MELLY DAN JHONY

MELLY DAN JHONY
85. CINDERELLA KEMASUKAN ANGIN


__ADS_3

Sementara itu di ruangan sebelah, tampak seorang perempuan muda sedang tertidur lelap diatas pembaringan di temani seorang perempuan tua yang sedang duduk di sampingnya.


"Lina apa sebenarnya yang terjadi padamu!, kenapa wajahmu dan tubuhmu di penuh dengan luka," ucap Nenek Farida sambil menatap sekujur tubuh cucu semata wayangnya itu.


Lama Nenek Farida termenung disana hingga dia harus tersadar karena mendengar dua ketukan dari arah pintu.


Nenek Farida bangkit dari tempat duduknya lalu kemudian melangkah kearah pintu.


Nenek Farida memutar gagang pintu lalu sedikit menariknya hingga daun pintu tersebut sedikit demi sedikit terbuka dan mendapati seorang pria muda sedang berdiri di sana sembari tersenyum manis.


"Eee..Dokter Fadlan! silahkan masuk Dok!," ucap Nenek Farida membalas senyuman Dokter muda itu.


"Terima kasih Nek!," balas Fadlan sopan lalu kemudian masuk kedalam ruangan itu.


Nenek Farida mengikutnya dari arah belakang setelah terlebih dulu dia menutup kembali daun pintu seperti sediakala.


"Bolehkah Aku memeriksa cucu Nenek yang nakal ini!," ucap Dokter Fadlan sedikit bergurau pada Nenek Farida.


"Silahkan Dok! tapi jangan sembarang periksa," jawab Nenek Faridah sekenanya.


Dokter Fadlan sedikit mengernyutkan dahinya.


"Maksud Nenek apa?," tanya Dokter Fadlan sedikit heran dengan perkataan Nenek Farida.


"Hi hi hi...Nenek cuman bergurau kok!, Dokter silahkan memeriksanya, Nenek takut ada apa-apa terjadi pada cucu Nenek ini." Nenek Faridah sedikit tersenyu memperlihatkan sederetan gigi putihnya.


Dokter Fadlan mengangguk kemudian dengan pelan sekali dia membuka mata Lina kiri dan kanan secara bergantian.


Setelah mengecek bagian mata, Dokter Fadlan kemudian melanjutkan memeriksa Lina dibagian dada menggunakan Stetoskop.

__ADS_1


Ada getaran-getaran aneh yang terjadi pada Dokter muda itu setelah memeriksa di area itu.


"Kenapa Aku sampai gemetaran seperti ini? apa sebenarnya yang terjadi dengan diriku ini," gerutu Dokter Fadlan dalam hati.


Nenek Farida yang melihat dokter Fadlan terdiam begitu seketika itu juga merasa panik. Wajah perempuan tua itu tiba-tiba menjadi pucat.


"Apa sebenarnya yang terjadi pada cucuku!. Apa ada kerusakan yang terjadi pada jantungnya, hati atau paru-parunya?," tanya Nenek Fatimah bertubi-tubi sakin paniknya setelah melihat Dokter Fadlan hanya memeriksa daerah itu saja tanpa berpindah tempat.


Hingga membuat Dokter Fadlan tersentak dan kalang kabut.


"A...nu...a....nu!, tidak ada apa-apa kok dengan jantung, hati atau pun paru-paru cucu Nenek!. Semuanya normal saja seperti biasa. Cucu Nenek hanya perlu istirahat yang cukup untuk memulihkan kembali tenaganya yang sempat terkuras habis" jawab Dokter Fadlan gugup lalu mencabut Stetoskop yang melekat di telinganya kemudian memasukkan kedalam saku bajunya.


"Alhamdullah kalau begitu! Nenek kirain ada sesuatu yang terjadi padanya," Nenek Fatimah mengelus-elus dadanya.


Setelah selesai memeriksa kondisi Lina, Dokter Fadlan pamit diri. Tapi belum juga dia melangkah, Nenek Farida sudah menghadangnya.


"Dok!, terima kasih banyak sudah menelponku tadi. Andai tidak, entah apa yang akan terjadi dengan cucu kesayanganku ini. Dia pasti sendirian di rumah sakit ini tanpa ada yang menemani," ucap Nenek Farida dengan raut wajah sedih menatap Lina yang masih tergeletak di atas pembaringan.


"Sekali lagi terima kasih banyak Dok!," Nenek Farida sedikit menundukkan kepalanya.


"Sama-sama! kalau begitu Fadlan permisi dulu mau ke ruang sebelah soalnya Raja pemarah sudah sejak tadi menelponku. Aku takut jika Aku terlambat tiba disana dia bisa memecatku tanpa memberi pesagon sama sekali," ucap Dokter Fadlan kemudian melangkah kearah pintu keluar.


Tidak lama Setelah kepergian Dokter Fadlan, Melly mulai mengerakkan-gerakkan tubuhnya sembari membuka mata.


"Dimana Aku ini!," kata itulah yang pertama kali keluar dari mulut perumpuan cantik itu sambil menatap kearah langit-langit ruangan tempat dirinya sedang terbaring lemah.


"Kamu sekarang ada surga," balas Nenek Farida yang sekarang duduk di samping kiri pembaringan.


Lina segera menoleh ke kiri dan menemukan Nenek kesayanganya itu sedang duduk disana.

__ADS_1


"Kenapa Nenek bisa ada disini! dan kemana Nenek Fatimah?," tanya Lina sambil menegok kekiri dan kekanan.


"Nenek Fatimah!, Hiih.. mana ada Nenek-Nek disini selain Nenek. Jangan-jangan otakmu benar-benar sudah geser ya!," Nenek Farida sedikit mengedikan bahunya.


"Benar Nek! tadi itu Aku di temani Nenek Fatimah sebelum Nenek datang,"


"Kamu ini mengada-ngada saja!, mana ada Fatimah-Fatimah itu. Saat Nenek tiba disini, Nenek hanya menemukan dua perawat yang sedang menjagamu tertidur nyenyak seperti seorang cinderella kemasukan angin malam."


"Terserah Nenek saja, yang pastinya Nenek Fatimah tadi ada disini menemani Lina. Titik."


"Baiklah-baiklah kalau memang itu maumu!. Nenek mau tanya kamu, kenapa kamu bisa seperti ini. Atau jangan-jangan selama ini kamu membohongi Nenek dengan mengatas namakan Melly yang pintar bela diri supaya Nenek mau mengajarimu juga bela diri supaya kamu bisa membangakan diri ke orang-orang kalau kamu itu jagoan, Hah!, bentak Nenek Faridah pada Lina.


"Hiih! Nenek ini tidak percaya bangat sama cucu sendiri. Lina seperti ini karena menyalamatkan Nenek Fatimah. Aku, Melly serta Jhony menghajar habis-habisan penjahat yang menyandera Nenek Fatimah yang tadi Lina sebutin namanya itu"


"Benarkah!," wajah Nenek Farida begitu serius.


"Benar Nek," balas Lina singkat.


"Kalau begitu! Nenek akan terus mengajarimu ilmu beladiri supaya tradisi turun temurun keluarga kita tidak hilang begitu saja," ucap Nenek Farida tersenyum.


"Benarkah Nek!." Lina bangun dari tempat tidur untuk memastikan ucapan dari Nenek Farida.


"Benar Lina........."jawab Nenek Farida singkat.


"Terima kasih, akhirnya Lina bisa belajar ilmu beladiri juga seperti Melly," Lina mengamburkan pelukanya kearah Neneknya itu.


Nenek Farida menyambutnya sembari tersenyum.


"Suamiku!, maafkan Aku bila Aku mengingkari janji kita dulu untuk berhenti lagi mengajar ilmu beladiri pada siapapun setelah kepergian Nindy .Tapi, Lina benar-benar ingin belajar hal itu, jadi izinkanlah Aku mengajarinya demi menjaga diri dan juga orang-orang yang membutuhkan pertolonganya," ucap Nenek Farida dalam hati sambil meneteskan air mata dan membelai lembut rambut cucunya itu.

__ADS_1


đŸ‘‰Terus beri Like, coment, vote ya ...


terima kasih.


__ADS_2