perempuan," ucap Jhony lalu melangkah memutari mobilnya menuju kearah pintu depan dekat stir mobil.

__ADS_1


Mobil mereka Melaju dengan kecepatan sedang memasuki pusat kota dan di iringan lalu dagdut yang dibawakan oleh bunda Elvi sukesi yang mendayu indah di telinga mereka betiga di sepanjang perjalanan.


Melly ikut bernyanyi mengikuti syair yang di lantunkan oleh bunda Evi sukesi.


Membuat Nenek Fatimah terus saja mebatapnya.


"Kenapa semua yang ada pada Melly mengingatkanku pada Ana," ucap Nenek Fatimah dalam hati.


Melly yang di pandang seperti itu oleh Nenek Fatimah segera berhenti menyanyi.


"Nenek kenapa memandangku seperti itu! malu tahu," tanya Melly sambil memanyun-manyunkan bibirnya.


"Nenek hanya teringat dengan Ana putri Nenek!, semua yang ada padamu hampir mirip denganya, Mulai dari paras, kemapuan dalam ilmu beladiri serta gemar akan lagu dangdut mengingatkan Nenek akan dirinya," balas Nenek Fatimah dengan mata berkaca-kaca.


"Iii ..Jadi sedih de...!," ucap Melly sambir menghamburkan pelukanya kearah Nenek Fatimah.


Nenek Fatimah membalasnya sambil mengusap lembut ujung kepala Melly.


"Seandainya Ana memiliki putri pasti putrinya sudah sebesar dirimu Mell,"


"Kalau begitu, bagaimana kalau Nenek menganggap Melly sebagai cucuk Nenek, hitung-hitung semenjak lahir Melly juga belum perna merasakan bagaimana rasanya memiliki seorang Nenek!," balas Melly melepas pelukanya dan menatap wajah Nenek Fatimah.


"Terus kasih sayang dari Nenek lampir dan gerandong tidak kamu akui ha .ha..ha..," potong Jhony sambil tertawa lebar.


"Iya ...maaf!, ngomong-ngomong rumah baru kamu di mana Meong!," tanya Jhony pada Melly.


" Buck....." sebuah tepukan mendarat di bahu Jhony.


"Apain si.....! protes Jhony karna bahunya di tepuki oleh Melly.


"Makanya jangan mengataiku Meong, Kalau kamu masih mengataiku seperti kucing maka hal yang lebih parah akan menimpahmu. paham," bentak Melly yang tidak terimah di katai kucing.


"Iya Mel..ly..." ucap Jhony yang masih gugup menyebut kata Melly karna dia lebih sering menyebut nama Melly dengan sebutan Meong.


"Bagus anak pintar!," untuk kedua kalinya kembali Melly menepuk punggu Jhony tapi kali ini tidak sekeras yang pertama.


"Kamu terus saja, nanti pas pintu gerbang itu kamu belok kiri," lanjut Melly sambil menunjuk kearah pintu gerbang.


Jhony sedikit mengerutkan dahinya, soalnya jalan yang masuk kearah pintu gerbang itu adalah juga jalan masuk kerumahnya.


"Itukan jalan masuk kerumahku! jangan bilang kalau kamu ingin kerumahku dan ingin melakukan hal yang sama seperti dulu," ucap Jhony sambil tersenyum mengingat kejadian waktu itu.


Seketika Melly melototkan matanya kearah kaca spion dalam mobil dimana Jhony juga memandangnya dari dalam sana sambil tersenyum.


"Astaghfirullah, kalian pernah melakukan itu!, Melly, Jhony kalian berdua itu tidak boleh melakukan hal seperti itu sebelum kalian resmi menikah," bentak Nenek Fatimah kepada Melly dan Jhony.

__ADS_1


Kembali Melly dan Jhony saling memandang melalui kaca spion yang ada dalam mobil tersebut setelah di bentaki oleh Nenek Fatimah.


"Ah ..Nenek salah paham!, Nenek masih ingat kejadian di restaurant waktu itu bukan?, Saat pulang dari sana, Melly diantar oleh si kura-kura ini, Sakin capek, Melly tertidur dalam mobil. Karna si kura-kuranya kasihan atau apalah namanya maka dia tidak tegah membangunkan Melly, jalan satu-satunya dia membawa Melly kerumahnya. Lagian, tidak mungkin kami berdua melakukan hal tidak senonoh yang di larang keras oleh agama, di tambah lagi bukan hanya kami berdua dalam rumah itu, Bi Joana juga ada disana kok" Melly mencoba menjelaskan supaya Nenek Fatimah tidak salah paham kepada mereka berdua.


"Oh .. Jadi begitu ceritanya!, Nenek yang salah, sudah berpikiran negatif pada kalian berdua, Ets... tadi Jhony menyebutmu dengan sebutan Meong dan kamu menyebut Jhony dengan sebutan kura-kura. Apa itu sebutan sayang kalian berdua?," tanya Nenek Fatimah sambil memandang Jhony dan Melly secara bergantian.


"Hiss..Nenek suka sekali menggodaku!," Kalian berdua tidak ada bedanya sama sekali, selalu saja menjailiku," ucap Melly dengan nada ngambek sambil mengalihkan pandanganya keluar jendela.


Bukanya kasihan Nenek Fatimah dan Jhony malah tertawa di buatnya.


Tidak lama kemudian Mobil mereka berhenti di sebuah rumah mewah yang tak jauh dari rumah Jhony.


Melly dan Nenek Fatimah keluar dari dalam mobil sedangkan Jhony masih duduk santai di kursi pengemudi.


"Bosq ....! Apa kamu tidak ingin masuk?," ucap Melly sambil sedikit menundukkan kepalanya.


"Terima kasih ...," balas Jhony santai tanpa bergerak sedikit pun dari tempat duduknya.


"Baiklah kalau begitu, kami mau masuk dulu, dan terima kasih banyak atas tumpanganya!, Ayo Nek kita masuk," ajak Melly sambil menarik pergelangan tangan Nenek Fatimah.


Tapi belum juga mereka sampai di pintu pagar, Jhony sudah meneriaki Melly.


"Meong kemari sebentar,"


Melly segera membalikkan badanya dan melangkah mendekat kearah Jhony yang masih duduk di kursi pengemudi.


"Ada apa?," tanya Melly


"Ini ambilah," Jhony menyodorkan uang kertas dua ribuh kearah Melly.


"Untuk apa uang dua ribuh ini?," tanya Melly lagi dan sedikit mengerutkan dahinya.


"Untuk beli silet," jawab Jhony.


"Silet?"


"Iya silet! untuk mencukur bulu betis dan juga bulu pahamu yang sudah panjang seperti bulu kucing," ucap Jhony santai.


Melly tersenyum sangat manis kepada Jhony dan pelan-pelan sekali dia menunduk.


Melihat Melly ingin melepas alas kakinya, Jhony segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi sambil tertawa terbahak-bahak...


"Dasar bos gila", teriak Melly sangat kencang sehingga membuat para tetangganya keluar dari dalam rumah.


đŸ‘‰Terus beri like, coment dan vote... terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2