
Detik berganti menit, menit berganti jam dan siang berganti malam. Jhony dan Melly sudah bersiap-siap untuk duduk di pelaminan. Mereka berdua sudah di rias oleh Temmy dan Unce. Kini keduanya bak raja dan ratu didalam mansion itu.
"Tuan Jhony dan Nona Melly benar-benar pasangan serasi. Satunya cantik dan satunya lagi tampan, Oh Tuhanku sisahkanlah satu pria tampan seperti Tuan Jhony buatku," ucap Temmy yang terus memperhatikan Jhony dengan seksama.
"Lo itu laki, masa jeruk purut makan jeruk manis hii hii hiii," Unce tertawa cengegesan mengejeki Temmy temannya.
"Lo juga pasti mau kalau Tuan Jhony tertarik padamu bukan?," Temmy dengan memplototkan matanya kearah Unce.
"Gak .....," ucap Unce sigap.
"Gak nolak ha ha ha!," kini Temmy yang terbahak-bahak.
Sementara itu Jhony yang masih merapikan pakaianya segera terhenti tak kala melihat kedua penata rias mereka menatapinya.
Jhony berbalik dan menatapi mereka berdua balik.
"Ada apa lihat-lihat, Ah!," bentak Jhony yang merasa risih dengan pandangan Temmy dan Unce.
Seketika Temmy dan Unce tertunduk dan kedua tubuh gembul mereka bergetar.
"Maafkan kami Tuan !," ucap Temmy dan Unce bersamaan tanpa memperlihatkan wajah mereka sakin takutnya dengan gertakan Jhony.
"Terus kenapa kalian menatapku seperti itu seolah-olah kalian berdua ingin sekali menelanjangiku," Jhony masih nada tinggi.
Temmy dan Unce hanya terdiam terpaku. Keringat mereka mulai keluar dari pori-pori kecil kulit keduanya.
Melly yang saat itu baru keluar dari kamar kecil segera mendekat kearah Jhony dan memegangi pundaknya.
"Baban kenapa memarahi mereka," Melly mengelus pundak Jhony tapi, matanya terarah kepada Temmy dan Unce yang saat itu tidak berani untuk menampakkan wajahnya.
"Mereka berdua ingin merebut Baban darimu!," Jhony memegangi tangan Melly dan meremas-remasi jari-jarinya.
"Kamu ini!, Mereka itu cowok, mana mungkin mereka mau merebutmu dariku," Melly menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tapi sayang, Babang serius mereka berdua menatap Baban seolah-olah mereka berdua ingin menculik Baban," Jhony masih terus meremasi jari-jari Melly dan sedikit menyondongkan kepalanya keatas karena saat itu dirinya sedang duduk sedang Melly berdiri di sampingnya.
"Jangan lebay, Harusnya Baban berterima kasih kepada Mereka berdua karena jasa-jasa mereka berdualah hingga kita bisa secantik dan setampan ini,"
Mendengar Melly mengakui ketampananya narsis Jhony segera menggebu-gebu.
"Biar pun yayang meong tidak bilang, suamimu ini memang sangat tampan. Seisi kota inipun tahu itu. Jadi yayang harus bersyukur punya suami tanpan sepertiku. Cup!," satu ciuman lembut dilayangkan Jhony ke kening Melly.
Kembali Melly hanya menggeleng-gelengkan kepalan. Jhony dan Aldo itu mungkin satu perguruan setiap tingkahnya pasti ada saja kemiripan.
"Nyosor aja!, cepat minta maaf pada mereka berdua," Melly menatap lekat pada Jhony.
"Tapi sayang!, suamimu ini belum pernah minta maaf pada orang lain kecuali Ibu sama si gado-gado itu .( maksud Jhony di sini Aldo)."
"Makanya biasakan!, jangan karena kita merasa tinggi maka kita malu meminta maaf kepada orang yang lebih rendah!. Sekarang lakukan atau Tante Zinzui yang akan jadi korban Baban malam ini," Melly Melipat kedua tanganya di depan dada.
Seketika mata Jhony melotot,tanpa berkata-kata lagi Jhony melangkah maju mendekat kearah Temmy dan Unce yang saat itu hanya terdiam terpaku di atas kursi.
"Kalian berdua berdirilah," ucap Jhony kini mulai lembut.
Temmy dan Unce segera berdiri tapi kepala mereka masih tertunduk menatap lantai.
__ADS_1
"Angkat wajah kalian berdua!," perintah Jhony lagi.
Seperti perintah Jhony, Temmy dan Unce mengangkat wajah mereka secara bersamaan dan menatap Jhony yang saat itu menatap lekat kearah mereka berdua.
"Kalian berdua harus memaafkan Aku Titik! kalian mau tidak,"
"Mau mau mau" Secepat kilat Temmy dan Unce menjawab
"Bagus," Jhony memegangi pundak kedua pria gemulai itu sembari tersenyum manis.
Melihat Jhony yang tersenyum begitu manis, Jiwa kewanitaan kedua pria gemulai itu ingin sekali meronta-ronta tapi sedapat mungkin mereka tahan karena sakin takutnya pada Jhony.
"kupaska' Ayah!," Temmy dalam hati.
"Tembakka' Ayah!," Unce tidak mau kalah.
Setelah mendapat maaf dari Temmy dan Unce Jhony berbalik dan melangkah mendekat kearah Melly.
"Sayang, Baban sudah melakukan sesuai kemauanmu. Jadi, citra, lux dan zinzui itu sudah tidak ada lagi bukan?," tanya Jhony sambil merangkul pinggul Melly.
Melly hanya tersenyum tanpa menjawab.
Tidak lama kemudian daun pintu kamar itu di ketuk dari luar. Temmy yang mendengar hal itu segera melangkah mendekat kearah pintu dan memutar gagang pintu tersebut dan menariknya.
Tampak dari luar kamar tersebut berdiri seorang perempuan parubaya yang begitu cantik. Ya, siapa lagi kalau bukan Elin. Walau kini usianya sudah tidak mudah lagi tapi, Elin masih terlihat sangat muda, andai di sejajarkan antara Gisel, Melly dan Ellin pasti orang-orang menganggap mereka bertiga itu adik kakak.
"Eee ..Nyonya besar!, Silahkan masuk," Temmy sedikit menunduk dan mempersilhkan Elin untuk masuk.
"Terimah kasih samson!," balas Elin tersenyum.
"Makanya diet dong!, say, Ngomong- ngomong kedua pengantin koplak itu dimana?," tanya Elin.
Sebelum menjawab Temmy langsung menutup mulutnya menggunakan telapak tanganya. Ucapan Elin benar-benar membuatnya ingin sekali tertawa lepas yang saat itu menyebut Jhony dan Melly sebagai pasangan koplak.
"Kenapa kamu tertawa," seketika dahi Elin mengkerut menatap Temmy yang masih menutup mulutnya menggunakan telapak tanganya.
"Tidak ada apa-apa nyonya!. Silahkan masuk!. Tuan Jhony dan Nona Melly ada di dalam Mereka berdua sudah siap untuk kepelaminan termegah yang pernah ada di sepanjang sejarah kota ini," Temmy membuka lebar daun pintu.
"Terima kasih Soon!," Eliin memegangi pundak Temmy dan melangkah masuk kedalam menuju kearah Jhony dan Melly.
Jhony yang saat itu memegangi pinggu Melly segera melepaskan tanganya setelah melihat Elin melangkah mendekat kearah mereka.
"Selepas Ibu pergi tadi apa tidak ada yang meledak," Elin mengelilingi Jhony dan Melly.
"Melly aman Bu!," Melly membulatkan kedua jarinya membentuk hurup 0 besar sembari tersenyum.
Lain halnya dengan Jhony dia malah tertunduk lesuh tak berani menatap Elin.
"Jhony, kamu juga aman bukan?," tanya Elin yang sudah berdiri di depanya.
"Bocor Bu," Jhony dengan ucapan begitu pelan.
"Jhony.....," bentak Elin sembari melotot.
Sehabis Elin memberi ceramah bukan agama pada Jhony, Elin mengajak keduanya menuju Aula mension dimana acara persandingan mereka akan di selenggarakan.
__ADS_1
Jhony mengekori Melly dari belakan sambil megangkat gaun pengantin Melly yang panjangnya hampir dua meter menyapu lantai.
Para pelayan yang saat itu sibuk dengan aktifitas mereka segera berhenti dan menatap kedua pengantin baru yang melintas di depan mereka.
"Tuan Jhony dan Nona Melly benar-benar serasi. Lihatlah mereka itu bak raja dan ratu dalam mension ini," ucap seorang pelayan pada temanya.
"Benar ucapanmu, Mereka benar-benar sangat serasi seperti halnya Tuan Aldo dan Nyonya Gisel. Aku salut dengan kebaikan hati Nyonya besar, Beliau benar-benar memperlakukan Tuan Jhony dan Nona Melly bak anak sendiri,"balas temanya.
"Kapan ya kira-kira kita memiliki mertua kayak Nyonya besar itu!,"
"kapan-kapan ha ha ha!, Ayo bekerja lagi nanti Ibu kepala menegur kita lagi," ajak pelayan tadi pada temanya.
Keduanya pun bekerja seperti sedia kala.
Elin dan Melly melangkah memasuki aula mension dengan Jhony masih mengekori mereka dari belakang sambil memegangi gaun pengantin Melly.
Seketika riuh suara dalam aula yang tadinya terdengar sangat bising oleh suara musik dan suara para tamu undanga terhenti sejenak dengan kemunculan mereka bertiga dari arah pintu yang menghubungkan Mension dengan aula.
"Mari kita sambut penganti baru yang sedari tadi kita tunggu kehadiranya, inilah dia Tuan Jhony dan Nyonya Melly," ucap seoran Mc yang berada diatas panggung menggunakan microphone.
Kembali riuh teputangan dan siulan terdengar dalam ruangan itu.
Melly dan elin serta Jhony terus melangkah menuju kearah pelaminan yang dihiasi berbagai macam bunga dan dekorasi yang indah.
Setelah tiba di kursi pelaminan Jhony dan Melly duduk di kursi tersebut. Pandu dan Hafid juga naik keatas panggung dan duduk di samping para mempelai. Hafid di samping Jhony sedangkan pandu di samping Melly.
Kembali suara musik terdengar mendayu disana saat melly dan Jhony sudah duduk di kursi pelaminan. para tamu kembali menikmati makanan yang tersaji di atas meja.
Sementara di kerumunan para tamu Aldo dan Gisel sedang sibuk menyambut para tamu undangan baik dari kalangan pengusaha dan pemerintahan. Tak tanggung-tanggung para tamu undanga yang datang disana adalah orang-orang tersohor dan bisa di bilang di segani di kota mereka.
Tuan Ricko dan intan turut hadir dalam pesta itu. Bukan cuman mereka berdua saja yang terlihat disana Tuan Evert Long dan istrinya Celina, Bara dan syafira pun juga tampak berbaur dengan para tamu undangan.
Melihat Saga, daniah, Hans dan ara muncul dari balik pintu utama aula Aldo dan Gisel segera menghampiri mereka.
"Selamat datang saga!, Terima kasih karena kamu sudih datang ke pesta pernikahan saudara kami Jhony dan melly," ucap Aldo menyodorkan tanganya lalu kemudian memeluk Saga
"Sama-sama Aldo! Kamu ini berlebihan. Jelaslah Aku datang, toh kamu dan Jhony itu adalah teman baikku sejak dulu sampai sekarang," Saga membalas pelukan.
Setelah bercabda sedikit dengan Saga, Aldo berpindah dan tersenyum kearah Hans yang saat itu juga tersenyum padanya.
"Hay, Hans!, sekertaris tampan yang pernah ada di dunia novel," Aldo menjabat tangan Hans dan memeluknya sama seperti yang di lakukan pada Saga tadi.
"Tuan Aldo ini ada-ada saja!," balas Hans membalas pelukan Aldo.
Sementara di pihak Gisel, Dania dan Ara. Tampak ketiga perempuan cantik itu cengegesan sambil berpegangan tangan.
"Niah, Ara kalian berdua semakin cantik saja!," ucap Gisel sambil menggoyang-goyangkan tangan Ara dan Dania.
"Tidak ada uang robek!, hi hi hi," balas Dania sambil tertawa kecil.
"Dia yang paling cantik malah kita yang di bilangi cantik hi hi hi," arah juga ikut tertawa.
"Sell, si kembar mana kok sedari tadi Aku tidak melihat mereka?," tanya Dania sambil melayangkan pandanganya mencari Zaky dan Ziko.
"Zaky dan Ziko lagi bermain bersama sama Bibi di kamarnya, Aku sengaja tidak membawa mereka kemari soalnya mereka berdua itu sangat aktif!, bisa-bisa pesta ini mereka porak-porandakan bila mereka berdua ada disini, Ayo kita makan yuck sambil cerita-cerita, Aku sangat kangen pada kalian berdua," Gisel menarik tangan Daniah dan Ara menuju meja makan.
__ADS_1
Pesta berjalan sangat meriah hingga tidak terasa satu persatu tamu undangan pulang kerumah mereka masing-masing.